Wednesday, 24 December 2014

10 Lokasi yang Bisa Kamu Kunjungi di Surabaya

Kota Surabaya sudah menjadi kota yang super sibuk dengan kegiatan perdagangan dan jasanya sejak masa kolonial hingga sekarang. Namun dengan kesibukannya itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak bersantai atau bahkan berwisata di kota ini. Tidak hanya pengunjung atau yang sedang memiliki keperluan bisnis, bagi orang Surabaya sendiri terkadang bingung memilih tempat untuk bersantai atau berjalan-jalan. Berikut tempat-tempat yang bisa anda jadikan referensi jika ingin menikmati Kota Surabaya.
  1. Tugu Pahlawan
    Tugu Pahlawan selain memiliki sebuah tugu sebgai daya tarik juga memiliki museum yg terletak di bawah tanah, Museum 10 November. Benda-benda yang dipamerkan tentu saja adalah yang berkaitan dengan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Ada pula diorama statis yang menggambarkan keadaan saat itu, rekaman pidato suara asli Bung Tomo, dan kita juga bisa menonton film jaman perjuangan. Berkunjung ke Tugu Pahlawan tentunya bisa menambah semangat nasionalisme kita. Jika ingin menikmati area tamannya saja tidak dikenakan biaya retribusi masuk, namun untuk masuk ke museum dikenakan biaya lima ribu rupiah perorang dan untuk anak-anak gratis. 
    Tugu Pahlawan
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  2. Sunrise di Kenjeran
    Banyak yang beranggapan tidak ada sisi menarik dari pantai yang punya air laut senada dengan milo. Tapi jangan salah di THP kenjeran atau biasanya disebut Kenjeran lama menjadi tujuan utama bagi pencari  sunrise. Datanglah saat menjelang matahari terbit dengan membawa kamera dijamin anda akan terpukau. Selain itu angin yang sepoi-sepoi dan suara deburan ombak cukup membuat suasana hati damai saat berkunjung. 
    Sunrise di Pantai Kenjeran
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  3. Kawasan Ampel
    Berkunjung ke kawasan Ampel ini banyak sekali yang bisa kita lakukan. Karena kawasan Kampung Arab ini sudah ada jauh sebelum masa kemerdekaan, kita bisa berwisata sejarah, mengetahui keseharian masyarakat di sana dan mengagumi bangunan-bangunan tuanya. Bagi yang ingin berziarah ke makam Sunan Ampel sah-sah saja dilakukan sebagai bentuk terima kasih telah membawa Islam di Tanah Jawa khususnya Surabaya. Selain itu bisa juga wisata belanja suvenir khas Timur Tengah. Setelah puas berjalan-jalan boleh ditutup dengan wisata kuliner khas Timur Tengah yang banyak disuguhkan oleh restoran-restoran di Kawasan Ampel.
    Wisata Belanja di Ampe Suci
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  4. House of Sampoerna
    House of Sampoerna ini adalah museum mengenai rokok. Oleh karena itu anak-anak dibawah umur dilarang masuk tanpa dampingan orang tuanya. Di dalamnya ada museum, galeri seni, dan cafe. Museumnya sendiri menyajikan hal-hal mengenai sejarah rokok dan yang berkaitan dengan rokok. Di lantai dua ada workshop dimana kita bisa menyaksikan orang-orang melinting rokok dengab super cepat. Galeri seninya sendiri merupakan galeri tempat para seniman menunjukkan karyanya. Satu lagi yang menarik dari tempat ini, yaitu mereka menyediakan fasilitas keliling kota tua Surabaya dengan bus yang bernama Surabaya Heritage Track. Untuk menikmatinya saya sarankan reservasi dulu karena tiketnya cepat sekali penuh. 
    House of Sampoerna
    Foto Milik: D. Indah Nurma
  5. Monumen Kapal Selam: Kapal selam yang terdampar di tengah kota ini selalu menarik perhatian. Nama kapal selam ini adalah KRI Pasopati yang pernah turut serta dalam tugas pembebasan Irian Barat. Di dalamnya tentu saja kita bisa melihat bagian-bagian kapal selam seperti ruang mesin, torpedo, tempat tidur awak kapal, ruangan kapten, sampai kamar mandi. Bahkan foto-foto Kapten dan awak kapal juga tersusun rapi di dalamnya. Di bagian luar baru-baru ini dilengkapi dengan fasiliyas kolam renang anak-anak. Di ruang audio visualnya terdapat film mengenai tugas kapal selam ini di masa dahulu. 
    Monumen Kapal Selam
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  6. Ekowisata Mangrove Wonorejo
    Ekowisata Mangrove di Wonorejo sepertinya tidak main-main dalam menunjukkan keseriusannya sebagai tempat wisata. Karena saat ini semakin memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Saat berkunjung ke sana tentunya kita bisa berjalan di antara hutan mangrove. Tapi hati-hati terhadap barang-barang anda karena monyet penghuni hutan mangrove ini gesit dan suka menggoda.
    Ekowisata Mangrove Wonorejo
    Foto Oleh:Surabaya bagus
  7. Jembatan Suramadu
    Jembatan yang menjadi penghubung Surabaya dan Madura di sisi Bangkalan ini menjadi salah satu ikon Jawa Timur. Sayang sekali jika berkunjung ke Surabaya tapi tidak berfoto dengan latar belakang jembatan yang megah ini. Untuk berfoto dengan latar belakang jembatan ini bisa dilakukan di kaki jembatan sisi Surabaya. Jika ingin merasakan sensasi membelah Selat Madura bisa menyebrangi dengan membayar 3 ribu rupiah untuk sepeda motor dan tiga puluh ribu rupiah untuk mobil sekali menyeberang.
    Jembatan Suramadu dari sisi Surabaya
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  8. Kebun Binatang Surabaya
    Kebun Binatang ini dahulu pernah menjadi yang terlengkap se-Asia dan baru-baru ini konflik dan kematian koleksi satwa juga terdengar semakin meluas. Namun dibalik semua itu Kebun Binatang Surabaya (KBS) tetap layak sebagai tujuan wisata. Selain memiliki koleksi satwa, KBS juga menjadi ruang terbuka hijau yang luas tanpa perkerasan di Surabaya. Terbayang kan jika mengunjungi KBS, kita tidak hanya bisa melihat-lihat koleksi satwanya tapi juga bisa menghirup udara segar di tengah padatnya Kota Surabaya. Selain itu di bagian luar juga terdapat ikon Kota Surabaya yang menjadi andalan para wisatawan jika berkunjung di kota ini.
    Kebun Binatang Surabaya
    Sumber: Wikipedia
  9. Taman Bungkul
    Taman Bungkul ini sebenarnya diambil dari nama Mbah Bungkul, yaitu seorang tokoh penyebar Agama Islam yang makamnya terletak di belakang taman ini. Pemerintah Kota Surabaya kemudian membangun fasilitas umum untuk masyarakat bersosialisasi seperti yang kita lihat saat ini. Di hari minggu kawasan taman ini dipadati oleh orang-orang yang mengikuti kegiatan car free day. Kita juga bisa berwisata kuliner khas Surabaya di hari minggu karena banyak pedagang makanan seperti Semanggi Suroboyo dan jajanan khas lainnya.
    Taman Bungkul
    Sumber: http://www.es5press.com/
  10. Surabaya Carnival Night Market (SCNM)
    Pada pertengahan tahun 2014, pariwisata Surabaya diwarnai dengan hadirnya theme park baru bernuansa pasar malam. Meskipun bernuansa pasar`malam tidak berarti seperti yang sering kita jumpai. Selain wahana permainan juga terdapat museum-museum yang menunjukkan ciri khas Kota Surabaya. Surabaya Carnival Night Market yang terletak di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo ini buka mulai sore hingga malam hari. 
    Wahana Permainan di SCNM
    Sumber: Facebook SCNM
Itulah tempat-tempat yang mungkin bisa jadi pilihan saat berkunjung ke Surabaya. Tentunya masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi di Surabaya selain yang saya sebutkan di atas. Jadi apakah kalian pernah mengunjunginya atau pernah mengunjungi tempat menarik lain di saat di Surabaya?

Friday, 5 December 2014

Mengunjungi Markas Komando Armada Timur

Di Ujung KRI Dewaruci
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Mengunjungi Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim) di Ujung, Surabaya bagi sebagian orang yang tidak memiliki hubungan kerabat dengan prajurit TNI adalah hal yang sangat istimewa. Begitu pun dengan saya yang dalam sejarah keluarga belum ada yang jadi TNI, eh dulu pernah hampir punya ipar TNI AL tapi enggak jadi, yasudahlah. Setelah gagal mengunjungi armatim di peringatan HUT TNI ke-69 lalu, saya kembali diusik oleh Ruddin teman saya. Mentang-mentang hari Armada sudah dekat yang jatuh tanggal 5 Desember, dia terus-terusan menanyakan saya kapan peringatannya. Alasannya tidak lain agar kami bisa mengunjungi Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) dan lihat Kapal Republik Indonesia (KRI). Mulai dari tanya sana sini, googling dengan berbagai kata kunci, lalu malah akhirnya nemu artikel di situs bola tentang kegiatan Naval Base Open Day 2014 yang diselenggarakan tanggal 30 November 2014 dalam rangka Hari Armada.
Kapal-Kapal Perang RI
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Tanpa banyak pertimbangan dan karena sudah sangat ditunggu akhirnya saya dan Ruddin memutuskan untuk datang. Kami menyebutnya kunjungan militer, haha. Awalnya mau barengan sama Niko lalu dia batal, terus teman lain katanya mau ikut tapi malah gak ada kabar waktu hari H. Oke minggu pagi hari yang saya tunggu-tunggu datang, saat akan memakai sepatu terdengar suara mesin Vixion di depan pagar rumah. Yaelah sampe hapal banget suara mesin motor Ruddin, haha. "Pak, Indah mau saya culik dulu." Eh lah pamitnya antik. Sssttt sebenernya saya ini gak tau jalan ke Armatim kalo lewat jalan sebenarnya, saya cuma tau kalo lewat dalam perumahan dinas TNI AL di Bulak Banteng sana. Ahaha wong Suroboyo apaan aku ini, yasudahlah Suroboyo kan gede banget jadi wajar kalo gak hapal (alesan). Kuda besi bernama vixion itu pun akhirnya dipacu Ruddin lewat rute saya itu, ehehe gak ada yang tau jalan. Tapi toh akhirnya nyampe juga dan pas lihat Monjaya langsung mata berbinar seperti lihat emas segudang haha. Akhirnya aku mengunjungi Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim), bisa foto-foto nih tapi malu karena barengan sama Ruddin. Kan saya cenderung pemalu kalo ada cowok, halah...

