Thursday, 26 December 2013

Tantangan Masyarakat Pesisir Menuju Ketahanan Pangan

Repost

Persoalan kependudukan di Indonesia bukan hanya tentang tidak disiplinnya berbagai proses registrasi untuk kearsipan Negara mengenai kepastian jumlah penduduknya. Namun pada sisi tingkat kesejahteraaan penduduk yang sering di bahas dengan berbagai variabel yang pada akhirnya dapat menggambarkan kesejahteraan penduduk pada suatu kelompok masyarakat secara menyeluruh ataupun kelompok masyarakat. Keterkaitan antara wilayah tempat tinggal kelompok masyarakat, matapencaharian, dan kesejahteraan dapat diukur dengan tingkat keberhasilan menangani berbagai indicator ketahanan pangan untuk setiap anggota keluarga dalam kelompok masyarakat tersebut.
Sebagai Negara yang terdiri dari ribuan pulau, tidak perlu dipertegas lagi bahwa Indonesia tentunya banyak memiliki wilayah pesisir. Secara sosial, wilayah pesisir dihuni tidak kurang dari 110 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai. Sedangkan secara administratif kurang lebih terdapat 42 Daerah Kota dan 181 Daerah Kabupaten yang berada di pesisir, dimana dengan kondisi saat ini adanya otonomi daerah masing-masing daerah otonom tersebut memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. dengan meninjau fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi Indonesia pada masa yang akan datang. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang bermatapencaharian di sektor-sektor non-perkotaan. Sebagian besar dari 126 kawasan tertinggal yang diidentifikasi dalam kajian penyempurnaan RTRWN merupakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kemudian pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam hal jumlah ataupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sedangkan menurut Food and Agriculture Organization ketahanan pangan merupakan kondisi dimana rumah tangga memiliki akses yang baik untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarga baik akses fisik maupun ekonomi.
Perkembangan prasarana transportasi  di wilayah pesisir di Surabaya yang sudah tidak asing lagi, yaitu saat dibangun dan diresmikannya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura. Setelah Jembatan Suramadu resmi beroperasi, berbagai dampak langsung terhadap penduduk sekitar dan dampak tidak langsung terhadap lingkungan secara otomatis langsung dapat dirasakan. Dampak langsung dari diresmikannya Jembatan Suramadu semakin menguatkan fakta bahwa kawasan pesisir adalah cikal bakal perkembangan urbanisasi di Indonesia. Salah satu penggambaran dari seluruh keterkaitan antara perkembangan aksesbilitas dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan penduduk adalah pada Kecamatan Bulak.
Kecamatan Bulak adalah salah satu kecamtan di Surabaya yang berada di wilayah pesisir dekat dengan Jembatan Suramadu. Penduduk pada Kecamatan Bulak adalah masyarakat yang bermatapencaharian sektor non-perkotaan  sebagai nelayan. Dimana selama ini diketahui matapencaharian sektor non-perkotaan menjadi salah satu indikasi rendahnya tingkat kesejahteraan. Selain itu Kecamatan Bulak yang strategis juga banyak menarik minat penduduk Pulau Madura untuk bermigrasi dan tinggal di Kecmatan Bulak. Perpindahan penduduk dari Pulau Madura tersebut  menjadi faktor pertambahan jumlah penduduk di Kecamatan Bulak, disamping pertambahan dari faktor penduduk asli Kecamatan Bulak.
Menengok kembali pernyataan Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika.  Fenomena yang pernah digambarkan oleh Malthus pada tahun 1798 tersebut kini banyak dijumpai. Dapat pula digunakan untuk menggambarkan keadaan Kecamatan Bulak, Surabaya. Pada suatu penelitian tentang ketahanan pangan di kampung nelayan Kecamatan Bulak yang dilakukan oleh Saudi Imam Besari pada tahun 2010 yang menggunakan beberapa variabel untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan di Kecamatan Bulak. Variabel yang digunakan adalah variabel demografi seperti usia pada tahun tersebut, usia pada saat pertama kali melaut, pendidikan terakhir, dan status kependudukan. Sedangkan variabel non-demografi dalam penelitian itu selanjutnya disebut sebagai variabel ketahanan pangan yang terdiri dari pendapatan melaut, pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah tangga, sisa pendapatan, kondisi rumah tinggal nelayan, sanitasi rumah (ketersediaan MCK), bahan bakar memasak, cara memperoleh makanan pokok, cara memperoleh lauk pauk kualitas, pangan yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam sehari, dan jumlah alat tangkap yang dimiliki.
Hasil akhir dari penelitian tersebut dapat terlihat gambaran umum mengenai kondisi kesejahteraan secara realita dari masyarakat nelayan Kecamatan Bulak. Pada pendapatan total masyarakat nelayan Kecamatan Bulak pada umumnya adalah Rp 1.000.000–Rp 2.000.000. pengeluaran pangan mayoritas adalah Rp 500.000-Rp 1.000.000, sedangkan untuk non-pangan adalah sebesar kurang dari Rp 500.000. kondisi rumah mayoritas adalah rumah permanen namun kurang didukung sanitasi yang baik dan lengkap. Pendidikan terakhir nelayan di Kecamatan Bulak adalah mayoritas Sekolah Dasar dan hampir semua nelayan memiliki alat tangkap ikan sendiri.
Angka pada pendapatan dan pengeluaran pada mayoritas tidak jauh berbeda dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat  di kampung nelayan Kecamatan Bulak Surabaya. Matapencaharian utama sektor non-perkotaan sebagai nelayan kurang mampu untuk menopang seluruh kebutuhan keluarga masyarakat nelayan. Ditambah lagi dengan pada tahun 2009 perairan Selat Madura mengalami overfishing lebih dari 12% sehingga produktivitas perikanan Selat Madura menurun dari tahun ke tahun. Jika  regulasi untuk membatasi jumlah nelayan dan armada kapal yang melaut yang pernah diusulkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur jadi disahkan maka masyarakat kampung nelayan Kecamatan Bulak akan kebingungan untuk mencari sumber pendapatan yang lain.
Penjual Ikan Asap di Depan TPI Bulak
Oleh-oleh Kerupuk Ikan
Karena mayoritas mereka hanya mengandalkan hasil melaut serta tingkat pendidikan terakhir dan keterampilan yang kurang menjadikan mereka akan sulit mencari pendapatan dari sektor-sektor lain. Untuk itu selain mengandalkan hasil melaut yang saat ini mulai tidak stabil, masyarakat nelayan sebaiknya mulai beradaptasi dengan memperhatikan sector pendapatan lain yang sesuai dengan kemampuan dan yang mampu untuk menopang kebutuhan pada saat mereka tidak melaut. Salah satu pendukung masyarakat  untuk beradaptasi mencari pendapatan selain melaut adalah mudahnya aksesbilitas menuju pusat-pusat kota hingga setidaknya sebagian besar indikator-indikator dari FAO (Food Agriculture Organization) untuk ketahanan pangan sebagian besar dapat terpenuhi dengan baik, seperti kecukupan ketersediaan pangan, stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi berarti dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, aksesbilitas atau keterjangkauan terhadap pangan, dan kualitas atau keamanan pangan. Jika satu-persatu indikator tersebut terpenuhi maka harapan masyarakat nelayan Kecamatan Bulak telah mampu menuju adaptasi matapencaharian selain melaut, ketahanan pangan dan kesejahteraan yang semakin membaik.








