Sunday, 7 May 2017

Anak Kota Pindah Ke Desa

Sawah di depan rumah teman

Per  tanggal 1 Mei kemarin resmi meninggalkan Surabaya sebagai kota kelahiran dan berkehidupan sejak kecil. Lalu saya pindah kemana? For good? Pindah ke salah satu kabupaten kecil di Jawa Tengah untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Minimal sampai awal tahun depan dan belum tahu takdir selanjutnya. Masih ingin mencoba S2 di rencana yang kemarin dan masih ada keinginan emigrasi. Baru sempat menulis sekarang tentang kepindahan yang begitu cepat, karena beberapa hari ini masih sibuk berkenalan dengan banyak rekan baru dan pekerjaan yang harus dihadapi.

Pekerjaan macam apa sih yang membuat saya rela meninggalkan kota besar dan malah merantau ke desa? Apakah pekerjaan dengan gaji besar? Jawabannya sama sekali bukan pada iming-iming gaji yang besar. Saya nyasar di sini jauh dari kota besar tempat saya lahir dan besar sebenarnya adalah buah dari satu idealisme yang saya coba untuk terapkan. Boleh tertawa. Setelah menyelesaikan pendidikan kemarin, ada yang mengusik jiwa #halah... Saya ingin setidaknya sekali, sedikit saja, sebentar saja tidak apa-apa jika diberi kesempatan mengamalkan ilmu selama ini agar bermanfaat untuk orang lain. Karena mungkin ada hak orang lain dalam nikmat menuntut ilmu kemarin. Kemudian ada satu kesempatan untuk melakukannya dan saya coba. Bukan secara cuma-cuma, tapi melalui beberapa tes. Itu yang membuat saya dua kali dalam dua minggu melakukan perjalanan pulang-pergi Surabaya-Semarang. Alhamdulillah kemudian hasilnya saya ditempatkan di kabupaten ini. Di sini ada beberapa pusat perbelanjaan modern, tidak terlalu besar seperti milik Surabaya, ada satu bioskop, ada satu restoran waralaba ayam cepat saji. Itu di pusat kota dan jika berjalan sebentar ke utara, selatan, timur, dan barat ya kita akan menemukan kegiatan khas pedesaan. Sawah dan peternakan, ada gunung yang terlihat.

Bagaimana rasanya tinggal di desa sebagai anak kota? Belum bisa memberikan jawaban apapun, masih genap seminggu tinggal di sini. Sejauh ini rasanya masih seperti berlibur tapi berlibur yang akhirnya entah kapan. Belum punya teman akrab yang bisa diajak keluar dan nongkrong bareng karena semua rekan satu tim maupun tim  lainnya sudah berkeluarga. Tidak masalah, yang penting luruskan niat untuk apa tujuan tinggal di sini.

Apakah rindu Surabaya? Sepertinya yang akan lebih saya rindukan nanti bukanlah Surabaya tapi orang-orang yang ada di sana. Mungkin sedikit sih, Surabaya dan segala kemudahannya bagi saya. Ya namanya saja orang Surabaya tulen. Wkwkwk... Dan setelah dini hari pulang dari Semarang, paginya langsung ke kantor pajak, keliling mengambil barang yang akan di bawa yang masih nyantol di teman-teman. Malamnya pergi makan malam, pamitan dengan kakak senior yang akan segera pulang ke Jepang, ternyata saya duluan yang meninggalkan Surabaya. Lalu esoknya pamitan dengan mbak Sari dan Candra. Soal packing? Saya packing kilat. Haha...


Jadi beginilah saya yang memulai hidup baru di kota baru, sendirian. Tapi tida begitu kesepian, karena selain punya rekan kerja yang ramah, juga setiap  hari masih keep in touch dengan mas Taki, mbak Sari, Candra, dan semua teman di Surabaya maupun luar Surabaya yang selalu mendukung saya dalam kebaikan.
Waktu pamitan sama Mbak Sari dan Candra