Monday, 16 September 2013

Jurnal Studi Ekskursi di Singapura

9 September 2013
Jujur, ini pengalaman pertama saya pergi melihat dunia di luar negara saya. Sungguh bukan jalan-jalan yang ingin saya dapatkan dalam kesempatan ini. Kesempatan yang sebelumnya sungguh tidak saya ceritakan pada ayah saya mengenainya, disebabkan karena dua hal yaitu saya tidak ingin ayah saya ikut terbebani dalam segala pembayarannya dan saya tidak ingin ayah saya kecewa karena saya ingin mengunjungi negara yang notabene di mata beliau lebih banyak negatifnya. Tapi di mata saya selalu berprasangka bahwa Allah tidak menjadikan sesuatu itu sia-sia, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya. Dan pada kesempatan kali ini saya bersama teman-teman satu angkatan ingin mempelajari tentang transportasi publik mereka. 
Hari ini adalah hari pertama kami, berangkat dari Bandara Juanda dan langsung ke Changi. Setelah sampai di Changi kita langsung membeli Singapore Tourist Pass (STP). STP ini digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura berulang kali secara tak terbatas. Kartu ini didisain untuk turis yang mengunjungi singapura selama 1-3 hari saja. Harganya 10 SGD untuk satu harinya dan harus menambah deposit sebesar 10 SGD yang akan dikembalikan jika kartu STP ini dikembalikan. Namun jika tidak, maka kartu STP ini bisa diisi seperti EZ-Link biasa.
Sumber: Google (karena milik saya gak saya foto)
Oh ya, beda STP sama EZ-link ini adalah STP ditujukan untuk turis dan EZ-Link digunakan untuk yang tinggal lama di Singapura. Perusahaan yang mengeluarkan kartu ini juga sama dan cara pakainya juga sama, tinggal di tap di mesin pada pintu masuk bus dan saat keluar atau jika di MRT yang tinggal men-tapnya sebelum memasuki dan saat keluar stasiun. 
Setelah masing-masing kami memegang kartu STP ini, kami langsung menuju Fern Loft Hostel di kawasan Little India yang lebih dekat ditempuh jika turun di Farrer Park. Dan hari ini diisi dengan mengunjungi beberapa tempat yang manjadi ikon Singapura karena jika langsung melakukan aktivitas sudah tidak efektif lagi jamnya.Tempat-tempat yang kami kunjungi tentunya di Merlion Park dan menonton pertunjukan proyektor yang ditembakkan di air (Wonder Full) di Marina Bay, di sini cakrawala Singapura akan menjadi latar belakang pribadi anda. Tentunya dengan menggunakan MRT serta SBS Transit. Setelah itu kami kembali ke Hostel untuk istirahat karena esok harinya akan padat kegiatan.
Merlion Park

Bird of Peace


Add caption

Wonder Full

Namun sebelum kembali ke hostel, saya dan sahabat saya Ika Permata Hati memisahkan diri dari rombongan untuk pergi ke Sevel. Sampai di sana, saya malah pengen beli minum air mineral dan you know what? saya ngidam minum air Indonesia, jadilah saya menemukan Aqua 1,5 liter brooo dan saya beli meski harganya hamppir 3 SGD. Haha... Dollar pertama yang saya belanjakan. Dollar kedua saya gunakan untuk mengisi perut dengan membeli kwatiau goreng di warung halal di ujung Jalan Besar (ini nama jalan lhooo). Jauh-jauh pengennya kwetiau goreng, haha.. Yang lebih mantap makanan Ika bro, Mie Kuah dengan kuah kari India, coba kau bayangkan. Haha...

