Tuesday, 20 May 2014

Yogyakarta: Saksi Terbangunnya Mimpi

Halo teman-teman, kali ini saya tidak menuliskan tempat baru mana lagi yang saya kunjungi karena memang belum ada lagi. Tapi saya ingin berbagi pengalaman tentang suatu titik yang menjadi titik tolak saya memberanikan diri melakukan sebuah perjalanan.

Tahun 2011 adalah tahun yang menjadi titik tolak bagi saya. Yogyakarta menjadi saksi bisu terbangunnya mimpi-mimpi. Waktu itu Januari 2011, saya sedang duduk santai di pinggir Jalan Malioboro sambiil menikmati jajanan yang baru saya beli. Entah kenapa tidak ada rasa khawatir karena matahari semakin tergelincir ke barat tapi saya dan teman-teman saya belum dapat penginapan juga di kota yang baru pertama saya datangi. Ingatan saya malah semakin melayang-layang ke masa Sekolah Dasar.

Acara perpisahan SD teman-teman mengaji saya menceritakan mereka pergi ke suatu tempat bernama Yogyakarta. Saya hanya bisa menyimak tanpa bisa membayangkan, hanya saja terdengar sangat menyenangkan di tempat itu. Saya sendiri pergi ke Malang yang tak jauh dari Surabaya. Lalu melompat juga ingatan sepanjang masa SMA. Saat teman-teman sekelas hobi nongkrong di taman-taman kota dan mall, saya sama sekali tidak tertarik. Saat anak-anak pecinta alam mendaki gunung sana sini, saya juga cuma bisa mendengarkan. Saya merasa jadi anak paling cupu sedunia. Dilarang orang tua untuk bepergian atau bermain juga tidak, saya hanya tidak tahu bagaimana memulai langkah awal untuk melakukan sebuah perjalanan.

Kenangan panjang itu ternyata bisa juga menemani singkatnya acara duduk santai saya. Berkali-kali saya memejamkan mata cuma untuk memastikan saya benar-benar membuka mata dan tidak bermimpi bahwa saya ada di salah satu kota impian saya. Yogyakarta, buah rencana singkat bersama teman-teman saya di kampus sebagai mahasiswa tingkat satu di Surabaya. Baru tadi pagi saya mencium tangan ayah dan ibu saya untuk meyakinkan mereka bahwa saya akan baik-baik saja selama seminggu ke depan.  Nyatanya memang demikian, saya dan teman-teman saya berhasil hanya mengeluarkan 40 ribu rupiah untuk menginap selama 5 hari di Yogyakarta. Geliat kota ini juga turut menjanjikan saya bahwa saya akan menikmati perjalanan pertama saya.

Belajar dari internet yang semakin mudah diakses saat ini, saya menyusun sebuah itinerary yang akan menjadi pemandu selama perjalanan ini. Benar saja, saya beruntung karena lancar-lancar saja melakukan kegiatan yang sudah disusun kecuali saat hujan turun yang malah menambah keseruan perjalanan pertama saya. Mulai dari bisa mendapatkan penginapan murah, makanan yang mengenyangkan tapi murah, dan segala kegiatan di kota yang menyenangkan itu membuat saya membangun rasa percaya diri untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi mengunjungi tempat yang lain.

Tidak sampai satu tahun setelah perjalanan di Jogja, saya malah dua kali memantapkan langkah di Jakarta. Yang pertama bersama ayah dan ibu saya untuk melihat keadaan abang saya di Jakarta. Satu minggu kemudian malah saya melakukan perjalanan ke Jakarta lagi bersama seorang teman dan lagi-lagi tanpa tahu harus bermalam dimana. Saya juga tidak khawatir karena pernah mengalami hal yang sama. Jakarta adalah kota lain dalam impian saya. Sampai saat ini saya sudah 3 kali menggapai Jakarta, dan yang ketiga adalah yang termanis karena mendapat undangan dari salah satu kementrian.

