Saturday, 18 November 2017

Lebih Dekat Dengan Viva Cosmetics Di Beauty Gathering Dan Company Visit

Setiap Wanita Itu Cantik :))

Viva... Siapa sih yang enggak kenal dengan nama ini? Viva Cosmetics sudah 55 tahun hadir, berkembang, dan bertahan di Indonesia. Weekend lalu tanggal 11 November 2017 saya bersama teman-teman Surabaya Beauty Blogger menghabiskan waktu seharian bersama Viva Cosmetics untuk berkenalan lebih dekat. Salam penyemangatnya saya suka sekali. Vivers... Aku Cantik, Aku Sehat, Aku Bahagia. Hehe...

Beberapa tahun terakhir ini brand kosmetik lokal berkembang sangat pesat. Namun hal tersebut tidak membuat Viva Cosmetics kehilangan pamor. Justru semakin menunjukkan bahwa mereka mampu bertahan dengan berbagai inovasi. Bapak Danny Wibisono selaku Kepala Divisi Marketing dalam pembukaan acara menjelaskan mengenai sejarah berdirinya PT Vitapharm, Viva Cosmetics, dan juga penghargaan-penghargaan yang pernah diraih. Nama besar PT. Vitapharm tidak lepas dari komitmen mereka untuk menghadirkan produk dengan kualitas terbaik. Terbukti dengan dimilikinya sertifikat CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik) untuk Cream, Lipstik, Liquid dan Viscous Liquid pada tahun 2008, serta powder dan compact powder pada tahun 2009. Hingga mengantar PT. Vitapharm meraih penghargaan Indonesia Living Legend Brand oleh majalah SWA selama 3 tahun berturut-turut. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan dengan kategori  usia di atas 50 tahun dan mampu terus berinovasi.

Ibu Anna selaku Kepala Unit Promosi Viva Cosmetics menjelaskan bahwa PT. Vitapharm sendiri memiliki 4 brand.
1.       Viva
2.       Viva Queen
3.       Viva White (untuk brand skin care)
4.       Red-A (Untuk segmentasi usia remaja)
Pada kesempatan kemarin, Ibu Anna juga memperkenalkan beberapa rangkaian produk terbaru mereka dari brand Viva Queen. Yang pertama adalah Perfect Cleanser make up remover dengan formula 0% alcohol, moisturizer, dan cucumber ectract yang dapat mengangkat make up waterproof sekaligus melembabkan wajah, Viva Queen CC  Foundation, Viva Queen Perfect Matte dan Perfect Shine lip color.
 
Perfect Cleanser Viva
Kemudian acara dilanjutkan dengan mengunjungi pabrik atau company visit milik PT. Vitapharm bersama Bapak Teguh. Seperti yang kita tahu bahwa rahasia perusahaan adalah segalanya dan keamanan adalah yang utama, jadi kita tidak diperolehkan membawa kamera ataupun mengambil gambar selama company visit. Bapak Teguh juga menjelaskan bahwa PT. Vitapharm memiliki lahan untuk ditanami bahan-bahan alami yang mereka gunakan untuk produksi produk mereka. Tentunya bagi para Vivers ini merupakan hal yang menarik karena bisa melihat langsung proses pembuatan kosmetik, pengemasan, dan gudang penyimpanan. Dan yang paling menarik adalah saat melihat quality control (QC), research & development, dan berbagai laboratorium milik PT. Vitapharm yang didukung oleh mesin berteknologi tinggi dan juga Sumber Daya Manusia yang terampil.
 
Pallete untuk Beauty Insight


Beauty Insight

Setelah acara jalan-jalan company visit tidak lengkap rasanya mengunjungi perusahaan kosmetik ternama ini tanpa berkenalan lebih jauh dengan produk mereka. Iya setelahnya kami diajak untuk merawat wajah menggunakan rangkaian produk dari Viva Cosmetics yang dipandu oleh Ibu Yustin. Mulai dari membersihkan wajah yang benar. Lalu perawatan wajah yang bisa dilakukan seminggu sekali seperti peeling dan masker, hingga perawatan yang dilakukan sehari-hari. Dan tentunya belajar teknik make up. Bagi beauty blogger pasti sudah tidak asing lagi dengan berbagai teknik make up namun yang namanya dandan pasti menjadi hal yang menyenangkan bagi perempuan. Dan saya setuju, karena bahkan jika menghadap komputen di rumah saja saya juga ingin tampil dengan baik agar terbangun mood yang baik juga.

