Sunday, 12 November 2017

Seperti Wage, Sendiri Tak Berarti Sepi

Poster Film Wage

Tepat di momen Hari Pahlawan ini, 10 November 2017, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makam salah satu pahlawan nasional Indonesia setelah 20 tahun tinggal di Surabaya. Iya seperti yang tertulis pada judul, saya mengunjungi makam pencipta lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, yaitu Wage Rudolf Soepratman. Letaknya di Jalan Kenjeran, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Dulu niatan saya untuk mengunjungi makam W.R. Soepratman hanya sekadar memfoto dan menceritakan keadaan serta sekilas sejarah hidup beliau. Jadi alasan apa yang mendasari saya akhirnya memutuskan mengunjungi beliau? Yang terbesar adalah untuk mengucapkan terima kasih serta doa untuk beliau. Dan akhirnya malah mengikuti upacara hari pahlawan sampai selesai di Makam W.R. Soepratman bersama dengan siswa sekolah.
 
Suasana Upacara Dalam Rangka Hari Pahlawan di Makam W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Mengheningkan Cipta
         Image Source: 
Dokumentasi Pribadi

Makam W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Silsilah Keluarga W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Monumen Patung Untuk Mengenang W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Kisah Hidup W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Bukan tanpa sebab jika keinginan saya untuk mengunjungi makam Wage ini semakin besar. Karena pada tanggal 9 lalu saya beruntung karena memutuskan ikut menonton Film Wage beserta para pemainnya. Sekilas jika orang mendengar apa sih Film Wage? Nampak seperti penyebutan hari di penanggalan Jawa. Apakah ini another horror film yang lagi booming? Bukan, ini adalah film biografi atau biopic tentang Wage Rudolf Soepratman atau yang lebih sering kita sebut dengan W.R. Soepratman, komposer lagu kebangsaan kita. Film Wage ini menceritakan tentang kisah hidup Wage dari kecil hingga wafat.

Dalam film ini mungkin kalian akan menemukan untold history tentang Wage. Karena sutradara sendiri melakukan riset dengan mengumpulkan buku-buku Wage selama 7 tahun. Seperti yang kita tahu dalam sejarah, lagu Indonesia Raya ini pertama kali diperdengarkan saat kongres pemuda tanggal 28 oktober 1928. Lirik lagu Indonesia Raya tidak boleh diperdengarkan waktu itu. Tapi Wage tetap memainkan biolanya dengan penuh penghayatan. Karena bagi Wage biola adalah temannya, tidak pernah merasa sepi karena hatinya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia melalui biola dan musiknya.

Sinopsis
Lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah simbol dan identital bangsa semenjak mula pertama berkumandang bersamaan dengan ikrar Sumpah Pemuda. Momentum 28 Oktober 1928 ini merupakan perwujudan dari kebangkitan kesadaran perlawanan terhadap penjajah secara nasional, yaitu kesadaran untuk melawan penjajah secara bersama-sama sebagai satu bangsa, Indonesia Raya, dan tidak lagi berbasis kedaerahan dan kesukuan maupun keagamaan. Daya pembangkit kesadaran kebangsaan yang terkandung dalam lagu Indonesia Raya dan Sumpah Pemuda, yang lahir bersamaan pada 28 Oktober 1928.

“Aku harus ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini dengan lagu dan biolaku. Untuk itu, aku pun harus terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan bangsa ini”. Demikianlah semangat membara dalam diri seorang Wage Supratman, laki-laki kelahiran Somongarim Purworejom 19 Maret 1903. Somongari tidak lain adalah desa yang diyakini dibuka oleh sisa-sisa laskar pasukan Diponegoro, perdikan yang masih terus mengobarkan seangat perlawanan terhadap penindasan penjajah. Darah pejuang itu bisa jadi memberi semangat bagi Wage Suptatman ketika memutuskan untuk meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya di Makassar dan kembali ke Jawa.

Semangat membara itu mengantar wage Supratman melibatkan diri secara langsung dalam pergerakan kemerdekaan di Jawa, menjadi jurnalis yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil, memasuki ruang-ruang rapat organsasi pemuda, terlibat dalam arena pergerakan kebangsaan, dan terutama menggubah lagu-lagu perjuangan untuk menggelorakan semangat perlawanan rakyat. “Dari barat sampai ke Timur”, “Indonesia Wahai Ibuku”, lagu-lagu gubahan Wage Supratman. Dan puncak dari segala karya lagu Wage Supratman adalah lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”.


