Monday, 2 March 2015

Bukit Pelalangan Arosbaya: Ini di Indonesia?

Bukit Pelalangan Arosbaya
Foto Oleh: D. Inda
Tren berwisata ke bukit kapur sepertinya bakal menjadi saingan tren batu akik di tahun 2015 ini. Setelah Aeng Guweh Poteh yang sebelumnya aku intip kedahsyatannya dan Bukit Jamur di Gresik (yang ini saya belum pernah, kini Bukit Pelalangan turut mengguncang ketenangan dunia para pejalan.

Alkisah setelah melakukan drama kunjungan ke Guweh Poteh ditemani Mas Fahmi, tiba-tiba ada sebuah mention dari Bang Enzat di facebook. Sebuah postingan foto berisi screen capture instagram seseorang bernama Perry Christian mendapat banyak sekali komentar dari orang yang ingin tahu. Bagaimana tidak? Di foto itu seseorang sedang berpose berjalan dengan menggendong tas punggung di sebuah tempat tebing berbukit yang dihiasi tanaman paku-pakuan. Ditambah lagi embel-embel  kalimat “di Indonesia juga punya tempat seperti itu.” Otomatis memancing tanya orang-orang yang jaman sekarang ingin sekali disebut sebagai tukang jalan. Aku juga sih, gak mau ketinggalan dengan memforward foto itu ke Nurul haha... Sebenarnya sebuah rencana mengunjungi tempat itu di hari minggu sudah disiapkan tapi batal karena satu dan lain hal. Tentu saja tidak nekat mengunjungi tempatnya tanpa tau pasti letaknya dimana. Awalnya kubaca sekilas keterangan fotonya ada di Arosbaya, Bangkalan, Madura dan dekat dengan tempat Ziarah Aer Mata. Wah... itu sih dekat banget. Tanpa basa-basi lagi langsung saja kutanyakan jelasnya pada si empunya foto di instagram.

Akibat batal ke sana jadi cuma bisa memandangi tempat itu dari layar ponsel. Secara pribadi keinginanku mengunjungi tempat itu karena mirip dalam sebuah setting game petualangan Tomb Raider Legend yang sering saya mainkan waktu SMP. Suatu malam iseng-iseng berselancar di instagram melihat sebuah tempat yang mirip seperti foto itu yang diposting oleh Mas SlameTux, yaitu teman blogger yang sekali kutemui tapi belum kenalan waktu itu. Ini jari-jari nakal banget sampai bisa otomatis mengirim komentar minta ditemenin ke sana. Tak disangka masnya langsung mbalesi.

“Hayuk kapan? Besok? Soalnya aku weekend gak bisa.”

“Hyah bentar cari barengan dulu dari Surabaya.” Gak nyangka bakal dibales secepat itu dan ngajaknya besok juga.

Singkatnya nih aku ngajak Tika lagi yang kosong juga jadwalnya, haha... Di instagram Cuma janjian besok pagi jam tujuh di Alun-Alun Bangkalan yang dekat Kodim. Sebenernya Mas Slamet sudah bilang dilanjut di BBM tapi aku sama sekali gak menghubunginya di BBM. Haha sampai besok paginya waktu sudah perjalanan ke Alun-Alun Bangkalan dia nge-BBM duluan tanya jadi atau enggak. Ya otomatis tak bilang kalau aku udah ondewe dan udah dekat tempat janjian. Pagi itu mungkin terlalu pagi sampai yang jualan di Alun-Alun masih sedikit. Cerita sebelumnya sudah ditemani butiran cimol dan kali ini gak mau lagi makan cimol, masih bosan. Yaudah akhirnya kami berdua nungguin tanpa jajan sama sekali. Sebuah nada ping berisi pesan bahwa Mas Slamet sudah di depan Kodim membuatku berjalan ke arah Kodim sambil melambaikan tangan.  Tanpa mengucap salam dan kenalan secara formal, kami langsung menuju Arosbaya. Mas Slamet yang membonceng temannya yang seorang cowok membuatku sempat kewalahan mengejar. Lha wong dia bawa motor cowok berkopling dan ber-cc leih tinggi dari si Supri-X yang aku kendarai, ditambah jalanan yang mulai enggak mulus alias banyak lubang. Tapi untung hanya perjalanan ke Arosbaya, kalau ke Tanjung Bumi aku pasti udah bawa peralatan kunci segala ukuran buat jaga-jaga benerin motor. Masalahnya jalanan yang rusak parah di Tanjung Bumi membuat spion motorku hampir copot waktu terakhir ke sana. Kalau hanya ke Sepuluh atau Arosbaya masih bersahabat lah.

Tempat ziarah Aer Mata Ebu memang pernah sekali saya datangi, lagi-lagi ya sama rombongan pengajian kampung hehe. Bedanya waktu itu naik bus dan kali ini naik motor sendiri. Gampang sih jalanannya tinggal ikuti petunjuk jalan saja, kalau tidak paham bisa pakai GPS (Gunakan Penduduk Sekitar). Sampai di depan gerbang tempat ziarah ternyata harus belok kanan memasuki kampung penduduk. Jalanannya mulai sempit dan menanjak yang menandakan petualangan baru saja dimulai. Sampai di tengah jalan Mas Slamet berhenti dan menawari untuk dibonceng saja. Tadinya aku yang strong ini jadi menurut saja karena enggak tahu medan di depan. Ceritanya nurut aja gitu sama yang udah pernah, haha. Mulai terlihat tebing-tebing dengan bekas pahatan yang indah dan para penambang batu kapur di sana. Ternyata di sana ada pengunjung selain kami, yaitu segerombolan anak muda yang juga juga ingin tahu seperti aku dan Tika. Baru-baru ini kutahu mereka dari Surabaya setelah berkenalan dan mereka minta difotokan, mungkin mereka ingin hunting foto. Yak jalanan di depan semakin menanjak dan menukik sodara-sodara tapi pemandangan di depan juga semakin memukau saja. Jalannya licin bekas lembab atau habis hujan. Tidak ada motor selain motor kami, yang lewat sesekali cuma  mobil bak terbuka pengangkul hasil tambang yang yakin banget deh kalo mesin mobil itu sudah dimodifikasi. Saat keyakinan hati bicara kalau lebih cocok pakai motor trail , di situ terjadi seseuatu yang konyol. Saat jalanan menanjak tiba-tiba perasaan tidak enak muncul, Mas Slamet gagal menguasai tunggangannya. Saat stag tidak bisa menanjak lagi yang terjadi adalah mundur teratur. Tapi bro mundurnya itu ke bawah dan itu meluncur tajam. Lebih kocaknya saat mundur bukannya khawatir malah aku tartawa-tawa sampai akhirnya aku mendarat bebas di rerumputan pinggir tebing. Untung enggak terluka sama sekali dan juga enggak kotor kena jalanan yang seperempat becek itu. Tiduran terlentang di rerumputan sambil memakai helm itu adalah pose terakhirku waktu motor terguling. Aku malah ketewa tanpa mikirin Mas Slamet yang khawatir pixionnya bakal ngambek setelah diajak guling-guling di sana. Kayaknya Mas Slamet salah masukin kopling dah tadi, tapi untung jatuhnya jadi jatuh terencana sehingga kami tidak ada yang terluka. Sebenarnya yang aku khawatirkan bukan jatuhnya tapi kena motor yang belakang. Kebetulan motor yang belakang adalah si supri-x tercinta yang lagi dikendarai temennya Mas Slamet sama Tika.

Setelah kejadian konyol itu berlalu kami menepikan kendaraan di spot pertama untuk istirahat dan foto-foto dong. Eh iya tak lupa kenalan secara resmi dan akhirnya aku tahu nama temannya adalah Stevian. Namanya sama susahnya untuk diingat dan disebut dengan bukit yang sedang kami kunjungi, yaitu Bukit Pelalangan. Mungkin yang nganggep tempat itu seperti setting game hanya aku, lainnya sepakat seperti di film Indiana Jones. Aku hampir kehilangan kata-kata karena beneran merasa senang di sana. Tempatnya seru dan memukau menurutku. Di kanan dan kiri semuanya tebing yang dulunya bukit. Tebingnya memiliki pola khas pahatan kotak atau garis-garis terartur dan dihiasi tumbuhan paku atau keluarga tumbuhan perintis lainnya. Banyak sudut yang bisa didatangi seperti goa-goa yang juga terbentuk karena proses penambangan. Ah gimana ya bro jelasinnya, pokoknya keren banget lah serasa berpetualang dimana gitu. Eh ya sampai lupa, hati-hati terhadap pungli di sana. Saat kami istirahat ada seorang bapak yang menanyakan asal kami dari mana dan langsung kujawab dari Surabaya. Ternyata pemirsa dia langsung bilang minta duit 50 ribu rupiah, eh buset dah... Langsung Mas Slamet ngeluarin jurus silat lidah ala orang Madura sampai akhirnya dia menang, yay! Kesalahanku sih, harusnya gak asal jawab tadi. Tapi kalau aku jadi penduduk sekitar juga pasti bakal miris sih, lokasi yang ada di sekitar mereka jadi tujuan wisata tapi mereka belum merasakan dampak positifnya.

