Thursday, 29 May 2014

Ayo Berpetualang ke Gili Labak

Hai para pembaca, saya kembali dengan tempat kece yang saya kunjungi.

Sebelumnya saya ucapkan selamat hectic ria dengan TAnya untuk saudara-saudara saya di Plax dan semoga dilancakan sidangnya, yang terpenting semoga saya lekas menyusul kalian. Mohon maaf juga untuk dosen pembimbing saya yang sangat telaten membimbing saya dan terutama untuk Ayah dan Ibu. Bukan bermaksud untuk menunda-nunda tapi ada pilihan yang harus diambil salah satu. Saya sedang mencoba meraih mimpi di kesempatan yang sedang mendekat, jika nanti gagal saya tidak akan menyesal setidaknya saya sudah mencoba. Jadi do'akan saya ya untuk one step closer dengan cita-cita saya sedari kecil. Baiklah cukup monolog singkat saya ini dan saya ajak teman-teman untuk menyimak perjalanan saya kemarin. 
Saat melakukan perjalanan kemarin (24-25/05/2014) saya sedang tidak dalam rangka liburan. Iyap saya pergi ke Gili Labak dengan beberapa pikiran yang menggantung di otak seperti awan di atas lautan. Tapi saya harus pergi ke sana untuk mencatat beberapa hal penting dalam Tugas Akhir saya. Oh ya saya sedang TA yang aa hubungannya dengan Gili Labak tapi apa sih Ndah yang dicatat? Kalau dilihat-lihat kamu hore banget di sana. Duh gimana ya menjelaskannya, yang pasti ada lah yang sedang saya butuhkan di sana. Ok, dari tadi saya menyebut Gili Labak pasti ada yang sudah tau dan ada juga yang belum tahu. Seperti biasa sih saya menebak apa yang dipikirkan oleh yang belum tahu, pasti nebak lokasinya di sekitaran Lombok jadi saudara kembar atau iparnya Gili Terawangan gitu ya. Sama sekali bukan!

Panorama Gili Labak dari Atas Perahu
Foto Oleh: Dwi Indah

Mari Berkenalanan dengan Gili Labak

Gili Labak atau warga lokal biasanya menyebut Gili Labek adalah sebuah pulau kecil ya seperti lazimnya sebuah pulau jika disebut sebagai gili. Terletak di  144o 02’ 276“ Bujur Timur dan 07o 12’ 172” Lintang Selatan dengan luas wilayah sebesar 5 Ha yang termasuk dalam Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep. Nahloh! Lengkap banget kan ya, coba cek korrdinat itu di peta. Haha... Sebenarnya wilayah Kabupaten Sumenep itu paling luas karena ada yang berupa daratan dan kepulauan. Nah wilayah kepulauan yang jumlahnya sekitar 126 pulau ini salah satunya adalah Gili Labak. Sebenarnya masih ada 3 pulau kecil lagi yang bernama Gili, yaitu Gili Iyang, Gili Genting, dan Gili Raja. Tapi kali ini yang akan saya bahas adalah Gili Labak. Keren kan ya Kabupaten Sumenep ini :D

Jadi begini ceritanya, saya di Sumenep dari tanggal 24-25 Mei tapi baru nyeberang ke Gili Labak tanggal 25 dan tanggal 24 saya muter-muter di Sumenep yaitu di Pantai Lombang yang sebelumnya saya sudah beberapa kali ke situ dan ceritanya bisa dibaca disini. Hanya saja kali itu saya melalui Kecamatan Dungkek untuk mengintip Gili Iyang. Alasan saya baru nyeberang di hari minggu karena biar bisa istirahat dulu malamnya sebelum nyeberang soalnya yang bisa nyetir mobil cuma sepupu saya. Oh ya perkenalkan teman ngetrip saya kali ini masih bersama sahabat saya Nurul, Abang saya dan istrinya, serta kakak sepupu saya. 

