Sunday, 23 April 2017

3 Hal Paling Berkesan Dari Sinetron Keluarga Cemara

Image source: http://www.gulalives.co

Sinetron tahun 90an yang paling saya ingat sampai sekarang yaitu Keluarga Cemara. Kalau sinetron 80an? Saya kurang tahu karena saya sendiri lahir tahun 90an. Haha... Yang saya ingat sampai sekarang ya cuma Keluarga Cemara. Sebenarnya ada banyak sekali sinetron yang bagus seperti Si Doel Anak Sekolahan, tapi karena masih bocah dan tidak paham dengan konflik yang dibahas. Jadi ya sebagai anak yang baru masuk SD, sinetron yang paling berkesan dan masih diingat ya Keluarga Cemara.

Pertama kali ditayangkan tahun 1996 dan itu bahkan saya belum SD, hehe... Keluarga Cemara mengisahkan tentang kehidupan Abah sebagai penarik becak, dengan istrinya (Emak) sebagai sosok istri yang pengertian dan ibu yang baik, serta ketiga anaknya, yaitu Euis (anak pertama), Cemara atau biasanya dipanggil Ara (anak kedua), dan Agil (anak terakhir). Sinetron ini mengisahkan tentang satu keluarga yang sederhana dan saling mengasihi, seperti judul yang diangkat. Cerita yang diangkat dalam sinetron ini berdasarkan tulisan Arswendo dari cerita bersambung sebuah majalah yang kemudian diangkat menjadi novel. Bagi saya ada beberapa hal yang membuat sinetron ini meninggalkan kesan yang dalam sampai sekarang.

1. Original Soundtrack atau lagu tema pembuka yang hangat.

Coba simak lirik lagu ini.

Harta yang paling berharga, adalah keluarga.
Istana yang paling indah, adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga.
Mutiara tiada tara, adalah keluarga.

Kalau belum ingat boleh sambil putar video di bawah ini. Tapi saya yakin 99% jika kalian juga pasti ingat dengan lagu pembuka sinetron Keluarga Cemara ini.

Bagi saya, lirik lagu yang sederhana ini mampu membuat kita kembali menengok ke dalam keluarga saya. Ajaibnya bisa menimbulkan rasa syukur karena bagaimanapun keadaan keluarga, mereka lebih dari harta dan materi. Setuju kan?

2. Rangkuman Kesederhanaan.

Kalau saya boleh bilang, seluruh bagian dari sinetron Keluarga Cemara adalah sebuah kesederhaan tapi mampu merangkum banyak hal yang indah dipandang dan didengar. Contoh pertamanya tentu saya pada bagian lagu pembuka, lirik yang mereka gunakan adalah kata-kata yang lazim kita dengar jika membahas tentang keluarga. Tapi justru kesederhanaan itu bisa menjadi lagu yang masuk telinga kemudian turun ke hati.

Lalu kesederhanaan yang lain adalah dari segi kehidupan keluarga yang diangkat. Tidak seperti kebanyakan sinetron jaman sekarang yang sangat menunjukkan sisi materi, beda si kaya dan si miskin, kemudian seolah menjadi miskin itu akan sangat tertindas. Di sinetron Keluarga Cemara bukan tak pernah mengangkat tentang cerita seperti itu, namun bagian cerita tersebut bukan menjadi poin utama dalam sinetron ini. Karena mereka menunjukkan bahwa menjalani kehidupan sederhana itu tidak apa-apa dan sederhana bukan berarti tidak berdaya.

Kesederhanaan yang diangkat juga sangat realistis dengan kehidupan sehari-hari yang terjadi. Karena pernah saya melihat ada sinetron atau FTV yang menceritakan latar tokoh dari keluarga sederhana tapi dandanan tidak nyambung. Kan lucu ya? Tapi sinetron ini benar-benar menyajikan kehidupan yang sederhana, penampilan para tokohnya juga apa adanya, dan malah jadi tontonan yang menarik.