10 September 2013
Hari kedua di Singapura. Ini hari yang sangat padat karena akan mengunjungi tiga tempat sekaligus. Yang pertama adalah di Nanyang Technology University, Land Transport Authority, dan ke Urban Redevelopment Authority. Di tujuan pertama (NTU) kami mendapatkan sharing mengenai kondisi Singapura sebelum jadi seperti ini dan bagaimana untuk memulai perubahan. Ternyata untuk mejadi seteratur itu, Singapura membutuhkan waktu yang lama bung yaitu 40 tahun. Memanai bagaimana sesungguhya sustainable development, yaitu bukan lagi pada tingkat "generasi mendatang masih bisa merasakan hal baik apa yang generasi saat ini rasakan dan temui" namun pada tingkat bahwa generasi mendatang haruslah merasakan keadaan yang lebih baik atas dasar usaha generasi saat ini. Subahanallah, entah ini pemaknaan saya sendiri atau bagaimana. Tapi saya menemukan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik harus dilakukan, tak boleh egois jika kita tak merasakan hasilnya, namun kewajiban kita adalah turut berproses hingga entah pada generasi siapa yang akan merasakan manfaat dari usaha kita untuk menjadikan tempat tinggal kita menjadi lebih baik.

Administration Building NTU

Bus Stop
Nah, tujuan kedua adalah di LTA. Untuk mencapainya kita harus naik MRT dan turun di Little India kemudian melanjutkan dengan jalan kaki sampai ke jalan apa ya? saya lupa. Hehe... Pokoknya kalau ke sana lagi Insya Allah saya masih ingat. Nyah, kabar beritanya tempat ini adalah gabungan seperti Dinas Perhubungan dan Dinas PU pemerintah Singapura. Tentu saja ini sangat menarik, mengetahui seluk beluk transportasi darat di Singapura, bagaimana perencanaannya, tujuannya, ah ya seperti visi misinya gitu lah. Berkunjung ke sini seperti agendanya Pak Jokowi ya? hehe... bedanya Pak Jokowi pakai bertemu pejabat LTA sedangkan kami mengunjungi LTA Gallery dengan tour guide. Terpukau? tentu... karena mempelajari sesuatu yang penting bisa menjadi menyenangkan seperti ini. Jika saya anak-anak, jelas saya akan suka mengunjungi tempat ini.

LTA Gallery
Sampai pada tujuan ketiga kami, yaitu URA. URA adalah semacam otoritas pembangunan kembali perkotaan di Singapura. Untuk mencapai tempat ini, kita menaiki MRT dan turun di China Town kemudian berjalan kaki menuju URA. Di URA ini kami mengunjungi galerinya. Memberikan pendidikan untuk perkotaan menjadi sangat menyenangkan untuk anak-anak. Kalau di Indonesia, generasi mudanya supaya sadar tata ruang ada yang namanya Kader dan Pelopor tata ruang yang dibentuk oleh kementrian PU, tapi di sini anak-anak diajak bermain yaa bisa dibilang game mengenai tata ruang dan itu sangat menyenangkan. Secara tidak langsung bisa membuat generasi muda sadar tata ruang. Jangankan anak-anak, saya yang sudah besar begini saja bahagia banget lihatnya. Singapura dalam dua kata, yaitu "berteknologi tinggi." Indonesia mampu kok jad seperti itu, yakindeh. Asal orang-orang kreatif dari berbagai disiplin ilmu mau bersatu gitu aja. Hehe...
URA
Selepasnya adalah jam bebas, jadi saya dan Ika memutuskan untuk pergi berpetualang sendiri, mengelilingi China Town dan menuju Bugis via Bras Basah, jalan kaki sepanjang Queens Street. Wehehe... Seperti orang hilang, tanya sana sini pakai bahasa Singglish. Sadar diri, tujuan pergi ke Singapura bukanlah untuk senang-senang semata, tapi orang di rumah pasti menantikan yang namanya buah tangan. Betul apa betul? haha... Jadi ya sekalian saja.
China Town

11 September 2013
Sebenarnya hari ini ada satu agenda penting, yaitu pergi National University of Singapore (NUS) untuk berdiskusi dengan dosen arsitektur di sana. Yaitu Bapak Johannes Widodo. Satu hal keren yang saya tangkap adalah mengenai bagaimana pemerintah setempat sangat dapat dipercaya. Sampai-sampai yang paling keren adalah umat muslimnya tidak perlu lagi risau memikirkan berzakat, karena oleh MUI setempat telah mengurusinya dari potongan gaji masing-masing umat islam.
Sorenya setelah dari NUS, kami bersiap pergi ke Sentosa Island untuk menyaksikan Song of The Sea. Sama sih bentuknya dengan Wonder Full, tapi di sini lebih bercerita sih. Yang bikin gak sreg ya pakai nyanyi lagu Anak Kambing Saya yang versi Singapura. It's not good anyway. Secara gitu lagu negara gue dinyanyiin versi yg lain. Aneh wah... Namun di samping itu, kan Pulau Sentosa kecil kan ya? Tapi teratur pula itu pulau sama seperti di perkotaan  Singapura. Wah mereka itu ya, bikin nampar muka saya sendiri. Karena mereka memperhatikan hal-hal kecil pula. Setelah itu, kami pulang ke hostel dan istirahat untuk siap-siap pulang besoknya.