Pagi itu suasana Mako Armatim tentunya riuh sekali karena kabarnya jumlah peserta fun bike adalah yang terbanyak di Surabaya. Mulai dari orang-orang seperti saya dan para keluarga anggota TNI tumplek blek di sana. Saya langsung membayangkan bagaimana suasana sehari-harinya pasti nampak damai kalo dipakai berfoto. Asli bung saya bahagia banget lihat kapal-kapal diparkir. Petualangan narsis pun dimulai saat bertemu KRI Dewaruci. Dan ternyata Ruddin bisa diajak narsis ria haha... Saya tidak akan menceritakan sejarah mengenai KRI Dewaruci karena kalian pasti sudah tahu atau bisa cari tahu di tempat lain. Yang jelas ini adalah kapal layar yang mengagumkan dengan tiang-tiang layar yang diberi ukiran khas Indonesia. Saya langsung membayangkan bagaimana rasanya berlayar. Saya sangat suka kapal dan berharap suatu saat bisa melakukan pelayaran yang jarak tempuhnya adalah hari bukan jam. Alasan kenapa saya menyukai kapal dan berlayar adalah karena rasa sabar, syukur, ikhlas, dan penuh tanda-tanda bahwa Allah itu Maha Besar dan Maha Kuasa. Di laut itu kalau bukan sama Allah mau berpegang pada siapa lagi? Laut yang begitu ganas dan badai yang bisa merenggut tanpa sisa tapi Allah menaklukan lautan itu bagi manusia. Masya Allah... Ya begitulah dasarnya mengapa saya mengagumi kapal dan laut. Diantaranya seperti yang terdapat di Al-Quran surat Yunus ayat 22, Luqman 31, dan masih banyak lagi.
Tiang Layar KRI Dewaruci
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Ukiran Tiang Layar KRI Dewaruci yang Mempesona
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Saat itu acaranya selain fun bike juga ada open ship dimana para pengunjung berkesempatan menaiki dan melihat-lihat kapal perang yang dimiliki oleh TNI AL kita dan juga pameran alat utama sistem pertahanan (alutsista). Kapal perang lainnya yang dipamerkan adalah KRI Usman Harun yang beberapa waktu lalu sempat menjadi pembahasan serius oleh Singapura. Negara tetangga kita nggak terima tuh atas penamaan kapal perang baru kita. Katanya sih menyinggung luka lama mereka. Googling sendiri aja deh ya gaes tentang kontroversi itu. Lalu berbersandar sejajar dengan KRI USH adalah KRI Bung Tomo. Di kapal-kapal ini kita bisa berkeliling menikmati kecanggihannya tapi enggak bisa masuk ke dalam. Kata salah satu petugasnya boleh masuk kalau kita keluarga TNI atau pacarnya TNI. Lha masa saya harus punya gebetan TNI dulu pak baru boleh masuk ke ruangan-ruangan di dalamnya? Yang benar saja, aturan macam apa ini? Huh. Yasudah pokoknya dapat foto bareng sama awak kapal Mas Ricky. Dan kata orang setelah melihat foto itu wajah kami mirip, jangan-jangan..... hahaha.
Maap bagi yang merasa keluarganya, saya cuma poto bareng hehe.
Foto Oleh: Ruddin
Turun dari kapal-kapal perang itu kami melihat kapal lain yaitu KRI dr. Soeharso. Kapalnya besar sekali yang jelas geladaknya super luas. Dan ternyata geladak yang super luas itu bisa mengoperasikan dua buah helikopter sekaligus.Kapal ini juga dilengkapi dengan sebuah hanggar untuk menampung satu helikopter lagi. Sesuai dengan namanya, kapal ini berfungsi sebagai kapal rumah sakit yang memiliki 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, dan 2 ruang perawatan yang masing-masing memiliki 20 tempat tidur (sumber: wikipedia). Iya bro wikipedia sumbernya, soalnya kami enggak masuk kapalnya karena antrean yang panjang. Jadi kami cuma lihat dari luar dan dari atas Monjaya. Bersamaan dengan kami lihat-lihat bagian luar kapal ini ada para peserta lomba renang yang finish. Tau enggak kalau lomba renangnya ini adalah lomba renang Selat Madura. Heleh gak bisa ngebayangin itu bahu bakal jadi selebar apa setelah renang. Waktu saya lihat ternyata para peserta pakai fins, mask, dan snorkel. Jadi berminat ikutan kalau tahun depan ada lagi dan gak finish gak apa-apa deh, hehe... di tengah-tengah melambaikan tangan pada boat yang mendampingi.

Ruddin dan Monjaya
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Kita tinggalkan sejenak kecanggihan kapal-kapal perang kita dan beralih ke monumen yang menjadi daya tarik dari Armatim, yaitu Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya). Monjaya ini adalah monumen berupa patung seorang Perwira TNI AL dengan memakai Pakaian Dinas Upacara yang gagah menghadap ke laut dan ditopang oleh bangunan setinggi 29 meter. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan para penerus bahwa nenek moyang kita adalah pelaut yang berhasil menjelajahi dunia. Jalesveva Jayamahe sendiri memiliki makna di laut kita berjaya. Monjaya selain menjadi monumen juga memiliki fungsi sebagai mercusuar. Di dalam bangunan yang menopangnya berfungsi sebagai museum yang menyimpan sejarah kelautan dan TNI AL. Dari jauh Monjaya terlihat sangat mencolok dan jika kapal melintasinya akan seperti melintasi Patung Liberty di New York, ya setidaknya itu yang saya bayangkan hasil dari menonton Titanic haha/ Menaiki bangunan untuk ke atas Monjaya ternya menyadarkan saya bahwa saya sudah tua eh atau saya jarang olahraga? haha yang jelas energi saya tidak segarang waktu menaiki Mercusuar Sembilangan yang 18 lantai itu. Tapi Ruddin berhasil menghibur saya dengan mengatakan pasti rasanya capek karena tadi awalnya kami sudah berkeliling kapal dulu. Masuk akal juga haha... Di atas kami bisa melihat kapal-kapal yang gagah itu lagi dan juga tentunya kapal-kapal Pelabuhan Tanjung Perak. Dari atas juga makin terlihat bagaimana riuhnya pengunjung acara naval Base Open Day ini. Itu berarti masyarakat memang tertarik dengan bagaimana keadaan markas prajurit pembela tanah air kita. Selain Monjaya ini sebenarnya masih ada Fleet House dan lain-lain yang bisa dikunjungi. Hanya saja waktu itu kami sudah lelah untuk melanjutkan langkah. Semoga ada kesempatan lagi buat bisa berkunjung ke Armatim.

Ternyata Armatim mampu menambah kekaguman saya terhadap kapal dan lautan. Tidak salah jika saya mengunjunginya. Meskipun menarik, kita tidak bisa mengunjungi Armatim sesuka hati kita karena jika selain di acara seperti ini pengunjung harus meminta ijin terlebih dahulu. Seringnya sih anak-anak sekolahan yang mengujungi Armatim. Nah kalau saya? Siapalah saya ini haha. Selain pengen ikut lomba renang Selat Madura, saya juga jadi ingin sertifikasi selam di Dislambair saja, hehe. Yang jelas kurang apa TNI AL kita? Mereka hebat seperti nenek moyang kita yang seorang pelaut itu. Ghora Vira Madya Jala Jales Veva Jaya Mahe, Selamat Hari Armada RI 2014.

Monjaya
Foto dan Edit Lebay Oleh Saya


Monday, 1 December 2014

Kekuatan Komunitas untuk Pariwisata Syariah di Madura.

Jembatan Suramadu dari Sisi Surabaya
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Jembatan Suramadu sejak 10 Juni 2009 memberikan kesan baru pada penampilan Surabaya, Madura, Jawa Timur bahkan Indonesia. Ibarat penampilan seseorang, Suramadu berhasil menjadi aksesori khas yang menyimbolkan identitas tuannya. Bahkan sejak saat dilahirkan sampai sekarang, pembangunan Jembatan Suramadu ini yang menyumbangkan perubahan paling drastis atas wilayah di sekitarnya. Wajah pedesaan yang dulu melekat di pinggiran Kota Surabaya ini sekarang benar-benar menjadi sebuah kota. Jadi ini sebenarnya yang dinamakan urbanisasi, yaitu proses mengkotanya suatu perdesaan.

Tentu saya masih ingat dengan jelas bagaimana proses pembangunan jembatan yang masih menjadi jembatan terpanjang di Indonesia ini. Perjalanan pembebasan lahannya tak mengenal ganti rugi namun ganti untung dengan diskusi yang dilakukan tidak sekali dua kali bersama masyarakat. Finishing jalan raya menuju Suramadu juga sempat mengacaukan jalanan dan lalu lintas untuk sementara. Dengan kesibukan seperti itu pasti terbayang berapa besar pembiayaan Jembatan Suramadu. Pembiayaan dari pemerintah maupun swasta yang terlibat. Tujuan pembangunan Jembatan Suramadu sederhananya adalah untuk meningkatkan perekonomian dengan mempermudah aksesibilitas. Namun dalam waktu lima tahun setelah diresmikannya jembatan ini kita tidak melihat perputaran perekonomian secara signifikan. Jangankan pemerintah dan pihak investor, saya sendiri yang warga biasa saja rasanya was-was juga karena perputaran ekonomi yang cepat tak kunjung terjadi seperti harapan. Sementara Jembatan Suramadu pastinya juga punya usia dan usia investasi. Bukan perkara mudah untuk menyiram jenggot pemerintah yang kebakaran karena ini. Tapi pasti ada cara untuk mempercepat pembangunan dan perputaran ekonomi ini.

