Sunday, 17 March 2019

Review Film Pohon Terkenal: Sejuta Kisah Akademi Kepolisian





Halo semuanya ...!

Sudah lama sepertinya enggak ngobrolin film Indonesia di blog ini. Apakah teman-teman masih berpendirian anti nonton film Indonesia di Bioskop? Saya harap tidak, karena beberapa tahun terakhir film Indonesia semakin mantap menghadirkan kualitas yang tidak kalah dengan film asing. Kualitas yang sangat berkembang tidak hanya dari segi pengambilan gambar tapi juga jalan cerita yang menarik.

Pada hari rabu (13/03/2019) lalu saya dan beberapa teman menghadiri pre-screening film Indonesia yang akan tayang pada tanggal 21 Maret 2019 nanti. Ternyata ini bukan film biasa tapi film yang lahir dari gagasan Divisi Humas POLRI untuk memperkenalkan dunia Akademi Kepolisan kepada masyarakat.

Dalam pikiran saya yang pertama saat mendengar ini adalah film dari kepolisian, langsung membayangkan adegan-adegan dalam iklan layanan masyarakat dari kepolisian. Hahaha... Tapi karena ini film layar lebar, pastinya sudah dipersiapkan dengan sebaik mungkin agar bisa dinikmati dengan baik.

Pertama kali mendengar judul film Pohon Terkenal juga saya kira malah film tentang pak polisi yang berusaha menyelamatkan pohon dari pembalakan liar, haha... Sangat tidak bisa menebak karena pengetahuan saya tentang dunia Kepolisian juga sangat minim. Ternyata Pohon Terkenal adalah istilah dalam Akademi Kepolisian untuk menyebut taruna-taruni yang dalam masa pendidikan sering berulah sehingga angkatan mereka juga terkena hukuman.

Sinopsis

 
Poster Film Pohon Terkenal
image source: 21 cineplex
Judul Film        : Pohon Terkenal
Genre                : Drama, komedi
Produser           : Komjen. Po. Drs. Setyo Wasisto, S.H; Irjen. Pol. Mohammad Iqbal S.IK, M.H; Fransisca Sihombing
Sutradara         : Monty Tiwa, Annisa Meutia
Penulis              : Lina Nurmalina, Annisa Meutia, Monty Tiwa
Produksi           : Mabes Polri Divisi Hubungan Masyarakat
Casts                 :  Umay Shahab, Laura Theux, Raim Laode, Cok Simbara, Ajis Doa Ibu.

Film ini menceritakan tiga tokoh utama, yaitu Bara Maulana (Umay Shahab), Ayu Sekarwati (Laura Theux), dan Johanes Salossa (Raim Laode) yang sedang mengikuti pendidikan polisi (Akadami Kepolisian) di Kota Semarang. Baik Bara, Ayu, dan Johannes memiliki permasalahan pribadi saat menjadi taruna-taruni Akpol.

Bara menjadi Taruna Akpol dengan terpaksa karena telah berjanji kepada ibunya sewaktu sakit. Ayu menjadi Taruni karena Ayahnya seorang jendral, namun dia bertekad untuk mendapatkan Adhi Makayasa* meskipun banyak yang meremehkan dia karena dianggap akan mudah melakukan apa saja karena anak seorang Jendral. Sedangkan Johannes tidak sengaja menjadi Pohon Terkenal karena sulit beradaptasi dengan kehidupan di Jawa, karena ia berasal dari Papua.

*Adhi Makayasa adalah penghargaan tahunan kepada lulusan terbaik dari setiap Matra TNI dan Kepolisian.

Bara dengan sikapnya yang malas dan angin-anginan dalam mengikuti latihan selalu mencari alasan untuk keluar, tanpa disangka saat pura-pura sakit dia bertemu dengan Ayu dan Johannes. Mereka bertiga selalu tidak sengaja mengacau jalannya pelatihan sehingga teman-teman satu angkatan mereka yang terkena akibatnya. Dari situlah mereka mendapatkan julukan Pohon Terkenal.

Dalam perjalanannya yang selalu mencari alasan untuk keluar dari Akademi Kepolisian itu, Ayu dan Johannes yang selalu meminta Bara bertahan. Tanpa disangka Bara dan Ayu terlibat kisah asmara dan hampir terkena masalah serius yang bisa mengakibatkan Ayu tidak bisa mendapatkan Adhi Makayasa. Di tengah drama dan romansa itu, Johannes selalu hadir memberikan candaan-candaannya yang menyegarkan. Lalu apakah Bara berhasil menemukan alasan untuk bertahan di Akademi Kepolisian? Apakah Ayu bisa mendapatkan Adhi Makayasa? Semuanya bisa kita tonton langsung di Bioskop tanggal 21 Maret 2019.