Sebuah Pemaknaan
Siapkah Indonesia terkoneksi dengan sangat baik? Atau malah perlukah? Jangan jauh-jauh dulu. Mari kita bawa ke Kota Surabaya dulu. Ya, sebelum menunggu jalanan menjadi penuh sesak, sudah saatnya dimulai untuk menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, dan murah. Sudah saatnya "tidak menjadi tua di jalan." Ah kamu itu ndah omong doang bisanya. Lhoh bukan begitu, tapi ini pemikiran saya, berharap pula suatu saat bisa terlibat untuk sustainable Surabaya ah salah untuk Surabaya yang berkelanjutan.
Apakah bisa atau perlukan seluruh Indonesia mendapatkan model transportasi publik seperti demikian? Ya tentunya tidak. Indonesia tidak hanya perkotaan bung, masih ada perdesaan serta pesisir. Perpindahan barang dan orang itu pasti, transportasi publik itu perlu. Tak selamanya memiliki transportasi pribadi itu membanggakan, bangga atas siapa? diri sendiri? Justru kebanggaan negara akan tercipta jika mampu memenuhi transportasi yang layak untuk seluruh penduduknya.
Yang seperti demikian membawa saya memikirkan bagaimana penyediaan transportasi publik bagi perdesaan? Untuk menunjang keberlanjutan pertanian Indonesia juga. Yang ini saya belum tahu nih, mungkin ada yang mau sharing? Saya akan sangat senang.
Emmm transportasi publik yang baik berpengaruh pada kesehatan penduduk di dalamnya dan tingkat kemauan untuk berusaha. Bagaimana, benar  tidak? Dan yang lain lagi, yaitu tingkat kemampuan dan kemampuan manusianya untuk on time. Hehe... Karena semua sudah diatur eh teratur. Soalnya kalau pakai transportasi pribadi kan cenderung ya waktu berangkat semau gue. Nah kalau transportasi publik, harus diperhitungkan agar tidak terlambat. Haha...

Cerita Di Balik Layar
Cerita ini bukan bermaksud untuk apapun, hanya saja saya ingin berbagi tentang pemaknaan apa yang saya dapat bagi kondisi iman saya selama melakukan perjalanan di sana.
Pada bab 1 Fiqih, yaitu thaharah sudah jelas kalau ada air ya bersuci dengan air. Sedangkan kondisi toilet di Singapura sama sekali tidak mendukungnya. Namun semua menjadi tertolong oleh sebuah masjid di dekat China Town. Masjid tersebut, jujur saja membuat saya merasa aman dan nyaman. Ini adalah kasih sayang Allah, seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Sholat di penginapan dan tak tau di mana lagi jika keluar. Kali ini menemukan masjid, ya masjid bukan mushola (karena mushola rata-rata tidak ada). Semoga segala amal shalih dan jariyah orang-orang yang mengusahakan masjid dan menghidupkan masjid tersebut diterima dengan baik oleh Allah.
Pada hari ketika ada agenda di NUS, dari kawasan Bugis menuju NUS sudah masuk jam sholat ashar. Belum sholat duhur pula karena saya dan kawan-kawan sulit menemukan masjid. Saat jalan kaki sepenuhnya saya mengucap istighfar karena mungkin shalat duhur dan ashar hari ini akan terlewat. Dalam hati rasanya pengen nangis, apa saya yang tidak sepenuh hati mencari tempat sholat atau bagaimana? Yang jelas saya sangat mengharapkan pertolongan Allah. Dan subhanallah, tiba-tiba ketika dalam perenungan ada seorang bapak di NUS yang menanyai saya sudah sholat atau belum, dan bapak tersebut mengajak saya ke suatu tempat yang digunakan untuk sholat. Anda tahu apakah itu? Semoga anda bersyukur karena tinggal di tempat yang sangat aman bagi kondisi iman anda, karena saya di sana sholat di tangga emergency. Tak selamanya peningkatan iman mesti mengunjungi tempat religius. Saat berada di tempat yang bahkan kau di ujung tanduk mengenai sholatmu dan kau berhasil menyelamatkannya, itu akan membuatmu malu jika dalam keadaan lapang dan mendukung malah mengalami penurunan iman. #notedformyself Apakah orang tersebut benar-benar manusia atau malaikat yang dikirimkan Allah untuk menjawab do'a saya? Wallahu a'lam :)
 
