Thursday, 26 February 2015

Kisah Dari Bawah Atap Rumah

Foto Oleh: D. Indah Nurma

Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang lahir 15 tahun setelah NKRI merdeka sedang menikmati masa mudanya. Layaknya pemuda seusianya, dia sedang menikmati aliran darah muda yang bergejolak. Negara sudah merdeka dan pastilah meraih cita-cita tak lagi sesulit dahulu asal mau berusaha. Hobinya bermain sepak bola dan tergabung dalam sebuah tim sepak bola kelurahan di Surabaya. Mimpinya tentu saja menjadi pemain sepak bola profesional. Hidupnya yang beruntung seakan berubah dalam sekejap. Kecelakaan sepeda motor saat perjalanan luar kota hampir merenggut nyawanya. Patah tulang kaki, punggung, belikat, dan entah yang mana lagi. Kakinya dijahit dari mata kaki hingga hampir lutut, punggung dan pinggangnya juga. Tubuhnya bisa disebut seperti tambal sulam. Tak hanya itu, ternyata tubuhnya lumpuh total dan dokter tak berani memberikan harapan lebih untuknya bisa melanjutkan hidup seperti sedia kala. Menghabiskan sepanjang hari bahkan seumur hidup di atas tempat tidur adalah pilihan yang tak pernah dibayangkannya. Masih selamat saja sudah untung, pikirnya ini seperti kehidupan keduanya setelah hampir mati. Tidak lagi ada mimpi di depan, mungkin mimpi dalam tidur saja tak berani dijamahnya. Masa depannya turut remuk beserta tulang di tubuhnya. Tapi yang paling mengiris hatinya adalah perkataan dokter bahwa dia akan sulit memiliki keturunan. Jangankan soal keturunan, menjalani hidup normal saja tidak bisa.

Pemuda itu akhirnya merelakan mimpi indahnya sebagai pemain sepak bola dan masa mudanya yang begitu semangat. Dia masih punya orang tua yang lengkap dan empat saudara kandung. Paling tidak jika memang seumur hidup harus dihabiskan di atas tempat tidur, ia masih bisa mengharap kerelaan hati saudara-saudaranya untuk mengurus dirinya. Tapi dia seorang lelaki yang tak mau bergantung hidup pada orang lain. Meskipun mimpinya runtuh, ia tak membiarkan harga dirinya jatuh dan hancur seperti keadaan tubuhnya. Tekadnya sebagai seorang lelaki yang mandiri dimulai dengan berlatih menggunakan kursi roda, setelah itu berlatih berjalan menggunakan tongkat, sampai akhirnya dapat berjalan tanpa alat bantu meskipun cara berjalannya tak normal seumur hidupnya. Tentu saja proses itu tak semudah kita membaca tulisan ini. Seseorang yang divonis lumpuh seumur hidup bisa berjalan kembali dengan tidak membiarkan semangat dan harga dirinya lumpuh.