Review

Foto Bersama Teman-Teman Blogger, Instagrammer, dan Pemeran Film Pohon Terkenal


Secara garis besar film ini menceritakan tentang kehidupan Taruna dan  Taruni Akademi Kepolisian. Segala perjuangan mereka dengan masing-masing latar belakang yang berbeda. Anggapan saya tentang film yang bakal jadi serupa iklan layanan masyarakat dari Kepolisian juga terhempas jauh, jalan ceritanya segar dan sinematografinya sangat bagus. Padahal jelas-jelas tertulis Film Pohon Terkenal ini diproduksi oleh Divisi Humas POLRI.

Yang kedua, sejujurnya film ini not safe for jomblo. Meskipun menurut saya cerita romansanya sangat-sangat bisa diprediksi tapi cara mereka mengungkapkan dan memastikan perasaan sangat tegas, berbeda dari film drama romantis yang biasanya. Bayangkan seorang polisi yang tegas bisa tegas mengungkapkan kalau dia sedang baper alias terbawa perasaan dan menyatakan perasaan mereka. Hal ini sangat baru bagi saya dan sejujurnya jadi salah satu the best part dari film ini yang  membuat saya ingin nonton lagi. Bahkan dalam teater, terdengar ekspresi para penonton yang tanggapannya sama seperti saya. Kami satu teater terbawa perasaan!

Di tengah Bara mencari alasan untuk bertahan, Ayu terus berusaha agar menjadi yang terbaik dan membanggakan Ayahnya. Dia berkata bahwa anggapan orang-orang yang mengatakan kehidupannya di Akpol akan mudah karena jabatan Ayahnya justru membuat dia harus bekerja 1000 kali lebih keras untuk benar-benar bisa jadi yang tebaik dan diakui. Ayu sempat sedikit berkonflik dengan Ayahnya tapi dapat terselesaikan dengan baik.

Saat berinteraksi dengan Ayahnya di depan publik, Ayu tetap menjaga sikap sebagai junior kepada senior terhadap Ayahnya. Dalam bagian ini saya jadi tahu bahwa hal seperti itu memang ada peraturannya. Konflik lain dan beberapa scene banyak yang sering saya lihat di kehidupan nyata tapi baru paham saat menonton Film Pohon Terkenal. Bisa saya bilang kalau film perdana dari Divisi Humas POLRI ini berhasil mengedukasi saya sebagai penonton tentang dunia Akademi Kepolisian. Tentunya drama romansa yang segar ini menjadi media yang sangat baik. Johanes dengan lawakannya juga tidak pernah gagal membuat penonton terbahak.

Selain itu ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya dalam film ini:
·      Sebagai tokoh utama, Bara (Umay) yang aktingnya sangat bagus di sini terlalu fokus pada kenakalan dia yang selalu hampir membuat dia terkena masalah serius. Di sini Bara saya harapkan diulas lebih dalam dan punya beberapa adegan tambahan bersama Ibunya, yang menggambarkan meskipun tidak suka masuk Akpol tapi tetap berusaha dengan serius demi Ibunya.
·    Tokoh Ayu diulas dengan baik latar belakangnya, sehingga penonton tahu alasan apa di balik tekadnya mendapatkan Adhi Makayasa. Tapi justru menurut saya kurang terlihat dengan kuat usahanya dia mendapatkan Adhi Makayasa meskipun di antara konflik.
·       Dari sanubari terdalam saya benar-benar menyadari bahwa isi film ini sangat sesuai dengan judulnya. Berfokus pada cerita mereka menjadi Pohon Terkenal yang menjadikan kehidupan di dalam Akpol memiliki sejuta kisah. Maka dari itu mungkin dua poin di atas ditoleransi untuk diabaikan oleh penulis dan sutradara.
·    Namun kembali lagi, sebagai film perdana dari Kepolisian RI, film ini sangat bagus dan berhasil banget memperkenalkan dunia Akademi Kepolisian kepada masyarakat umum.

Sekali lagi seperti biasanya, tulisan tentang film ini merupakan pendapat pribadi saya. Saya bukan profesional, hanya penonton biasa yang berusaha membagikan pemikiran saya tentang sebuah film. Jadi apakah film ini layak ditonton atau tidak? Jawaban saya adalah sangat layak, yuk nonton Film Pohon Terkenal!


Wednesday, 13 March 2019

Papia, Varian Baru Dari Surabaya Patata




Dunia kuliner memang tidak pernah berhenti melakukan inovasi. Makanan baru terus bermunculan, baik yang benar-benar baru maupun modifikasi dari yang sudah ada. Di Kota Surabaya pun begitu, berbagai kuliner baru juga semakin bersolek. Salah satunya Surabaya Patata yang baru-baru ini mengeluarkan produk terbaru mereka, yaitu Papia.

