Thursday, 26 December 2013

Tantangan Masyarakat Pesisir Menuju Ketahanan Pangan

Repost

Persoalan kependudukan di Indonesia bukan hanya tentang tidak disiplinnya berbagai proses registrasi untuk kearsipan Negara mengenai kepastian jumlah penduduknya. Namun pada sisi tingkat kesejahteraaan penduduk yang sering di bahas dengan berbagai variabel yang pada akhirnya dapat menggambarkan kesejahteraan penduduk pada suatu kelompok masyarakat secara menyeluruh ataupun kelompok masyarakat. Keterkaitan antara wilayah tempat tinggal kelompok masyarakat, matapencaharian, dan kesejahteraan dapat diukur dengan tingkat keberhasilan menangani berbagai indicator ketahanan pangan untuk setiap anggota keluarga dalam kelompok masyarakat tersebut.
Sebagai Negara yang terdiri dari ribuan pulau, tidak perlu dipertegas lagi bahwa Indonesia tentunya banyak memiliki wilayah pesisir. Secara sosial, wilayah pesisir dihuni tidak kurang dari 110 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai. Sedangkan secara administratif kurang lebih terdapat 42 Daerah Kota dan 181 Daerah Kabupaten yang berada di pesisir, dimana dengan kondisi saat ini adanya otonomi daerah masing-masing daerah otonom tersebut memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. dengan meninjau fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi Indonesia pada masa yang akan datang. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang bermatapencaharian di sektor-sektor non-perkotaan. Sebagian besar dari 126 kawasan tertinggal yang diidentifikasi dalam kajian penyempurnaan RTRWN merupakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kemudian pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam hal jumlah ataupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sedangkan menurut Food and Agriculture Organization ketahanan pangan merupakan kondisi dimana rumah tangga memiliki akses yang baik untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarga baik akses fisik maupun ekonomi.
Perkembangan prasarana transportasi  di wilayah pesisir di Surabaya yang sudah tidak asing lagi, yaitu saat dibangun dan diresmikannya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura. Setelah Jembatan Suramadu resmi beroperasi, berbagai dampak langsung terhadap penduduk sekitar dan dampak tidak langsung terhadap lingkungan secara otomatis langsung dapat dirasakan. Dampak langsung dari diresmikannya Jembatan Suramadu semakin menguatkan fakta bahwa kawasan pesisir adalah cikal bakal perkembangan urbanisasi di Indonesia. Salah satu penggambaran dari seluruh keterkaitan antara perkembangan aksesbilitas dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan penduduk adalah pada Kecamatan Bulak.
Kecamatan Bulak adalah salah satu kecamtan di Surabaya yang berada di wilayah pesisir dekat dengan Jembatan Suramadu. Penduduk pada Kecamatan Bulak adalah masyarakat yang bermatapencaharian sektor non-perkotaan  sebagai nelayan. Dimana selama ini diketahui matapencaharian sektor non-perkotaan menjadi salah satu indikasi rendahnya tingkat kesejahteraan. Selain itu Kecamatan Bulak yang strategis juga banyak menarik minat penduduk Pulau Madura untuk bermigrasi dan tinggal di Kecmatan Bulak. Perpindahan penduduk dari Pulau Madura tersebut  menjadi faktor pertambahan jumlah penduduk di Kecamatan Bulak, disamping pertambahan dari faktor penduduk asli Kecamatan Bulak.
Menengok kembali pernyataan Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika.  Fenomena yang pernah digambarkan oleh Malthus pada tahun 1798 tersebut kini banyak dijumpai. Dapat pula digunakan untuk menggambarkan keadaan Kecamatan Bulak, Surabaya. Pada suatu penelitian tentang ketahanan pangan di kampung nelayan Kecamatan Bulak yang dilakukan oleh Saudi Imam Besari pada tahun 2010 yang menggunakan beberapa variabel untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan di Kecamatan Bulak. Variabel yang digunakan adalah variabel demografi seperti usia pada tahun tersebut, usia pada saat pertama kali melaut, pendidikan terakhir, dan status kependudukan. Sedangkan variabel non-demografi dalam penelitian itu selanjutnya disebut sebagai variabel ketahanan pangan yang terdiri dari pendapatan melaut, pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah tangga, sisa pendapatan, kondisi rumah tinggal nelayan, sanitasi rumah (ketersediaan MCK), bahan bakar memasak, cara memperoleh makanan pokok, cara memperoleh lauk pauk kualitas, pangan yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam sehari, dan jumlah alat tangkap yang dimiliki.
Hasil akhir dari penelitian tersebut dapat terlihat gambaran umum mengenai kondisi kesejahteraan secara realita dari masyarakat nelayan Kecamatan Bulak. Pada pendapatan total masyarakat nelayan Kecamatan Bulak pada umumnya adalah Rp 1.000.000–Rp 2.000.000. pengeluaran pangan mayoritas adalah Rp 500.000-Rp 1.000.000, sedangkan untuk non-pangan adalah sebesar kurang dari Rp 500.000. kondisi rumah mayoritas adalah rumah permanen namun kurang didukung sanitasi yang baik dan lengkap. Pendidikan terakhir nelayan di Kecamatan Bulak adalah mayoritas Sekolah Dasar dan hampir semua nelayan memiliki alat tangkap ikan sendiri.
Angka pada pendapatan dan pengeluaran pada mayoritas tidak jauh berbeda dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat  di kampung nelayan Kecamatan Bulak Surabaya. Matapencaharian utama sektor non-perkotaan sebagai nelayan kurang mampu untuk menopang seluruh kebutuhan keluarga masyarakat nelayan. Ditambah lagi dengan pada tahun 2009 perairan Selat Madura mengalami overfishing lebih dari 12% sehingga produktivitas perikanan Selat Madura menurun dari tahun ke tahun. Jika  regulasi untuk membatasi jumlah nelayan dan armada kapal yang melaut yang pernah diusulkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur jadi disahkan maka masyarakat kampung nelayan Kecamatan Bulak akan kebingungan untuk mencari sumber pendapatan yang lain.
Penjual Ikan Asap di Depan TPI Bulak
Oleh-oleh Kerupuk Ikan
Karena mayoritas mereka hanya mengandalkan hasil melaut serta tingkat pendidikan terakhir dan keterampilan yang kurang menjadikan mereka akan sulit mencari pendapatan dari sektor-sektor lain. Untuk itu selain mengandalkan hasil melaut yang saat ini mulai tidak stabil, masyarakat nelayan sebaiknya mulai beradaptasi dengan memperhatikan sector pendapatan lain yang sesuai dengan kemampuan dan yang mampu untuk menopang kebutuhan pada saat mereka tidak melaut. Salah satu pendukung masyarakat  untuk beradaptasi mencari pendapatan selain melaut adalah mudahnya aksesbilitas menuju pusat-pusat kota hingga setidaknya sebagian besar indikator-indikator dari FAO (Food Agriculture Organization) untuk ketahanan pangan sebagian besar dapat terpenuhi dengan baik, seperti kecukupan ketersediaan pangan, stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi berarti dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, aksesbilitas atau keterjangkauan terhadap pangan, dan kualitas atau keamanan pangan. Jika satu-persatu indikator tersebut terpenuhi maka harapan masyarakat nelayan Kecamatan Bulak telah mampu menuju adaptasi matapencaharian selain melaut, ketahanan pangan dan kesejahteraan yang semakin membaik.








No comments:

Post a Comment