Pada awal 2012 saya berhasil melakukan perjalanan mengelilingi separuh Pulau Jawa bersama sembilan orang teman saya. Dalam perjalanan ini, saya lima hari melihat kehidupan di kampung halaman teman-teman saya itu. Rehat sehari dari perjalanan itu, saya langsung terbang menuju Makassar berdua bersama kakak saya. Yap, ini pesawat pertama saya dan luar pulau terjauh pertama saya. Akhirnya saya tahu bagaimana rasanya berada diantara awan. Di tahun 2012 ini saya juga berhasil terdampar di Bromo yang juga Bromo pertama saya, Pantai Karanggongso Trenggalek yang jadi laut biru berbukit pertama saya, sampai nekat mengajak teman saya yang lain berdua saja backpackeran ke Jogja.

Tahun 2013 juga tak kalah seru. Saya memutuskan menetap di Jogja selama dua bulan untuk suatu urusan non traveling, mencuri waktu untuk explore DIY semakin seru. Namun tetap saja Kabupaten Gunung Kidul yang sedang tersohor itu belum berhasil saya kunjungi. Seminggu setelahnya, saya juga memberanikan diri ikut ke Singapura untuk keperluan yang juga non traveling. Tentu saja itu adalah luar negeri pertama saya dan meskipun sedang observasi tetap saja banyak yang bisa dipelajari ketika nanti kembali untuk traveling. Dua hari setelahnya, saya punya perjalanan yang tak kalah menegangkan. Saya berkendara lebih dari 100 Km menuju ujung timur Pulau Madura bersama seorang partner perjalanan, tentunya ini juga berkendara terjauh pertama yang saya lakukan tanpa partner perjalanan laki-laki.

Semua orang pasti memiliki pengalaman tentang pertama kali dan itu adalah ingatan terjelas saya mengenai semua yang serba pertama selama saya traveling. Kalau mengingat itu semua, saya jadi malu jika disebut traveler sejati oleh teman-teman yang lebih serius menekuni dunia traveling ini. Saya masih benar-benar hijau dalam dunia traveling, backpacking, atau petualangan. Oleh karena itu, dalam beberapa bio saya menuliskan kalau saya ini masih petualang amatir. Berbeda dengan beberapa kenalan saya yang mungkin saking berpengalamannya malah membuka biro perjalanan kecil-kecilan atau menjadi travel writer yang terkenal di dunia blogging. Terkadang saya kagum juga iri melihat mereka tapi yasudahlah, setiap orang punya fase tersendiri dalam hidupnya. 

Langkah kaki pertama saya menuju dunia traveling membawa saya pada banyak perenungan. Benar jika pariwisata itu adalah multi sektor perekonomian yang mampu menyediakan banyak lapangan pekerjaan. Daerah yang seringkali menjadi tempat transit saja malah berkembang menjadi kawasan pariwisata terlengkap. Seandainya berandai-andai itu boleh, andai semua potensi wisata di negara ini digarap dengan baik. Pastinya mampu menggerakkan berbagai sektor perekonomian dan dengan sendirinya mampu menjaga lingkungan serta budaya. Perenungan yang lain adalah tertambatnya saya pada pemahaman betapa beragamnya budaya yang kita miliki. Pergi ke satu daerah dan daerah lain, kita menjunjung dan menghormati kebudayaan itu.

Langkah kaki pertama saya dalam dunia traveling mengantarkan saya pada beberapa mimpi yang bisa saya raih. Semoga saja mimpi yang lain segera menyusul untuk tewujud. Suatu saat saya ingin melakukan perjalanan ke gunung yang benar-benar mendaki, perjalanan ke laut yang benar-benar menyelam, perjalanan ke perdesaan yang benar-benar tenggelam dalam budaya dan adat setempat. Saya tidak malu menjadi petualang amatir yang baru saja memulai petualangan, yang terpenting adalah tentu saja akhirnya saya berani memulai langkah. Temukan bahwa yang paling menyenangkan saat melakukan perjalanan adalah saat perjalanan pulang. Semakin jauh melangkah, semakin tahu dimana tempat kita pulang. Setidaknya itu menurut pandangan saya yang petualang amatir ini. Terima kasih Yogyakarta atas turut sertanya membangun semangat melangkahkan kaki di dunia traveling. Salam langkah kaki.

Artikel ini menjadi tulisan favorit II dalam blog competition #NubieTraveller