 3. Penuh dengan nilai-nilai kehidupan

Kasih sayang dalam keluarga. Di sini diceritakan bahwa Abah dulunya adalah seorang pengusaha yang pada akhirnya jatuh miskin karena suatu hal. Tapi karena kesetiaan istrinya dan kasih sayang anak-anaknya, menjadikan mereka keluarga yang bahagia bagaimanapun keadaannya. Kasih sayang keluarga menjadi satu nilai utuh yang menggambarkan keseluruhan sinetron ini.

Ketulusan yang dibawakan masing-masing anggota keluarga juga terlihat sangat jelas. Abah yang tulus menerima keadaan hidupnya saat itu, emak yang masih setia pada abah juga tidak pernah mengeluh bahkan tulis merawat anak-anaknya dan membantu perekonomian keluarga, dan anak-anaknya yang juga menerima keadaan abah setelah tidak lagi menjadi pengusaha.

Kemudiaan ada nilai saling menghormati yang bisa kita resapi. Emak sebagai istri tetap menghormati Abah sebagai kepala keluarga dalam keadaan perekonomian keluarga yang buruk, anak-anak yang menghormati orang tua dengan cara membantu di rumah dan berjualan, lalu Ara dan Agil sebagai adik juga menghormati kakaknya.

Yang terakhir dan paling saya ingat, yaitu tentang tetap berusaha dan bekerja keras. Walaupun dikisahkan mereka jatuh miskin dan harus menjalani kehidupan yang serba sederhana, keluarga mereka tidak lantas merasa terpuruk dan tetap berjuang dalam hidup. Abah menjadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya dan Emak berjualan opak dibantu oleh anak-anaknya. Ini yang patut kita sadari bahwa menjalani kehidupan yang sederhana tidak berarti tak berdaya. Orang kaya ataupun miskin tidak perlu dibeda-bedakan, semuanya berusaha yang terbaik untuk kehidupan masing-masing, tidak ada yang memalukan dalam hal berusaha karena semuanya tetap saja manusia yang harus saling menghormati.


Cerita tentang kehangatan keluarga dan anak-anak seperti inilah yang mampu saya ingat sampai sekarang. Cerita yang sederhana tapi banyak memiliki pesan moral yang mudah saya cerna sebagai anak kecil. Sekarang juga masih ada menurut saya sinetron yang mengajarkan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari, namun belum ada yang layak ditonton oleh anak kecil. Saya juga tidak putus harapan, saya yakin suatu saat pertelevisian Indonesia akan mampu menyajikan tontonan yang bermanfaat dan berkualias, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. 

8 comments:

  1. saya juga suka nonton keluarga cemara, penuh kesederhanaan

    ReplyDelete
  2. Dulu wktu masih kecil suka nonton ini... Terus sama teman suka main ala2 keluarga cemara... Pura2 jadi Ara sm Agil terus ala2 jualan opak =D
    Keluarga cemara TERBAIK memang 👌

    ReplyDelete
  3. sinetron ini memang inspiratif banget.... genre yg mungkin ga banyak production house berani ambil.... berharap anak2 skrg dapet tontonan seinspiratif Keluarga Cemara :)

    ReplyDelete
  4. Suka juga dengan keluarga cemara. Sederhana tapi banyak pelajarannya. Kangen dengan sinetron2 seperti ini...

    ReplyDelete
  5. Saking gk pernah liat sinetron, aku udah gk hapal nama2 pemain sonetron yg baru2 hahaha. Hapalnya Ari Wibowo muluk *eh

    Kapan ya, ada sinetron kek Kel. Cemara gini, yg agak mirip2 Haji Muhidin kali yak. Ceritanya sehari2 bgt

    ReplyDelete
  6. aku ga nonton waktu kecil dulu.. sebagian keluarga suka cocoklogi.. cemara itu pohonnya umat kristiani. So, ga pernah nonton sinetron ini. Walau kata orang bagus. Namanya kita berbakti ke orangtua selama ga disuruh berbuat jahat :)

    ReplyDelete
  7. Nonton cerita ini jadi teringat saat zaman kecil dulu.

    ReplyDelete
  8. Jaman sekarang ada ga yah sinetron yang mendidik kaya gini ?

    ReplyDelete