Wednesday, 29 October 2014

Resensi Novel: Sebelum Bicara Cinta

Judul: Sebelum Bicara Cinta
Penulis: Lana Azim dan Rhesy Rangga
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 12,5 x 19,5
Tebal: 272 halaman

Sinopsis
Guntur, seorang mahasiswa jenius jurusan teknik kimia di Yogyakarta yang diDO karena mempertahankan idealisme dalam skripsinya. Apa yang dikerjakannya ditertawakan dan dianggap tidak berguna oleh dosen penguji. Tapi Guntur yakin kalau apa yang dikerjakannya akan bermanfaat di masa depan. Cita-citanya menjadi insinyur teknik kimia yang hebat tidak terhenti karena sebuah ijazah yang tidak ia dapatkan. Ia pindah ke Jakarta dan meminta Ir. Ilham menjadi gurunya dengan bekerja di Pilar Energi Biru. Pilar Energi Biru sebuah perusahaan di bidang oil dan gas yang berubah haluan di bidang energi terbarukan. Visi PEB sama dengan Guntur. Sayangnya masa jaya PEB telah hampir habis. Adrian, teman sekaligus anak dari ibu kost Guntur semasa kuliah lulus dengan pujian dan ditawari untuk bekerja di William Sanders & Associates. Adrian yang semasa kuliah banyak dibantu oleh Guntur kebingungan saat mendapat banyak proyek akhirnya mencari Guntur untuk meminta bantuan. Adrian dimanjakan oleh perusahaan dengan gaji besar dan fasilitas kantor. Berbanding terbalik, Guntur yang jenius itu bekerja di perusahaan kecil dan mendapat gaji yang tak seberapa. 

Taman Ismail Marzuki menjadi saksi bertemunya Guntur dan Lia. Guntur awalnya hanya menonton Lia latihan dengan teman-temannya, namun di latihan selanjutnya mulai menjadi pengamat dan pemain pengganti saat pemain lain berhalangan hadir. Lia tidak suka Guntur yang kaku dan sok pintar mengkritik latihan drama mereka. Guntur rajin menonton latihan drama mereka, bukan karena Lia tapi ia menemukan dunianya. Guntur yang terbiasa hidup sendiri sejak kecil merasa kesepiannya lenyap saat menonton latihan drama itu. Sampai pada saat lomba drama berlangsung Lia meminta Guntur menggantikan posisi pemeran utama pria sebagai Ken Arok karena Arif terlambat datang. Lia dan Guntur memerankan drama dengan sangat bagus. Lia yang  tadinya tidak bisa total memerankan sosok Ken Dedes jadi sempurna karena sihir Guntur yang memerankan Ken Arok dengan sempurna. Setelah drama berakhir, Guntur melihat sisi lain Lia yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap timnya. Guntur tak pernah jatuh cinta tapi ia merasakan hal lain pada Lia. Termasuk saat Lia berpamitan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Australia.

Setahun sejak pertemuan terakhirnya, Guntur menjadi sering bercengkerama dengan karya-karya sastrawan tersohor dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Guntur kini tak hanya menjadi insinyur teknik kimia tapi juga penulis cerpen yang mampu menghipnotis para pembacanya. Tidak disangka bahwa Lia juga menjadi penikmat karya-karya Guntur. Saat Guntur dan Lia mulai dekat, Adrian datang untuk mendekati Lia demi melancarkan niatnya mendekati pemilik saham terbesar yang merupakan Ayah Lia. Di sisi lain Guntur sedang berada di Kalimantan untuk tugas proyek di kantornya yang baru. Di sana ia bertemu Kartika yang juga menaruh hati pada Guntur. Guntur baru tahu jika Kartika adalah anak dari Ir. Ilham saat dia merayakan Idul Fitri di rumahnya. Konflik mulai terjadi ketika Lia dilamar oleh Adrian dan Ir. Ilham menawari untuk menikah dengan Kartika. Namun Guntur masih ragu karena masih mengharapkan Lia dan kondisinya yang sedang berjuang membangun usaha di tengah krisis moneter Indonesia. Di akhir cerita Lia  mengetahui maksud lain Adrian dan menolak untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Guntur pun memberanikan diri untuk bertemu Lia  demi mengetahui kabar Lia. Saat mereka bertemu, Guntur tahu jika Lia tidak menikah dengan Adrian. Hubungan mereka semakin dekat seperti dulu dan Guntur memberanikan diri menemui orang tua Lia untuk melamarnya.