Kota Surabaya merupakan kota yang dikembangkan sebagai kota jasa dan perdagangan yang berwawasan lingkungan. Namun bukan berarti orang-orang yang berkunjung ke Surabaya tidak bisa melakukan kegiatan berwisata di Surabaya. Sedangkan di Madura sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Sementara itu terdapat pula orang yang sekadar ingin menikmati sensasi melewati Jembatan Suramadu. Oleh karena itu dalam usulan rencana percepatan pembangunan wilayah Suramadu ini difokuskan pada Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJS) dan Pulau Madura. Sistem yang diterapkan tidak hanya satu arah namun dua arah (top-down dan bottom-up). Percepatan melalui pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan melalui kekuatan komunitas masyarakat.

Pengembangan KKJS

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya, Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJS) sisi Surabaya direncanakan sebagai pariwisata dan perdagangan jasa (perjas). Singkatnya KKJS sisi Madura juga demikian. Namun lima tahun berdiri kokoh, yang dapat dihadirkan di dua sisi KKJS adalah masih berupa barisan Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebenarnya lebih baik daripada tidak ada apapun, tapi PKL yang hadirpun cenderung homogen jenis dagangannya. Padahal pengembangan wilayah Surabaya dan Madura seluruhnya meliputi kawasan perdagangan dan jasa, industri, pariwisata, dan lain sebagainya. Luas KKJS sisi Madura sesuai Perpres No. 27 Tahun 2008 adalah kurang lebih 600 ha. Sedangkan KKJS diharapkan menjadi simbol dan gerbang yang menandakan bahwa kita sudah memasuki wilayah Surabaya atau Madura, tentunya harus bisa menjadi cerminan keadaan seluruhnya. Mari kita lihat kondisi eksisting pengembangan wilayah di KKJS.
Kondisi Eksisting KKJS sisi Madura
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Saat ini KKJS sisi Surabaya telah dibangun taman-taman yang semoga saja nanti menjadi taman aktif bukan taman pasif. Dari taman ini diharapkan ada langkah kecil dari pemerintah untuk mengenalkan potensi-potensi pariwisata yang ada di Surabaya maupun Madura. Contohnya seperti dengan memberikan edukasi pariwisata di Madura dan Surabaya melalui peta-peta wisata yang dipasang di taman. Dengan demikian, pengunjung akan tertarik dan memiliki pengetahuan mengenai apa saja potensi pariwisata yang dimiliki.

Pengembangan Komunitas (Community Development)

Madura dari ujung Kabupaten Bangkalan sampai Kabupaten Sumenep memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan daerah lainnya. Hanya saja bagi sebagian orang Madura masih dikenal sebagai pulau garam saja. Padahal atraksi alam dan kebudayaan di Madura sangat kaya. Mulai dari wisata bahari, keajaiban alam, heritage, religi, sampai pertunjukan kebudayaan yang diselenggarakan setiap tahunnya. Saya sendiri pernah mencoba menjajaki pantai-pantai dari Kabupaten Bangkalan sampai Sumenep dan juga wisata religi. Sejak saat itu semakin saya menulis tentang Madura, semakin saya tahu bahwa pulau ini sedang berkembang dan mulai diminati sebagai tujuan wisata. Mulai dari sekadar Suramadu dan Bebek sampai yang seperti saya lakukan. Oleh karena itu jika tidak dipersiapkan dengan baik maka wisata di Madura tidak memiliki jaminan berkelanjutan. Definisi berkelanjutan yang banyak orang sepakati adalah keadaan dimana anak cucu kita di masa yang akan datang masih bisa menikmati hal yang sama seperti saat ini. Persiapan tersebut tentunya tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja (pemerintah) tapi juga masyarakat yang menjadi bagian dari wilayah pariwisata. Untuk itu diperlukan pengembangan komunitas sebagai orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan kawasan pariwisata.

Komunitas dalam konteks pembahasan ini adalah komunitas masyarakat yang dalam suatu wilayah memiliki peranan terhadap wilayah tersebut. Madura sebagai pulau kultural yang kental dengan tingkat religius yang tinggi tentu perlu dijaga akan asimilasi budaya yang datang tidak perlu melunturkan budaya yang ada. Pengembangan kominitas ini sangat penting mengingat komunitas sebagai modal sosial. World Bank memberikan pengertian modal sosial sebagai lembaga-lembaga, hubungan dan norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas dari interaksi sosial masyarakat. Akhir-akhir ini promosi terhadap Pulau Madura semakin gencar dilakukan di media elektronik. Salah satunya adalah melalui komunitas Plat-M yang memiliki slogan "Menduniakan Madura". Mereka tidak hanya melakukan promosi melalui media elektronik saja, namun melakukan berbagai macam pelatihan. Pelatihan yang diharapkan mampu membuat orang-orang berbodong-ondong mengunjungi Madura dan membuat mereka kembali lagi. Seperti memberikan travel experience yang berbeda dan hanya bisa dinikmati di Madura. Hal-hal semacam ini turut membantu membangun dan memperkuat modal sosial sehingga dapat membangun pariwisata di Madura secara bottom up.

Selain itu yang turut membangun modal sosial dalam pengembangan masyarakat adalah munculnya penyedia jasa pariwisata lokal atau yang biasa disebut sebagai Tour Organizer (TO). Menjamurnya TO seperti ini tidak hanya terjadi di Madura namun juga di Surabaya yang menyediakan jasa pariwisata di Madura.Tentunya dengan adanya TO secara tidak langsung juga turut mempromosikan potensi pariwisata di Madura. Dengan usaha dari berbagai pihak bukan tidak mungkin impian menduniakan Madura bisa terwujud. Namun penguatan sosial tersebut jika tidak dibarengi dengan konsep untuk menjaga kultur malah akan menimbulkan dampak pengembangan tak terkendali dan sporadis. Dibutuhkan suatu konsep yang dapat mendukung perkembangan pariwisata serta menjaga kultur masyarakat. Sekali waktu pernah terdengar bahwa investasi di Madura banyak terhalang oleh kultur dan karakteristik masyarkat lokal yang sangat religius. Sebenarnya hal tersebut bukanlah halangan lagi untuk saat ini. Karena konsep pariwisata syariah bisa menjadi solusi untu pengembangan pariwisata di Madura.

Pariwisata Syariah di Madura

Pariwisata syariah bukanlah jenis pariwisata ziarah saja. Wisata syariah (Halal Tourism) sejatinya adalah bentuk pariwisata yang mengedepankan layanan-layanan sesuai standar halal umat muslim. Standar tersebut meliputi pelayanan hotel, biro perjalanan, spa, dan juga sarana prasarana penunjang pariwisata. Di negara-negara tetangga bahkan yang bukan mayoritas penduduk muslim telah lama mengusung konsep wisata syariah untuk menarik pengunjung yang beragama muslim. Sedangkan di Indonesia, pariwisata syariah mulai diresmikan oleh Kemenperakraf pada Oktober 2013 lalu dengan mencatat tujuan potensial adalah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar, Yogyakarta dan LombokKunjungan turis muslim ke Indonesia sendiri mencapai 1.270.437 orang setiap tahunnya. Pada tahun 2013 lalu potensi syariah  mencapai US$ 137 miliar dan terus dipacu menjadi US$ 181 miliar di tahun 2018 mendatang (Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenperakraf pada Tempo, 2014).

Pariwisata syariah sendiri tidak akan mengkhususkan diri bagi turis muslim saja, namun seluruh pasar. Karena sejatinya yang disebut syariah adalah meniadakan hal-hal yang membahayakan bagi kemanusiaan maupun lingkungan dalam produk dan jasa yang diberikan. Pulau Madura sendiri dengan potensi pariwisata yang tinggi dan kultur religius masyarakat lokal seharusnya bisa menjadi pemain dalam industri pariwisata syariah ini. Tentu saja dengan dukungan dari masyarakat lokal dan masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang memberikan standar pariwisata syariah. Tidak hanya Madura, Kota Surabaya pun sudah mulai mengusung pariwisata syariah ini pada produk dan jasa pariwisatanya. Sehingga tidak ada alasan bagai Pulau Madura untuk tidak mencoba menerapkan konsep halal tourism ini. Di sini kewajiban pemerintah adalah untuk memberikan sosialisasi pada komunitas masyarakat dan pelaku usaha tour organizer mengenai pariwisata syariah. Tidak hanya soasialisasi namun pemerintah juga memberikan label halal bagi produk dan jasa pariwisata. Menjadi semacam labeb halal dari MUI pada produk makanan. Sedangkan komunitas masyarakat yang terdiri dari masyarakat lokal maupun penyedia tour organizer memiliki tugas untuk melaksanakan dan menjamin produk serta jasa pariwisatanya sesuai dengan pariwisata syariah. Koordinasi antara komunitas masyarakat dan pemerintah menjadikan pembangunan pariwisata secara dua arah (top-down dan bottom-up) dan juga menjaga sustainable tourism. Pengembangan pariwisata yang kuat dukungan dua arah serta konsep yang tepat dapat menjaga arus asimilasi budaya akibat pembangunan pariwisata.  Komunitas pemuda lokal terus mempromosikan pariwisata melalui media-media elektronik, komunitas masyarakat lokalnya menjaga kultur dalam menyediakan jasa dan produk wisata, dan pemerintah yang mengawasi jalannya stadarisasi pariwisata syariah menjadi koordinasi yang cukup baik jika diterapkan. Dengan demikian benturan antara investor dan kultur masyarakat yang sempat terdengar tidak akan terjadi. Dan Madura kelak benar-benar menjadi pemain dan tujuan utama dalam dunia pariwisata syariah.