Saturday, 14 December 2013

Waspadalah Saudaraku! Jangan Menjadi Seperti Ini


Apa Kabar Imanku?
“Sesungguhnya, seorang hamba yang kafir (di dalam sebuah riwayat: ‘yang fajir/durhaka’) apabila ia meninggal dunia dan menghadapi akhirat, turunlah kepadanya malaikat dari langit (yang keras lagi kejam) yang berwajah hitam-hitam. Mereka membawa pakaian kasar (dari neraka), lalu mereka duduk dari tempat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepalanya, lalu ia berkata, ‘wahai jiwa yang busuk! Keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah!’ Ruh itu dicabut dengan susah payahseperti besi berduri (banyak cabangnya) dicabut dari bulu domba yang basah. (Kemudian ia dilaknat oleh setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan semua malaikat yg ada di langit; ditutuplah pintu-pintu langit. Tidak ada di antara malaikat penjaga pintu itu, kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh itu jangan dinaikkan melalui tempat mereka.) Lalu malaikat maut mengambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, para malaikat itu tidak membiarkan ruh itu berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkannya di dalam kain tersebu. Maka keluarlah dari ruh itu bau busuk seperti bangkai paling busuk yang didapati di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik ke langit. Tidaklah mereka melewatkan ruh itu di hadapan sekumpulan para malaikat, melainkan para malaikat itu mengatakan, ‘Siapakah ruh yang sangat busuk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan’-disebut dengan nama-nama terburuknya ketika di dunia-hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakakn untuk ru itu. Namun, tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat,
“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surge, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al-A’raf 7:40).”
Allah berfirman, “Tuliskanlah kitabnya di sijjin, di bumi yang paling bawah.” (Kemudian Allah berfirman lagi), “Kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhnya Aku (berjanji kepada mereka bahwa) dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah Aku keluarkan mereka lagi di kali yg lain.” Maka dilemparkan ruh (dari langit) dengan lemparan (yang membuat ruh itu kembali ke dalam jasadnya). Kemudian Rasulullah membaca,
“Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-oalah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (Qs Al-Hajj 22:31).”
Lalu ruh itu dikembalikan ke dalam jasadnya. (Kata Beliau SAW., “sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya apabila mereka pulang meninggalkannya.) Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras hardikannya), lalu keduanya menghardiknya dan menundukannya. Kemudian kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapa Rabbmu?” Maka ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “apa agamamu?” Ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “Apa komentarmu tentang orang yg diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Ia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan kepadanya, “Muhammad!?” Maka ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu (saya mendengar orang mengatakan begitu).” Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau Tidak tahu dan tidak membaca?”
Maka ada penyeru yang menyeru dari langit dengan mengatakan, “Dia dusta. Maka bentangkanlah permadani dari neraka dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka.” Lalu sampailah kepadanya panas neraka dan embusan panasnya. Disempitkan kuburnya sehingga bertautlah tulang rusuknya karenanya. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: di datangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk baunya. Lalu laki-laki itu mengatakan, “Aku kabarkan kepadamu tentang sesuatu yg membuatmu menderita. Inilah hari yg dijanjikan kepadamu.” Lalu ia mengatakan kepada laki-laki itu, “(Engkau telah diberikan kabar jelek oleh Allah). Siapakah engkau ini? Wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kejelekan.” Orang itu menjawab, “Aku adalah amalanmu yang buruk. (Demi Allah, tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau adalah orang yang berlambat-lambat dari melakukan ketaatan kepada Allah dan bergegas kepada kemaksiatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terburuk.)” Kemudian di datangkan kepadanya seorang yang buta, tuli, lagi bisu dengan membawa sebuah palu besar di tanganna! Kalau saja palu itu dipukulkan kepada gunung, tentu gunung itu menjadi debu. Maka, orang itu memukulkan kepadanya hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikannya lagi seperti semula. Lalu orang itu memukulkannya sekali lagi hingga ia memekik keras dengan teriakan yang bias didengar oleh segala yang ada, kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka untukknya dan dibentangkan permadani dari neraka. Maka, ia berkata, “Ya Rabbi! Janganlah Engkau datangkan hari kiamat itu!”
HR Abu Dawud dalam Sunan-nya (4753), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (107), Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (753), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Munsannaf (12059). Hadis ini di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah (1630).

Source: If I Should Speak (recommended novel)

Lagu dari Kotak Coklat

Benda di atas adalah packaging dari coklat Danson. Benda ini sampai di kost saya sekitaran tanggal 12 Juli 2013, waktu saya masih kost di Sleman. Benda ini dikirim melalui jasa ekspedisi dan pertama kali dapat kiriman dengan alamat yang berbeda dari alamat rumah saya.
Cerita awalnya sih saya guyonan sama si pemberi oleh-oleh ini karena saya tahu beliaunya akan pergi training ke Malaysia selama 3 minggu. Jadilah saya bercandain "Saya mau juga lho kalau dikasih oleh-oleh yang dikirim dari pedalaman Kalimantan" begitulah kira-kira. Haha... Eh Alhamdulillah seriusan dikasih :D Oh ya kenapa saya bilang dari pedalaman Kalimantan? Karena waktu itu orangnya sedang gali sumur minyak di pedalaman Kalimantan, yap karena berkerja perusahaan yang bergerak di bidang oil service. Tapi tapi akhirnya dikirim waktu beliau pulang kampung. Mau cerita lagi soal gimana bisa dapat ini. Terhitung sudah hampir 3 minggu beliaunya di sana, tiba-tiba saya nyeletuk "udah mau pulang ya mas?" hakduh, haha... Dan ditanggapi "iya tapi belum nemu oleh-oleh yang pas" lalu saya jawab "ndak usah repot-repot mas kalau emang ngerepoti" Dan saya terkesan iseng sekali sodara-sodara. Haha... Maaf lho mas :D
Kembali pada cerita kotak di atas. Waktu itu saya sedang serius masak untuk buka puasa (saat itu bulan ramadhan) lalu mbak induk semang di tempat laundry kost manggil-manggil saya karena ada paket datang. Dalam hati sudah bisa menebak kalau itu pasti kiriman dari beliau, haha pede banget. Tapi iya lah, siapa lagi yang mengirimi? Kan yang saya beri tahu alamat lengkap kost cuma beliau. Awalnya setelah beliau pulang ke Tanah Air, tanya ke saya oleh-olehnya mau dikirim ke rumah Surabaya atau di Jogja? Saya jawab saja dengan mantap kalau dikirim ke rumah Surabaya saja (soalnya saya suka berbagi sesuatu bersama kakak tercinta di rumah). Tapi hal mengejutkan terjadi waktu dapat balasan takut kalau oleh-olehnya gak bertahan lama. Mulailah mikir aneh-aneh, jangan-jangan dikasih oleh-oleh nasi bungkus dari Malaysia, soalnya bilang takut gak tahan lama. Haha konyol sekali sodara, jadilah saya kasih alamat kost. Waktu itu gak buru-buru dibuka karena lagi serius masak, ceileh! Sebelum saya buka saya selalu suka melihat nama saya ditulis tangan orang lain. Mental kemasakinian sih, sebelum dibuka dan setelah dibuka dengan kebiasaan hati-hati adalah difoto buat kenang-kenangan. Istighfar ndah istighfar!
Woyla... packagingnya lucu sekali, seperti gambar di atas. Awalnya saya tidak tahu kalau itu coklat Danson, haha... maklum lah. Terus dikasih tahu sama yang ngasih kalau di bagian bawah diputar bisa mengeluarkan musik. Kotak musik bro! Keren kan? Ya spesial sekali karena itu termasuk salah satu benda unik yang pernah mampir dalam pandangan saya. Akhirnya seneng banget karena pada dasarnya saya emang lebih suka dikasih oleh-oleh yang bisa disimpen, tapi ini bisa dimakan terus kotaknya disimpen. Ahay banget lah pokoknya. Sekarang kotak lucunya punya fungsi sebagai tempat menyimpan gantungan kunci kesayangan, karena saya punya kesukaan mengumpulkan gantungan kunci atau tempelan kulkas dari mana-mana.

Cerita Singkat Pertemanan Saya dengan Pemberi

Awalnya tahun 2010 kenalnya di Plurk, seperti yang saya ceritakan di sini. Entah kenapa teman-teman saya di sana banyak dari Jogja. Lalu merambah ke dunia facebook, di sini juga gak tahu asal mulanya tiba-tiba sudah berteman di facebook. Haha... agak klasik sih tapi unik karena dari situ saya banyak bertukar pikiran, saling memberi pendapat, dan saya kebagian banyak dapat nasihat (secara langsung maupun tidak). Secara tidak langsung juga membuat saya berlomba-lomba menyainginya. Ah tapi belum bisa juga, kurang keras kali usahanya ndak.
Lama-lama jadi akrab dan di awal 2011, waktu saya menggila 5 hari keliling setengah Pulau Jawa bersama sohib-sohib gokil saya berhasil ketemu dengan beliau di kampusnya. Waktu itu hari ke-4 kami gak pulang, terdampar di Jogja dan maghrib-maghrib melaksanakan shalat di Masjid UGM. Lanjut cari makan di daerah kampus biar dapat murah, haha... maklum lah. Mendadak muncul ide untuk silaturrahim sowan ke tempatnya, tapi waktu itu gak mudeng sama jalanan UGM jadinya Masnya saya minta samperin ke tempat kami. Hehe... Pas datang dengan si Zakiah Nurmalanya sontak teman-teman saya nyeletuk "ndah siapa? korban skillmu ya?" waduh sungguh-sungguh mayak mereka ini, membuat saya tidak enak hati. Paling tidak saya terima kasih sekali atas pertemanan ini. Saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Semua kejadian serta orang-orang yang hadir di hidup kita ada maksud dari setiapnya, ada pelajaran yang harus kita ambil. Semoga Allah meridhoi setiap skenario masa depan yang telah kamu susun, tetap rendah hati, dan tetap menginspirasi Mas Pramudya :D

Sunday, 8 December 2013

Sosok Inspiratifku



Banyak banget twit soal sosok-sosok inspiratif. Banyak sih dalam hidup. Tapi ada bagian sendiri-sendiri, karena gak mungkin ada yang 100% memberi inspirasi untuk 100% hidup. Itu aja sih.
Saat ini lagi punya status mahasiswi sih emm yasudah, pelajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Sakjane, orang-orang yang mengispirasi itu ada banyak waktu menjalani kehidupan di kampus. Tapi dua yang bisa totalitas menginspirasi, orang tua saya. Bukan bukan, ini bukan bualan semata.

