Sunday, 13 July 2014

Sunrise Terindah di Surabaya

THP Kenjeran saat pagi menuju siang

Apa yang anda bayangkan jika mendengar kata Kenjeran? Pasti salah satunya adalah pantai yang tetap ramai dikunjungi meskipun memiliki warna air yang senada dengan air milo. Sebelumnya saya sama sekali tidak tertarik mengunjungi Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran yang kadang orang menyebutnya Kenjeran lama. Itu semua karena seingat saya waktu terakhir kali mengunjungi tempat itu kalau tidak salah semasa taman kanak-kanak, hanya ada taman bermain anak-anak dan menikmati pantai berair coklat saja. Jadi apa menariknya?

Akhir-akhir ini sejak sering bersepeda melewati jalur pinggir pantai Kenjeran jadi terusik juga. Saya putuskan mengajak keponakan saya yang paling besar untuk mengunjunginya, tentu di hari kerja saja biar tidak ramai. Ah satu-satunya yang paling gak enak kalau mengajak dia itu adalah pasti dia minta beli ikan hias padahal sudah punya banyak. Ya sudahlah kita tinggalkan cerita polemik ikan hias dan keponakan saya itu. Sebenarnya ada satu yang membuat saya terpukau sih di sana, yaitu gazebo yang menjorok ke laut yang jadi ornamen khas andalan THP Kenjeran. Lalu pastinya yang akan anda temui di sana adalah orang-orang paguyuban yang menyewakan perahu untuk menikmati sensasi ombak. Tentu keponakan saya tergoga dan merayu saya menuruti kemauannya. Enak juga perahu pribadi yang saya nikmati berdua tentu dengan panduan nahkoda kami. Menuju tengah tepatnya Pulau Pasir, yaitu bagian dangkal tengah laut. Di sana bapak nahkoda mengambikan umang-umang untuk keponakan saya. Lah pastinya seneng tuh dan bisa ngelupain ikan hiasnya. 

Itu sepenggal cerita saya yang mencari sisi menarik THP Kenjeran. Dan saya belum menemukan kecuali alasan bahwa orang-orang di Surabaya sebenarnya butuh wahana hiburan yang variatif dan terjangkau. Rasa ingin tahu saya sekali lagi terusik saat kawan saya seperti biasanya, si Nurul mengajak saya hunting landscape sunrise di Kenjeran. Nah ini yang menarik bagi saya yang baru saja terjerumus dalam dunia potret-memotret khususnya landscape. Saya selalu penasaran bagaimana orang-orang itu menghasilkan foto yang sangat luar biasa saat sunrise di sana.

Setelah sempat ciut karena hujan selembut sutra yang mengguyur rumah saya, akhirnya saya putuskan untuk tancap gas ke THP kenjeran sebelum jam setengah 6 pagi. Benar-benar tancap gas, karena jarum jam beberapa detik lagi menunjukkan pukul setengah 6. Jika saya bisa sampai di sana dalam 5 menit berarti saya masih ada harapan untuk mengejar sunrise saya. Benar sajam, tepat pukul 05.40 saya menyiapkan gear kesayangan saya yaitu Lenovo A706 dan Nurul dengan Nikon kesayangannya serta tripod hasil pinjaman. 

Jadi sunrise kala itu saya lihat dia malu-malu belum menunjukkan sisi tak bersudutnya yang memancarkan warna jingga segar menghamburkan biru dan putih yang berarak. Saya sempat terngowo-ngowo halah terpanah melihat kuning telur yang terbit. Mustinya itu telur ceplok namanya telur matahari terbit bukan telur mata sapi. Yaelah saya sampai lupa memotret karena terpukau. Rasanya seperti menikmati live time lapsing film, ada objek matahari terbit yang mula-mula bulat, meluncur meninggalkan horizon lalu menembus awan yang berarak dan menebarkan semburat biru pada langit. Ah benar-benar indah seperti nama saya. Pantas saja para pemburu matahari terbit dan landscaper di Surabaya ini favorit sekali pergi ke THP Kenjeran di pagi buta. Sekali lagi saya mengakui ketidakgaulan saya sebagai anak Surabaya pemirsa. 

Lalu saya tahu bahwa saya jatuh cinta lagi pada kota ini, melalui sunrise terindah di Surabaya.

Amazing sunrise di Surabaya
Maaf atas kekurangan kemampuan gear saya
Tidak ada lensa paling hebat kecuali lensa mata pemberian Tuhan
Datang dan lihatlah sendiri, seribu persen lebih menakjubkan dari sekadar memandang foto di google

2 comments:

  1. Masuknya lewat mana ya kalo itu.saya juga sering kesana.ini cerita sunrise saya
    .
    Awal dalam sebuah cerita Sudut Surabaya http://wp.me/p421dL-4N

    ReplyDelete