Kelemahan Novel 

  1. Ada salah penulisan di halaman 220. Keras kepala yang dimaksud menjadi keras kelapa. Mungkin editor lelah dan efek pembahasan minyak kelapa murni di bagian sebelumnya. Hehe...
  2. Saat saya membaca serasa ada gaya bahasa yang fluktuatif. Halah... maksudnya begini, sewaktu membaca bagian demi bagian novel ini seperti menikmati dua karya penulis yang berbeda. Mungkin memang karena ditulis oleh dua orang. Tapi ini hanya pendapat saya.
  3. Entah ini seharusnya menjadi kelemahan atau justru keunggulan. Keterkaitan antar tokoh yang ada di novel ini, saya bisa menebaknya sejak membaca. Cuma saya yang begini atau pembaca lain juga demikian?
  4. Kenapa tidak diberi daftar isi kakak? Huhu... nangis kalau mau baca lagi di bagian-bagian yang disuka. Karena harus cari dan mengingat ada di halaman berapa.
Kelebihan Novel
  1. Penulis sukses menggambarkan watak masing-masing tokoh secara gamblang. Contohnya saja tokoh Guntur yang jika diringkas maka saya dapat menyimpulkan bahwa Guntur ini sosok yang idealis, jenius, berpendirian, namun jauh di dalam dirinya dia adalah manusia yang kesepian sejak kecil.
  2. Tema yang diangkat dari novel ini termasuk unik. Membahas mengenai dunia teknik kimia dan tantangannya di akhir orde baru. Penulis sukses membuat citra "memasyarakatkan teknik kimia" melalui karya sastra yang dibuat. 
  3. Dengan tema yang diangkat tersebut bisa menghasilkan latar yang tidak biasa.
  4. Sempat suudzon waktu membaca judul dan melihat sampul novelnya. Karena sangat khas kisah-kisah cinta remaja. Saya salah besar mengira demikian. Ibaratnya memang jika ditarik suatu garis maka yang kita temui adalah kisah cinta Guntur dan Lia. Kisah cintanya memang bisa ditebak kalau akhirnya Guntur bersama Lia dan terganjal oleh Adrian. Namun yang membuatnya tidak datar adalah bumbu-bumbunya. Mulai dari proses penokohan sampai perjuangan menjadi insinyur teknik kimia di saat krisis moneter.
  5. Sudut pandang teknik kimia dalam novel ini juga menghasilkan sesuatu yang baru. Jika di akhir orde baru kita hanya berpandangan yang itu-itu saja, ternyata jauh di dalamnya ada orang-orang yang mencoba melawan arus keterpurukan.
  6. Salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari novel ini adalah bahwa proses dan mimpi itu penting. 
Profil Lana Azim

Sudah lama tidak membuat resensi sebuah buku. Terakhir kali adalah sewaktu saya SMA, hehe itu berarti udah hampir lama sekali. Oh ya, sisi lain dari sebuah buku selain isi tulisannya adalah pembatas bukunya, tapi saya tidak menemukannya di sini. Sewaktu membaca ini saya merasa diajak menjadi mahasiswa teknik kimia dan merubah sudut pandang yang saya bawa sebelum membaca novel ini. Di akhir novel saya menemukan gambar di samping ini. Itu berarti hari ini Mas Azim bertambah usia. Kebetulan juga sehari berikutnya giliran saya yang bertambah usia. Hehe gak penting juga membanding-bandingkan tanggal lahir. Tapi merasa kebetulan memang menyenangkan. Haha...

Akhir kata, selamat menempuh usia baru. Semoga Allah memberkahi seluruh usia Mas Azim. Menebarkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sukses dengan dunia tulis menulis dan teknik kimianya. Menjadi dosen dengan hati yang tulus sehingga ilmunya bermanfaat untuk mahasiswa-mahasiswanya. Aamiin.