Ibu
Ibu saya anak ke 3 dari 6 bersaudara, saat pendidikan sekolah dasarnya belum rampung beliau harus menjalani hidup yang keras. Kakek saya yang ayah beliau meninggal, di sini yang lebih berat adalah kehidupan nenek dari Ibu saya. Rizki memang tidak akan pernah tertukar, usaha kecil-kecilan yang selalu dijalani nenek saya cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, ya kebutuhan bukan keinginan. Ibu saya juga demikian, di usianya yang masih belia harus pontang-panting bekerja untuk membantu nenek saya menyekolahkan adik-adiknya dengan mengesampingkan pendidikannya. Bukan berarti Ibu saya tidak berpendidikan, beliau sangat terdidik. Hidup mengajarkan segalanya. Mungkin bisa berbeda cerita jika dulu Ibu saya bersedia diadopsi oleh pengusaha Cina kaya raya. Ya, Ibu saya yang berparas menuju paras orang Cina yang banyak di Surabaya membuatnya mendapat tawaran untuk diadopsi mereka saat kakek saya masih hidup. Entah beliau mendapatkan paras demikian dari mana? Saya tidak pernah melihat wajah kakek saya dari Ibu.
Rizki Ibu saya juga tidak pernah tertukar, Alhamdulillah segala perjuangannya bekerja dan mencari pekerjaan yang layak selalu ada hasilnya. Jaman dahulu, mencari pekerjaan masih mudah tapi juga saling kejar-mengejar dengan perkembangan kota Surabaya yang semakin menjadi Kota Besar. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan ayah saya. Sekali lagi, kebesaran hati Ibu saya terlihat di sini. Kondisi fisik ayah saya yang membuat saya bisa mengatakan seperti ini, nanti lah saya ceritakan.
Yang saya tahu Ibu saya adalah orang yang berhati lembut, berhati besar, berhati tulus. Mungkin beliau tak sempat mengenyam pendidikan yang layak, tapi beliau selalu mendidik anak-anaknya dengan hati. Bukan pengetahuan dunia yang beliau berikan pada kami, tapi pendidikan untuk jadi manusia yang adil dan beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan mengajarkan bagaimana sholat itu tapi menunjukkan bagaimana sholat itu. Setiap pagi-pagi buta kami dimandikan dan didudukkan dekat dengan Ayah dan Ibu yang sedang subuhan. Sampai akhirnya terbiasa bangun pagi lalu diam-diam mengikuti mereka sholat. Dari hal sederhana itulah Ibu saya mengajarkan kami membangun peradaban yang beradab.
Bagaimana lagi saya harus menceritakan betapa lembut hati Ibu saya? Tidak akan pernah ada habisnya. Beliau menunjukkan bukan hanya mengajarkan.

Ayah
Ayah saya, mungkin hidupnya lebih beruntung dari Ibu saya. Atau mungkin lebih tidak beruntung ketika terjadi kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Waktu masih bujang, ayah saya mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan luar kota. Singkat cerita, kecelakaan itu membuat tubuh beliau remuk. Patah tulang kaki, punggung, belikat, dan entah yang mana lagi. Kakinya memiliki jahitan sepanjang mata kaki sampai hampir lutut, punggung dan pinggangnya juga. Semua serba tambal sulam, maksudnya daging yang sini diambil untuk menambal yang sana. Bisa disebut waktu itu ayah saya lumpuh total. Dokter yang menangani beliau juga tidak berani memberikan banyak harapan. Tidak berhenti di situ, ayah saya berpikir bahwa dia adalah seorang lelaki dan tidak mau menjadi beban untuk keluarganya. Pertama beliau belajar bangkit dari tempat tidur, kemudian beraktivitas dengan kursi roda, lalu berjalan memakai tongkat, sampai akhirnya bisa berjalan tanpa alat bantu. Meskipun tidak bisa berjalan normal seperti kebanyakan orang.
Suatu saat beliau bertemu wanita yang ikhlas menerima segala kekurangan beliau. Ya orang itu adalah Ibu saya. Mungkin yang Ibu saya lihat waktu bukan kekurangan ayah saya, tapi kelebihan yang tidak semua orang bisa melihatnya. Dengan segala keterbatasannya, beliau tetap menjalankan tugas sebagai pemimpin keluarga. Rasa lelah yang mudah sekali mendera dengan kondisi fisik ayah saya yang demikian, itu semua tidak membuat ayah saya malas bekerja dan malas memberikan kebahagiaan bagi keluarganya. Beliau tetap bekerja dan setiap akhir pekan selalu mengajak anak-anaknya berlibur.
Saat saya kira saya sudah cukup dewasa, saya mendengar sebuah percakapan antara orang tua saya dan kakak ipar saya (waktu itu masih calon). Kiranya begini "Saya beruntung sekali memiliki seorang istri seperti ibunya Saudi (abang saya), Ibu menerima bapak apa adanya dan selalau qanaah (tidak pernah meminta sesuatu yang tidak bermanfaat). Saya kira saya sudah cukup dewasa untuk memahami, orang tua saya tidak pernah segan menunjukkan rasa kasih sayang mereka di depan anak-anaknya. Saya kira itu kuncinya, saya mendapat pelajaran bagaimana sosok lelaki itu seharusnya dan bagaimana menjadi wanita seharusnya. Selamat kepada Ayah dan Ibu, kalian berhasil mendapatkan predikat manusia yang inspiratif bagi anaknya :)

Sunday, 29 September 2013

Pantai Lombang: Surga Tersembunyi di Pulau Madura

 Pulau-pulau kecil (PPK) adalah hal yang membuat saya tertarik. Bodohnya di mata kuliah metodologi penelitian lalu saya tidak berani mengambil tema tersebut.Tapi untuk proposal TA kali ini saya akan mencoba mengambil tema tersebut, tentu saja dengan memohon ridho Allah. Rencananya sih saya ingin penelitian tentang bagaimana mengembangkan Kepulauan Kangean sebagai pariwisata bahari, siapapun yang membaca ini mohon do'akan saya untuk kelancarannya yaa... Terima kasih :D

Baiklah, waktu itu hari minggu tanggal 14 September 2013 yaitu hari dimana belum habis capeknya dari Singapore. Oke sip kenekadan ini saya lakukan untuk kesekian kalinya. Pantai ini terletak di Kabupaten Sumenep, tepatnya di Pojok utara Pulau Madura. Ya, dia satu kabupaten dengan Kepulauan Kangean dan tujuan lain dari perjalanan ini adalah untuk mengenali Kabupaten Sumenep, siapa tahu ada yang mendukung untuk mengembangkan kawasan wisata di Kepualauan tersebut. Partner perjalanan kali ini adalah Yuyung kawan saya sejak SMP. Untuk menuju ke sana, yaaa paling timur dari Pulau Madura. Pokoknya setelah dari jalanan Suramadu sisi Madura ambil ke arah Pamekasan dan ikuti saja petunjuk arah ke Kabupaten Sumenep, ikuti saja arahnya sampai ketemu petunjuk arah ke wisata Pantai Lombang. Atau Kalau ragu ya tanyakan pada Bapak Polisi. Haha.... Maaf yaa kali ini saya tidak memuat rute dari google maps karena dijain gampang menemukan tempat ini, cuma ya gitu jaraknya lebih dari 120 Km. Saya saja hampir 5 jam naik motor bergantian dengan kawan saya itu.
Berangkat pukul 6 nih ceritanya saya keluar dari pagar rumah menjemput yuyung, berbekal air minum 900mili liter dan roti untuk santap siang karena pikir kami kalau beli makanan di sana belum tentu cocok dengan lidah dan kantong kami :p jadilah kami nekad pergi dengan jarak yang segitu wow-nya bagi 2 orang wanita. Berangkat dengan tangki full tapi masuk Sumenep sudah harus mengisi lagi. Waktu itu kecepatan motor tidak ada yang stabil hanya saja sampai ke 100 km/jam tidak lebih. Yang cukup menghambat itu saat masuk pasar dari kecamatan, hasilnya kami bergerak seperti siput sampai keluar dari area pasar. Waktu masuk daerah perkotaannya terasa sekali perbedaannya dengan di perdesaannya. Ada apa ya kok selalu begini? Waktu masuk Sumenep, saya lihat banyak sekali tambak garam dan saya sekarang percaya kalau Madura itu Pulau Garam. Haha...

