Wednesday, 2 November 2011

Kado Yang Paling Berharga Itu......

---30 Oktober 2011---
Ini hariku. Anda tau 20 tahun lalu tepat di hari ini, kedua orang tuaku dijamin tidak pernah melepaskan senyumannya. Meski mamanda tercinta awalnya pasti menitikan air mata menahan sakit yang luar biasa antara hidup dan matinya, namun tetap saja kupastikan mamanda tersenyum lekat sampai ke dalam hatinya. Lalu kakakku, aku tak tau apakah dia juga demikian atau justru ia khawatir cinta mamanda dan papanda terbagi dan tak besar lagi padanya. Tapi jika melihat ia yang sekarang, aku yakin ia juga bahagia tanpa rasa khawatir cinta mamanda dan papanda terbagi. Satu yang aku tau, tak akan terbagi-bagi menjadi porsi yang lebih kecil cinta itu yang awalnya hanya untuk mamanda dan papanda saja. Tanpa aku dan kakakku. Tapi cinta itu bertambah besar seiring hadirnya dan hadirku bukan pembagian cinta di awal dengan porsi yang lebih kecil.

---30 Oktober 2011---
Ini hariku. Ribuan hari aku bersamanya. Penuh dengan senyum dan tawa tapi pernah juga terjadi perselisihan yang membuat aku dan dia saling tak nyaman. Namun seperti biasa, hal tersebut tak akan pernah melunturkan cinta dan rasa hormat yang begitu mendalam padanya. Meski sekarang aku dan dia tak lagi menginjak tanah yang sama tapi langit yang kupandang dan langit yang dia pandang adalah langit yang sama. Tidak begitu suka dengan keadaan ini. Celakanya hal inilah yang tanpa kami sadari membuat kami belajar tentang hidup.

---30 Oktober 2011---
Ini hariku.
15:00 Aku terbangun dari tidur yang sangat kubutuhkan saat itu. Taukah kamu, aku benar-benar merasa sangat bersyukur bisa dibangunkan. Taukah kawan makna besar apa yang dapat kucerna dari kejadian itu? Ya, Tuhan kita, Tuhan semesta alam memberikan ridhoNya atas kebersamaan kita ini. Buru-buru kusambar handuk dan melompat ke kamar mandi dengan nyawa yang belum terisi sempurna setelah mati sementara tadi. Ini hariku dan aku tak ingin merusak hariku hanya karena ketiduran. Janji yang harusnya kutepati pukul 15:00 harus rela telat gara-gara ketiduran yang memang sangat aku butuhkan. Tak ada kata padam semangat jika agendanya adalah bertemu dengan keluarga besarku itu. Setelah laporan rutin pada Allah, cepat-cepat kupacu kuda besiku menembus angin yang berlawanan arah denganku.
-Sebelum pukul 16:00 di depan Hoka-Hoka Bento Surabaya Plaza-
Bergegas aku masuk dan kudapati tak ada wajah yang ku kenal di dalamnya, kecuali orang-orang yang kutau fotonya pernah terpajang di tembok sebagai pegawai paling disiplin. Kuputuskan menunggu di depan saja dengan penuh khawatir. Mungkin saja mereka sudah pulang karena aku terlambat. Ingin sekali aku menghubungi mereka tapi alat komunikasi tercanggih yang aku punya hilang kecanggihannya hanya karena tak ada sesuatu bernama pulsa di dalamnya. Aku lupa ada lagi alat komunikasi tercanggih yang aku miliki yakni hati ditambah insting yang tajam. Aku tau mereka tak akan meninggalkanku, keluarga besarku. Cukup lama aku menunggu dengan keadaan tulang-tulangku yang ingin sekali direbahkan. Aku tau mereka tak akan meninggalkanku, seketika itu aku tenang dan tetap menunggu mereka. Mataku yang masih lelah tiba-tiba berakomodasi dengan maksimum melihat sekelebat wajah yang kukenal. Yay, instingku bekerja dengan baik. Aaaah... hatiku mulai subur berbunga-bunga, berdaun-daun, dan berbuah-buah, hehe... Jika dideskripsikan, senyumku saat itu seperti bunga di musim semi, mekar dan harum (pasta gigi hahaha). Dijabatnya tanganku dengan cipika-cipiki yang jarang sekali kami lakukan. Rasanya begitu hangat membuat semua lelah menguap tanpa sisa saat melihat wajah keluarga besarku itu. Ini hariku, kulalui dengan sempurna dan dengan orang-orang yang membuat hidupku sempurna. Ribuan wejangan kudapat dari mereka. Maklumlah, meski yang paling tua tapi tingkah laku paling bocah diantara mereka hehe....