Mushola di NUS

Hari terakhir di Singapura saya mengalami kejadian yang di luar dugaan. Begini ceritanya, jam 8 tepat waktu Singapura kami bersiap pergi ke Changi untuk pulang ke Indonesia. Saya dan kawan saya Ika sudah beres memasukkan tas ke dalam bagasi bus hostel yang akan membawa kami ke Changi. Betapa terkejutnya saya saat sampai di Changi dan tidak mendapati tas saya di dalam bagasi. Oh Allah cobaan apa ini? Semua barang-barang saya ada di sana kecuali surat-surat penting yang selalu di tas kecil saya. Oh Allah apa yang harus saya lakukan? Saya bertanya tak ada satupun yang tahu. Tiba-tiba seorang teman menyeletuk apa tas saya ransel Eiger hitam? Dan saya jawab ya, dia bilang kalau tas itu ada di pinggir jalan di samping  bus kami. Sungguh saya bukan pengidap Short Term Memory  yang gampang melupakan sesuatu yang penting begitu saja, apalagi saya tadi sudah benar-benar menaruhnya di dalam bagasi bus. Oh Allah kenapa harus begini? Bingung? tentu saja karena ini di negeri orang brooo. Kemuadian teman-teman saya patungan untuk ongkos taksi menjemput tas saya yang entah masih ada atau tidak di sana. Terima kasih teman-teman untuk bantuannya. Dan terima kasih kepada teman saya Revi yang telah menemani saya dalam kebingungan itu. Sungguh di dalam taksi, hampir-hampir saya menggerutu kesal kenapa bisa seperti itu, pastilah ada yang mengeluarkan tas saya lagi untuk memasukkan tas lain tapi lupa memasukkannya lagi. Ah sudahlah, ayolah berhenti mencari-cari kesalahan orang lain dan mulai berbaik sangka pada Allah. Sekali lagi terima kasih untuk kawan saya Revi yang mengingatkan saya untuk tidak menggerutu. Sungguh dalam hati saya mengatakan jika itu adalah rizki saya, saya mohon pertolongan Allah untuk menjaganya sampai saya datang mengambilnya kembali. Lagi-lagi saya hampir berprasangkan negatif terhadap Allah kalau pasti tas saya sudah tidak ada di sana. Tapi Alhamdulillah saya ingat bahwa Allah itu sesuai prasangka hambanya, sekuat hati saya mencoba untuk berkhusnudzon terhadap Allah dan kuasa Allah untuk menjaganya. Di sini saya benar-benar secara langsung menyaksikan kuasa Allah dan janji Allah yang pasti dipenuhi. Saat di dalam taksi dari kejauhan melihat tas saya di pinggir jalan dan sampai saya mengambilnya bersama saya seperti ada terikan kuat di telinga saya, "Ini adalah kuasaKu, ini adalah janjiKu yang Aku penuhi terhadapmu. Lantas mau apalagi kau? Tunduklah kepadaKu." Astaghfirullah... Subahanallah... jatuhlah hati yang meninggi, leburlah sombong yang menguap, lelehlah air di mata saya merasakan hati saya diguncang seperti gempa bumi. Sampai sekarang, dalam perenungan saya belum paham apakah ini ujian atau teguran Allah. Maha Suci Allah! #bignotedformyself