Sunday, 8 December 2013

Sosok Inspiratifku



Banyak banget twit soal sosok-sosok inspiratif. Banyak sih dalam hidup. Tapi ada bagian sendiri-sendiri, karena gak mungkin ada yang 100% memberi inspirasi untuk 100% hidup. Itu aja sih.
Saat ini lagi punya status mahasiswi sih emm yasudah, pelajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Sakjane, orang-orang yang mengispirasi itu ada banyak waktu menjalani kehidupan di kampus. Tapi dua yang bisa totalitas menginspirasi, orang tua saya. Bukan bukan, ini bukan bualan semata.

Ibu
Ibu saya anak ke 3 dari 6 bersaudara, saat pendidikan sekolah dasarnya belum rampung beliau harus menjalani hidup yang keras. Kakek saya yang ayah beliau meninggal, di sini yang lebih berat adalah kehidupan nenek dari Ibu saya. Rizki memang tidak akan pernah tertukar, usaha kecil-kecilan yang selalu dijalani nenek saya cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, ya kebutuhan bukan keinginan. Ibu saya juga demikian, di usianya yang masih belia harus pontang-panting bekerja untuk membantu nenek saya menyekolahkan adik-adiknya dengan mengesampingkan pendidikannya. Bukan berarti Ibu saya tidak berpendidikan, beliau sangat terdidik. Hidup mengajarkan segalanya. Mungkin bisa berbeda cerita jika dulu Ibu saya bersedia diadopsi oleh pengusaha Cina kaya raya. Ya, Ibu saya yang berparas menuju paras orang Cina yang banyak di Surabaya membuatnya mendapat tawaran untuk diadopsi mereka saat kakek saya masih hidup. Entah beliau mendapatkan paras demikian dari mana? Saya tidak pernah melihat wajah kakek saya dari Ibu.
Rizki Ibu saya juga tidak pernah tertukar, Alhamdulillah segala perjuangannya bekerja dan mencari pekerjaan yang layak selalu ada hasilnya. Jaman dahulu, mencari pekerjaan masih mudah tapi juga saling kejar-mengejar dengan perkembangan kota Surabaya yang semakin menjadi Kota Besar. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan ayah saya. Sekali lagi, kebesaran hati Ibu saya terlihat di sini. Kondisi fisik ayah saya yang membuat saya bisa mengatakan seperti ini, nanti lah saya ceritakan.
Yang saya tahu Ibu saya adalah orang yang berhati lembut, berhati besar, berhati tulus. Mungkin beliau tak sempat mengenyam pendidikan yang layak, tapi beliau selalu mendidik anak-anaknya dengan hati. Bukan pengetahuan dunia yang beliau berikan pada kami, tapi pendidikan untuk jadi manusia yang adil dan beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan mengajarkan bagaimana sholat itu tapi menunjukkan bagaimana sholat itu. Setiap pagi-pagi buta kami dimandikan dan didudukkan dekat dengan Ayah dan Ibu yang sedang subuhan. Sampai akhirnya terbiasa bangun pagi lalu diam-diam mengikuti mereka sholat. Dari hal sederhana itulah Ibu saya mengajarkan kami membangun peradaban yang beradab.
Bagaimana lagi saya harus menceritakan betapa lembut hati Ibu saya? Tidak akan pernah ada habisnya. Beliau menunjukkan bukan hanya mengajarkan.

Ayah
Ayah saya, mungkin hidupnya lebih beruntung dari Ibu saya. Atau mungkin lebih tidak beruntung ketika terjadi kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Waktu masih bujang, ayah saya mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan luar kota. Singkat cerita, kecelakaan itu membuat tubuh beliau remuk. Patah tulang kaki, punggung, belikat, dan entah yang mana lagi. Kakinya memiliki jahitan sepanjang mata kaki sampai hampir lutut, punggung dan pinggangnya juga. Semua serba tambal sulam, maksudnya daging yang sini diambil untuk menambal yang sana. Bisa disebut waktu itu ayah saya lumpuh total. Dokter yang menangani beliau juga tidak berani memberikan banyak harapan. Tidak berhenti di situ, ayah saya berpikir bahwa dia adalah seorang lelaki dan tidak mau menjadi beban untuk keluarganya. Pertama beliau belajar bangkit dari tempat tidur, kemudian beraktivitas dengan kursi roda, lalu berjalan memakai tongkat, sampai akhirnya bisa berjalan tanpa alat bantu. Meskipun tidak bisa berjalan normal seperti kebanyakan orang.
Suatu saat beliau bertemu wanita yang ikhlas menerima segala kekurangan beliau. Ya orang itu adalah Ibu saya. Mungkin yang Ibu saya lihat waktu bukan kekurangan ayah saya, tapi kelebihan yang tidak semua orang bisa melihatnya. Dengan segala keterbatasannya, beliau tetap menjalankan tugas sebagai pemimpin keluarga. Rasa lelah yang mudah sekali mendera dengan kondisi fisik ayah saya yang demikian, itu semua tidak membuat ayah saya malas bekerja dan malas memberikan kebahagiaan bagi keluarganya. Beliau tetap bekerja dan setiap akhir pekan selalu mengajak anak-anaknya berlibur.
Saat saya kira saya sudah cukup dewasa, saya mendengar sebuah percakapan antara orang tua saya dan kakak ipar saya (waktu itu masih calon). Kiranya begini "Saya beruntung sekali memiliki seorang istri seperti ibunya Saudi (abang saya), Ibu menerima bapak apa adanya dan selalau qanaah (tidak pernah meminta sesuatu yang tidak bermanfaat). Saya kira saya sudah cukup dewasa untuk memahami, orang tua saya tidak pernah segan menunjukkan rasa kasih sayang mereka di depan anak-anaknya. Saya kira itu kuncinya, saya mendapat pelajaran bagaimana sosok lelaki itu seharusnya dan bagaimana menjadi wanita seharusnya. Selamat kepada Ayah dan Ibu, kalian berhasil mendapatkan predikat manusia yang inspiratif bagi anaknya :)