Sementara itu di belahan Surabaya yang lain seorang wanita muda usia 20an dan juga lahir 15 tahun setelah negara kita merdeka sedang bekerja dengan giat. Mulai dari buruh yang mengemasi permen mint yang lubang di tengahnya sampai menjadi penjahit. Baginya hidup tidak lagi mudah ketika bapaknya meninggalkan ia ketika belum rampung sekolah dasar. Tiga adiknya yang lain masih kecil dan butuh makan serta sekolah. Ibunya bekerja berjualan makanan apapun yang dapat dibuatnya di depan rumah. Ia anak ke-tiga dari enam bersaudara yang memilih mengabaikan pendidikannya demi membantu orang tua menyekolahkan adik-adiknya. Beruntung saat itu mencari pekerjaan tidaklah sesulit abad milenium ini. Ditambah parasnya yang ayu bagai anak orang Tiongkok pemilik pabrik tahu dan perangai yang periang, membuat dia mudah diterima dalam pergaulan. Namun yang namanya bekerja sedari anak-anak tidaklah mudah untuk dijalani. Usaha kecil-kecilan ibunya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan keinginan hidup. Tidak mendapat pendidikan yang layak tidak membuat ia tidak berpendidikan. Justru kehidupan yang keras telah mendidiknya menjadi manusia yang baik meskipun harus menjalani masa muda yang keras.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur dengan baik olehNya di Lauhul Mahfudz. Pemuda malang yang tiba-tiba kehilangan masa depan dan pemudi tangguh itu dengan cara tersendiri dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Penderitaan yang dialami pemuda itu tidak serta merta membuatnya malas melanjutkan hidup. Semangatnya yang luar biasa membawanya sebagai salah satu staff administrasi sebuah jurusan di kampus ternama di Surabaya. Sedangkan pemudi itu tidak pula menjadi angkuh karena merasa telah terlatih menghidupi dirinya sendiri. Semua proses itu membawa mereka pada suatu titik bernama dewasa dan bijaksana. Bekal seumur hidup yang paling berharga. Dengan segala keterbatasannya, pemuda itu menjalankan tugas sebagai pemimpin keluarga. Memberikan rumah dan kehidupan yang layak serta kebahagiaan bagi istri dan kedua orang anaknya. Ia bekerja keras setiap hari dan setiap akhir pekan selalu mengajak anak-anaknya berlibur. Terkadang jika kelelahan, bekas kecelakaannya menimbulkan rasa sakit yang hebat tapi tak lebih luar biasa dari semangatnya. Lalu si pemudi itu menjelma menjadi wanita yang berhati lembut, berhati besar, dan berhati tulus. Mungkin ia tak sempat mencicipi pendidikan yang tinggi tapi ia selalu mendidik anak-anaknya dengan hati. Bukan pengetahuan tentang dunia yang ia tawarkan pada anak-anaknya tapi pendidikan untuk menjadi manusia yang adil dan beradap berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan mengajarkan bagaimana sholat itu tapi menunjukkan bagaiamana sholat itu. Setiap pagi-pagi buta ia memandikan kedua anaknya lalu diletakkannya mereka di dekatnya yang sedang sholat subuh bersama suaminya. Sampai akhirnya anak-anaknya itu terbiasa bangun pagi lalu diam-diam mengikutinya sholat. Dari hal-hal sederhana itulah, dia mengajarkan bagaimana anak-anaknya menjadi manusia yang beradab di tengah peradaban yang semakin maju.

Mereka membangun keluarga yang baik di tengah segala keterbatasan. Usaha keras yang diperbuat pemuda itu dan kebesaran hati pemudi itu untuk menerima segala kekuarangan suaminya dengan ikhlas membuahkan sebuah keluarga yang bahagia. Bukan hanya sepasang suami istri itu tapi saya juga turus merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa. Tentu saja karena saya adalah anak ke-dua mereka. Saat saya kira saya sudah cukup dewasa, saya mendengar sebuah percakapan antara orang tua saya dan kakak ipar saya (waktu itu masih calon). Kiranya begini "Saya beruntung sekali memiliki seorang istri seperti ibunya Saudi (abang saya), Ibu menerima Bapak apa adanya dan selalau qanaah (tidak pernah meminta sesuatu yang tidak bermanfaat). Saya kira saya sudah cukup dewasa untuk memahami, orang tua saya tidak pernah segan menunjukkan rasa kasih sayang mereka di depan anak-anaknya. Saya kira itu kuncinya, saya mendapat pelajaran bagaimana sosok lelaki itu seharusnya dan bagaimana menjadi wanita seharusnya. Selamat kepada Ayah dan Ibu, kalian berhasil mendapatkan predikat manusia yang inspiratif bagi anaknya. Dan satu lagi, saat mengalami krisis percaya diri yang teramat parah sampai saya tak berani lagi bermimpi mereka juga masih tak pernah lelah menepuk pundak saya. Katanya setiap manusia punya jalan masing-masing dengan warna yang berbeda. Batu besar yang kebetulan ada di jalan yang bernama masa muda tak perlu terlalu dirisaukan tapi harus dihadapi. Tulisan ini untuk Ayah dan Ibu yang semoga Allah selalu memberi mereka kesehatan, panjang umur, dan bisa memenuhi panggilan ke Baitullah dalam keadaan sehat serta fisik yang kuat. Aamiin!


2 comments:

  1. terharu bacanya, mbak.. :') hm, melihat kisah romantis itu nggak perlu jauh2, cukup mencermati kedua orang tua kita. btw, semoga tulisannya menang ya :))

    ReplyDelete