Sebagai beauty blogger tentunya yang banyak kita bagikan di blog dan sosmed adalah tentang perawatan dan kecantikan. Kita tahu berfoto sendiri juga ada tekniknya agar menghasilkan foto terbaik tidak terkecuali dengan foto diri sendiri atau selfie atau selca. Untuk itu di penghujung acara ini, Viva bersama Moch. Rizky  yang dapat ditemukan di Instagram @mochtret seorang fotografer yang sudah tidak diragukan kemampuannya mengajak Vivers untuk belajar tentang foto dan video. Yang paling menarik adalah tentang bagaimana mengenali diri sendiri di depan kamera agar bisa mendapatkan hasil foto selfie yang terbaik. Jadi setiap orang punya sisi atau angle yang berbeda. Belum tentu satu orang cocok dengan pose tersebut dan orang lainnya juga cocok. Jadi @mochtret menyarankan untuk mencoba mengenali pose dan sisi terbaik kita sewaktu difoto. Selain itu beliau juga memberikan tips mengenai foto flatlay yang sangat menunjang tampilan blog seorang beauty blogger.

Dan acara lebih dekat bersama Viva Cosmetics ini diakhiri dengan syukuran ulang tahun Divisi Multi Media Online Viva Cosmetics yang ke-6 tahun. Divisi inilah yang berusaha memperkenalkan brand Viva di tengah tuntutan kemajuan zaman yang kebanyakan orang bergantung pada media online untuk mendapatkan berbagai macam informasi.


Terima kasih Viva Cosmetics yang telah mengajak kami untuk berkenalan lebih dekat dengan Legend Brand yang tidak diragukan kualitasnya. 

Surabaya Beauty Blogger X Viva
Image Source: Viva 

Chiking Ayam Top Dubai Hadirkan Aroma Khas Timur Tengah di Plaza Surabaya


Chiking Surabaya Plaza
Image source: Dok. Pribadi

Sudah pernah minum kopi yang ada rempah-rempahnya? Sejauh ini saya hanya dengar saat jalan-jalan di Kampung Arab Surabaya dan di game android tentang kafe yang saya mainkan. Tapi tanggal 14 November lalu saya akhirnya bisa merasakan bagaimana khasnya kopi dengan rempah-rempah. Saya berkesempatan hadir di pembukaan Chiking Ayam Top Dubai yang ke-4 di Indonesia. Store Chiking ke-4 di Surabaya ini ada di Plaza Surabaya atau yang biasa disebut Delta Plaza dan mulai dibuka untuk umum sejak 16 November 2017. Sebelumnya Chiking telah membuka store mereka di Royal Plaza surabaya, Mall@Bassura Jakarta, dan Lulu Hypermarket Qbig City BSD City Tangerang. Letak Chiking di Plaza Surabaya sendiri mudah sekali ditemukan, yaitu di sebelah kanan pintu utama.

Chiking ini adalah brand Quick Service Restaurant Internasional halal pertama yang mulanya dibuka di Dubai. Gerai Chiking sendiri pertama kali dibuka pada tahun 2000 dan sejak saat itu berkembang di 10 negara dengan 100 gerai, seperti Dubai, Oman, India, Afghanistan, Maldives, Ivory Coast, Pakistan, Malaysia, Indonesia dan United Kingdom. Dan kabarnya sedang akan membuka lagi gerai mereka di Indonesia, yaitu Bekasi dan kota lain.
 