Dengan berkembangnya pariwisata di Madura, turut pula berkembang sektor-sektor perekonomian yang lain. Karena kita tahu bahwa pariwisata merupakan multisektor perekonomian yang artinya tidak hanya menyediakan satu macam produk atau jasa saja. Dalam perkembangannya pariwisata yang semakin diminati juga memacu pertumbuhan sektor-sektor lainnya, yang nantinya diharapkan dapat mempercepat pembangunan di wilayah Madura maupun Surabaya seperti yang banyak ditunggu oleh masyarakat maupun pemerintah. Percepatan pembangunan tersebut bukan hanya dalam bidang pariwisata tentunya namun sarana dan prasarana kota yang sesuai standar kebutuhan masyarakat juga merangkak menjadi layak untuk masyarakat lokal maupun turis yang akan datang.

Saturday, 22 November 2014

Pengalaman Baru di Starbucks Rest Area Gempol KM 26

Store Starbucks KM 26
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Starbucks di rest area Gempol KM 26 merupakan store pertama di luar Jabodetabek yang memiliki layanan drive thru. Jadi ke sini bukan dalam rangka perjalanan ke luar kota tapi sengaja mencoba store baru ajakan dari starbucks pada Komunitas Emak-Emak Blogger di Surabaya. Senang sekali karena kebetulan juga menyukai kopi, ya meskipun pengetahuan tentang kopi masih dangkal sih hehe. Store di sini dibuka sejak 1 November 2014. Saya kira rangkaian acaranya akan membosankan, seperti mendengarkan sejarah starbucks atau pembukaan di sini. Ternyata seru sekali karena selain icip-icip juga diajak coffee tasting dan mencoba layanan drive thru. 

Coffee Tasting
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Coffee tasting di store starbucks ini bersama coffee master Zendy. Sebenarnya ritual coffee tasting ini dilakukan di pagi hari di masing-masing store. Kali ini kami tasting kopi Sumatera yang dipadukan dengan cinnamon chocolate marbel cake. Langkah coffee tasting ini menyenangkan sekali apalagi kopinya pahit. Pertama kita smell atau hirup aroma kopinya yang kata penjelasan Kak Zendy mirip seperti bau tanah sehabis hujan yang suka bikin galau jomblo itu, haha. Eh bener lho setelah saya hirup saya beneran galau, eh... maksudnya beneran mirip aroma tanah setelah diguuyur hujan. Yang kedua adalah slurp atau seruput sampai terasa strongnya di tenggorokan. Terakhir kita locate on the tongue, maksudnya adalah kita rasakan dulu dan tidak buru-buru di telan. Tujuannya adalah mengetahui tingkat keasaman kopi yang sedang kita cicipi. Untuk kopi Sumatera ini ketika diminum tidak liurly haha kata Kak Zendy sih, jadi tidak terlalu tinggi keasamannya. FYI liurly adalah keadaan dimana ketika kita memasukkan makanan atau minuman ke dalam mulut dan memicu kita mengeluarkan liur, seperti kita makan yang asam-asam. Nah mudahnya disebut liurly kan? haha. Lalu setelahnya kita padukan dengan si cinnamon chocolate marbel cake dan terbukti rasa kopi yang pahit jadi balance dengan makanannya. Baiklah bisa kita sebut kopi dan makanannya adalah berjodoh. Baru pertama kali sih ikut coffee tasting begini dan seperti keinginan saya terkabulkan untuk melakukan hal seperti ini. Tuh di sini juga sepakat sekali sama saya kalau kopi itu tidak harus manis. Jadi teringat cappucino saya di sebuah kafe di Jogja yang dituangi gula oleh teman saya, setelah itu saya gadang-gadang kopi pahit itu nikmat, haha.

Makanan dan minuman untuk coffee tasting
Karena ini adalah store pertama di luar Jabodetabek yang mempunyai layanan drive thru jadi saya juga gak mau ketinggalan mencoba layanan yang satu ini. Betapa lucunya, setelah kita sudah ngopi di dalam kita malah drive thru. Jadi ingat waktu saya dan teman saya ditolak di drive thru salah satu restoran cepat saji karena jalan kaki, yaah abis mobilnya kadung parkir jauh, wkwkwk. Jadi drive thru di sini jangan takut kita musti panggil-panggil kakak-kakak Starbucksnya jika tidak di tempat. Cakep banget karena sebelum pemesanan ada sensor logam yang mendeteksi ada mobil yang mendekat, jadi kakak-kakaknya akan siap menyambut pesanan kita. Untuk pesan kita bisa langsung melalui alat yang untuk komunikasi dengan pegawai yang ada di dalam (apaan sih ndah itu nama alatnya? hehe) lalu pesanan kita siap dan bisa diambil. Karena ini di Tol jadi ya memang harapannya bisa memenuhi untuk yang ingin buru-buru dan ingin istirahat. Ada cafe ada drive thru, cakep banget mengerti kebutuhan orang-orang yang melintasi Tol. Catatan penting untuk yang mau menikmati layanan drive thru, nggak bisa pakai bus ya :D Yakali selain ada batas ketinggian kendaraan, masa nanti mau pesen satu-satu semua orang dalam bus, wkwkwk.
Drive Thru Store Starbucks KM 26
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Ssssttt.... selain dua pengalaman itu, tentunya kami dijamu habis-habisan dengan berbagai macam makanan dan minuman. Terutama makanannya ya... ada beberapa jenis. Cinnamon chocolate marbel cake, cinnamon rolls, smoke beef quiche, sandwich tuna, dan apa lagi ya sampai lupa. Kakak.... take away boleh ya haha. Lalu saya pesan lagi yang rasa kopinya strong yaitu Ristretto Bianco. Tidak-tidak kasihan yang diet... Yaudahlah anggap saja khilaf dan mari kita ngiler bersama dengan cek foto-fotonya aja. Akhir kata, terima kasih untuk pengalaman baru nyobain drive thru dan terutama coffee tasting yang super seru.

Kak Ryan yang bikin latte art
Foto Oleh: D. Indah Nurma


Ristretto Bianco dan Smoke Beef QuicheFoto Oleh: D. Indah Nurma
Latte art dari Starbucks
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Wednesday, 29 October 2014

Resensi Novel: Sebelum Bicara Cinta

Judul: Sebelum Bicara Cinta
Penulis: Lana Azim dan Rhesy Rangga
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 12,5 x 19,5
Tebal: 272 halaman

Sinopsis
Guntur, seorang mahasiswa jenius jurusan teknik kimia di Yogyakarta yang diDO karena mempertahankan idealisme dalam skripsinya. Apa yang dikerjakannya ditertawakan dan dianggap tidak berguna oleh dosen penguji. Tapi Guntur yakin kalau apa yang dikerjakannya akan bermanfaat di masa depan. Cita-citanya menjadi insinyur teknik kimia yang hebat tidak terhenti karena sebuah ijazah yang tidak ia dapatkan. Ia pindah ke Jakarta dan meminta Ir. Ilham menjadi gurunya dengan bekerja di Pilar Energi Biru. Pilar Energi Biru sebuah perusahaan di bidang oil dan gas yang berubah haluan di bidang energi terbarukan. Visi PEB sama dengan Guntur. Sayangnya masa jaya PEB telah hampir habis. Adrian, teman sekaligus anak dari ibu kost Guntur semasa kuliah lulus dengan pujian dan ditawari untuk bekerja di William Sanders & Associates. Adrian yang semasa kuliah banyak dibantu oleh Guntur kebingungan saat mendapat banyak proyek akhirnya mencari Guntur untuk meminta bantuan. Adrian dimanjakan oleh perusahaan dengan gaji besar dan fasilitas kantor. Berbanding terbalik, Guntur yang jenius itu bekerja di perusahaan kecil dan mendapat gaji yang tak seberapa. 

Taman Ismail Marzuki menjadi saksi bertemunya Guntur dan Lia. Guntur awalnya hanya menonton Lia latihan dengan teman-temannya, namun di latihan selanjutnya mulai menjadi pengamat dan pemain pengganti saat pemain lain berhalangan hadir. Lia tidak suka Guntur yang kaku dan sok pintar mengkritik latihan drama mereka. Guntur rajin menonton latihan drama mereka, bukan karena Lia tapi ia menemukan dunianya. Guntur yang terbiasa hidup sendiri sejak kecil merasa kesepiannya lenyap saat menonton latihan drama itu. Sampai pada saat lomba drama berlangsung Lia meminta Guntur menggantikan posisi pemeran utama pria sebagai Ken Arok karena Arif terlambat datang. Lia dan Guntur memerankan drama dengan sangat bagus. Lia yang  tadinya tidak bisa total memerankan sosok Ken Dedes jadi sempurna karena sihir Guntur yang memerankan Ken Arok dengan sempurna. Setelah drama berakhir, Guntur melihat sisi lain Lia yang dewasa dan bertanggung jawab terhadap timnya. Guntur tak pernah jatuh cinta tapi ia merasakan hal lain pada Lia. Termasuk saat Lia berpamitan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Australia.

Setahun sejak pertemuan terakhirnya, Guntur menjadi sering bercengkerama dengan karya-karya sastrawan tersohor dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Guntur kini tak hanya menjadi insinyur teknik kimia tapi juga penulis cerpen yang mampu menghipnotis para pembacanya. Tidak disangka bahwa Lia juga menjadi penikmat karya-karya Guntur. Saat Guntur dan Lia mulai dekat, Adrian datang untuk mendekati Lia demi melancarkan niatnya mendekati pemilik saham terbesar yang merupakan Ayah Lia. Di sisi lain Guntur sedang berada di Kalimantan untuk tugas proyek di kantornya yang baru. Di sana ia bertemu Kartika yang juga menaruh hati pada Guntur. Guntur baru tahu jika Kartika adalah anak dari Ir. Ilham saat dia merayakan Idul Fitri di rumahnya. Konflik mulai terjadi ketika Lia dilamar oleh Adrian dan Ir. Ilham menawari untuk menikah dengan Kartika. Namun Guntur masih ragu karena masih mengharapkan Lia dan kondisinya yang sedang berjuang membangun usaha di tengah krisis moneter Indonesia. Di akhir cerita Lia  mengetahui maksud lain Adrian dan menolak untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Guntur pun memberanikan diri untuk bertemu Lia  demi mengetahui kabar Lia. Saat mereka bertemu, Guntur tahu jika Lia tidak menikah dengan Adrian. Hubungan mereka semakin dekat seperti dulu dan Guntur memberanikan diri menemui orang tua Lia untuk melamarnya.


