Friday, 18 September 2015

Sabtu Malam Bersama Dugs di Surabaya.

Beware! Isi postingan kali ini adalah 100% curhat.

http://stasiunrasa.tumblr.com/post/126966107072/orang-bilang-tinggalkan-cinta-dan-kejarlah-cita


Begitulah quote singkat yang agak sesat namun nyata. Sabtu 15 Agustus 2015, harusnya saya pergi ke Tulungagung untuk acara penanaman terumbu karang bersama Marinir di Pantai Sine. Pantainya luar biasa menenangkan meskipun dengan karakteristik khas pantai selatan Jawa. Setelah pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan untuk tidak jadi pergi pada hari penting itu. Padahal melakukan hal tersebut adalah cita-cita saya sejak lama, paling tidak sedikit melakukan hal yang berguna untuk masa depan kelautan. Throwback ke seminggu sebelunya, saya tidak mengikuti acara gathering komunitas Enlightened Surabaya sampai selesai karena belum packing untuk ke Tulungagung. Ya, seminggu sebelumnya saya sudah ke sana untuk berlatih bersama Marinir dan juga bonus bertemu teman-teman baru yang menyenangkan. Saya kira akan menjadi biasa saja tapi ternyata perjalanan pergi dan pulang ke sana sendirian menyisakan banyak cerita. Mulai dari teman baru, berbagi cerita bersama Marinir, makan di rumah warga, sampai ketiduran tidak karuan di dalam bus yang lumayan sepi.
Menurunkan Plat untuk Menanam Terumbu Karang
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Matahari Terbit di Pantai Sine Tulungagung
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Ya, saya memilih menunda cita dan mengulang cerita menyenangkan itu demi cinta. Cinta pada keluarga dan cinta pada Dugs. Terdengar picik dan egois tapi itulah pilihan, bahkan katanya tak punya pilihan adalah sebuah pilihan. Sabtu 15 Agustus 2015 harusnya saya memandang laut selatan dan bersiap untuk upacara hari kemerdekaan tapi saya memandang matahari senja di Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya. Bersama sahabat-sahabat yang sudah mengganggap saya seperti keluarga. Agendanya adalah mendo'akan dua orang yang berulang tahun di bulan itu dan mendo'akan Medi yang akan pindah ke Bandung untuk menyelesaikan S2. Bagaimana bisa saya absen untuk melepas Medi pergi? Karena entah kapan bisa bertemu lagi. Tak banyak yang kami lakukan, selayaknya sekumpulan anak muda yang menghabiskan sabtu malam mereka di dalam kota. Setelah memandang senja bersama, kami pergi ke kawasan Ampel untuk makan malam bersama. Nasi jagung Ampel katanya, atas referensi dari Taufik. Dan ternyata menu makan malam kami memang ciamso alias ciamik soro. Haha... Sederhana, hanya nasi jagung, peyek udang, belut goreng, kikil, babat goreng, dan sambal. Penampilannya sih ora umum buat saya tapi ternyata enak banget. Setelah itu kami kemana lagi? Nongkrong dong di depan Balai Kota Surabaya. Biar kekinian tapi padahal mah saking kudetnya saya baru kali itu nongkrong di sana, karena jaman SMA dulu waktu saya cuma buat les pripat (nah kan curcol di tengah curhat). Ya di situ lah kami justru ngobrol dari hati ke hati, hehe... Apa yang kami obrolkan? Rahasia xD. Agenda dadakan terakhir adalah karaoke di NAV Kedung Doro. Buset dah rute hari ini, dari rumah saya yang di utara Surabaya ke Timur, lalu ke Utara lagi, lalu ke Pusat dan balik lagi ke Utara.  Saya beri tahu ya, karaoke itu sejatinya 10% nyanyi dan 90% curhat. Hahaha... Sungguh malam minggu eh sabtu malam yang biasa saja di mata orang-orang tapi ya orang-orang cuma bisa melihat ini sebagai hedonisme semata. Effort untuk mengumpulkan kami secara lengkap itu lho yang luar biasa. Maklum sudah dewasa, sudah punya kesibukan masing-masing, meskipun degupan jantung kami akan selalu seirama.
Dugs di Ekowisata Mangrove
Poto Pake Tripod 

Dugs di Balai Kota Surabaya
Foto Oleh: Taufiq 

Dinner Nasi Jagung Ampel
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Yang tak kalah kuat magnetnya sehingga saya lebih memilih stay di Surabaya bukannya pergi ke Tulungagung adalah syukuran atas kehamilan kakak ipar saya. Hal yang paling ditunggu oleh seluruh keluarga. Betapa jahatnya saya jika tetap pergi di hari bahagia keluarga kami. Bahkan agenda ops bersma tim Enlightened Surabaya, saya skip karena ingin ada di antara mereka. Bukan syukuran besar-besaran, hanya hal biasa saja. berkumpul bersama keluarga di rumah. Sedekat-dekatnya orang lain bagai keluarga sendiri tak boleh mengalahkan rasa pada keluarga yang ditakdirkan Tuhan untuk kita. Saya kehilangan kesempatan melakukan hal yang saya cita-citakan di Tulungagung? Mungkin iya tapi itu bukan satu-satunya kesempatan yang akan datang, saya yakin itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali, begitu katanya. Saya tidak percaya karena yang hanya satu dan jadi satu-satunya di dunia ini hanya Tuhan. Kesempatan? Ia akan datang lain kali, dalam bentuk yang lebih baik asal kita menjalani hidup dengan baik dan percaya padaNya Yang Maha Baik. 

3 comments:

  1. so sweet rek ceritane, sampe mengharu biru q T_T hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga alasan aku ga bisa ikut ke Pantai 3 Warna. Maaf :)

      Delete