Trip ke Gili Labak ini adalah plan yang kesekian kalinya setelah pernah yang pertama gagal satu malam sebelum hari keberangkatan karena faktor cuaca yang buruk. Alhamdulillah akhirnya saya berhasil juga ke Gili Labak dengan ditemani oleh Mas Dedy, seorang kawan dari sesama blogger tepatnya dari Plat-M. Oke pertama untuk ke Gili Labak kita harus menyeberang melalui Kalianget. Tapi di Pelabuhan Kalianget tidak ada kapal, perahu, apalagi speed boat yang dengan khusus melayani rute ke Gili Labak. Jadi kita harus menyewa perahu dengan kisaran harga 500-700 ribu rupiah tergantung hasil tawar menawar kita dengan pemilik perahu dan faktor lain seperti medan gelombang yang akan dilalui mungkin, ya sang nahkoda yang lebih tahu. Kalau tidak suka perjalanan laut yang lama, bisa juga melalui Desa Kombang yang terletak di ujung Talango tapi ya harus menyusuri jalan darat dulu di Pulau Poteran. Udahlah dari Kalianget aja, seru,

Setelah mendapatkan perahu kita masih harus menempuh perjalanan laut selama dua jam broo... Saran saya yang tidak terbiasa dengan perjalanan laut agar mengisi perut terlebih dahulu dan bawa obat seperlunya untuk menghindari masuk angin dan jaga-jaga kalau mabuk laut. Tapi saya yang sok oke ini malah duduk di haluan selama perjalanan. Lumayan semriwing haha tapi saya suka efek polisi tidur alias gelombang lautnya dan selalu saya kalau di lautannya Madura itu saya mencari gugusan gunung Pulau Jawa yang bisa terlihat. Sekitar satu jam perjalanan  saya sebenernya panik melihat sepupu dan kakak ipar saya mabuk laut tak berdaya, sumpah saya merasa bersalah karena sebelumnya tidak menanyakan apakan mereka ok dengan perjalanan laut. Baiklah jadi pelajaran untuk perjalanan berikutnya. Meski demikian saya harus stay cool karena saya yang mengajak mereka.

Ada Apa di Gili Labak?

Setelah sampai eh salah, dari kejauhan kita akan melihat segaris pulau kecil yang pinggir-pinggirnya berwarna putih. Yap, pulau ini dikelilingi oleh pantai berpasir putih bro, airnya jernih dan bisa melihat ke bawah lautnya. Setelah sampai kita sejenak akan nampak asing di Gili Labak seperti pulau tidak berpenghuni tapi ada parkiran perahunya. Tapi sebenarnya pulau ini dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga yang rata-rata penghasilannya bergantung dari hasil laut.

Saya bingung mau menggambarkan keindahan Gili Labak bagaimana lagi, yang jelas saya sebagai petualang amatir sangat terpukau melihat jernih dan birunya laut berpadu dengan putihnya pasir dan langit biru yang awan putihnya berarak. Komposisi yang sempurna dari Sang Pelukis Alam. Kegiatan yang pertama saya lakukan di sana adalah mengelilingi bagian terluar pulau cantik ini. Agak susah jalan karena semuanya pasir haha... bekeliling naik apa? Ya naik kaki lah, tidak ada kendaraan di pulau yang luasnya tak lebih dari 5 hektar ini. Yang membuat saya tertawa saat mengililingi pulau ini adalah saat saya sedang asyik berjalan tiba-tiba Mas Dedy nyeletuk "kalau jalan sama fotografer itu lama" haha seketika saya lihat orang-orang di belakang saya tertinggal jauh. Sorry lho ya untuk Nurul fotografer saya. Gak kalah kan ya sama Gili terwangan cantiknya. Setelah mengelilingi saya tentunya ingin tau bagaimana permukiman di sana yang katanya tidak ada jaringan listrik. Sejuk di dalam dan jaringan jalannya serupa jalan lingkungan di perdesaan. Oh ya vegetasi yang tumbuh di sini khas pesisir yaitu nyiur melambai hehe, kelapa bro yang melambai untuk dipetik dan dinikmati. Beberapa vegetasi lain yaitu seperti tanaman yang bisa dimanfaatkan penduduk lokal untuk kebutuhan mereka, seperti pisang dan kacang-kacangan. 