Kopi Arab Chiking
              Image source: Dok. Pribadi
Jadi bagaimana rasa dari Chiking Ayam Top Dubai ini? Jujur saya sengaja membiarkan perut dalam keadaan lapar agar rasa dari menu Chiking yang akan saya coba ini bisa maksimal. Healah... hehe. Saat datang saya ditawari untuk memilih menu kopi atau teh panas Chiking. Dan saya memilih kopi karena setiap hari sudah ngeteh dan saya juga suka kopi sih. Dan saat kopinya datang sudah tercium aroma yang berbeda. Yang saya tebak kopi ini ditambah rempah-rempah di dalamnya. Selain di rumah, jika di luar saya biasanya tidak menambahkan gula dalam kopi saya. Jujur saya baru pertama mencoba kopi dengan rempah-rempah. Ternyata enak banget dan enak di badan. Setelah saya amati ternyata Chiking menambahkan Cardamom atau kapulaga yang merupakan rempah-rempah yang lazim digunakan di India dan beberapa negara di Asia. FYI, cardamom ini ada yang jenisnya untuk makanan dan minuman. Dan informasi paling penting nih, cardamom itu terkenal sebagai one of the most expensive spices bersama dengan saffron. Hehe... saya agak hafal soal rempah-rempah di minuman. Dan saya lebih memilih untuk tidak menambahkan gula di kopi rempah milik Chiking ini.
 
Chiking Rice, Flamming Grilled Chicken,  dan Dubai Breeze
   Image source: Dok. Pribadi

Ayman Juga Suka
              Image source: Dok. Pribadi

Lalu menu utama yang saya coba adalah Flaming Grilled Chicken dengan Chiking Rice yang khas. Yang pertama saya amati adalah si Chiking Rice yang berwarna kuning dan biasa disebut nasi kuning Chiking. Ternyata mereka menggunakan jenis brasmati dan dibumbui dengan rempah yang enggak lebay. Jadi saat Grilled Chickennya dimakan bersama nasi, rasanya masih dominan. Grilled Chickennya sendiri yang saya rasakan mereka juga pakai bumbu dari rempah-rempah yang juga sudah lazim digunakan di Timur Tengah. Dagingnya sendiri sangat juicy dan waktu saya potong menggunakan sendok dia enggak berontak dan terpotong dengan sempurna. Oh dan minuman yang disajikan untuk pendampingnya adalah sejenis mocktail khas Dubai yang segar banget dengan perpaduan daun mint dan lemon yang diberi nama Dubai Breeze. Ada dua varian rasa yaitu Passion Fruit dan Green Apple. Menurut saya mereka ini seperti saling mengimbangi antara makanan dan minumannya.
 
Menu Chiking Ayam Top Dubai

Setelah penasaran dan mencoba sendiri saya jadi mengerti mengapa mereka bisa berkembang dan bertahan di banyak negara dalam waktu beberapa tahun. Mereka menghadirkan konsep mereka sendri dalam Quick Service Restaurant. Chiking Ayam Top Dubai memberikan cita rasa yang baru dan berbeda, yaitu cita rasa khas Timur Tengah yang hadir dalam restoran layanan cepat. Selama ini yang kita tahu restoran dengan pelayanan seperti ini belum ada yang menghadirkan menu khas dari tempat tertentu. Jadi wajar menurut saya jika Chiking bisa mengambil hati para pelanggannya. Lalu apakah saya akan kembali lagi? Ya karena masih banyak menu Chiking yang belum saya coba. Seperti Royal Wrap, Royal Chunchy, Tandori Burger dan masih banyak lainnya. Saya yakin menu lainnya juga menghadirkan cita rasa lain dari yang pernah saya coba sebelumnya. 

Sunday, 12 November 2017

Seperti Wage, Sendiri Tak Berarti Sepi

Poster Film Wage

Tepat di momen Hari Pahlawan ini, 10 November 2017, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makam salah satu pahlawan nasional Indonesia setelah 20 tahun tinggal di Surabaya. Iya seperti yang tertulis pada judul, saya mengunjungi makam pencipta lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, yaitu Wage Rudolf Soepratman. Letaknya di Jalan Kenjeran, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Dulu niatan saya untuk mengunjungi makam W.R. Soepratman hanya sekadar memfoto dan menceritakan keadaan serta sekilas sejarah hidup beliau. Jadi alasan apa yang mendasari saya akhirnya memutuskan mengunjungi beliau? Yang terbesar adalah untuk mengucapkan terima kasih serta doa untuk beliau. Dan akhirnya malah mengikuti upacara hari pahlawan sampai selesai di Makam W.R. Soepratman bersama dengan siswa sekolah.
 
