Tuesday, 9 October 2018

9 Oktober Diperingati Sebagai Hari Hangeul, Ini 5 Fakta Menarik Tentang Hangeul Yang Harus Kamu Tahu!



Annyeonghaseyo Yorobun! Siapa yang belum pernah mendengar Hangeul? Pasti sebagian besar dari kita terutama K-Lovers sudah mengenal abjad yang digunakan di Korea. Hari ini tanggal 9 Oktober di Korea Selatan diperingati sebagai Hari Hangeul atau hari penetapan Hangeul sebagai abjad Korea.

Dahulu para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Hari Hangeul jatuh pada 29 Oktober, namun setelah ditemukannya fakta-fakta baru akhirnya para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Hangeul pertama kali dibuat tanggal 9 Oktober. Sejak tahun 2013, Hari Hangeul ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Tapi tahukah kamu bahwa ada banyak fakta menarik di balik abjad Korea satu ini? Berikut saya sudah merangkumkan beberapa hal tentang Hangeul yang paling menarik perhatian saya.

Huruf Hangeul Diciptakan Oleh Raja Sejong

Pada mulanya Rakyat Korea menggunakan karakter Cina yang disebut Hanja dalam penulisan mereka. Sekitar 1000 tahun lebih Rakyat Korea menggunakan Hanja. Namun karakter Hanja sangat sulit untuk dipahami terlebih bagi rakyat dengan status sosial yang rendah dan sulit untuk mengakses pendidikan.  Oleh karena itu pada masa tersebut banyak rakyat yang buta huruf.

Melihat hal tersebut Raja Sejong yang merupakan Raja ke-4 Dinasti Joseon menciptakan Hangeul yang lebih sederhana untuk menggantikan Hanja. Raja Sejong mengumumkan Hangeul dalam Hunminjongeum (훈민정음) yang berarti “kata-kata yang benar untuk diajarkan pada rakyat”. Namun dalam penyebarluasan Hangeul sebagai abjad Korea menggantikan Hanja tidak lepas dari pertentangan. Para bangsawan khawatir timbul gejolak sosial jika rakyat dengan status sosial yang rendah menjadi berpendidikan.

Pada 2009 Patung The Great  King Sejong Di Plaza Gwanghwamun Dibuka Untuk Umum

Tahun 2009 saat hari jadi ke-563 penenemuan Huruf Hangeul, patung Raja Sejong di Gwanghwamun Square atau Gwanghwamun Plaza resmi dibuka untuk umum. Patung Raja Sejong Yang Agung tersebut terbuat dari perunggu setinggi 9,5 meter. Patung tersebut dibuat dengan menggambarkan Raja Sejong memegang buku yang terbuka di tangannya sambil tersenyum dengan lembut seolah bahagia atas cita-cita mulianya yang telah terwujud.

Selain itu di depan patung Raja Sejong terdapat bola langit, pengukur hujan, dan jam matahari yang semuanya diciptakan Raja Sejong selama masa pemerintahannya. Di bagian lorong bawah tanah terdapat gedung pameran Sejong’s Story. Tidak hanya itu, di ujung plaza juga terdapat “Waterway of History” sebuah sungai mengalir di atas ubin dengan sejarah Korea.

Di Korea Utara Diperingati Pada Tanggal 15 Januari

Korea Utara juga memperingati Hari Hangeul. Namun berbeda dengan di Korea Selatan yang memperingati Hari Hangeul setiap tanggal 9 Oktober, Korea Utara memperingatinya pada tanggal 15 Januari.

Di Korea Utara disebut dengan Hari Chosŏn'gŭl. Diperingati setiap tanggal 15 Januari yang merujuk pada tanggal 15 Januari 1444 (atau 1443 menurut kalender bulan) adalah tanggal pembuatan Hunminjongeum yang sebenarnya.

Mendapatkan Penghargaan Dari UNESCO

Hunminjongeum Haeryobon (buku panduan Bahasa Korea) mendapat pengakuan dari UNESCO pada tahun 1997 dalam Memory of The World Register. Penghargaan ini tidaklah suatu yang mengagetkan karena Hunminjongeum telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam memberantas buta huruf di Korea. Selain penghargaan tersebut UNESCO juga memberikan penghargaan kepada organisasi atau perseorangan yang membantu menurunkan buta huruf dengan memberikannya King Sejong Award.

Huruf Hangeul Juga Digunakan Oleh Salah Satu Suku Di Indonesia

Yang paling menarik adalah ternyata huruf Hangeul tidak hanya digunakan di Korea tapi juga di Indonesia. Salah satu suku di Indonesia menggunakan Hangeul sebagai abjad mereka untuk menuliskan bahasa daerah yang hampir punah.

Suku yang menggunakan Hangeul untuk berkomunikasi secara tertulis adalah Suku Cia-Cia. Sekitar 80.000 jiwa Suku Cia-Cia bermukim di Kampung Karya Baru, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Meskipun menggunakan huruf Hangeul untuk komunikasi tertulis, namun bahasa yang digunakan tetaplah bahasa daerah mereka.

Hal tersebut bermula saat Wali Kota Baubau tergerak hatinya melihat bahasa daerah Suku Cia-Cia termasuk dalam bahasa yang hampir punah karena tidak memiliki aksaranya sendiri. Tidak seperti bahasa di suku lain masyarakat Buton yang bisa ditulis menggunakan huruf Arab, ternyata bunyi konsonan Cia-Cia tidak bisa ditulis menggunakan huruf  Arab.

Kemudian pemerintah Kota Baubau menggelar Simposium Internasional Penaskahan Nusantara dan berhasil menarik perhatian Profesor Chun Tae Hyun untuk meneliti bahasa Suku Cia-Cia yang memiliki pelafalan mirip dengan Bahasa Korea. Sejak saat itu pemerintah Kota Baubau dan Hunminjongeum Research Institute menyusun bahan ajar untuk kurikulim muatan lokas bahasa daerah Cia-Cia. Dan hasilnya seperti sekarang bahasa Cia-Cia tetap lestari dengan diabadikan melalui aksara Hangeul.

Jadi fakta terkait Hangeul mana yang paling kamu sukai? Saya pribadi suka dengan cita-cita mulia Raja Sejong.

No comments:

Post a Comment