Pengalaman yang paling saya sukai adalah ketika jalanannya dipinggir laut dan yang di Sumenep itu air lautnya benar-benar biru sodaraaa..... Bayangkan sensari berkendara kemudian di pinggir anda adalah laut yang berwarna biru, kemudian kamu lihat gugusan kepulauan setelahnya. Subhanallah... itu adalah very very very cool meeeeen! Ah saya gak punya fotonya yang ini. Sungguh waktu itu kami sangat terpukau dengan pemandangan seperti ini. Untuk mencapai pantainya kita masih harus berkendar sekitar 30 kilometer lagi dari kotanya. Sabar sabar... ronde menyetir yang kedua, saya digantikan oleh Yuyung. Ikuti petunjuk jalan menuju pantai tiba-tiba dari kejauhan ada tulisan besar yang menandakan kami sampai di Pantai Lombang. Yeay.... akhirnya brooo, dari parkiran motor kita bisa lihat air laut yang biru sekali. Pasirnya lembut dengan vegetasi dominan cemara udang. Keren gak itu sob? Hah beruntungnya tidak banyak pengunjung dan rasanya seperti pantai pribadi lho. Padahal ini hari minggu tapi kok sedikit pengunjung dari pantai yang super indah ini ya? Yuk lah kita intip langsung foto yang sekadarnya dari perjalanan kami ini. Thank you Yuyung for the awesome photo of us.  Semua fotonya bisa dilihat di FB Official of Nui D'Criptograph
Foto oleh: yuyung

Foto oleh: Mas mas pengunjung lain

Foto oleh: Indah
Foto oleh: Yuyung

Sayang sekali fasilitasnya kurang memadai. PR nih buat Dinas Pariwisata setempat. Gazebo ada yang rusak, lalu mushola agak kotor dengan tempat wudhu yang ala kadarnya, toilet dan tempat mandi bilas juga kurang bersih. Tapi, jangan pesimis yaa... Kita pasti bisa meningkatkan kualitasnya kok, saya yakin. Akhir kata, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali nyetir ke sana, dua tiga hari capeknya gak ilang-ilang sob. Hahaha....

Friday, 27 September 2013

Touring Silaturrahim

Postingan ini harusnya saya muat tahun 2012 lalu, tapi karena satu dan lain hal maka baru bisa diposting sekarang. Ini cara kami para mahasiswa menikmati perjalanan mengelilingi hampir separuh Pulau Jawa dalam 5 hari pada Tahun 2012.

Begini Ceritanya
Berawal dari celetukan saat menunggu antrean asistensi di lorong ruang dosen yang akhirnya menjadi kenyataan lebih indah dari yang dibayangkan.  Ya, minggu-minggu akhir perkuliahan adalah saat jantung paling nge-beat mengerjakan tugas yang batas akhir sudah di pelupuk mata. Kegemaran touring (hemat) yang biasanya kami lakukan saat selesai perkuliahan, seperti menjadi candu untuk ingin menjelajahi bumi lagi.  Sebuah perjalanan panjang 10 musafir yang dilakukan dalam 5 hari. Menjadi musafir antar kota dan antar provinsi yang selanjutnya menyusuri perjalanan tiga provinsi dengan duit secukupnya. Suzuki APV L 1280 SZ, tunggangan setia selama 5 hari yang kami dapatkan dari persewaan mobil tentunya. Touring pakai mobil? Pilihan baru yang kami lakukan biar aman saat touring di musim penghujan. Silaturrahim toring, kami menyebut perjalanan ini. Mengapa bisa begitu?   Baiklah mari kita masuk menerawang jauh saat touring lalu.
14 Januari 2012, hari sabtu pagi cerah sesuai request pada Allah saat selesai perkuliahan minggu ke-18 (apakah 18 minggu kuliah sangat membuat mahasiswa tertekan? LOL). 06:00 menunggu lama di salah satu kost teman di daerah Gebang, sesuai dengan perjanjian awal. Lama sudah sampai sekitar jam 8 akhirnya tunggangan kami datang dengan 7 orang lainnya. Tunggangan kami jadi muatan penuh karena diisi oleh 10 orang, nekat memang tapi kapan lagi bisa touring full team.  Melaju dengan pasti tunggangan tersayang menuju Malang. Rumah dua orang kawan yaitu Niko dan Medi  yang juga turut melaju dalam APV biru. Jarum jam yang diragukan kebenarannya dan ketepatannya seperti menunjukkan jam 11 dengan rintik hujan saat sampai di depan rumah Medi.  Seperti yang sudah-sudah, Malang tetap dingin ditambah rintik hujan, seperti menjadi tirai langit yang menjuntai ke Bumi. Tapi di dalam rumah tetap hangat kawan, ditengah keluarga dari kampus perjuangan dan ditengah keluarga yang membesarkan saudara seperjuangan di kampus ITS. Permulaan yang cukup menyenangkan dengan menerka seberapa menyenangkan lagi 5 hari ke depan. Setelah laporan sore pada Tuhan Semesta Alam, kami langsung bertolak ke Blitar dan bermalam di sana sebelum melanjutkan perjalanan besoknya. Hijau hijau  segar ceria, keadaan sore menjelang petang menuju Blitar. Setelah satu semester di tengah perkotaan dan berkeliling kota karena kami Planologi haha…. Saatnya kembali ke alam. Saat sampai di sana masih dalam keadaan hujan. Yang baca jangan iri ya, selain kehangatan keluarga yang sudah pasti kami dapat, kami juga dapat jaminan kesejahteraan. Sejahtera karena banyak makanan saat dijamu di dua keluarga hari pertama ini.
Surabaya – Malang – Blitar (Antar Kota Dalam Provinsi)
15 Januari 2012. Pagi buta hari kedua diawali dengan laporan pada Allah. Sudah dijamu dengan baik, saatnya bercengkerama dengan keluarga besar di dapur sederhana yang khas. Anda tahu saatnya apa ini? Yap yap, saatnya bantu-bantu memasak. Tapi berhubung saya takut merusak cita rasa, saya bantuin cuci piriang saja, hehe…. Blitar udaranya juga sejuk, di rumah kawan ini ada kolam ikannya banyak. Ada sawahnya, ada kebunnya, ada durian runtuhnya yang enaaak. Selama di Blitar, kami melekukan pembantaian masal terhadap lele dan dikubur mati-mati dalam perut. Setelahnya dan sejam kemudian, kami sudah sampai di Kediri untuk mengunjungi rumah  Rifki juga untuk melihat di keluarga seperti apa dia dibesarkan. Selepas dhuhur, kami buru-buru mengejar target sampai ke magetan tak terlalu larut karena harus singgah di nganjuk untuk mengunjungi rumah anis. Jadi, kami bersepuluh mengunjungi rumah kami dan melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Setelah dari nganjuk, perjalanan ke Magetan dimulai. Kali ini tak untuk mengunjungi siapapun, tapi ingin merasakan berlibur bersama. Objek yang ingin kami kunjungi adalah Telaga Sarangan. Bermalam di pengipanan yang Alhamdulillah murah juga.
Telaga Sarangan

Blitar – Kediri – Nganjuk – Magetan (Antar Kota Dalam Provinsi)
16 Januari 2012. Hari ketiga ini menakjubkan, tempat ini mengagumkan. Malu-malu perlahan tapi pasti, di ketinggian ini kulihat matahari terbit perlahan. Hijau hijau segar dan cerah. Bukannya ndeso tapi kutit, haha… Kami berjalan mengelilingi telaga sarangan yang lumayan luas. Beruntung air telaga penuh, jadi semakin cantik pemandangan itu. Bayangkan pemandangan alam indah yang dikunjungi orang yang lama hidup di kota, ya pasti adalah saatnya berfoto. Puas melangkahkan kaki di tempat yang indah ini, kami bersiap menuju Solo. 