Suasana Upacara Dalam Rangka Hari Pahlawan di Makam W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Mengheningkan Cipta
         Image Source: 
Dokumentasi Pribadi

Makam W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Silsilah Keluarga W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Monumen Patung Untuk Mengenang W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Kisah Hidup W.R. Soepratman
Image Source: Dokumentasi Pribadi

Bukan tanpa sebab jika keinginan saya untuk mengunjungi makam Wage ini semakin besar. Karena pada tanggal 9 lalu saya beruntung karena memutuskan ikut menonton Film Wage beserta para pemainnya. Sekilas jika orang mendengar apa sih Film Wage? Nampak seperti penyebutan hari di penanggalan Jawa. Apakah ini another horror film yang lagi booming? Bukan, ini adalah film biografi atau biopic tentang Wage Rudolf Soepratman atau yang lebih sering kita sebut dengan W.R. Soepratman, komposer lagu kebangsaan kita. Film Wage ini menceritakan tentang kisah hidup Wage dari kecil hingga wafat.

Dalam film ini mungkin kalian akan menemukan untold history tentang Wage. Karena sutradara sendiri melakukan riset dengan mengumpulkan buku-buku Wage selama 7 tahun. Seperti yang kita tahu dalam sejarah, lagu Indonesia Raya ini pertama kali diperdengarkan saat kongres pemuda tanggal 28 oktober 1928. Lirik lagu Indonesia Raya tidak boleh diperdengarkan waktu itu. Tapi Wage tetap memainkan biolanya dengan penuh penghayatan. Karena bagi Wage biola adalah temannya, tidak pernah merasa sepi karena hatinya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia melalui biola dan musiknya.

Sinopsis
Lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah simbol dan identital bangsa semenjak mula pertama berkumandang bersamaan dengan ikrar Sumpah Pemuda. Momentum 28 Oktober 1928 ini merupakan perwujudan dari kebangkitan kesadaran perlawanan terhadap penjajah secara nasional, yaitu kesadaran untuk melawan penjajah secara bersama-sama sebagai satu bangsa, Indonesia Raya, dan tidak lagi berbasis kedaerahan dan kesukuan maupun keagamaan. Daya pembangkit kesadaran kebangsaan yang terkandung dalam lagu Indonesia Raya dan Sumpah Pemuda, yang lahir bersamaan pada 28 Oktober 1928.

“Aku harus ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini dengan lagu dan biolaku. Untuk itu, aku pun harus terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan bangsa ini”. Demikianlah semangat membara dalam diri seorang Wage Supratman, laki-laki kelahiran Somongarim Purworejom 19 Maret 1903. Somongari tidak lain adalah desa yang diyakini dibuka oleh sisa-sisa laskar pasukan Diponegoro, perdikan yang masih terus mengobarkan seangat perlawanan terhadap penindasan penjajah. Darah pejuang itu bisa jadi memberi semangat bagi Wage Suptatman ketika memutuskan untuk meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya di Makassar dan kembali ke Jawa.

Semangat membara itu mengantar wage Supratman melibatkan diri secara langsung dalam pergerakan kemerdekaan di Jawa, menjadi jurnalis yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil, memasuki ruang-ruang rapat organsasi pemuda, terlibat dalam arena pergerakan kebangsaan, dan terutama menggubah lagu-lagu perjuangan untuk menggelorakan semangat perlawanan rakyat. “Dari barat sampai ke Timur”, “Indonesia Wahai Ibuku”, lagu-lagu gubahan Wage Supratman. Dan puncak dari segala karya lagu Wage Supratman adalah lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”.


