Monday, 27 January 2014

Survey Jelajah Mengare

Wah apa-apaan nih judul postingan kali ini, survey apa jelajah yang benar? Hehe... Sebenarnya sih awal dari penjelajahan ini adalah ketika survey tugas kuliah Perencanaan Kawasan Pesisir 2. Waktu itu ditugaskan untuk merencanakan pesisir di Jawa Timur dan kelompok kami memilih Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik yang memiliki kawasan pesisir. Lantas kenapa survey ini bisa dibilang jelajah?
Jadi begini ceritanya. Awalnya, survey ini belum untuk mengambil data apapun tapi untuk mengenali wilayah perencanaan kami biar bisa lebih dapat feelnya waktu merencanakan. Coba kalau baca ini sambil googling atau buka google maps. Menurut informasi yang saya dapat, hal menarik dari Kecamatan Bungah ini adalah Mengare. Mengare ini sebuah pulau yang masuk dalam Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Tidak percaya kalau ini sebuah pulau, coba googling. Sekilas dia memang menyatu dengan Gresik tapi coba amati, karena dia terpisah secara daratan meskipun dengan jarak yang sangat dekat. Ini karena terjadi sedimentasi dan membuat mereka hampir menyatu.
Jalanan di Mengare

Legenda Pulau Mengare 

Ada beberapa legenda yang meyelimuti Pulau Mengare sebagai asal usul terbentuknya pulau ini. Legenda pertama yang konon katanya didapat dari Babat Mengare (saya sendiri belum membaca Babat Mengare secara langsung) adalah mengenai seorang Pangeran dari Solo yang hendak melamar seorang putri. Sang pangeran mendapat nasihat dari Ibunya jika hendak berhasil dalam misinya janganlah ia tertidur dalam perjalanannya. Namun, dalam perjalanan sang pangeran justru tertidur dan saat bangun ia terapung di lautan dekat Pulau Madura. Dan  singkatnya sang pangeran menjelma menjadi ular besar dan ular itu kini menjadi daratan yang kita Sebut Pulau Mengare. Sampai akhirnya ada sebuah pernyataan bahwa kelak Mengare akan kembali menjadi lautan karena Sang Pangeran akan kembali ke Solo. Maka dari itu jangan terlalu hidup berenak-enak di Mengare.
Cerita selanjutnya adalah masih sama dengan cerita pangeran dari Solo. Namun bedanya adalah Sang Pangeran telah dijodohkan oleh ayahnya dengan seorang putri di daerah sekitar mengare. Menurut cerita harusnya pangeran tidak diijinkan untuk melihat calonnya. Namun karena sangat penasaran, Sang Pangeran menjelma menjadi ular besar untuk pergi ke tempat sang putri. Dalam perjalanannya Sang Pangeran menemui ajal dan ular yang sebenarnya pangeran itu lama-lama menjadi daratan Pulau Mengare.
Oke, cerita berikutnya adalah adalah Putri dari Solo yang akan dijodohkan oleh ayahnya dengan bangsawan dari Cina. Putri yang tidak setuju itu kemudian melarikaan diri dengan menyusuri Bengawan Solo dan akhirnya terdampar di Bengawan Legowo (kini Telaga Pancar) yang terletak di Desa Kramat, Pulau Mengare. Sang ayah yang mengetahui putrinya kabur lalu mengutus prajuritnya yang berupa ular besar Keraton untuk mencari putriya itu. Setelah putri ditemukan maka si ular membujuk putri untuk kembali dengan kebohongan bahwa perjodohan telah dibatalkan. Namun Raden Paku (Sunan Giri) yang mengetahui niat buruk ular tersebut mengutus Sunan Karebet (Jaka Tingkir) untuk melawan ular itu. Pertarungan dimenangkan Jaka Tingkir dan akhirnya ular mati dalam posisi meliuk.
Dari beberapa cerita di atas ada persamaan yaitu sama-sama terdapat bangsawan dari Solo dan terdapat cerita ular besar. Hingga kini dipercaya masyarakat setempat bahwa Dusun Kramat adalah bagian kepala ular, Dusun Tanjung Widoro adalah bagian perut dan Dusun Watu Agung adalah bagian ekor ular. Entah kebetulan atau bagaimana, bahasa yang digunakan masyarakat setempat adalah Bahasa Jawa Solo bukan Jawa Timuran seperti wilayah Jawa Timur pada umumnya. Well, apapun legendanya dan benar atau tidak pasti punya tujuan baik untuk menjaga kearifan lokal setempat. 