Di dalam perkampungan saya menemukan mushola warga yang bisa dijadikan untuk tempat singgah dan menyembuhkan mabuk lautnya partner trip saya. Akhirnya saya agak lega dan menikmati perjalanan ini. Saya, Mas Dedy dan Nurul mencari warung yang menyediakan teh hangat untuk menyembuhkan mabuk laut kakak-kakak saya. Setelah menemukan orang yang bersedia membuatkan teh hangat (banyak tehnya), saya duduk-duduk dan bercengkerama bersama bapak-bapak yang sedang membuat dan memperbaiki bubu (alat tangkap ikan). Meski tidak mengerti Bahasa Madura, saya menikmati kegiatan bersama warga lokal ini. Selain saya dan teman-teman saya, ada teman-teman dari Mapala yang sedang camping di Gili Labak. Wah pengen juga saya, pasti bisa menikmari sunrise dan sunset dengan puas. Setelah soal teh-mengeteh aman saya putuskan untuk turun ke laut dan melakukan kegiatan yang paling ditunggu, yap... snorkeling

 Ketika menyusuri setapak rumah-rumah warga menuju pantai, lagi-lagi bolehlah saya sebut ini Narnia versi saya. Keluar dari rimbunan vegetasi tinggi dan semak, kita disambut hamparan pasir putih dan birunya laut. Jika kalian melihat ada bagian yang agak-agak gelap di lautnya ya itu adalah terumbu karangnya. Daripada kegiatan snorkeling terganggu, saya putuskan untuk berfoto-foto dulu. Awas ngiler nanti kalau lihat galeri foto kami, hehe. Saya sekali tidak ada yang membawa kamera bawah air untuk mengabadikan taman laut Gili Labak ini. Saya gambarkan saja ya bagaimana rasanya. Sssttt... Ini adalah pengalaman pertama saya snorkeling lho. Wah... meskipun di beberapa titik ada terumbu karang yang rusak tapi ikan dan terumbu karangnya ada yang sehat lho. FYI, terumbu karang di perairan Gili Labak ini masuk dalam kategori sedang-baik yang tutupannya lebih dari 50%. Jadi cobalah snorkeling di sini, mungkin yang belum pernah seperti saya. Hehe..

Seperti Surga kah?


Saya tidak mau mengatakan ini seperti di surga atau surga tersembunyi. Alasan personalnya adalah saya jenuh dengan kata "Surga" untuk tempat yang pernah saya kunjungi. Yang jelas Indonesia adalah tetesan surga yang jatuh ke bumi, tak hanya keindahannya tapi keramah-tamahannya juga. Yang datang ke Gili Labak pasti akan berkata ini Surga tapi apakah ia surga juga bagi warga lokalnya?


Gili Labak yang belum sepenuhnya dikelola oleh Pemkab Sumenep pasti memiliki prasarana dan sarana yang sangat minim untuk pengunjungnya. Seperti contohnya standar fasilitas kawasan wisata bahari, yaitu tempat makan, penginapan, atau toilet umum. Jangan harap bisa menemukannya, hanya ada warung-warung kecil. Jangankan fasilitas untuk wisatawan. Pelayanan umum seperti puskesmas atau puskesmas pembantu dan sekolahan tidak ada di sini. Adanya dukun beranak kalau ibu-ibu mau melahirkan dan anak-anak Gili Labak sekolahnya di Pulau Poteran yang rata-rata mereka pulang ke Gili Labak saat libur saja. Utilitas jaringan listrik dan air bersih juga tidak ada, mereka mengandalkan sumur-sumur air payau dan untuk listrik mereka menggunakan tenaga surya serta diesel yang penggunaannya terbatas hanya malam hari. So buang jauh angan-angan untuk minum es di pantai yang indah itu. 