Kelemahan Novel 

  1. Ada salah penulisan di halaman 220. Keras kepala yang dimaksud menjadi keras kelapa. Mungkin editor lelah dan efek pembahasan minyak kelapa murni di bagian sebelumnya. Hehe...
  2. Saat saya membaca serasa ada gaya bahasa yang fluktuatif. Halah... maksudnya begini, sewaktu membaca bagian demi bagian novel ini seperti menikmati dua karya penulis yang berbeda. Mungkin memang karena ditulis oleh dua orang. Tapi ini hanya pendapat saya.
  3. Entah ini seharusnya menjadi kelemahan atau justru keunggulan. Keterkaitan antar tokoh yang ada di novel ini, saya bisa menebaknya sejak membaca. Cuma saya yang begini atau pembaca lain juga demikian?
  4. Kenapa tidak diberi daftar isi kakak? Huhu... nangis kalau mau baca lagi di bagian-bagian yang disuka. Karena harus cari dan mengingat ada di halaman berapa.
Kelebihan Novel
  1. Penulis sukses menggambarkan watak masing-masing tokoh secara gamblang. Contohnya saja tokoh Guntur yang jika diringkas maka saya dapat menyimpulkan bahwa Guntur ini sosok yang idealis, jenius, berpendirian, namun jauh di dalam dirinya dia adalah manusia yang kesepian sejak kecil.
  2. Tema yang diangkat dari novel ini termasuk unik. Membahas mengenai dunia teknik kimia dan tantangannya di akhir orde baru. Penulis sukses membuat citra "memasyarakatkan teknik kimia" melalui karya sastra yang dibuat. 
  3. Dengan tema yang diangkat tersebut bisa menghasilkan latar yang tidak biasa.
  4. Sempat suudzon waktu membaca judul dan melihat sampul novelnya. Karena sangat khas kisah-kisah cinta remaja. Saya salah besar mengira demikian. Ibaratnya memang jika ditarik suatu garis maka yang kita temui adalah kisah cinta Guntur dan Lia. Kisah cintanya memang bisa ditebak kalau akhirnya Guntur bersama Lia dan terganjal oleh Adrian. Namun yang membuatnya tidak datar adalah bumbu-bumbunya. Mulai dari proses penokohan sampai perjuangan menjadi insinyur teknik kimia di saat krisis moneter.
  5. Sudut pandang teknik kimia dalam novel ini juga menghasilkan sesuatu yang baru. Jika di akhir orde baru kita hanya berpandangan yang itu-itu saja, ternyata jauh di dalamnya ada orang-orang yang mencoba melawan arus keterpurukan.
  6. Salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari novel ini adalah bahwa proses dan mimpi itu penting. 
Profil Lana Azim

Sudah lama tidak membuat resensi sebuah buku. Terakhir kali adalah sewaktu saya SMA, hehe itu berarti udah hampir lama sekali. Oh ya, sisi lain dari sebuah buku selain isi tulisannya adalah pembatas bukunya, tapi saya tidak menemukannya di sini. Sewaktu membaca ini saya merasa diajak menjadi mahasiswa teknik kimia dan merubah sudut pandang yang saya bawa sebelum membaca novel ini. Di akhir novel saya menemukan gambar di samping ini. Itu berarti hari ini Mas Azim bertambah usia. Kebetulan juga sehari berikutnya giliran saya yang bertambah usia. Hehe gak penting juga membanding-bandingkan tanggal lahir. Tapi merasa kebetulan memang menyenangkan. Haha...

Akhir kata, selamat menempuh usia baru. Semoga Allah memberkahi seluruh usia Mas Azim. Menebarkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sukses dengan dunia tulis menulis dan teknik kimianya. Menjadi dosen dengan hati yang tulus sehingga ilmunya bermanfaat untuk mahasiswa-mahasiswanya. Aamiin.

Friday, 3 October 2014

Semalam di Gili Labak: Touring Lintas Pulau dan Lintas Hati

Foto dugang ini dipersembahkan untuk Medi
Foto: Bos Hendri
Ketika menuliskan ini saya sedang senyum-senyum sendiri kemudian terbahak, tiba-tiba tutup muka karena malu dan bisa juga sedih mendadak. Yak, saya sedang teringat potongan-potongan percakapan saat kami berkemah weekend lalu. Dalam postingan saya kali ini tidak akan membahas tentang keindahan atau bagaimana cara menuju ke Gili Labak. Tulisan tentang itu bisa anda temukan di sini. Perjalanan ke Gili Labak saya kali ini adalah perjalanan yang ke-tiga dan saya sedikit terserang demam Hallyu yang membuat saya tak sadar mendedangkan lagu dari CNblue saat di perjalanan darat maupun laut.

Jadi Gili Labak saya yang ke-tiga ini adalah untuk berkemah dan bertamasya ria bersama sahabat-sahabat saya di kampus. Tujuannya tidak bukan adalah untuk membuat kenangan bersama-sama karena sekarang tidak lagi semudah dulu untuk membuat kenangan bersama. Rencana ini juga mendadak yang tadinya hanya ingin mengunjungi pantai dan berkeliling Kabupaten Sumenep jadinya malah banting setir nekat berkemah di sana. Salah satu penyebabnya adalah karena ada salah satu yang bertanya apakah di Lombang bisa dipakai untuk snorkeling. Yasudah tanpa babibu saya menghubungi pemilik perahu kenalan saya dan mengatakan kalau kepastian berangkat saya baru bisa berikan hari rabu, nungguin pengumuman wawancara ke Jepang lolos apa enggak dan ternyata belum beruntung hehe. Rupanya do'a anak-anak biar saya gabung di camping ceria ini lebih dikabulkan daripada do'a lolos ke tahap wawancara.

Sebenarnya berkemah dan mengunjungi Gili Labak bersama mereka adalah keinginan saya dari dulu. Tidak menyangka kalau saya bisa berkemah di sana bersama mereka, dobel bahagia pastinya. Personel perjalanan kali ini ada 10 orang termasuk saya Lainnya ada Tata, Kiki, Anis, Huda, Rifki, Pras, Niko, Sukron, dan Bos Hendri. Sebenernya sayang sekali minus Medi dan Ruddin. Touring kali ini memang bukan touring biasa karena dalam satu hari kita berpindah 4 pulau sekaligus, maka dari itu saya beri judul lintas pulau. Yang pertama tentunya adalah Pulau Jawa tepatnya Surabaya haha yaiyalah startnya kan dari sini, rumah saya tentunya. Hari sabtu tanggal 27 September 2014 dari Surabaya menuju Pulau Madura via Jembatan Suramadu. Ahaha heran juga ini anak-anak cowok pakai sendal tanpa kaus kaki padahal jauhnya Kabupaten Sumenep itu gak ketulungan.

Singkat cerita tak ada halangan berarti saat perjalanan pergi hanya terjebak sekumpulan sapi dan kambing di pasar untuk Hari Raya Qurban dan tilang polisi. Setelahnya kami menuju pulau berikutnya, yaitu Poteran rumah Bapak Sahari yang akan menyewakan perahunya. Kami semua memarkirkan motor di rumah beliau atas nasihat beliau biar motor kami lebih aman. Tuh dari Surabaya (Jawa), Madura, dan Poteran sudah 3 pulau kan? Saya tidak berbohong kan? haha. Tentu saja selanjutnya disambung dua jam perjalanan laut. Sejujurnya saya agak khawatir di perjalanan laut akan banyak yang tumbang karena banyaknya polisi tidur di laut. Eh ternyata benar tapi tidak sampai mengeluarkan bom. Hehe... Memang begitu kalau tidak terbiasa, sama seperti waktu kecil yang saya selalu mabuk darat kalau naik mobil.

Bersama dengan orang-orang menyenangkan seperti mereka, jadinya malah mirip di film-film tentang berlayar yang sudah merindukan daratan. Menyenangkan juga melihat mereka yang tidak sabar melihat daratan yang dinanti-nanti. Kalau saya ya tentunya masih dengan kebiasaan lama kalau naik perahu.  Menyentuh air laut lalu menjilatnya dan berkata kalau air laut ternyata benar-benar asin, hehe. Gelombang tidak seberapa tinggi tapi anginnya agak nggebes jadi air lautnya nyiprat. Sebenarnya yang saya khawatirkan ada dua ketika berkemah di sana. Yang pertama spot mana yang cocok digunakan dan kedua gimana kalau nanti pengen pup (secara setiap dini hari saya rutin haha). Akhirnya Pak Sahari bantuin bicara sama penduduk setempat untuk kasih tau tempat yang pas buat mendirikan tenda. Akhirnya kami diantarkan ke tempat tersebut dan langsung mendirikan tenda. Saya tahu sih kalau saya emang gak berguna waktu bantuin mendirikan tenda, maaf ya gaes. Eh iya dengan sampainya kami di Gili Labak berarti sudah 4 pulau dalam satu hari.