Tidak Sengaja Menjelajah
Bisa dibilang Mengare ini adalah tempat yang paling nyempal dari Kecamatan Bungah, maka dari itu untuk survey pertama ini kami memilih untuk melihat keadaan Mengare. Masuk dari jalanan kecil sebelum Jembatan Sembayat yang ada pangkalan ojeknya. Lurus saja maka teman-teman akan menemui banyak petunjuk untuk memasuki Mengare. Kalau kurang yakin, bisa bertanya pada penduduk sekitar. Saat pertama kali, sepertinya saya dan teman-teman menginjakkan kaki di Desa Kramat yang berbatasan dengan Selat Madura. Samar-samar telihat Mercusuar Sembilangan di Bangkalan Madura. Di sini airnya lumayan jernih (tidak keruh) namun terdapat beberapa sampah plastik. So far, bonusan survey ini menarik. Sebelum melanjutkan penjelajahan, mata kami melihat ke sebuah benda di jala nelayan yang entah masih digunakan atau tidak yaitu ular laut kecil yang tersangkut di dalamnya diantara sampah. Kami tidak tega melihat ular itu terjebak terlebih mengetahui ular itu masih hidup. Dengan sedikit rasa takut, 2 orang teman kami yang lelaki berusaha merobek jala itu dengan menggunakan gunting kuku. Setahu kami kalau ular laut itu berbisa tapi ini untuk menolong dia jadi kami berbaik sangka bahwa si ular juga akan kooperatif. Akhirnya ular tersebut bebas dan meliuk meninggalkan kami. Hehe... sempat pikiran saya melayang ke legenda di atas.
Narsis di Pesisir Pertama
Rifki dan Pras dalam Penyelamatan Ular

Sambil mengamati keadaan sekitar yang sekolahnya didominasi oleh sekolah Islam dan terdapat perahu-perahu di depan rumah warga kami bertanya arah ke Benteng Portugis yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Binting. Karena semua didapatkan dari googling jadinya menarik untuk dikunjungi. Benteng ini bernama Benteng Lodewijk. Denah dan peta benteng ini ada versi yang dibuat oleh Belanda. Tentu saja kami ingin tahu peninggalan masa kolonial di tempat yang seperti ini. Kami sendiri kurang tahu fungsi pasti si Benteng ini. Waktu itu untuk menuju benteng yang terletak di Tanjung Widoro ini kami menyebrang dengan menggunakan sampan yang dipungut sekitar 1000 rupiah untuk kami dan motor kami. Dari situ, kami melewati tegalan tambak yang tidak bisa digunakan untuk putar balik. Haha... ini menandakan bahwa kami harus melanjutkan perjalanan. Setelah jalanannya habis dan tidak bisa dilanjutkan dengan motor, akhirnya kami menitipkan motor di dekat salah satu tempat singgah penjaga tambak. Kami jalan kaki membelah hutan bakau. Ini sangat menarik karena benar-benar mirip penjelajahan. Kata orang tempat ini berpasir putih, sungguh putih tapi sepertinya bukan pasir, semacam kulit kerang kecil-kecil gitu sih. Hamparan seperti pasir, entah alami atau bentukan manusia ya? Yang jelas keren banget tempat ini dan proses menuju tempat ini. Selain itu ada hutan mangrovenya juga dan monyet-monyet yang tanpa malu-malu ada di pinggir pantai. Akhirnya kami sampai di benteng. Suasananya adem sih dan yang wow itu banyak kami jumpai bunga semacam bunga bangkai. Kami tidak melakukan penjelajahan terlalu ke dalam karena takut sih tapi lumayan juga menyusuri benteng dan duduk-duduk sekadar istirahat menikmati debuaran ombak sambil melihat monyet yang bermain-main. Dari sini, mercusuar di Bangkalan terlihat lebih jelas. Daripada penasaran, yuk langsung lihat bentukannya lewat foto-foto di bawah ini.
Menyebrang ke Benteng

Ada monyet di pantai
Membelah mangrove menuju benteng

Reruntuhan benteng

Bunga Bangkai yang banyak ditemui di benteng

Menyisir Pantai dan Hutan Mangrove

2 comments: