Sunday, 1 March 2015

Drama Perjalanan ke Guweh Pote

PING!!!

“Tik, besok hari rabu free atau ada jadwal?”

“Libur mbak, ada apa?”

“Yuk touring ke pulau seberang, refreshing sebelum kesibukan mendera.” Tanpa basa-basi langsung saja kuajak Tika, tetanggaku sedari kecil itu.

Rencana awal kami pergi di hari rabu bukan ke pulau seberang melainkan ikut Lunar Track dari House of Sampoerna. Ternyata jadwal Lunar Track diundur dan kami sebelumnya sudah pernah ikut tour yang track biasanya itu. Dulu pernah punya rencana ngajak dia ke Mercusuar dan makan Bebek Sinjay langsung di tempat asalnya tapi gak jadi-jadi.

Lalu tiba-tiba teringat Mas Fahmi, seorang teman yang kukenal lewat kekonyolan dunia maya dan konspirasi Gili Labak itu sedang pulang kampung di Bangkalan. Ponsel yang masih ditangan langsung saja kubuka aplikasi messanger dan mencari nama Fahmie Ahmad di sana.

PING!!!

Lama tak ada tanda-tanda dilihat, dibaca, dicelupin eh dibalas maksudnya. Duh jaman udah semakin canggih tapi ternyata menghubungi orang juga rada-rada susah. Enggak kehabisan akal, kubuka aplikasi Instagram dan meninggalkan sebuah komentar di salah satu fotonya agar menghubungiku di BBM. Dan ajaib langsung  ada nada pesan masuk dan ternyata dari dia. Tak lama pesan berderet yang intinya sama seperti yang kukirim ke Tika terkirim padanya.

“Ayok, jam berapa? Ketemu dimana?” respon cepat dari Mas Fahmi.

“Pagian gimana? Jam tujuh gitu aku berangkat dari rumah.” BBM terkirim secepat kilat (efek pakai simpati dan bukan iklan apalagi endorse).

“Aku bisanya jam 9 baru berangkat dari rumah, kita ketemuan di Alun-Alun Bangkalan aja. Sekalian gitu ke kolam renang yang di Jaddih”

Gagal sudah rencana berangkat pagi biar enggak pulang terlalu sore. Aku mulai tak bisa berpikir jernih karena jam malam yang biasanya disebut jam goblok ditambah lagi sedang haha hihi main Ingress di warung kopi Cak To sama teman-teman Enlight yang lain. Kubalas singkat saja, kalo nanti aku BBM lagi karena masih di luar rumah.

Esok paginya subuh-subuh sebuah BBM yang berisi rute ke Jaddih sudah melayang ke Mas Fahmi. Sudah lima menit berlalu tapi Cuma tanda centang yang terlihat. Tadinya masih asik aja mungkin dia sedang kesiangan seperti sebuah cerita dari Bang Enzat yang pernah kubaca saat mereka melancong ke Sumbawa. Tapi setelah sebuah PING yang juga kukirim tak kunjung berbalas mulailah panik mendera. Satu-satunya yang bisa jadi teman curhat cuma Bang Enzat. Dan Bang Enzat kasih saran kalau ditelpon aja. Duh lupa aku kalau gak punya nomornya, lalu dia memberiku dua nomor Mas Fahmi. Setelah coba aku simpan dulu eh lah kok di kontak telpon ada nama Fahmie Ahmad dan ternyata aku pernah berkirim Whats App dengannya. Duh pikun deh, haha... tapi setelah coba telpon, ternyata masa aktif kartuku indosatku yang habis dan telkomsel cuma ada paket internet. Sebuah pengakuan memalukan itu melayang juga ke BBM Bang Enzat. Akhirnya Bang Enzat yang coba telpon ke nomor-nomor Mas Fahmi tapi semuanya gak bisa dihubungi.

“Tik, kita berangkatnya nunggu kabar temenku dulu ya? Dia katanya bisa kalau jam 9 tapi sekarang gak bisa ditelpon atau BBM. Ntar kalau gak bisa kita berangkat sendiri tapi gak usah ke kolam renang Jaddih. Aku Cuma tau jalan ke Mercusuar.”