Saya yakin Gili Labak juga tetap Surga bagi penduduk lokalnya, rumahku adalah surgaku (baiti jannati) karena jika tidak pasti mereka sudah meninggalkan tempat itu. Entahlah, mungkin mereka mencapai titik syukur pada Tuhan yang belum pernah kita capai. Yang Maha Kuasa memang tidak pernah pilih kasih membagi rizki dan kasih sayangnya. Saat saya di sana sempat merenung betapa baiknya Dia menumbuhkan tanaman di pulau kecil tengah lautan seperti ini, sehingga bisa dimanfaatkan oleh penduduknya dan betapa Maha Kaya Allah yang memberi mereka rizki melalui laut yang mengepung mereka. Mungkin mereka bahagia melihat kita sebagai pengunjung juga bahagia ketika menginjakkan kaki di sana. Dan jujur saya bahagia pernah ke sana dan akan ke sana lagi dengan tujuan yang belum terealisasikan.


Saya berani mengatakan bahwa segala fasilitas yang minim itu tidak akan menghambat kita berwisata di sana dan malah akan menambah keseruan petualangan kita. Segala fasilitas yang minim itu membuat kita bisa berbaur dan menyelami kehidupan mereka selain bisa menyelami laut mereka. Mereka baik-baik sekali, terkadang kita akan diberi kelapa muda dan saya kemarin diberi minum teh oleh mereka. Itu buka welcome drink tapi bentuk sambutan mereka yang turut bahagia melihat kita bahagia mengunjungi pulaunya yang cantik. Saya rasanya benar-benar berpetualang karena bisa bercengkerama dengan warga lokal. Semoga suatu saat bisa kembali dan membawa sesuatu untuk anak-anak di sana, membawakan sesuatu yang bisa menyalakan mimpi mereka :)


Ayo ke Gili Labak

Udahan berkata-katanya, saya akan menyematkan beberapa foto dan juga bisa dilihat di Instagram saya maupun facebook fotografer saya. Kalau mau bertanya lebih lanjut atau ada yang bisa dibantu ke Gili Labak silakan langsung inbox di fb saya atau bbm. Jadi ayo berpetualang ke Gili Labak.

Ig: dindahnurma (more photo and funny video when we were stranded at Gili Labak)

Hore-hore dulu...
Foto Oleh: Timer tapi sudah diatur Mas Edi

Perahu milik nelayan Gili Labak
Foto Oleh: Dwi Indah

Main air dulu sebelum snorkeling
Foto Oleh: Nurul
Kami orang terasinkan (baru naik dari snorkeling, hehe)
Mata kami lang disengat matahari, klo ditinggal yang motret bisa gak tau nih.
Foto Oleh: Nurul

Waini hijaber dalam air
Foto Oleh: Dwi Indah Nurma

27 comments:

  1. oooh di Madura ya..bagus ya pemandangannya...aku belum pernah ke Madura lho, kapan-kapan bisa dicoba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Madura banyak pantainya. Ini salah satunya. Madura itu Balinya Jawa Timur, kan selama ini orang belum banyak tahu tentang Madura :D

      Delete
  2. Bagus lho, saya awalnya baca posting berasa mau diajak ke lombok aja, hehehe, sudah mengantisipasi ya orang bakal salah kira ini sodaraan sama gili trawangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya Gili udah terkenal di Lombok sana. Padahal di di Kepulauan Bawean dan probolinggo juga ada gilinya. Jadi sebenarnya Gili ini bahasa mana ya? wkwkwk

      Delete
    2. Lah mak, saya malah ngiranya itu bahasa lombok, mungkin ada penduduk lombok bawa itu ke madura *fantasi merajalela

      Delete
    3. kalau dari hasil googling sih mak katanya Gili itu artinya mengalir tapi tidak disebutkan dari bahasa mana :D

      Delete
    4. Gili memang identik dgn NTB, karna memang asal kata Gili dr bhs. Samawa (Sumbawa, NTB). Konon Sumbawa brnama Gili Parewah. Gili : Pulau, Pare : lumbung padi, Wah : melimpah. Seiring brjlnnya waktu nama Gili Parewah brganti mnjd Tana' Samawa & trakhir brnama Sumbawa.