Sekilas sinopsis dari Film Wage ini menggambarkan bahwa Wage adalah sosok yang berjuang demi bangsa dengan apa yang dicintainya, lagu dan biola. Saat menonton film yang sudah mulai tayang 9 Novermber 2017 ini ada bagian yang benar-benar membuat saya tidak bisa menahan air mata, yaitu saat lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan dalam Kongres Pemuda. Dan peraturan bahwa kita diwajibkan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza nampaknya adalah keputusan terbaik. Siapa yang tidak merinding saat menyanyikan lagu Indonesia Raya? Apalagi 3 stanza. Bahkan setiap pagi jika menyalakan televisi dan ada lagu Indonesia Raya diputar, ayah saya akan berkata “lagu ini sangat menyentuh hati ayah sampai membuat ingin menangis, tidak ada lagu seindah Indonesia Raya”. Bukan tanpa sebab, saya pun demikian sehingga tidak bisa menahan air mata saat mendengarkan lagu Indonesia Raya 3 Stanza.
 
Naskah Asli Indonesia Raya 3 Stanza
Masa sebelum merdeka, pemudanya dan rakyatnya yang masih lekat dengan sifat kedaerahan, Wage menggubah lagu yang sangat indah dan menyentuh hati. Apa yang membuat Indonesia Raya berhasil menumbuhkan semangat persatuan? Bukan lagunya yang membakar semangat, tapi Wage yang memiliki harapan bahwa bangsa Indonesia harus bersatu merdeka ini menuliskan doa-doa dan harapan-harapannya yang tulus dan Indah sehingga tertanam pada hati bangsa. Rupanya hal tersebut juga yang terjadi ketika saya menangis menyanyikan lagu Indonesia Raya. Doa dan harapan Wage ini terlalu indah. Meskipun tak seindah kisah Wage yang dapat kita lihat dari Film Wage. Beliau harus rela meninggalkan segala kemewahan hidup dan bermusik, lebih memilih untuk terlibat dan berjuang demi kemerdekaan  bangsa. Hidup berpindah dengan menanggung rasa sakit, hingga akhirnya meninggal tanpa pernah melihat bangsa ini merdeka dan lagunya lah yang menjaga hati bangsa kita untuk selalu tulus berjuang.

Dalam film ini tidak ada ulasan mengenai kisah cinta Wage dengan perempuan hingga akhir hayatnya beliau masih sendiri. Wage dan orang-orang di sekitarnya tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Karena bagi Wage, sendiri tak berarti sepi. Wage terus hidup dengan besarnya rasa cinta beliau pada musik dan biola.Wage dan kecintaannya ini lah yang turut mengantar kita pada kata Merdeka. Harusnya kita merefleksikan diri pada hal ini. Dari sekian banyak kisah Wage yang mengharu biru, kisah ini juga menjadi perhatian saya. Hidup tidak hanya sibuk bertanya pada mereka yang sendiri tentang kapan mereka melepas kesendirian. Berdua memang baik tapi sedang menjalani kesendirian tidaklah menjadi buruk. Mereka yang menjalani kesendirian tidaklah sepi hidupnya, bersama dengan apa yang mereka cintai bisa jadi sedang mempersiapkan hal baik dan besar bagi orang banyak. Biarkan mereka menjalani hidup dan memberikan kebaikan meskipun tak ada orang yang sadar karena terlalu banyak manusia masa kini yang sibuk melihat kesendirian sebagai sesuatu yang menyedihkan. Ya, Seperti Wage, sendiri tak berarti sepi.

Blogger Bersama Tim Film Wage
Image Source: Dokumentasi Mbak Mita



Sebuah kiriman dibagikan oleh D. Indah Nurma (@dindahnurma) pada


Sebuah kiriman dibagikan oleh D. Indah Nurma (@dindahnurma) pada



Judul Film: Wage
Produser: M. Subchi Azal Tzani, Ivan Nugroho, Andy Shafik, John De Rantau.
Sutradara: John De Rantau
Penulis: Freddy Aryanto, Gunawan BS
Produksi: Opshid Media Untuk Indonesia Raya.
Pemeran: Rendra sebagai Wage, Teuku Rifnu Wikana sebagai Fritz, Putri Ayudya Sebagai Roekiyem (kakaknya Wage), Wouter Frezzer sebagai Van Eldick, Prisia Nasution sebagai Salama.


Tuesday, 7 November 2017

Menjaga Indonesia Dengan Empat Pilar MPR RI

Ngobrol Bareng MPR RI
image source: Nanang Diyanto

Sabtu lalu 4 November 2017 saya berkesempatan hadir dalam sebuah diskusi menarik bersama Sekjen MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono dan Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi, Biro Humas MPR RI Bapak Andrianto yang bertajuk Ngobrol Bareng MPR. Saat acara berlangsung selain dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya (ini adalah bagian favorit saya)  juga menyanyikan lagu Bangun Pemudi Pemuda ciptaan dari A Simanjuntak. Seketika ingatan saya langsung melayang ke masa-masa masih disebut mahasiswa baru. Masa di mana para pemuda ini sedang gagah-gagahnya memegang teguh yang namanya idealisme. Yang membuat saya teringat jelas di masa ini adalah selalu ditekankan tentang Peran dan Fungsi Mahasiswa.

Waduh... ini paragraf pembuka saja sudah berat begini.  Ta[i memang benar-benar membawa ingatan saya jauh terbang ke masa itu. Waktu itu kami diminta untuk merefleksikan Peran dan Fungsi Mahasiswa lalu menuliskannya di blog masing-masing dan nanti hasilnya akan dibaca serta dikritisi oleh senior kami. Apa saja sih dulu yang disebut sebagai Peran dan Fungsi Mahasiswa? Coba kita lihat kembali satu-persatu, semoga masih sama dengan Peran dan Fungsi Mahasiswa saat ini.
1.       Agen Perubahan (Agent of Change). Zaman dulu kalau ditanya orang perubahan seperti apa? Ya mikirnya cuma mampu menjawab perubahan yang lebih baik. Ya benar sih, mana ada orang ingin mengubah keadaan dirinya sendiri jadi lebih buruk? Terlebih pada keadaan bangsanya.
2.       Generasi Penerus Bangsa (Iron Stock). Ya namanya saja pemuda, pastinya terlahir untuk meneruskan perjuangan orang-orang yang terlahir sebelum kami.
3.       Penjaga Nilai-Nilai Moral (Moral Force). Sebenarnya ini mulai agak berat. Mahasiswa dipandang sebagai kaum terpelajar (katanya). Karena sebagai “kaum terpelajar” itulah diharapkan mampu menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam kehidupan yang bermoral.
4.       Pengontrol Keadaan Sosial (Agent of Social Control). Setelah membentuk diri menjadi manusia yang bermoral tentunya mahasiswa yang juga makhluk sosial ini diharapkan mampu mengontrol keadaan sosial.

Baiklah, dari urutannya saja ini terbaca sangat melambangkan idealisme padahal pada kenyataannya tidak semudah itu. Entah hanya berapa persen dari mantan-mantan mahasiswa yang betul-betul mengamalkannya, berapa persen yang menyimpannya dalam ingatan, berapa persen yang melupakannya begitu saja, atau mungkin malah sama sekali tidak pernah tahu? Lalu apa hubungannya dengan perbincangan hari sabtu lalu? MPR RI sebagai Rumah Kebangsaan Pengawal Ideologi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat ini datang untuk mengajak para warga internet atau netizen di Surabaya mendiskusikan tentang empat pilar.
Empat pilar yang dimaksud tersebut adalah:
1.       Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara;
2.       Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai Konstitusi Negara;
3.       NKRI sebagai Bentuk Negara;
4.       Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara.
Kenapa sih MPR mau repot-repot mengadakan diskusi semacam ini dengan beberapa orang yang hobinya curhat di blog dan ngoceh di media sosial? Well, saya pribadi malah bersyukur MPR punya acara semacam ini yang saya lihat sebagai bentuk perhatian dan rasa sayang terhadap bangsa dan masa depan negara. Mereka yang ada di Kebangsaan Pengawal Ideologi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat juga sepenuhnya menyadari bahwa warga negara ini adalah makhluk yang hidup di dua alam. Alam kasat mata yang kita lihat sehari-hari dan alam maya yang pergerakannya sangat cepat, bahkan mampu membuat orang pendiam di alam kasat mata menjadi orang dengan sejuta bahasa di alam maya. Saking cepatnya pergerakan di dunia maya ini sampai-sampai berita apapun bisa menyebar secepat angin. Apalagi berita palsu alias hoax, bukan lagi tersebar secepat angin tapi melebihi kecepatan cahaya. Jangan memandang ke permasalahan yang lebih jauh dulu deh, bahkan perbedaan kepercayaan bahwa bubur ayam tidak boleh diaduk dan harus diaduk saja terus bergulir dengan hangat di media sosial. Perbedaan kepercayaan bubur saja sudah memperjelas bahwa bangsa kita berbeda-beda setiap individunya. Saya sih penganut kepercayaan bahwa bubur ayam haram hukumnya jika diaduk. Kalau kalian? Eh... hehe.