Gak disangka ternyata camp ground kami menghadap arah barat dan sunset di sana kece badai. Sunset waktu itu terasa lengkap karena ada mereka yang mengisi kekosongan jiwaku. Halah... haha. Perjalanan kali ini juga membawa saya pada pengalaman baru buat saya, yaitu wudhu di laut dalam kesempatan sholat maghrib, isya', dan subuh. Beneran baru pertama kali saya melakukannya. Seperti biasa para lelaki sahabat saya itu tidak ada yang tidak mau menjadi imam sholat, ya gitu harusnya laki-laki. Tapi sholat maghrib dan isya' tidak begitu lancar, yang pertama karena datangnya seorang warga yang memberi kami ikan GT untuk makan malam yang kedua saat hendak takbir, Mas Sholeh (warga Gili Labak yang baru-baru ini saya tahu asli Banyuwangi) bilang kalau kiblat kami salah. Hasilnya kami harus mengatur ulang alas sholat kami di pantai berpasir sehalus tepung dan angin yang sanggup menerbangkan sajadah tipis kesayangan saya.

Deburan ombak yang hanya bisa didengar tanpa bisa dilihat di malam hari,
suaranya terdengar lebih garang, lebih memekakan telinga, dan lebih menggertarkan hati.
Saat sujud, angin membisikkan untuk menunduk lebih rendah.
Meletakkan semua kesombongan di pinggir pantai agar lebur menjadi buih dibawa gelombang.
Katanya suara ombak akan menjadi lebih syahdu menyentuh hati daripada memecahkan gendang telinga.
Bagaimana angin bisa begitu benar ketika kucoba melakukannya?
Ah, mungkin karena dia bersahabat dengan gelombang sehingga segala rahasia gelombang pada manusia diceritakan pada angin.
Dan angin entah kenapa dia sudi menceritakan rahasia itu padaku.
(Sepenggal monolog hati saat saya dalam keadaan sujud di bumi berpasir dan beratap kemilau bintang di langit gelap. Mungkin teman-teman juga merasakan hal yang sama.)
Senja di Gili Labak

Sesi bakar ikan setelah sholat ini yang membuat saya malu bukan kepalang, masa yang membersihkan ikan para lelaki dan kami para wanita hanya sorak-sorak bergembira. Duh biasanya kalau beli ikan besar di pasar udah sekalian dibersihkan, kecuali cumi-cumi yang selalu saya bersihkan sendiri di rumah. Ikan GT tersebut dibakar di bara api unggun dengan dibumbui kecap yang dibawa Rifki. Tsaaah Rifki emang ciamik, persiapannya keren sekali. Ikan bakar sebenarnya kesukaan saya tapi ikan laut kadang membuat saya alergi. Terakhir makan kakap putih bakar di Pantai Karanggongso langsung bereaksi gatal dan badan demam. Kali ini saya sudah mempersiapkan obat alergi karena takut tergoda untuk mencicipi tangkapan nelayan Gili Labak dan Alhamdulillah ternyata tidak alergi sama sekali. Mungkin mereka membersihkan ikannya dengan benar.
Rifki, Huda dan Mas Sholeh lagi memberiskan ikan.

Harusnya foto begini waktu ikannya masih utuh.

Nah sesi setelah bakar ikan ini yang membuat saya lepas kendali. Ini semua gara-gara Tata dan Kiki yang awalnya minta diceritain soal Niko dan ehem-ehemnya. Saya jadi sok tua kemudian sok galau, wah kredibilitas saya sebagai pendengar curahan hati dipertanyakan. Tapi ya pendengar juga manusia, hehe. Anggap saja curhatan saya itu angin lalu belaka ya rek. Tapi wah dari sesi curhat ini saya dapet banyak sesuatu yang baru. Makasih makasih atas sesi dadakan ini. Kirain kalian mau main truth or dare, wkwkwk.

Paginya setelah menikmati sunrise yang seperti kuning telur bebek langsung ceburin diri ke laut. Ini renang terpagi saya di laut. Wah sebelah barat Gili Labak emang ajib bro, seperti taman di bawah air. Lah emang disebutnya gitu di dalam RTRW. Enggak seberapa dalam hanya saja waktu itu arusnya cukup kuat jadi berasa bener kalau gak pakai fins. Sayang sekali gak ada yang bawa kamera underwater. Jenis ikannya macam-macam dan yang paling bikin bahagia waktu ketemu anemon yang artinya ketemu juga sama nemo alias ikan badut. Sudah ketemu nemo rasanya lengkap kayak udah nemu yang pas buat mengisi kekosongan hati, haha lebay.

Kali ini kami balik dari Gili Labak bukan di sore hari tapi sebelum matahari pas di atas kepala. Yaiyalah secara udah nginep ya udah puas. Pas terakhir main air mau pulang ada dua perahu yang membawa wisatawan datang. Mungkin mereka kaget melihat tenda kami dan pohon yang dipenuhi baju yang kami jemur. Dan sekali lagi kejadian mirip proses kenalan sama Mas Fahmi terjadi lagi. Baru-baru ini saya kenal sama salah satu orang di rombongan dua perahu itu di instagram. Yaelah dunia emang lucu dan karena internet semuanya jadi gak mustahil.

Entah ngantuk atau memang kelelahan, kami semua gantian tidur di perahu waktu pulang. Untung gelombang laut bersahabat. Rasanya seperti Jalan Raya Kedung Cowek, lempeng-lempeng aja. Beda kalau kemarin rasanya seperti berkendara di Jalan Kertajaya bro. Dan saya terbangun dari tidur juga karena lapar dan langsung cari makanan yang tersisa. Eh ternyata setelah sampai Pulau Poteran di rumahnya Pak Sahari kami disuguhi rujak Madura dan air es. Wah mimpi jadi kenyataan, cita-cita perut yang tercapai. Di sana selain numpang makan, kami juga numpang sholat dan urusan kamar mandi.
Huda pasrah disandari Rifki sama Boy

Sebelum matahari semakin condong ke barat, kami langsung tancap gas untuk pulang. Jarak yang cukup jauh membuat saya komat-kamit agar sampai di Surabaya tidak lebih dari jam 8 malam. Apa daya berbagai halangan merintangi kami. Mulai dari keputusan untuk nongkrong dulu di warung es jaman dulu di dekat alun-alun Pamekasan sampai ban motor sukron yang bocor saat hampir masuk hutan. Lah ini saya dan yang lainnya nungguin sambil beneran tidur di pinggir jalan. Setelahnya akibat ketiduran di motor, saya jadi gak tau ada di depan sendiri atau belakang sendiri. Saking gak taunya, saya dan Bos Hen tancap gas penuh kirain mereka sudah sampai rumah saya lebih dahulu. Dan ternyata ban Sukron bocor lagi di Tanah Merah, Bangkalan. Jadi merasa bersalah sudah sampai rumah duluan.

Perjalanan yang jauh ini emang cukup menguras energi sampai titik nol. Maaf yang sebesar-besarnya buat para lelaki kami yang cukup kewalahan menyetir sendiri tanpa ada yang menggantikan. Kalian pasti lelah tak terkira, soalnya saya juga pernah banget motoran ke sana. Kalau kalian mau marah ora popo banget lho rek, asal jangan mengumpat di  belakang. Untuk partnerku Bos Hen, terima kasih banyak tumpangannya dan lain kali kita harus pergi-pergi bareng lagi. Buat Sukron dan Hatim Rifki terima kasih atas peralatan berkemahnya yang luar biasa. Untuk para wanita Tata, Kiki, dan Anis terima kasih sudah membuat kenangan bersama-sama lagi. Niko dan Pras duo Ngagel terima kasih meskipun kalian lelah tetap ikut gabung dalam kebersamaan ini. Dan Huda yang maju mundur tapi akhirnya ikut juga terima kasih sudah memutuskan untuk bergabung, terima kasih udah boleh sisirin rambut kribo keritingmu. Soalnya kepengenan saya di Gili Labak untuk nyisirin rambut kakak saya akhirnya digantikan olehmu, haha. Terima kasih untuk kalian semua yang memutuskan untuk rela letih demi perjalanan kali ini.

Foto Keluarga

Sebelum waktu memisahkan detikku detikmu
Sebelum dewasa menua memisahkan kita
Deguban jantung kita akan selalu seirama
Ini mantera yang dulu selalu terucap, sekarang waktu telah memisahkan detik kita. Tapi setelahnya aku masih percaya kalau deguban jantung kita Insya Allah akan selalu seirama. Karena selain pada orang tua dan kakak, kalian adalah orang yang saya tidak canggung untuk mengatakan "I Love You." Selamat mengarungi hidup masing-masing, saya masih ada untuk tempat berbagi duka dan suka. Jangan canggung untuk datang kapanpun.


Sunday, 13 July 2014

Sunrise Terindah di Surabaya

THP Kenjeran saat pagi menuju siang

Apa yang anda bayangkan jika mendengar kata Kenjeran? Pasti salah satunya adalah pantai yang tetap ramai dikunjungi meskipun memiliki warna air yang senada dengan air milo. Sebelumnya saya sama sekali tidak tertarik mengunjungi Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran yang kadang orang menyebutnya Kenjeran lama. Itu semua karena seingat saya waktu terakhir kali mengunjungi tempat itu kalau tidak salah semasa taman kanak-kanak, hanya ada taman bermain anak-anak dan menikmati pantai berair coklat saja. Jadi apa menariknya?

Akhir-akhir ini sejak sering bersepeda melewati jalur pinggir pantai Kenjeran jadi terusik juga. Saya putuskan mengajak keponakan saya yang paling besar untuk mengunjunginya, tentu di hari kerja saja biar tidak ramai. Ah satu-satunya yang paling gak enak kalau mengajak dia itu adalah pasti dia minta beli ikan hias padahal sudah punya banyak. Ya sudahlah kita tinggalkan cerita polemik ikan hias dan keponakan saya itu. Sebenarnya ada satu yang membuat saya terpukau sih di sana, yaitu gazebo yang menjorok ke laut yang jadi ornamen khas andalan THP Kenjeran. Lalu pastinya yang akan anda temui di sana adalah orang-orang paguyuban yang menyewakan perahu untuk menikmati sensasi ombak. Tentu keponakan saya tergoga dan merayu saya menuruti kemauannya. Enak juga perahu pribadi yang saya nikmati berdua tentu dengan panduan nahkoda kami. Menuju tengah tepatnya Pulau Pasir, yaitu bagian dangkal tengah laut. Di sana bapak nahkoda mengambikan umang-umang untuk keponakan saya. Lah pastinya seneng tuh dan bisa ngelupain ikan hiasnya. 