Papia menjadi keluarga baru Surabaya Patata dan dilaunching pada Senin (11/03/2019) lalu tapi  baru bisa dinikmati secara resmi di seluruh outlet Surabaya Patata pada 16 Maret 2019 mendatang. Saya termasuk beruntung bisa mencoba Papia sebelum resmi dijual sabtu mendatang. Dengan harga satu kotak IDR 40K isi 10 pcs. 


Mencicipi Papia

 
Papia by Patata
Image: Source dok.pri
Papia sendiri adalah Patata Pia yang terinspirasi dari makanan Jogja yaitu Bakpia. Kalau Bakpia dimasak dengan cara dipanggang (oven), Papia ini dimasak dengan cara dikukus. Sehingga teksturnya sangat empuk dan mudah dimakan, tidak meninggalkan remahan ketika dimakan.

Bahan yang digunakan untuk membuat Papia masih sama khas dari Patata, yaitu tepung kentang.

“Bahan baku Papia sama dengan produk Patata lainnya, yaitu tepung kentang dengan gula, telur dan margarin serta diisi dengan krim keju.” Kata Chef Muslih dari Surabaya Patata di Bober Cafe Jalan Jemur Sari kemarin.

Papia ini harusnya sudah diperkenalkan ke publik sejak bulan Desember tahun lalu. Tapi ternyata harus melewati proses trial and error lebih lama untuk mendapatkan bentuk dan rasa yang paling pas, ya... karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Akhirnya takdirnya untuk bisa bertemu kita semua baru pertengahan Maret tahun ini.

Sekilas jika dilihat mirip dengan kudapan bakpao dengan bentuk lebih kecil dan warna-warni. Varian Papia ini memang ada 5 yaitu, red velvet, taro, double chocolate, cheese, dan pandan. Untuk isian dari semua varian sama-sama mengggunakan bahan dasar krim keju dengan beberapa tambahan sesuai dengan varian rasa.

Meskipun sekilas mirip bakpao tapi ketika digigit terasa sekali bedanya. Papia yang terbuat dari tepung kentang ini sangat mudah untuk digigit. Menurut saya itulah kelebihan tepung kentang. Saya sudah mencoba berbagai macam kuliner roti, cake, yang menggunakan tepung kentang dan membandingkan dengan kudapan dari tepung gandum. Kudapan dari tepung gandum biasanya ketika digigit mengempes terlebih dahulu baru bisa terpotong(?) sedangkan tepung kentang langsung bisa terpotong dan dikunyah dengan mudah.

Meskipun memiliki bentuk lebih kecil dan mudah dipegang, tetap saja bisa memberikan efek kenyang. Hal ini justru bagus untuk dijadikan camilan versi saya. Tidak hanya berfungsi sebagai teman olah rahang agar tidak menganggur, haha... tapi bisa jadi pengganjal perut di sela kesibukan atau sebelum jam makan tiba.

Saran


Papia by Surabaya Patata sudah mendapatkan bentuk dan ukuran yang paling pas menurut saya. Kemasannya juga sudah bagus dibungkus plastik setiap kuenya dengan bentuk yang lucu. Namun dalam kemasan ini akan lebih baik jika diberikan keterangan varian rasa untuk informasi lebih lanjut pada konsumen. Dari segi rasa mungkin bisa ditingkatkan rasa kejunya untuk varian keju tapi dalam batasan agar tidak terlalu eneg. Sedangkan red velvet bisa ditambahkan rasa yang agak pahit tapi nikmat khas dari buah bit.

Ya saran-saran dari saya ini tentunya adalah menurut opini pribadi saya sendiri sebagai konsumen. Semua kembali lagi kepada tim ahli dan chef dari Surabaya Patata. Tentunya mereka lebih tahu yang terbaik dan juga membaca pasar.

Lokasi Outlet Surabaya Patata
 

Surabaya Patata memiliki beberapa outlet di Kota Surabaya, antara lain sebagai berikut:

  1. Surabaya Patata Dharmahusada, Jalan Dharmahusada No. 187, Mojo, Gubeng, Kota surabaya. Tepatnya di samping Maxone Hotel Dharmahusada
  2. Surabaya Patata MERR. Jalan Dr. Ir. Soekarno No 397 Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya
  3. Surabaya Patata Jemursari, Jalan Raya Jemursari No 70 satu lokasi dengan Bober Cafe
  4. Surabaya Patata Rest Area TOL Gempol KM 26 (dari arah Surabaya) dan Rest Area KM25 (dari arah Malang)
  5. Surabaya Patata Stasiun Gubeng Baru, Stasiun Pasar Turi, dan Bandara Juanda.