Solo oh solo, numpang makan ya. Setelah menunaikan kewajiban siang di Masjid Ageng, saatnya ke Pasar Klewer. Bukan untuk berbelanja, tapi untuk mengisi perut yang berontak sejak pagi. Percaya atau tidak, ini kali pertama mengeluarkan uang untuk makan sejak petualangan kami dimulai. Sudah jauh-jauh ke Solo, tak ada salahnya kita kembali ke sejarah. Menyusuri keraton, dan mendapat cerita serta wejangan untuk mencintai sejarah dari abdi dalem. 
          Keratonnya sudah tutup, berarti saatnya bertolak ke Wonogiri, singgah di rumah tata yang juga pernah aku kunjungi tahun lalu. Peluk hangat dan ciuman dari seorang ibu memang mengalahkan dinginnya dataran tinggi yang diterpa hujan. Kebersamaan dalam rumah, bercengkerama dalam kesederhanaan. Malam ambil lelah kami yang menumpuk tinggi.
Di dalam Keraton

Magetan – Solo – Wonogiri (Antar Kota Antar Provinsi)
17 Januari 2012. Ah… tak terasa hari ini sudah masuk hari ke-empat saja. Di sini gunung di sana gunung di tengahnya ada sawah, haha… pasti ada sungai. Sudah tidak peduli jika dibilang masa kecil kurang bahagia. Meniti jalan  di tengah sawah dan turun ke sungai, main air sampai hati puas. Di sungai pun masih saja membawa kamera untuk berfoto. Sudah basah sudah kedinginan, mandi subuh pun sia-sia. Saatnya naik dan mandi lagi sebelum meluncur ke Yogyakarta kota sejuta cinta dan cerita. Sekitar pukul sepuluh pagi setelah makan, kami baru meluncur ke Yogyakarta. Just intermezzo. Apakah anda tahu mbendes? Itu keadaan tunggangan kami. Berdebu tebal, tapi tak dibersihkan malah membentuk berbagai tulisan dengan menggoreskan jari di debu itu. Masih tidak bisa membayangkan? Inilah fotonya.
Main di Sungai Irigasi di Wonogiri

Mobil Kami Bulukan haha...
Jogja oh Jogja, pukul setengah dua siang baru saja mobil kami menginjakkan roda. Menuju Malioboro dengan berbekal selembar peta wisata Kota Jogja. Hanya berjalan-jalan di Malioboro untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi buah tangan dan mencari sesuatu untuk mengganjal perut yang mulai berontak. Tapi sayang sekali bung… hujan turun tak lama kemudian setelah kami menunaikan ashar di Masjid Gubernur. Cari makan dan terus gagal. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dalam mobil saja, dan ke UGM untuk mencari makan dengan harga mahasiswa. Maghrib di masjid UGM, dan makan ditemani oleh teman-teman yang kami kenal dari UGM. Sekitaran pukul sepuluh tak mau pulang tanpa mengambil gambar, akhirnya setelah makan dan beramah tamah dengan teman-teman, kami langsung menuju tugu untuk berfoto ria. Yang ini masih biasa, tapi setelah ini ada yang tidak biasa. Sudah jam segini diragukan untuk masih bisa mendapatkan Bakpia di pasar pathuk. Dag dig dug, was was, ternyata sudah hampir tutup tempat barang yang kami buru. Sudah memohon-mohon tetap tidak bisa. Dan masnya malah mengantar kami ke pabrik bakpia. Beruntungnya kami, dapat diskon banyak haha…  hari ini membuat dompet yang tipis semakin kosong. Tak bermalam di Jogja kami langsung melanjutkan perjalanan ke Bojonegoro.
Fotonya di Tugu Jogja
Wonogiri – Jogja ( Antar Kota Antar Provinsi)
Tidur bergantian di mobil dan nyetir bergantian melewati jalur gaza yang berlubang dan bergelombang menuju Bojonegoro. Waktu menunjukkan pukul setengah empat dini hari saat kami berhenti di Pom Bensin untuk istirahat. 18 Januari 2012. Hari ke empat dini hari menunaikan sholat subuh di mushola pom bensin yang sudah memasuki Bojonegoro. Pukul setengah lima, ini adalah kali pertama bertamu di rumah orang di waktu yang sangat pagi. Bojonegoro, ini rumah Huda. Disambut dengan baik dan ramah oleh seorang ibu, ya tentu ibunya Huda dong. Lelah karena perjalanan semalaman, akhirnya kami pergi kea lam mimpi sampai menjelang siang. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mengisi perut dulu dengan makanan yang sudah disiapkan ibunya. Ya, hari ini adalah hari terakhir touring kami. Berbekal peta Pulau Jawa kami menyusuri jalanan di tiga provinsi. Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan akhirnya kembali ke Jawa Timur dengan Bojonegoro, Gresik rumah Kiki, dan Surabaya sebagai tujuan akhir.
Jogja – Bojonegoro – Gresik – Surabaya (Antar Kota Antar Provinsi)
Mengungkap rahasia seru dibalik touring, adalah biaya yang kami keluarkan serta desak-desakan di dalam mobil (sewaan) tercinta. Rincian biaya bersih yang kami keluarkan:
·         Sewa Mobil 5 hari                               Rp  1.150.000
·         Bahan Bakar Minyak 5 hari                  Rp     450.000
·         Penginapan di Sarangan 1 malam           Rp     150.000 (Kamar ukuran besar dan kecil)
Total                                      Rp  2.000.000 dibagi 10 orang
Jadi setiap orang dari kami menyumbang 200ribu untuk sesuatu yang menyenangkan lima hari ini. Tentu saja sangat terjangkau karena ada keluarga dari teman-teman yang baik hati. Dan tahu sendiri lah, untuk makan kami Alhamdulillah diberi oleh keluarga teman-teman. Berpetualang seperti ini menarik untuk dicoba, mengunjungi keluarga dari orang-orang yang sudah berjuang bersama di kampus perjuangan ITS tercinta. Ssssttt... Maaf fotonya sedikit saja ya :D

Ada rindu dari tiap jengkal detik yang terlalui
Ada kasih dari tiap tingkah yang tercipta
Ada hangat dari tiap tawa yang terdengar
Ada kenangan yang tercipta dari manis dan pahit langkah kita.
Mari berbagi rindu, kasih, hangat, dan ciptakan kenangan bersama yang lain :D

Dan....
Ada kesan, cinta, dan kagum dari tiap Ibu yang kutemui. Sosok Ibu yang selalu berhasil membuatku kagum :)

Terima kasih untuk Surabaya, Malang, Blitar, Kediri, Nganjuk, Magetan, Solo, Wonogiri, Jogja, Bojonegoro, dan Gresik yang menjadi tempat untuk langkah kami mengukir kenangan dan rindu.
Syukur tiada tara kami persembahkan untuk Tuhan Seluruh Alam yang telah menciptakan Bumi yang begitu indah, yang telah memberikan kesempatan untuk kami merasakan indahnya kebersamaan dalam kesederhanaan.


Sebelum waktu memisahkan detikku detikmu
Sebelum dewasa menua memisahkan kita
Degupan jantung kita akan slalu seirama.