“Iya, mbak.” Jawaban yang pasti akan diberikan Tika. Haha...
Setelah memasuki jam manusiawi untuk beli pulsa akhirnya masa aktif kartu bertambah dua minggu. Bergantian telpon dan sms ke kedua nomor Mas Fahmi jadi usaha terakhir. Setelah jari-jemari hapal untuk bergantian telpon yang disambut mailbox di XL dan tanpa nada sambung di axis akhirnya membuahkan hasil setelah 30 tahun (entah berapa jam yang rasanya bagai bertahun-tahun). Pesan singkat yang berisi dia jadi ikut dan ketemu di alun-alun langsung masuk ke inbox SMSku.

Bak gayung bersambut (ceileh...) kami langsung tancap gas motor dari Surabaya. Pelan-pelan saja biar menikmati angin di jalan dan lagipula jarak rumahku yang di Surabaya dan rumah Mas Fahmi di Bangkalan menuju alun-alun sama jaraknya, bahkan mungkin lebih dekat rumahku, haha... Benar saja aku dan Tika yang sampai duluan. Seperti disambut malaikat-malaikat yang membuka pintu surga, di sana banyak jajanan broh.... mataku berbinar berbintang-bintang melihat itu semua. Akhirnya sambil menunggu Mas Fahmi datang kuhabiskan waktu bersama butiran cimol dan pentol, tak lupa berkirim kabar ke Bang Enzat kalau Mas Fahmi sudah bisa dihubungi.  Lalu setelah 675 kata tulisan ini belum juga aku bercerita bagaimana perjalanan menuju ke kolam renang di Jaddih dan Mercusuar. Bro drama di atas terlalu seru untuk dilewatkan haha.

Baiklah akhirnya Mas Fahmi datang bersama seorang bocah yang bukan bocah lagi, katanya untuk penunjuk jalan ke Jaddih dan ternyata satu lagi bocah yang sudah ada di alun-alun sejak tadi ternyata teman ponakan Mas Fahmi yang masih bocah itu. Setelah rehat sambil mengenang bagaimana cerita mengenal Mas Fahmi di Instagram yang ternyata pernah ketemu di Gili Labak dan perkenalan dengan Bang Enzat di dunia maya yang gara-gara memperjuangkan Sempu lalu ternyata mereka berteman mesra sampai-sampai kalimat ini entah kapan titiknya akhirnya kami berangkat juga ke tujuan pertama.   

Kolam renang Aeng Guweh Pote ini merupakan sebuah kolam renang yang terletak di antara bukit kapur di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Setelah dua kali muter karena di penunjuk jalan kebablasan yang ternyata belum kebablasan jalan akhirnya sampai juga di sebuah bukit kapur dengan kegiatan khas penambangan seperti yang ada di Gresik. Kira-kira bagaimana bentuknya sebuah kolam renang jika ada di tempat seperti ini? Ya tau sih dari mbah google tapi penasaran aja kalau lihat langsungnya. Ternyata beneran enggak jauh dari pusat kota, sekitaran 15 menit tanpa nyasar tapi ya jalanannya mudah banget kok.
Penampakan kolam renang Aeng Guweh Pote (maap saya gak mahir motret)
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Setelah membayar yang entah berapa saya lupa akhirnya bisa parkir juga di bawah goa-goa  bukit kapur. Tujuan ke situ yang semula mungkin bisa icip-icip air kolam renang akhirnya urung dilakukan. Matahari siang itu ada dua dan bisa dibayangkan berubah dekil setelah berenang di bawah sinar matahari. Lalu kami memilih foto-foto dan mengamati saja keadaan sekitar. Konon katanya air di kolamnya berasal dari sumber air di bukit tersebut ketika penambang sedang melakukan penambangan. Daripada airnya hanya menjadi kubangan besar lalu diputuskan untuk dibangun kolam renang sebagai tempat wisata. Tidak lazim memang kolam di lokasi seperti itu tapi justru itu yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Bagi yang ingin berenang di sana juga sudah ada tempat ganti lho seperti di tempat berenang pada umumnya. Lalu yang ingin duduk-duduk menikmati pemandangan bisa nongkrong di warung-warungnya. Kalau yang ingin foto-foto bisa banget dan gak bakal bosen dengan berbagai angle menarik di sana. Setelah meilhat-lihat pasti kita akan tahu kenapa dinamakan Guweh Pote atau dalam Bahasa Indonesia Goa Putih. Karena banyak goa di bukit kapur yang putih itu dan goanya juga terbentuk karena penambangan batu kapur. Karena gak jadi nyebur kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Mercusuar Sembilangan yang pernah beberapa kali saya kunjungi.
Oh ya gaes buat kalian yang memang ingin berenang di sana lebih baik pagi atau sore hari. Buat yang berenang siang kalian super tapi jangan lupa pakai sunblock, bukan masalah dekilnya yang saya khawatirkan tapi paparan sinar matahari yang menyengat di kulit.  Dan untuk peta lokasi bisa dicek di sini.