Sekilas sinopsis dari Film Wage ini menggambarkan bahwa Wage adalah sosok yang berjuang demi bangsa dengan apa yang dicintainya, lagu dan biola. Saat menonton film yang sudah mulai tayang 9 Novermber 2017 ini ada bagian yang benar-benar membuat saya tidak bisa menahan air mata, yaitu saat lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan dalam Kongres Pemuda. Dan peraturan bahwa kita diwajibkan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza nampaknya adalah keputusan terbaik. Siapa yang tidak merinding saat menyanyikan lagu Indonesia Raya? Apalagi 3 stanza. Bahkan setiap pagi jika menyalakan televisi dan ada lagu Indonesia Raya diputar, ayah saya akan berkata “lagu ini sangat menyentuh hati ayah sampai membuat ingin menangis, tidak ada lagu seindah Indonesia Raya”. Bukan tanpa sebab, saya pun demikian sehingga tidak bisa menahan air mata saat mendengarkan lagu Indonesia Raya 3 Stanza.
 
Naskah Asli Indonesia Raya 3 Stanza
Masa sebelum merdeka, pemudanya dan rakyatnya yang masih lekat dengan sifat kedaerahan, Wage menggubah lagu yang sangat indah dan menyentuh hati. Apa yang membuat Indonesia Raya berhasil menumbuhkan semangat persatuan? Bukan lagunya yang membakar semangat, tapi Wage yang memiliki harapan bahwa bangsa Indonesia harus bersatu merdeka ini menuliskan doa-doa dan harapan-harapannya yang tulus dan Indah sehingga tertanam pada hati bangsa. Rupanya hal tersebut juga yang terjadi ketika saya menangis menyanyikan lagu Indonesia Raya. Doa dan harapan Wage ini terlalu indah. Meskipun tak seindah kisah Wage yang dapat kita lihat dari Film Wage. Beliau harus rela meninggalkan segala kemewahan hidup dan bermusik, lebih memilih untuk terlibat dan berjuang demi kemerdekaan  bangsa. Hidup berpindah dengan menanggung rasa sakit, hingga akhirnya meninggal tanpa pernah melihat bangsa ini merdeka dan lagunya lah yang menjaga hati bangsa kita untuk selalu tulus berjuang.

Dalam film ini tidak ada ulasan mengenai kisah cinta Wage dengan perempuan hingga akhir hayatnya beliau masih sendiri. Wage dan orang-orang di sekitarnya tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Karena bagi Wage, sendiri tak berarti sepi. Wage terus hidup dengan besarnya rasa cinta beliau pada musik dan biola.Wage dan kecintaannya ini lah yang turut mengantar kita pada kata Merdeka. Harusnya kita merefleksikan diri pada hal ini. Dari sekian banyak kisah Wage yang mengharu biru, kisah ini juga menjadi perhatian saya. Hidup tidak hanya sibuk bertanya pada mereka yang sendiri tentang kapan mereka melepas kesendirian. Berdua memang baik tapi sedang menjalani kesendirian tidaklah menjadi buruk. Mereka yang menjalani kesendirian tidaklah sepi hidupnya, bersama dengan apa yang mereka cintai bisa jadi sedang mempersiapkan hal baik dan besar bagi orang banyak. Biarkan mereka menjalani hidup dan memberikan kebaikan meskipun tak ada orang yang sadar karena terlalu banyak manusia masa kini yang sibuk melihat kesendirian sebagai sesuatu yang menyedihkan. Ya, Seperti Wage, sendiri tak berarti sepi.

Blogger Bersama Tim Film Wage
Image Source: Dokumentasi Mbak Mita



Sebuah kiriman dibagikan oleh D. Indah Nurma (@dindahnurma) pada


Sebuah kiriman dibagikan oleh D. Indah Nurma (@dindahnurma) pada



Judul Film: Wage
Produser: M. Subchi Azal Tzani, Ivan Nugroho, Andy Shafik, John De Rantau.
Sutradara: John De Rantau
Penulis: Freddy Aryanto, Gunawan BS
Produksi: Opshid Media Untuk Indonesia Raya.
Pemeran: Rendra sebagai Wage, Teuku Rifnu Wikana sebagai Fritz, Putri Ayudya Sebagai Roekiyem (kakaknya Wage), Wouter Frezzer sebagai Van Eldick, Prisia Nasution sebagai Salama.


4 comments:

  1. Belum nonton filmya dan senang sih kalau ada film yang membahas ttg ahlawan pahlawan sehingga kita jadi ingat lagi sejarah ya mba. Kalau dengar lagu Indonesia Raya 3 Stanza trus membayangkan perjuangan para pahlawan pasti menangis ya mba :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menangis karena lagu ini terselip doa untuk bangsa dan negara. buruan nonton mbak..

      Delete
  2. Waaaah udah nonton ya mbaa. Aku datang pas kemarin syukuran mau syutingnya di Semarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah mbak. Nonton sama castnya.

      Delete