Kado yang Paling Berharga itu Mereka Keluargaku yang ditetapkan Tuhan Untukku dan Keluargaku yang dipilihkan Tuhan Untukku

Mereka semua adalah dulur-dulurku. Percaya atau tidak terselip rasa haru saat tiap kalian memanggil dengan kata "dulur-dulurku." Iki lho mereka yang aku maksud Eta Rahayu, Kifayah Jauhari, Ani Satul, Huda, Sukron, Medi, Niko Irjaya, Rifky, dan yang kemarin gak ikut acara gathering adalah Mas Boy a.k.a Pras.
Sebelum Waktu memisahkan detikku detikmu
Sebelum dewasa menua memisahkan kita
Degupan jantung kita akan selalu seirama

Saturday, 13 August 2011

Kamu dan Aku

Cerita ini hanya sebagian kecil yang selama ini ingin aku ceritakan tapi tak tau bagaimana caranya, apalagi kepada siapa aku harus bercerita. Jika pada Allah, mungkin tak perlu lagi aku seperti ini. Kurasa tanpa sadar, entah kapan, hatiku telah mendahuluiku untuk mengadu padaNya.

Tentang perahu kecilku yang telah menemukan pelabuhan untuk singgah sebelum aku berlayar lagi
Lautan itu belum terlalu liar saat aku arungi dengan perahu kecilku. namun lama terasa aku tak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. Memandang jauh ke depan dengan seluruh kemampuan mata, terlihat perahu kecil lainnya dan rasanya aku ingin mengikutinya. Bukan karena aku mulai kehilangan arah di lautan liar ini. Mungkin karena perahuku mulai rapuh untuk berlayar dan aku takut berada di lautan ini sendirian.
Nampaknya dirimu sedang menuju pelabuhan yang kecil di daratan depan sana. Baiknya kusandarkan dulu perahuku yang mulai rapuh ini. Tahukah kamu, aku mengikutimu sampai ke pelabuhan itu. Dan kita sandarkan perahu-perahu kecil kita di dermaga yang juga kecil ini. Yang kulihat adalah pelabuhan ini hanya cukup untuk perahu-perahu kita dan satu saja bahtera yang besar. Hei, kamu turun dari perahu dan berjalan kemana? Apakah kamu sedang mencari sesuatu untuk mengokohkan kembali perahumu? Ataukah sedang mencari tahu sesuatu untuk berlayar kembali? Aku mengikutimu saja, tapi tunggulah aku yang baru saja turun dari perahuku.
Harusnya dengan tangga itu saja
Kamu, sudah berada jauh tinggi di atas sana. Tunggu ya, aku akan melompat tinggi ke sana. Tahukah kamu, aku aku sudah berada di sana dengan lompatanku tadi. Tapi sebentar, aku tak bisa mempertahankannya lebih lama lagi. Kamu, aku terjatuh, terlepas dari peganganku di sana yang dihasilkan oleh lompatanku. Tunggu ya, jangan semakin ke atas. Aku masih di sini. Ah, tapi jika kamu menungguku, itu berarti aku egois. Baiklah, aku tak akan menahanmu. Kesanalah, di atas sana. Jangan khawatir, aku tetap berusaha ke sana. Tunggu ya, aku sedang bersiap untuk melompat lagi. Kamu, aku sudah bisa meraih tempat itu. Tahukah kamu, sudah berbagai macam persiapan yang aku lakukan untuk melompat tinggi ke atas sana. Tahukah kamu, aku mampu meraihnya. Sungguh, namun aku terjatuh lagi dan lagi. Entah harus seperti apa lagi persiapanku dan lompatanku. Aku tetap terjatuh, dan aku masih saja di sini. Sedangkan kamu sudah berada jauh di atas sana.