Permasalahan sesimpel itu saja perhatian masyarakat begitu besar. Apalagi yang kita tahu akhir-akhir ini kan? Orang-orang akan lupa mana saudara dan teman jika sudah membahas kepercayaan dalam ranah politik. Ajang pemilihan wakil rakyat malah membuat rakyat melupa hati nuraninya. Ajang pemilihan pemimpin malah membuat rakyat melupa bahwa dia juga pemimpin atas dirinya sendiri. Kalau masih merasa menjadi manusia mungkin jauh di dalam hatinya meski sedikit, memiliki kekhawatiran bahwa kita yang satu bangsa ini mulai lupa bersyukur bahwa kita dicipatakan berbeda agar bisa bersatu. Saat minum kopi di tengah acara diskusi, saya sangat tertohok dengan pertanyaan “Masih Indonesiakah Kita?” Harusnya masih jika melihat KTP dan paspor masing-masing. Tapi hatinya? Apa masih Pancasila yang menjadi Ideologinya? Apa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 masih dipegang sebagai konstitusi negaranya? Apa masih mengimani NKRI sebagai bentuk negaranya? Dan apa masih bersyukur terlahir di tengah perbedaan yang indah hingga Bhinneka Tunggal Ika masih dipegang sebagai semboyan?


Lalu apa hubungannya ingatan yang melayang di masa lalu pada Peran dan Fungsi Mahasiswa dengan Empat Pilar MPR RI ini? Terima kasih banyak MPR RI yang masih memberi perhatian dan mau mengetuk hati Warga Negara Indonesia ini yang hidup di dua alam. Hidup di alam manapun tidak boleh melupa bahwa kita masih Indonesia. Sesederhana itu kita harus membawa diri dalam kehidupan. Dan membawa diri mengamalkan Peran dan Fungsi Mahasiswa bisa dimulai dari yang sederhana. Jika mengingat kita masih Indonesia, maka kita akan mudah menjadi manusia yang damai dan menjaga perdamaian. Perkembangan teknologi informasi yang cepat ternyata tidak dibarengi dengan kemauan diri untuk menambah pengetahuan dan menjaga sikap yang bijak di sosial media. Mengamalkan Peran dan Fungsi Mahasiswa bisa dimulai dengan hal sederhana terhadap  sikap kita sehari-hari di kehidupan sosial media. Jika masih Indonesia, kita akan mampu memimpin diri sendiri untuk tidak terbawa kabar yang belum tentu kebenarannya. Jika masih Indonesia, kita akan senantiasa menjaga diri  dan perkataan dalam pergaulan di sosial media. Jika kita santun dalam berkata dan bersikap, maka interaksi yang tercipta juga akan turut santun. Lalu dengan begitu kita juga bisa jadi generasi penerus bangsa yang semoga saja bisa membawa perubahan lebih baik. Perkembangan teknologi akan terus terjadi. Dengan menjadi manusia yang santun dan menciptakan interaksi yang santun, siapa tahu tidak hanya menjadi generasi penerus bangsa yang membawa perubahan lebih baik, tapi juga memberi contoh pada generasi yang akan datang. Siapa yang akan tahu? Toh generasi penerus bangsa juga akan tumbuh dari didikan dan mencontoh generasi kita. Menjadi santun tidak hanya menjaga Indonesia saat ini, tapi juga Indonesia milik generasi yang akan datang. Semoga kelak mereka juga masih sama bersyukurnya dengan kita saat ini terlahir dalam perbedaan yang membuat kita mengerti indahnya persatuan.