Monday, 16 September 2013

Jurnal Studi Ekskursi di Singapura

9 September 2013
Jujur, ini pengalaman pertama saya pergi melihat dunia di luar negara saya. Sungguh bukan jalan-jalan yang ingin saya dapatkan dalam kesempatan ini. Kesempatan yang sebelumnya sungguh tidak saya ceritakan pada ayah saya mengenainya, disebabkan karena dua hal yaitu saya tidak ingin ayah saya ikut terbebani dalam segala pembayarannya dan saya tidak ingin ayah saya kecewa karena saya ingin mengunjungi negara yang notabene di mata beliau lebih banyak negatifnya. Tapi di mata saya selalu berprasangka bahwa Allah tidak menjadikan sesuatu itu sia-sia, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya. Dan pada kesempatan kali ini saya bersama teman-teman satu angkatan ingin mempelajari tentang transportasi publik mereka. 
Hari ini adalah hari pertama kami, berangkat dari Bandara Juanda dan langsung ke Changi. Setelah sampai di Changi kita langsung membeli Singapore Tourist Pass (STP). STP ini digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura berulang kali secara tak terbatas. Kartu ini didisain untuk turis yang mengunjungi singapura selama 1-3 hari saja. Harganya 10 SGD untuk satu harinya dan harus menambah deposit sebesar 10 SGD yang akan dikembalikan jika kartu STP ini dikembalikan. Namun jika tidak, maka kartu STP ini bisa diisi seperti EZ-Link biasa.
Sumber: Google (karena milik saya gak saya foto)
Oh ya, beda STP sama EZ-link ini adalah STP ditujukan untuk turis dan EZ-Link digunakan untuk yang tinggal lama di Singapura. Perusahaan yang mengeluarkan kartu ini juga sama dan cara pakainya juga sama, tinggal di tap di mesin pada pintu masuk bus dan saat keluar atau jika di MRT yang tinggal men-tapnya sebelum memasuki dan saat keluar stasiun. 
Setelah masing-masing kami memegang kartu STP ini, kami langsung menuju Fern Loft Hostel di kawasan Little India yang lebih dekat ditempuh jika turun di Farrer Park. Dan hari ini diisi dengan mengunjungi beberapa tempat yang manjadi ikon Singapura karena jika langsung melakukan aktivitas sudah tidak efektif lagi jamnya.Tempat-tempat yang kami kunjungi tentunya di Merlion Park dan menonton pertunjukan proyektor yang ditembakkan di air (Wonder Full) di Marina Bay, di sini cakrawala Singapura akan menjadi latar belakang pribadi anda. Tentunya dengan menggunakan MRT serta SBS Transit. Setelah itu kami kembali ke Hostel untuk istirahat karena esok harinya akan padat kegiatan.
Merlion Park

Bird of Peace


Add caption

Wonder Full

Namun sebelum kembali ke hostel, saya dan sahabat saya Ika Permata Hati memisahkan diri dari rombongan untuk pergi ke Sevel. Sampai di sana, saya malah pengen beli minum air mineral dan you know what? saya ngidam minum air Indonesia, jadilah saya menemukan Aqua 1,5 liter brooo dan saya beli meski harganya hamppir 3 SGD. Haha... Dollar pertama yang saya belanjakan. Dollar kedua saya gunakan untuk mengisi perut dengan membeli kwatiau goreng di warung halal di ujung Jalan Besar (ini nama jalan lhooo). Jauh-jauh pengennya kwetiau goreng, haha.. Yang lebih mantap makanan Ika bro, Mie Kuah dengan kuah kari India, coba kau bayangkan. Haha...

10 September 2013
Hari kedua di Singapura. Ini hari yang sangat padat karena akan mengunjungi tiga tempat sekaligus. Yang pertama adalah di Nanyang Technology University, Land Transport Authority, dan ke Urban Redevelopment Authority. Di tujuan pertama (NTU) kami mendapatkan sharing mengenai kondisi Singapura sebelum jadi seperti ini dan bagaimana untuk memulai perubahan. Ternyata untuk mejadi seteratur itu, Singapura membutuhkan waktu yang lama bung yaitu 40 tahun. Memanai bagaimana sesungguhya sustainable development, yaitu bukan lagi pada tingkat "generasi mendatang masih bisa merasakan hal baik apa yang generasi saat ini rasakan dan temui" namun pada tingkat bahwa generasi mendatang haruslah merasakan keadaan yang lebih baik atas dasar usaha generasi saat ini. Subahanallah, entah ini pemaknaan saya sendiri atau bagaimana. Tapi saya menemukan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik harus dilakukan, tak boleh egois jika kita tak merasakan hasilnya, namun kewajiban kita adalah turut berproses hingga entah pada generasi siapa yang akan merasakan manfaat dari usaha kita untuk menjadikan tempat tinggal kita menjadi lebih baik.

Administration Building NTU

Bus Stop
Nah, tujuan kedua adalah di LTA. Untuk mencapainya kita harus naik MRT dan turun di Little India kemudian melanjutkan dengan jalan kaki sampai ke jalan apa ya? saya lupa. Hehe... Pokoknya kalau ke sana lagi Insya Allah saya masih ingat. Nyah, kabar beritanya tempat ini adalah gabungan seperti Dinas Perhubungan dan Dinas PU pemerintah Singapura. Tentu saja ini sangat menarik, mengetahui seluk beluk transportasi darat di Singapura, bagaimana perencanaannya, tujuannya, ah ya seperti visi misinya gitu lah. Berkunjung ke sini seperti agendanya Pak Jokowi ya? hehe... bedanya Pak Jokowi pakai bertemu pejabat LTA sedangkan kami mengunjungi LTA Gallery dengan tour guide. Terpukau? tentu... karena mempelajari sesuatu yang penting bisa menjadi menyenangkan seperti ini. Jika saya anak-anak, jelas saya akan suka mengunjungi tempat ini.

LTA Gallery
Sampai pada tujuan ketiga kami, yaitu URA. URA adalah semacam otoritas pembangunan kembali perkotaan di Singapura. Untuk mencapai tempat ini, kita menaiki MRT dan turun di China Town kemudian berjalan kaki menuju URA. Di URA ini kami mengunjungi galerinya. Memberikan pendidikan untuk perkotaan menjadi sangat menyenangkan untuk anak-anak. Kalau di Indonesia, generasi mudanya supaya sadar tata ruang ada yang namanya Kader dan Pelopor tata ruang yang dibentuk oleh kementrian PU, tapi di sini anak-anak diajak bermain yaa bisa dibilang game mengenai tata ruang dan itu sangat menyenangkan. Secara tidak langsung bisa membuat generasi muda sadar tata ruang. Jangankan anak-anak, saya yang sudah besar begini saja bahagia banget lihatnya. Singapura dalam dua kata, yaitu "berteknologi tinggi." Indonesia mampu kok jad seperti itu, yakindeh. Asal orang-orang kreatif dari berbagai disiplin ilmu mau bersatu gitu aja. Hehe...
URA
Selepasnya adalah jam bebas, jadi saya dan Ika memutuskan untuk pergi berpetualang sendiri, mengelilingi China Town dan menuju Bugis via Bras Basah, jalan kaki sepanjang Queens Street. Wehehe... Seperti orang hilang, tanya sana sini pakai bahasa Singglish. Sadar diri, tujuan pergi ke Singapura bukanlah untuk senang-senang semata, tapi orang di rumah pasti menantikan yang namanya buah tangan. Betul apa betul? haha... Jadi ya sekalian saja.
China Town

11 September 2013
Sebenarnya hari ini ada satu agenda penting, yaitu pergi National University of Singapore (NUS) untuk berdiskusi dengan dosen arsitektur di sana. Yaitu Bapak Johannes Widodo. Satu hal keren yang saya tangkap adalah mengenai bagaimana pemerintah setempat sangat dapat dipercaya. Sampai-sampai yang paling keren adalah umat muslimnya tidak perlu lagi risau memikirkan berzakat, karena oleh MUI setempat telah mengurusinya dari potongan gaji masing-masing umat islam.
Sorenya setelah dari NUS, kami bersiap pergi ke Sentosa Island untuk menyaksikan Song of The Sea. Sama sih bentuknya dengan Wonder Full, tapi di sini lebih bercerita sih. Yang bikin gak sreg ya pakai nyanyi lagu Anak Kambing Saya yang versi Singapura. It's not good anyway. Secara gitu lagu negara gue dinyanyiin versi yg lain. Aneh wah... Namun di samping itu, kan Pulau Sentosa kecil kan ya? Tapi teratur pula itu pulau sama seperti di perkotaan  Singapura. Wah mereka itu ya, bikin nampar muka saya sendiri. Karena mereka memperhatikan hal-hal kecil pula. Setelah itu, kami pulang ke hostel dan istirahat untuk siap-siap pulang besoknya.