Kulihat sekeliling dan berharap kesalahan bukan padaku. Entah bodoh atau salah, saat ini kuterpaku pada benda itu. Ah, aku tak ingin terpaku terlalu lama. Kuhampiri saja dan kulihat baik-baik. Ini tangga, ternyata aku yang salah mungkin sekaligus bodoh. Harusnya ku tak melakukan lompatan yang sia-sia itu. Harusnya aku tahu mengapa aku selalu terjatuh meski telah meraihnya. Dengan lompatan itu, tanganku hanya mampu meraihnya dan bukan memijakinya dengan pasti. Itu, dengan tangga itu. Aku mulai berpijak dan menapaki yang pertama. Meskipun tidak setinggi hasil lompatan yang kuraih namun aku tak terjatuh, karena kakiku berpijak di sini bukan hanya tanganku yang meraihnya. Kini, aku akan terus berusaha menapaki tangga ini dengan pasti dan mengikuti jejakmu yang ditinggalkan oleh hatimu. Ya, harusnya dari awal memang begini. Menapaki satu-persatu anak tangga yang ada. Bukan dengan bodohnya terus melompat meski membawaku ke tempat yang tinggi.
Seribu tanda tanya yang banyak tak kusampaikan
Aku sudah bisa menjangkau kamu dengan pandanganku. Kamu sedang melakukan apa? Kamu sedang mencari apa? Aku akan membantumu dan menjadi partnermu. Boleh kan? Ijinkan aku. Aku hanya akan sesekali bertanya ketika aku tak mengerti, bukan bertanya sesuka hatiku ketika aku ingin tahu dan belum berpikir untuk mencari jawabannya sendiri.
Untuk apa kamu mengumpulkan kayu besar yang Nampak kokoh sebanyak itu? Tanda Tanya itu tak aku sampaikan kepada kamu. Aku berpikir saja dan tetap membantu mengumpulkannya. Apakah kamu tahu? Aku tak takut saat tak bertanya padamu. Aku percaya padamu.
Mungkin lebih dari seribu tanda tanya tentang apa yang sedang kamu lakukan dan yang dengan senang hati kulakukan juga. Berusaha memijaki anak tangga tadi, rupanya mampu membuatku menyimpan tanya yang mungkin tak aka nada arti jika kusampaikan. Aku masih denganmu hingga kembali ke pelabuhan masih tanpa tanya. Di sana, kamu berkata padaku bahwa kita sedang membangun bahtera besar nan kokoh untuk berlayar kembali di lautan yang liar itu. Kamu berkata bahwa nanti bukan hanya kamu dan aku yang akan berlayar dengan bahtera itu. Kamu juga berkata tak hanya bahtera yang sedang kita bangun. Namun beberapa perahu kecil yang akan kita bawa ke dalam bahtera. Katamu itu untuk penumpang lain yang nantinya kan belajar berlayar dari kita. Hingga nanti mereka akan berlayar sendiri dengan perahu kecil itu untuk menemukan pelabuhan lain dan membangun bahteranya sendiri.
Tahukah kamu? Ternyata tadi aku memang mengikuti jejakmu yang ditinggalkan oleh hatimu. Namun tak seterusnya aku mengikutinya, sesekali aku memijaki anak tangga yang lain. Karena buatku tak seluruhnya mampu kupijaki seperti halnya anak tangga yang telah kamu pijaki. Ya, sesekali aku pijaki anak tangga lain yang sekiranya kumampu. Tahukah kamu? Aku bahagia.

Wednesday, 27 July 2011

Kota Tua Jakarta


------
14 Juli 2011 di Kota Tua Jakarta------

Liburan ini masih satu paket dengan Kopfest. Jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta bersama teman-teman Koproller dari Padang, Jakarta, dan Makassar. Mohon Maaf tidak banyak kata-kata. Yang penting liburan ini So Awesome for me :)
Berikut ini foto-foto liburan kami sebelum kepulanganku kembali ke Surabaya.


Di Stasiun Jakarta Kota sebelum pulang



Di dalam Trans Jakarta menuju Kota Tua




yang ini lagi nunggu trans Jakarta di PGC



Pose #pea




Pose sok cute, hehe...