      Delete
  3. fotonya bagus-bagus mak.. pulaunya cantik ya. iya euy, kirain deket2 gili trawangan gitu. ternyata di sumenep ya.. btw salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak makasih, aslinya lebih cakep sih mak :D Selalu klo gili dikira saudaranya gili terawangan.

      Delete
  4. Beneraaan cantiii...saya memang ngg bisa liat pantai enak dan laut yang bersih, bawaannya pengen nyempluuung...surga terpencil begini terkadang lebih baik tetap alami...tapi repot juga kalau tidak ada fasilitas umum yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo saya bawaannya pengen foto dulu secukupnya terus nyemplung sepuasnya. Haha... yang model begini emang kayaknya khusus buat petualang deh dan tidak untuk bawa anak-anak. hehe... Setuju deh kalo yang soal biar tetep alami :D

      Delete
  5. Selalu suka dengan pasir putih ..... petualangan yang seru kayaknya di gil labak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini bukan kayaknya lagi, tapi menurut saya seru banget :D

      Delete
  6. Baguus in...sukaaa sama artikel plus foto2 nyah..

    Tempatnya indah yaaa... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, Alhamdulillah bisa ke sana :D

      Delete
  7. wah keren buuuuanget...><
    coba mbak indah nambahin cerita sedikit gimana mbak indah waktu disana. misalnya menginap kah di sana? atau makannya waktu di sana? bawa bekal kah..atau selain selain snorklingan dan ikut kegiatan masyarakat lokalnya seperti apa? lalu gimana pulangnya? sewa perahu dengan nelayan yang sama atau gimana?
    ini menarik sekali dan semoga Gili Labak terus terjaga dengan kemewahan alamnya dan kesederhanaan masyarakat lokalnya.
    terima kasih untuk tulisannya mbak indah
    salam kenal
    -hepi^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya salam kenal juga mbak Hepi, terima kasih sudah mampir blog saya.
      Terima kasih juga atas sarannya, nanti saya tambahi biar lebih jelas :) kalau di sana kemarin kami snorkeling, menikmati pantai, dan duduk2 sama bapak2 di sana yang lagi membuat bubu. Untuk perahunya karena sewa dari Kalianget jadi pakai perahu yang sama.
      Iya kami juga berharap yang sama biar Gili Labak tetap terjaga keindahannya. Kapan2 boleh juga kalau mau coba ke sana :D

      Delete
  8. Mbak Indah, pulaunya keren banget XDD
    Mbak kalau ke sana lagi kabar2 yaaa.. mau dah ikut mbolang ke sana. ahihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe.... Ziah, pulaunya keren karena yg punya emang Maha Keren.
      Nanti dah kalo aku open trip aku share terbuka, tungguin yaaa XD

      Delete
  9. Gili laba juga ada di labuan bajo flores. Waktu saya ke sana ada beberapa teman mikir saya ke gili laba yg madura hehehe

    ReplyDelete
  10. mbaa mau nanya dong.. itu alat snorkelingnya bawa sendiri apa aada penyewaan disana? ini bulan depan mau kesan.. mau snorkling camping sekalian.. share infonya ya mba :-) makasihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bawa sendiri alat snorkelingnya dan belum ada persewaan di sana.

      Delete
  11. mbak, mau nanya2 nihh.. minta emailnya dong mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa email di dwiindah2@gmail.com ya, terima kasih...

      Delete