Itu sepenggal cerita saya yang mencari sisi menarik THP Kenjeran. Dan saya belum menemukan kecuali alasan bahwa orang-orang di Surabaya sebenarnya butuh wahana hiburan yang variatif dan terjangkau. Rasa ingin tahu saya sekali lagi terusik saat kawan saya seperti biasanya, si Nurul mengajak saya hunting landscape sunrise di Kenjeran. Nah ini yang menarik bagi saya yang baru saja terjerumus dalam dunia potret-memotret khususnya landscape. Saya selalu penasaran bagaimana orang-orang itu menghasilkan foto yang sangat luar biasa saat sunrise di sana.

Setelah sempat ciut karena hujan selembut sutra yang mengguyur rumah saya, akhirnya saya putuskan untuk tancap gas ke THP kenjeran sebelum jam setengah 6 pagi. Benar-benar tancap gas, karena jarum jam beberapa detik lagi menunjukkan pukul setengah 6. Jika saya bisa sampai di sana dalam 5 menit berarti saya masih ada harapan untuk mengejar sunrise saya. Benar sajam, tepat pukul 05.40 saya menyiapkan gear kesayangan saya yaitu Lenovo A706 dan Nurul dengan Nikon kesayangannya serta tripod hasil pinjaman. 

Jadi sunrise kala itu saya lihat dia malu-malu belum menunjukkan sisi tak bersudutnya yang memancarkan warna jingga segar menghamburkan biru dan putih yang berarak. Saya sempat terngowo-ngowo halah terpanah melihat kuning telur yang terbit. Mustinya itu telur ceplok namanya telur matahari terbit bukan telur mata sapi. Yaelah saya sampai lupa memotret karena terpukau. Rasanya seperti menikmati live time lapsing film, ada objek matahari terbit yang mula-mula bulat, meluncur meninggalkan horizon lalu menembus awan yang berarak dan menebarkan semburat biru pada langit. Ah benar-benar indah seperti nama saya. Pantas saja para pemburu matahari terbit dan landscaper di Surabaya ini favorit sekali pergi ke THP Kenjeran di pagi buta. Sekali lagi saya mengakui ketidakgaulan saya sebagai anak Surabaya pemirsa. 

Lalu saya tahu bahwa saya jatuh cinta lagi pada kota ini, melalui sunrise terindah di Surabaya.

Amazing sunrise di Surabaya
Maaf atas kekurangan kemampuan gear saya
Tidak ada lensa paling hebat kecuali lensa mata pemberian Tuhan
Datang dan lihatlah sendiri, seribu persen lebih menakjubkan dari sekadar memandang foto di google

Saturday, 12 July 2014

Menikmati Cita Rasa Jepang di Marugame Udon dan Tempura Surabaya

Press conference Marugame Udon dan Tempura TP 3 (03/07/2014)

Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 3 Juli 2014, saya berkesempatan menghadiri press conference pembukaan Marugame Udon di Tunjungan Plaza 3 lantai 5 Surabaya. Namanya saja press conference tentunya dihadiri oleh berbagai media cetak maupun elektronik, dan saya sendiri tentunya dari blogger. Restoran ini sebelumnya telah sukses dengan 7 outletnya yang tersebar di Jakarta. Sedangkan yang di TP 3 ini adalah outlet pertama Marugame Udon di Surabaya. Menurut Iwan Liono selaku Marugame Nasional Operation Manager, rencananya di Surabaya sendiri akan dibuka 6 outlet. Wah semoga sukses dan kita tunggu perkembangannya. Oh ya, Marugame Udon dan Tempura TP 3 ini sudah dibuka untuk umum sejak tanggal 5 Juli 2014 lalu. Jangan khawatir kalau kesulitan menemukan tempat ini, karena dari eskalator sudah terlihat dengan jelas. 

Marugame Udon dan Tempura merupakan restoran Jepang dibawah Pt. Sriboga Marugame Indonesia (anak perusahaan PT. Sriboga Group). PT. Sriboga Marugame Indonesia (SMI) ini membawahi Pizza Hut restoran, PHD, dan Marugame Udon sendiri. Restoran ini merupakan franchise dari Marugame Siemen yang berada di bawah naungan Toridoll Corporation yang berdiri pada tahun 1990, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis restauran di Kobe, Jepang. Saat dikonfirmasi status sertifikasi halal untuk Marugame Udon, Budi Setiawan selaku Departement Head Development PT. SMI menjelaskan bahwa proses sertifikasi halal dari MUI sedang berjalan. Beliau juga menambahkan jika persyaratan untuk produk-produk dari PT. SMI sendiri adalah harus halal. 

Iwan Liono, Hajime Kondoh, Budi Setiawan bersama para pegawai
di open kitchen Marugame Udon dan Tempura (03/07/2014)
Marugame Udon yang hadir di Surabaya ini juga memiliki konsep yang sama, yaitu Open Kitchen, Freshly Cooked, dan Self Service jadi konsumen bisa melihat secara langsung proses memasak makanan yang mereka pesan. Konsep freshly cooked terlihat saat konsumen memesan udon dan tempura akan langsung dimasak. Apabila udon yang didisplay lebih dari 20 menit akan langsung ditarik dan diganti dengan yang baru.. Sedangkan konsep self service terlihat dari konsumen yang dipersilakan untuk mengantre di di udon station untuk memilih udon, selanjutnya adalah tempura station dimana konsumen bisa memilih sendiri berbagai macam tempura yang tersedia. Setelah memesan makanan, konsumen dipersilakan menuju kasir dan memilih minum yang diinginkan. Yang unik di Marugame Udon ini selanjutnya adalah terdapat meja kodimen yang menyediakan berbagai macam tambahan pelengkap makanan seperti irisan cabe rawit, daun bawang, wijen, jahe, sampai tenkatsu atau remah-remah tempura yang kriuk.

Marugame Udon memiliki 8 jenis udon, 10 jenis tempura, dan 4 jenis nasi. Ketika konsumen memesan makanan, pegawai akan dengan sigap memberi tahu menu-menu yang menjadi favorit di Marugame Udon. Untuk ocha sendiri, Marugame Udon memberikan konsep gratis isi ulang. Dan saya akui ocha Marugame Udon ini sangat nikmat. Untuk harga menu udon dan nasi sendiri mulai dari Rp 33.000 - Rp 50.000, sedangkan kamage udon paket family harganya Rp 85.000. Untuk tempura sendiri harganya mulai dari Rp 7.000 - Rp 14.000/pcs.
Contoh menu Marugame Udon dan Tempura
Setelah press conference peserta media dipersilakan untuk mengambil takjil dari PHD berupa puding vanilla, coklat, dan mocca serta tortilla bites yang bikin ketagihan. Waktu itu tentu saja saya memilih puding vanilla yang jadi favorit saya dan buavita guava untuk pembatal puasa. Setelah itu tentu saja para peserta dipersilakan untuk memilih udon yang ingin mereka cicipi. Saya memilih untuk mencicipi beef curry udon, yaitu udon dengan lembaran daging sukiyaki yang disiram dengan kuah kari yang kental. Untuk tempura saya memilih kakiage atau tempura sayur yang memiliki ukuran sebesar buah jeruk yang besar dan tempura nasi jepang yang dibalut kulit tahu.
Beef Curry Udon, Tempura, dan Ocha yang jadi menu buka puasa saya

Untuk Curry Udon rasanya memang juara, kenyalnya udon dipadu dengan gurihnya kari kental menjadi perpaduan rasa yang khas. Tempura yang saya pesan juga enak rasanya. Kakiagenya kriuk dan yang paling saya suka rasa lembut dari kulit tahu yang membalut manisnya nasi Jepang. Kapan-kapan saya mau coba Niku Udon dan tempura-tempura yang lain. Akhir kata, saya suka dengan menu-menu yang saya pesan. Memang juara tekstur dan rasanya. Terima kasih Marugame Udon dan Tempura TP 3 yang sudah mempersilakan saya sebagai blogger untuk hadir dan mencicipi menu-menu di sana. Semoga sukses selalu. 

Friday, 11 July 2014

Akhirnya Saya Belajar Scuba Diving

Masih ingat keinginan saya yang sempat saya tulis di salah satu artikel di blog ini? Yaitu saya ingin ke gunung yang benar-benar mendaki dan ke laut yang benar-benar menyelam, serta ke daerah yang benar-benar membaur dengan penduduknya. Mungkin sebagian orang merasa itu adalah yang biasa saja, iya bagi yang sudah pernah melakukannya dan yang tak sependapat dengan saya. Bagimanapun saya masih terhitung hijau dalam dunia travelling.
Do'a tak pernah luput terucap dalam hati maupun secara lisan, hingga pada kesempatan di tulisan sebelumnya mengenai Gili Labak saya pertama kalinya mengenal alam bawah laut meskipun hanya sebatas snorkeling. Saya duduk-duduk bersama dengan masyarakat setempat yang sedang membuat bubu sambil berbincang. Hanya memuncak yang belum saya cicipi dari do'a saya itu, iya memuncak saja saya belum pernah. Tracking saja sih saya sudah pernah, meskipun trackingnya butuh waktu 6-7 jam tetap saja saya belum pernah merasakan sensasi di puncak. 
Entah tanggal 13 Juni 2014 itu Allah sedang memberi saya ujian atau hadiah. Tidak biasanya saya memenangkan suatu kuis dan itu dari facebook pula. Ceileeeh miris banget yak kaga pernah menang kuis-kuisan. Tapi ini kuis yang keren karena hadiahnya bukan duit. But Allah bagai mengijabah do'a saya. Jadi, kuis yang iseng saya ikuti adalah kuis yang diadakan oleh Scuba Diving Surabaya di facebooknya dalam rangka memperingati hari jadi Kota Surabaya. Mereka cinta banget ya sama Surabaya, sampai mengadakan kuis dalam rangka HKJS. Jadi singkatnya seperti di gambar ini:
Pertanyaan untuk kuis HKJS dari Scuba Diving Surabaya
Iseng buka fb di smartphone eh si kuis ini muncul di home saya, yasudah saya iseng coba ikut jawab, haha. Tapi iseng jawab itu sebenernya juga jadi mikir panjang lho.Pertanyaan pertama tentu mudah sekali untuk dijawab, kalaupun tidak hafal tinggal mengurangi saja tahun sekarang dengan usia Surabaya. Hehe... Lalu pertanyaan kedua ini yang mengusik saya karena sebelumnya saya habis motret, mengunjungi, dan beberapa kali membahas soal pantai itu. Pantai berwarna milo asik, Pantai Kenjeran.