Daengbeta dan Jamban9








Gerywafer orang gila dari Makassar


Jhoqwan(depan) dan Jamban9 (belakang) dari Padang














1st Kopfest by Yahoo! Indonesia



Kopfest atau Koprol Festival adalah adalah sebuah acara dimana kita bisa bertemu langsung dengan Koprollers seru lainnya untuk memperingati satu tahun kerja sama Koprol yang merupakan hasil karya anak bangsa dengan Yahoo! Indonesia. Acara ini seperti sebuah lebaran bagi Koprollers Seluruh Indonesia dengan dihibur oleh penampilan dari Gamal & Audrey, Ello, RAN, Tangga, XO-IX, Raisa, GRUVI, DI-DA, Vania Larissa, dan Mytha. 1st Kopfest ini diselenggarakan hari rabu tanggal 13 Juli 2011 pukul 17.00-22.00 di Upper Room, Wisma Nusantara lt. 12, Jln. MH. Thamrin Jakarta.

Penampilan Tangga di Kopfest


Penampilan RAN di Kopfest


Penampilan Ello di Kopefest
Saya yang notabene sangat suka dengan keadaan banyak teman membuat saya mencoba bermacam Social Media dan akhirnya menemukan Koprol juga. Dan Bergabung di Sukoco ( Surabaya Koprol Community). Bukan hanya pertemanan yang ditawarkan namun rasa kekeluargaan yang hangat :) Bukan hanya sekedar dunia maya namun pembuktian di dunia nyata :) bukan hanya berkumpul tak tentu arah namun kami peduli sesama dengan kegiatan sosial yang sudah banyak dilakukan :)

Baiklah ini ceritaku hingga sampai di 1st Kopfest.
Suatu hari saya mengirimkan Koprol Story untuk dapat invitation ke
1st Kopfest dan *whooooalaaa* pada hari pengumuman saya mendapat DM dari Kopfest yang berisi undangan ke 1st Kopfest. Serasa gak percaya senang bukan kepalang. Undangan ini mempunyai kode rahasia untuk masuk dan pada satu undangan terdapat dua passcode yang artinya satu undangan berlaku untuk dua orang. Yayness! kapan lagi Silaturrahim sama teman-teman dari seluruh Indonesia? Yasudah berangkat saja :) Eiiits... Saya tidak berangkat sendirian tapi bersama Novita Ratnasari atau disinin0bi. Dia juga anak Koprol dan senior di jurusan Fisika :p

Ini Undangan Saya, Warnanya Bagus :p
-------12 Juli 2011 16:00-------
Ya, itu adalah hari keberangkatan kami menggunakan kereta Gumarang dari Stasiun Pasar Turi dengan keberangkatan pukul 17:25. Entah gila, nekat, atau hebat. Akhirnya kami berangkat juga ke Jakarta menempuh perjalanan kurang lebih
12 jam. Keesokan harinya sekitar pukul 06:30 kami turun di stasiun Jatinegara. Sempat terlunta-lunta selama 2 jam karena belum dijemput sama kakak Sandyholic. hehe... Tapi akhirnya kakak Sandy datang juga, dan dibolehin istirahat di rumahnya meskipun akhirnya kami menumpang di tempat kost kakak Bunga yang baik hati dan mirip Tantri Kotak :p
-----13 Juli 2011 14:00-----

At Pusat Grosir Cililitan atau PGC kami makan siang di Hokben sambil nungguin kak Bungan beli baju buat ke Kopfest *ceileh niat banget haha...
-----13 Juli 2011 Pukul 16:45-----
Menuju Wisma Nusantara dengan menumpang taxi, bukan sok kaya tapi kalau naik Trans Jakarta waktunya gak tepat banget. Jam pulang kerja pasti antre mana sudah terlambat. Dan naik taxi dengan patungan yang dipilih. Hahaha....
-----13 Juli 2011 Sekitar pukul 17:30-----

Yay! Sampai Juga di Wisma Nusantara tapi tidak langsung registrasi. Tunggu teman-teman yang lain dulu dan nunggu waktu Sholat dulu, hehe... Ini nih cuplikan kostum kami di Kopfest dan semua yang di Kopfest.


disinin0bi dan saya :D



Yaaap... begitulah isi 1st Kopfest. yang penting silaturrahimnya karena kami dari berbagai sudut Indonesia bertemu. Penghuni pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan banyak lagi. Tak hanya sampai di sini keseruan yang tercipta. Esoknya.... Silakan baca di postingan selanjutnya.