Oke gaes, kami mengginggalkan Guweh Pote dengan foto-foto seadanya yang penting pernah ke sana, haha. Sebelum menuju Mercusuar kami memenuhi dulu panggilan Pemili Alam untuk bersyukur. Masjid Syaichona Cholil yang kami pilih karena searah dan bagus pula masjidnya. Aku pernah sekali ke sana sih tapi bareng rombongan pengajian Kampung Kapas Gading Madya tercinta. Syaichona Cholil merupakan orang berpengaruh di Bumi Madura, enggak heran banyak yang berziarah ke makam beliau apalagi masjidnya mengagumkan. Di sana foto-foto boleh asal tidak mengganggu ketenangan ya gaes.

Dari masjid menuju mercusuar bisa memakan waktu hanya lima menit kalau kalian bermotor seperti angin. Haha... nyante aja lah menikmati pemandangan sekitar. Tidak ada yang berubah di mercusuar tetap ada pungli dari penduduk sekitar sejumlah dua ribu rupiah untuk satu sepeda motor dan lima ribu rupiah untuk mobil. Masuk ke mercusuar juga dikenakan biaya lima ribu yang dihitung permotor, kalau yang ini saya maklum lah untuk sumbangan ke penjaga mercusuarnya. Di mercusuar yang berubah hanya saya yang mulai ngos-ngosan naik ke lantai 17. Entah efek bertambah tua atau jarang olahraga, mungkin opsi kedua sih hehe... Yang menarik di atas adalah saya ke sana dan menikmati pemandangan di sana dengan orang-orang yang baru lagi. Tempatnya sama, pemandangannya sama, yang baru dan membuat cerita yang lain adalah orang yang baru juga. Tak disangka-sangkan, Mas Fahmi yang jago naik gunung malah ketakutan di atas sana. Duh.... akhirnya dia memilih sembunyi dibalik pintu mercusuar bagian dalam tapi keluar lagi karena berhasil meminjam tongsis dari pengunjung lain. Subhanallah... ajaib kalo soal foto-foto haha. Pakai kamera depan hape Tika yang baru emang cihuy dan hasilnya bening. Tapi bro, tumben ngeri sih karena anginnya kenceng. Sempat hape hampir jatuh dari tongsis tapi masih bisa diselamatkan,  yang wasalam hanya duit dua ribu rupiah dari saku jaketku yang melayang entah kemana diterbankan angin laut. Huhu... dua ribu rupiahku melayang sia-sia. Daripada terjadi drama yang lain, kami putuskan bersantai di warung rujak saja dan saya bantuin Mas Fahmi ngehabisin rujak. Haha...
Dibalik senyum ada ketakutan, haha


Di sini sebenernya yang paling ditunggu. Konklusi dari drama perjalanan hari ini yaitu makan makanan yang turun dari surga, Bebek Sinjay. Khawatir sudah tutup akhirnya kami memacu kendaraan secepat dan seaman yang kami bisa. Yay! Masih buka bro, terharu aku jadinya. Saat yang lain memesan dan cari tempat duduk, saya sholat asar dulu saja. Setelah sholat semuanya sudah terhidang dihiasi wajah-wajah kelaparan mereka. Haha... setia kawan juga rupanya karena ditungguin. Jangan ditanya lagi, lapar dan Bebek Sinjay itu perpadua luar biasa. Jangan dibayangin nanti ngiler lho. Haha... akhirnya drama hari itu yang terangkum dalam 1.500an kata ini diakhiri dengan hati senang, perut kenyang, mari pulang.