Kuisnya
Setelah iseng menjawab pertanyaannya saya tunggu hampir dua minggu untuk pengumumannya. Akhirnya hari jum'at sore tanggal 13 Juni ada notifikasi di ponsel saya dari Belajar Diving Surabaya. Anehnya belum dibuka sudah komat-kamit mengucap syukur, hehe... Ternyata Alhamdulillah seperti yang tertera di gambar di atas itu. Hadiah yang keren dari Allah :D

Jam 3 sore tepat saya sudah di kolam Surabaya Plaza Hotel dan menunggu teman-teman dari Scuba Diving Surabaya. Yap, sekitar setengah 4 sore saya mendapat penjelasan singkat dari Mas Cahyo mengenai scuba trial saya. Karena ini yang pertama buat saya jadi saya memperhatikan betul-betul apa yang dijelaskan, tentunya saya exited sekali. Penjelasan singkatnya mengenai scuba dive gear dan beberapa istilah serta kode dalam air. Selain Mas Cahyo, ada Mas Benny dan Mas Bowo yang berbagi mengenai scuba.

Yang pertama Mas Cahyo mengenalkan gear yang akan digunakan, seperti:

Mask dan Snorkel


Mask dan Snorkel kesayangan saya
Jadi mask ini fungsinya untuk membantu pandangan kita agar tetap jelas ketika di dalam air dan menghindarkan dari iritasi mata. Untuk melihat dengan baik dengan fokus yang jelas, mata membutuhkan udara dan mask ini menciptakan ruang udara di sekitar mata. Pada umumnya mask terbuat dari bahan silikon yang lembut dan kaca pada mask terbuat dari kaca tempered yang tidak mudah tergores.

Sedangkan snorkel adalah pipa yang berbentuk J. Selang ini berfungsi untuk mengambil udara saat kita melakukan selam dasar. Selam dasar yaitu ketika posisi wajah terbenam dalam air untuk melihat dan snorkel membantu keluar masuknya udara saat bernapas. Kalau yang punya saya ini tidak punya spalsh protector yang mampu mencegah masuknya air ke dalam selang saat posisi snorkel terendam seluruhnya di dalam air. Jadi perlu usaha untuk meniup airnya sehingga bisa keluar dari snorkel. Hehe...

Fins

Fins disebut juga sepatu katak dan saya tidak punya, hehe... Fungsi dari fins sebenarnya adalah untuk membantu mobilitas kita di dalam air. Bentuk dari fins ada dua, yaitu full foot dan open heel. Kalau pakai yang open heel disarankan pakai booties juga untuk memantapkan posisi kaki di fins. Nah karena pengalaman memakai fins baru sekali dan itu saat scuba trial ini, jadi rasanya ciamik sekali karena dengan gerakan yang minim kita dapat dorongan yang kuat dari fins. Sepertinya saya akan mempertimbangkan untuk punya fins sendiri. Hehe...

Bouyancy Compensator Device (BCD)


BCD
Sumber: http://www.leisurepro.com/
Dari namanya saja Bouyancy Compensator Device, yaitu peralatan untuk mengatur daya apung kita. Sebelumnya, Mas Cahyo menjelaskan bahwa bouyancy ada tiga macam, yaitu positif, negatif, dan netral. Sesuai dengan hukum Archimedes. Benda dikatakan memiliki bouyancy positif saat benda itu memiliki kecenderungan mengapung di permukaan air, sedangkan saat benda memiliki kecenderungan tenggelam maka dikatakan memiliki bouyancy negatif, dan benda dikatakan memiliki bouyancy netral saat benda tersebut dalam keadaan melayang di air.

Jadi BCD ini membantu penyelam untuk mengatur daya apung sesuai dengan kebutuhan.Sederhananya dengan mengatur keluar masuknya udara yang berada dalam BCD untuk menngatur daya apung kita melalui inflator. Kira-kira bagian dari BCD seperti gambar yang di atas. Di bagian bawah yg pocket itu fungsinya untuk menaruh timbel pemberat saat kita sulit untuk tenggelam. Tidak ada rumus yang pasti untuk menentukan kebutuhan pemberat.

Tank/Tabung Scuba

Sepertiya tidak usah dijelaskan sudah pada tahu bentuk tangki udara scuba.
Regulator

Regulator merupakan alat yang berfungsi menyalurkan udara dari tabung ke penyelam dengan merubah tekanan tinggi dari tabung scuba menjadi tekanan rendah yang sesuai dengan kebutuhan penyelam. Regulator sendiri terdiri dari beberapa bagian dan fungsi. Yang pertama adalah first stage yang berfungsi mengurangi tekanan tinggi pada tabung hingga tekanan bisa tetap konstan saat menyelam, lalu second stage berfungsi mengubah tekanan menengah tadi sampai menjadi tekanan rendah pada selang regulator yang sesuai kebutuhan penyelam dan mempermudah pernapasan saat di dalam air, kemudian ada purge button yang berfungsi untuk mengeluarkan dan membersihkan air yang masuk melalui mouthpiece dengan cara memencet katup.

Oh ya, Mas Cahyo juga menjelaskan bahwa ada alternate air source atau lebih dikenal dengan octopus, biasanya memiliki selang/hose berwarna kuning. Fungsinya digunakan ketika ada masalah dengan dengan hose utama kita atau digunakan untuk rekan kita saat dia kehabisan udara saat di bawah.


Yap, itu sekilas pengenalan scuba gear yang masih saya ingat. Selain itu Mas Cahyo juga menjelaskan bahwa tekanan di bawah air nanti berbeda, kira-kira seperti ketika naik pesawat.

"Nanti kalau telinga terasa sakit itu berarti normal, karena tekanannya berbeda dan gendang telinga melakukan penyesuaian. Lalu yang harus kita lakukan adalah equalisasi, yaitu memencet hidung dan kita hembuskan udara sampai terasa mengaliri telinga."

Begitu Mas Cahyo menjelaskan sambil mencontohkan dan kemudian saya tirukan. Oke saya bisa, tapi berbeda ternyata dengan saat menggunakan masker. Halo mas, hidung saya tidak bisa dicubit waktu menggunakan masker. Nasib orang berhidung kecil macam saya lah. Eh tapi ternyata masih ada teknik equalisasi yang lain yang belum saya tau. Kalau tips dari Mas Benny sih lakukan equalisasi saat sebelum telinga terasa sakit, bisa dengan berkala setiap turun satu meter. Equalisasi ini sangat penting lho, jika gagal equalisasi bisa menyebabkan cidera telinga.

Lalu yang selanjutnya adalah mencoba bernapas dengan udara di tabung. Betewe tabung udara isinya bukan oksigen murni tapi ya udara dan saat kita napas melalui itu rasanya dingin. Setelah pakai fins dan BCD saya siap-siap nyemplung kolam yang dalamnya 3,5 meter. Ah saya kita mudah ternyata tenggelam itu sulit ya, akhirnya Mas Cahyo menambahkan timbel pemberat agar saya bisa menyentuh dasar kolam. Secara keseluruhan saya menilai kemampuan saya waktu itu payah sekali dan pada level malu-maluin. Tapi sumpah ini asik dan bikin ketagihan. Oke mas, saya memutuskan untuk menjadi diver berlisensi tahun depan :D

Tapi setelah belajar diving ini dan sekali lagi snorkeling di laut tiba-tiba saya kemampuan berenang saya seperti diupgrade. Masa sehari setelah dari laut dan saya nyemplung kolam bisa ngajarin anak-anak berenang plus nambah gaya berenang gitu. Subhanallah, ajaib ya? hehe.

Yang terakhir dan paling membekas di ingatan adalah kata-kata Mas Cahyo.

"Buruan bikin lisensi mumpung laut Indonesia masih bagus. Entah berapa tahun lagi kita masih bisa menikmati keindahannya. Kalau udah gak bagus mau diving kemana kita? ke bulan?"

Bagi saya keindahan laut bukan sekadar untuk dinikmati. Lebih dari itu, keindahan laut bisa jadi cerminan pribadi diri kita. Apalagi kalau bukan soal sampah den berbagai macam jenis limbah. Mau dibuang ke darat atau ke sungai, kalau sudah terkena air mengalir ya ujung-ujungnya ke laut. Sampah itu  tidak cuma mengotori tapi juga mengancam habitat seluruh biota laut. Jika menurutmu laut itu tempat sampah yang luas, maka buanglah sampahmu di sana sesukamu tapi berarti kamu makan dari tempat sampah. Jika menurutmu laut itu tempat berkasih sayang, maka jangan buang sampahmu di sana. Kasih sayang pada makhlukNya yang punya hak menikmati alam yang bersih, kasih sayang terhadap manusia lain yang punya hak mencari kehidupan melalui laut. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

Loalah... kok ya ujung-ujungnya jadi kampanye. Hehe... sekian kesan saya terhadap trial scuba dan semoga segera bisa bikin lisensi. Aamiin...



In Frame: Saya
Original Pict: Cahyo Nugroho
Edit: Saya (cuma naik-turunin exposure hehe)
Lokasi: Kolam Renang Hotel Plaza Surabaya


Judul: Aku Rapopo (kan emang kode OK begini :p)
Kalau kata Yuyung, ini ngolam yang nasionalis, tetap pakai batik.