Sebuah Pemaknaan
Siapkah Indonesia terkoneksi dengan sangat baik? Atau malah perlukah? Jangan jauh-jauh dulu. Mari kita bawa ke Kota Surabaya dulu. Ya, sebelum menunggu jalanan menjadi penuh sesak, sudah saatnya dimulai untuk menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, dan murah. Sudah saatnya "tidak menjadi tua di jalan." Ah kamu itu ndah omong doang bisanya. Lhoh bukan begitu, tapi ini pemikiran saya, berharap pula suatu saat bisa terlibat untuk sustainable Surabaya ah salah untuk Surabaya yang berkelanjutan.
Apakah bisa atau perlukan seluruh Indonesia mendapatkan model transportasi publik seperti demikian? Ya tentunya tidak. Indonesia tidak hanya perkotaan bung, masih ada perdesaan serta pesisir. Perpindahan barang dan orang itu pasti, transportasi publik itu perlu. Tak selamanya memiliki transportasi pribadi itu membanggakan, bangga atas siapa? diri sendiri? Justru kebanggaan negara akan tercipta jika mampu memenuhi transportasi yang layak untuk seluruh penduduknya.
Yang seperti demikian membawa saya memikirkan bagaimana penyediaan transportasi publik bagi perdesaan? Untuk menunjang keberlanjutan pertanian Indonesia juga. Yang ini saya belum tahu nih, mungkin ada yang mau sharing? Saya akan sangat senang.
Emmm transportasi publik yang baik berpengaruh pada kesehatan penduduk di dalamnya dan tingkat kemauan untuk berusaha. Bagaimana, benar  tidak? Dan yang lain lagi, yaitu tingkat kemampuan dan kemampuan manusianya untuk on time. Hehe... Karena semua sudah diatur eh teratur. Soalnya kalau pakai transportasi pribadi kan cenderung ya waktu berangkat semau gue. Nah kalau transportasi publik, harus diperhitungkan agar tidak terlambat. Haha...

Cerita Di Balik Layar
Cerita ini bukan bermaksud untuk apapun, hanya saja saya ingin berbagi tentang pemaknaan apa yang saya dapat bagi kondisi iman saya selama melakukan perjalanan di sana.
Pada bab 1 Fiqih, yaitu thaharah sudah jelas kalau ada air ya bersuci dengan air. Sedangkan kondisi toilet di Singapura sama sekali tidak mendukungnya. Namun semua menjadi tertolong oleh sebuah masjid di dekat China Town. Masjid tersebut, jujur saja membuat saya merasa aman dan nyaman. Ini adalah kasih sayang Allah, seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Sholat di penginapan dan tak tau di mana lagi jika keluar. Kali ini menemukan masjid, ya masjid bukan mushola (karena mushola rata-rata tidak ada). Semoga segala amal shalih dan jariyah orang-orang yang mengusahakan masjid dan menghidupkan masjid tersebut diterima dengan baik oleh Allah.
Pada hari ketika ada agenda di NUS, dari kawasan Bugis menuju NUS sudah masuk jam sholat ashar. Belum sholat duhur pula karena saya dan kawan-kawan sulit menemukan masjid. Saat jalan kaki sepenuhnya saya mengucap istighfar karena mungkin shalat duhur dan ashar hari ini akan terlewat. Dalam hati rasanya pengen nangis, apa saya yang tidak sepenuh hati mencari tempat sholat atau bagaimana? Yang jelas saya sangat mengharapkan pertolongan Allah. Dan subhanallah, tiba-tiba ketika dalam perenungan ada seorang bapak di NUS yang menanyai saya sudah sholat atau belum, dan bapak tersebut mengajak saya ke suatu tempat yang digunakan untuk sholat. Anda tahu apakah itu? Semoga anda bersyukur karena tinggal di tempat yang sangat aman bagi kondisi iman anda, karena saya di sana sholat di tangga emergency. Tak selamanya peningkatan iman mesti mengunjungi tempat religius. Saat berada di tempat yang bahkan kau di ujung tanduk mengenai sholatmu dan kau berhasil menyelamatkannya, itu akan membuatmu malu jika dalam keadaan lapang dan mendukung malah mengalami penurunan iman. #notedformyself Apakah orang tersebut benar-benar manusia atau malaikat yang dikirimkan Allah untuk menjawab do'a saya? Wallahu a'lam :)
 
Mushola di NUS

Hari terakhir di Singapura saya mengalami kejadian yang di luar dugaan. Begini ceritanya, jam 8 tepat waktu Singapura kami bersiap pergi ke Changi untuk pulang ke Indonesia. Saya dan kawan saya Ika sudah beres memasukkan tas ke dalam bagasi bus hostel yang akan membawa kami ke Changi. Betapa terkejutnya saya saat sampai di Changi dan tidak mendapati tas saya di dalam bagasi. Oh Allah cobaan apa ini? Semua barang-barang saya ada di sana kecuali surat-surat penting yang selalu di tas kecil saya. Oh Allah apa yang harus saya lakukan? Saya bertanya tak ada satupun yang tahu. Tiba-tiba seorang teman menyeletuk apa tas saya ransel Eiger hitam? Dan saya jawab ya, dia bilang kalau tas itu ada di pinggir jalan di samping  bus kami. Sungguh saya bukan pengidap Short Term Memory  yang gampang melupakan sesuatu yang penting begitu saja, apalagi saya tadi sudah benar-benar menaruhnya di dalam bagasi bus. Oh Allah kenapa harus begini? Bingung? tentu saja karena ini di negeri orang brooo. Kemuadian teman-teman saya patungan untuk ongkos taksi menjemput tas saya yang entah masih ada atau tidak di sana. Terima kasih teman-teman untuk bantuannya. Dan terima kasih kepada teman saya Revi yang telah menemani saya dalam kebingungan itu. Sungguh di dalam taksi, hampir-hampir saya menggerutu kesal kenapa bisa seperti itu, pastilah ada yang mengeluarkan tas saya lagi untuk memasukkan tas lain tapi lupa memasukkannya lagi. Ah sudahlah, ayolah berhenti mencari-cari kesalahan orang lain dan mulai berbaik sangka pada Allah. Sekali lagi terima kasih untuk kawan saya Revi yang mengingatkan saya untuk tidak menggerutu. Sungguh dalam hati saya mengatakan jika itu adalah rizki saya, saya mohon pertolongan Allah untuk menjaganya sampai saya datang mengambilnya kembali. Lagi-lagi saya hampir berprasangkan negatif terhadap Allah kalau pasti tas saya sudah tidak ada di sana. Tapi Alhamdulillah saya ingat bahwa Allah itu sesuai prasangka hambanya, sekuat hati saya mencoba untuk berkhusnudzon terhadap Allah dan kuasa Allah untuk menjaganya. Di sini saya benar-benar secara langsung menyaksikan kuasa Allah dan janji Allah yang pasti dipenuhi. Saat di dalam taksi dari kejauhan melihat tas saya di pinggir jalan dan sampai saya mengambilnya bersama saya seperti ada terikan kuat di telinga saya, "Ini adalah kuasaKu, ini adalah janjiKu yang Aku penuhi terhadapmu. Lantas mau apalagi kau? Tunduklah kepadaKu." Astaghfirullah... Subahanallah... jatuhlah hati yang meninggi, leburlah sombong yang menguap, lelehlah air di mata saya merasakan hati saya diguncang seperti gempa bumi. Sampai sekarang, dalam perenungan saya belum paham apakah ini ujian atau teguran Allah. Maha Suci Allah! #bignotedformyself


Tuesday, 3 September 2013

Mercusuar Sembilangan Pemberi Isyarat Perjalanan Kapal

Foto oleh: D Indah Nurma Tahun 2011


FYI, mengenai lokasi mercusuar ini.  Terletak di Desa Sembilangan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Dari kaki Jembatan Suramadu sisi Madura lurus saja sampai menemukan APILL (Alat Pengatur Isyarat Lalu Lintas) dan signage arah Bangkalan dan Pamekasan. Ikuti saja arah ke Bangkalan kota sampai setelah Bebek Sinjay menemukan APILL lagi belok saja ke arah kiri di Jalan Halim Perdana Kusuma. Kemudian lewat tempat ziarah Kyai Kholil, bertanyalah jika tidak tahu. Ah yasudahlah berikut ini penampakan di goole map untuk rute terbaik yang saya lewati. Kalau masih tidak ngerti bisa tanya saya langsung atau ajakin saya main. Haha..