Gaes kami sarankan saat ke sana membawa perbekalan yang cukup, seperti minuman dan makanan ringan tapi kalau selesai bawa pulang sampah kalian ya. Di sana tidak ada yang jualan makanan atau minuman dan waktu itu yang bawa minum air putih cuma aku seorang dan diminum berempat. Mas Slamet dan Mas Stevian belum sarapan pagi juga. Sementara kami bertiga masuk-masuk di goa, si Mas Stevian sepertinya kelaparan sampai hanya diam dan selfie-selfie. Saat melanjutkan petualangan tanda-tanda dia kelaparan makin tampak jelas, bukan pucat atau mau pingsan tapi rese gak karuan. Mulai dari ngambil sabtang ranting dan dia pukul-pukul ke tas punggung aku sampai dia narik tasku waktu aku jalan. Bro lo rese banget kalau lagi laper, haha...
Kartika di salah satu sudut Bukit Pelalangan
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Lompat
Foto Oleh: Mas Slamet
Kegiatan Penambangan Batu
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Matahari sudah tepat di atas dan kami memutuskan mengakhiri petualangan seru menjelajahi Bukit Pelalangan Arosbaya ini. Saking serunya berpetualang dan melihat orang-orang menambang dengan cara memahat, waktu cek hasil foto-foto di galeri ponselku ternyata hanya sedikit, huhu sedihnya. Sebelum benar-benar balik ke Surabaya kami menunaikan ibadah sholat duhur di Masjid Besar Arosbaya dan mengisi perut di warung pinggir jalan. Setelah makan rupanya Mas Stevian sudah sembuh dan nyamperin. Kukira mau ngapain ternyata minta diinvite ke BBM, haha... Seru pol petualangan dadakan ke Bukit Pelalangan Arosbaya ini. Pengalaman baru dan dapat teman baru. Akhirnya saat pulang aku merasa digelayuti rasa khawatir bakal dikutuk massal kalau upload foto Bukit Pelalangan karena enggak ngajak dan mendahului teman-teman. Selain itu mungkin saja Bukit Pelalangan bakal ganti nama menjadi Bukitnya Indah setelah Gili Labak disebut teman-teman saya Pulaunya Indah dan kolam renang di Jaddih juga disebut Kolamnya Indah. Haha... Eh iya semoga ya pemda setempat mengelolanya dengan baik.

Bro dan sis sekalian saya punya catatan khusus kalau ke sana:
  1. Bagaimana rute ke sana? Cukup ikuti petunjuk arah menuju Arosbaya dan Aer mata Ebu. Sampai sana masuk jalan ke kanan yang melewati rumah penduduk.
  2. Kalau bawa mobil, silakan parkir di tempat ziarah dan ke sananya trekking bentaran gapapa. Kalau bawa motor pastikan kalian memakai helm untuk antisipasi kejadian yang kami alami.
  3. Bawa perbekalan secukupnya tapi jangan tinggal sampahmu di sana ya.
  4. Meskipun tidak membawa teman yang asalnya Madura jangan khawatir dan tetaplah ramah sambil tersenyum pada orang-orang di sana.
  5. Terakhir jangan corat-coret bukitnya ya biar terjaga keindahannya. Kalau mau corat-coret di FB masing-masing aja ya atau sekalian tulis di blog.
More photo di google plus atau instagram ya gaes. Selamat berpetualang di sana.