FYI lagi, mengenai sejarah dari mercusuar sembilangan ini. Dulunya berfungsi untuk mengintai gerak-gerik musuh yang akan memasuki Madura. Oleh karena itu, mercusuar dibangun di pinggir pantai paling barat Madura untuk mengintai kapal musuh yang akan memasuki wilayah Bangkalan dari sisi barat. Oh ya, jika anda melihat desain si mercusuar ini akan sangat mirip dengan yang di Anyer (jika sudah pernah ke sana). Dibangun pada masa yang sama.
Oh ya, perjalanan 1 September 2013 ini bukanlah pertama kali saya ke sini tapi sudaj keempat kalinya. Yang pertama dan kedua waktu saya semester 2 di tahun 2011. Yang ketiga ya di tahun ini juga, itu pun karena ingin bernostalgia pertama kali ke sana. Oh ya, waktu itu bisa menemukan lokasi ini karena ada tugas mata kuliah komputasi perencanaan. Sekilasnya bisa dibaca di blog lawas kami yang berfungsi sebagai logbook http://mercusuarbangkalaninnewconcept.blogspot.com/ dan waktu itu saya yang bertugas untuk menggambar bagian mercusuarnya lho, mulai dari nol dan alhamdulillah nayamul mirip lah.
Hari ini, mumpung liburan jadi sengaja pengen ke sana sama sahabat saya dari SMP, yaitu Nurul Alfiana yang biasanya saya panggil Yuyung. Haha... Pengen menikmati momen liburan di tempat yang saya suka sama sahabat saya itu. Jadilah kami pagi-pagi berangkat ke sana dengan dua buah roda yang seperti kuda bentuknya, tapi kuda besi. Orang bilang sih itu motor namanya. Haha... Di sana itu ada mercusuarnya (pastinya lah...). Terdapat sekitar 18 lantai yang lantai teratas untuk lampu suarnya dan lantai 17 kita bisa melihat ke seluruh penjuru sejauh jarak pandang kita. Di depan berhadapan dengan Pulau Mengare yang merupakan bagian dari Kabupaten Gresik, saya pernah ke sana juga dan di sana ada Benteng Portugisnya, ada pula bunga bangkainya. Lalu perairannya merupakan jalur pelayaran yang sibuk, jadi jangan heran kalau anda akan menjumpai banyak kapal yang berlayar.
Banyak Kapal
Tempat ini memang bukan merupakan tempat wisata tapi dalam perkembangannya, orang-orang mengunjungi tempat ini sebagai objek yang menarik untuk dikunjungi. Dan entah sejak kapan sebelum masuk site mercusuar ada pungli sih, 2000 rupiah untuk motor dan 5000 rupiah untuk mobil. Yaa anggap saja itu shodaqoh. Kalau mau masuk dan naik ke mercusuar memang ada penjaganya dan dipungut biaya juga untuk 1 motor 2 orang sebesar 5000 rupiah. Tidak tahu lagi jika berjalan kaki. Yang jelas naik saja jika sudah di sana, daripada menyesal. Hehe..
Foto oleh: D Indah Nurma
Edit oleh: Nui D'Criptograph
Di atasnya adalah lampu suar
Foto dan edit oleh: Nui D'Criptograph
Foto oleh: Yuyung
Foto oleh: saya :D
Sebenarnya tujuan ke sana adalah untuk duduk-duduk di atas, melihat laut biru, dan kapal-kapal yang berlayar, mau menghilangkan galau, haha...Tapi gagal total bro. Itu semua karena tiba-tiba saja ada segerombolan orang jayus tanya-tanya tentang tempat tersebut dan DIY, buyarlah semua. Yang kedua, ada pengunjung dari Jakarta yang minta poto2 bareng, waaah ada apa ini minta poto bareng? Apa saya selebriti yg lupa ingatan? haha... Kacau lah pokoknya, udah gak mood buat duduk-duduk menikmati lautan dari atas sana, sehingga saya memilih poto-poto sajalah, lho gak mood kok malah pilih foto-foto? :p Yasudah kami langsung turun dan melihat-lihat sekitar mercusuar lalu segera pulang. Kalau pulang tak lupa mampir ke tempat makan yang sedang naik pamornya. Yaaa apalagi kalau bukan Nasi Bebek Sinjay :D FYI, seporsi sekitar 18.000 rupiah (ini harga kalau tidak/belum redenominasi ya). Lalu pulangnya, saya tercengang kagum luar biasa. Dari pulau ini saya melihat gunung kesukaan saya lebih terlihat gagah. Melongo brader sepanjang perjalanan pulang. Sumpah saya baru tahu gunung itu bisa terlihat dari sini bahkan lebih mengagumkan.


Foto-foto dan edit oleh: Nui D'Criptograph

Ini gunung yang saya maksud
Yuyung di Bebek Sinjay

Thursday, 29 August 2013

Pernikahan di Sleman

Pernikahan, tidak pernah terpikir sedikitpun akan menghadiri sebuah pernikahan dalam perjalanan hijrah sementara saya. Namun siang itu, 18 Agustus 2013 tiba-tiba saja seorang kawan di studio berkunjung ke kost kami. Waktu itu Mbak Eka, yang menjemput mbak Sri di bawah. Setelah itu terdengar suara percakapan antara Tata, Mbak Eka, dan Mbak Sri yang salah satu diantaranya adalah menyebutkan bahwa akan mengundang kami di acara pernikahannya dan menanyakan kapan kepulangan kami ke Surabaya. Saya yang waktu itu sedang mandi pun rasanya tersambar petir. Cepat-cepat saya keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan percakapan itu. Percakapan tentang bagaimana seorang wanita istiqomah memperbaiki diri sembari menunggu dipertemukan dengan Jodoh. Pelajaran dari seseorang yang dalam diamnya memperbaiki diri dan tidak banyak bicara tiba-tiba mengantarkan kabar gembira tentang pernikahannya. 
Seketika ingatan saya melayang pada materi mengaji sore sewaktu SMP dengan kitab tua bertuliskan huruf arab gundul yang berisi tentang hak dan kewajiban suami istri. Melayang juga pada buku-buku menganai pernikahan yang pernah saya lahab walau saya belum waktunya menikah. Tapi beruntung sekali rasanya mempelajari itu semua, ya hitung-hitung sebagai bekal. Saat dapat undangan pernikahan saya selalu berpikir berulang kali untuk menghadirinya atau tidak, jujur saya ini takut untuk mendatangi sebuah pernikahan apalagi pernikahan teman sebaya. Namun kali ini perasaan yang seperti itu hilang. Sungguh saya sungguh beruntung, hijrah saya yang untuk Kerja Praktek ini mendatangkan berbagai pelajaran dan bekal, lengkap rasanya karena tidak hanya bekal mengenai keprofesian saya yang saya dapat namun bekal mengenai bagaimana harus bersikap sebagai wanita juga. Bekal untuk fungsi publik dan domestik wanita. 
25 Agustus 2013, tiba hari pernikahan kawan saya itu. Pagi harinya pun ketika saya tidak jelas harus tinggal di mana juga memikirkan, ah pastinya teman saya sedang berdebar menjalani akad nikah. Siangnya setelah menumpang mandi di kost Mbak Eka kami (saya, Tata, Mbak Eka, Mas Ridho, dan Mas Azan) bersama berangkat ke resepsi pernikahan Mbak Sri di Jalan Magelang. Ah, benar saja di sana aku begitu terpukau melihat seorang teman yang dalam balutan gaun pengantin cantik nan wangi. Untuk kali ini sayang sekali saya tidak punya foto bersama di kamera saya. Jadi saya berfoto narsis ceria sama mereka, hehe...


Istighfar dulu deh yg lihat :p
Setelah pulang dari sana, karena ini adalah hari terakhir saya dan Tata bisa bercengkerama dengan mereka, jadinya sungguh saya masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Setelah berpusing-pusing ria enaknya kemana jadinya diputuskan saja untuk duduk santai di teras kost sambil makan lotis (yang sesungguhnya di Surabaya itu disebut rujak manis atau rujak buah). Hai teman-teman, tahukah kalian bahwa saya sangat bersyukur mendapatkan cinta baru oleh orang-orang seperti kalian. Semakin memahami bahwa menjadi Planner bukanlah sebuah pekerjaan tapi pengabdian dan perwujudan tugas sebagai khalifah di muka bumi, malu rasanya jika setelah ini mencoba murtad dari tugas sebagai seorang Planner, semoga pemahaman ini dirasakan juga oleh Planner dan Calon Planner yang lain. Keluarku dari zona nyaman yang ternyata sangat merasakan nyaman di tempat hijrah yang baru selama ini membuat saya memahami syair dari Imam Syafi'i yang sangat saya sukai, ya meskipun saya selama ini masih punya nasib di kota ini. 

Foto Oleh: Mbak Eka :D
Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang
Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman

Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan


Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.