Friday, 9 March 2018

Diskusi Pentingnya Pemenuhan Gizi Dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Diskusi 1000 HPK
image: dok pribadi


Diskusi tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan atau 1000 HPK bersama Nutrisi Untuk Bangsa hari sabtu 3 Maret 2018 lalu adalah yang pertama kali saya ikuti. Dalam rangka HGN alias Hari Gizi Nasional, Nutrisi Untuk Bangsa mengajak ibu-ibu untuk berdiskusi tentang gizi bagi anak. Dan saya ikut nyempil dong di antara ibu-ibu ini. Setidaknya saya  jadi jomblo yang berpengetahuan tentang pentingnya 1000 HPK. Masa ya sudah jomblo, gak tahu apa-apa lagi. Hehe... Serangkaian acara dalam diskusi hari itu sangat menarik. Bahkan saya sampai benar-benar fokus menyimak pengetahuan baru bagi saya yang disampaikan oleh para pemateri. Sebelum mulai berdiskusi, para peserta bisa cek gizi dan tak lupa foto-foto di booth yang menjadi kegemaran ibu-ibu. Dan kegemaran saya adalah sesi pemenuhan gizi alias makan-makan sebelum mulai diskusi. Ada Dr. Nur Aisyah Wijaya, Sp.A. atau biasanya dipanggil Dr. Nuril dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unair dan Juga ada Ibu Atik Kasiati sebagai Bidan Senior dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Selain itu ada demo masak makanan sehat di akhir diskusi oleh Chef Risan dan Chef Revaldi.

Erat Kaitan Stunting Pada Anak Dan Kecukupan Nutrisi
Ibu Nuril
image: dok pribadi


Sebelum lanjut untuk tahu apa keterkaitannya antara stunting dan kecukupan nutrisi ada baiknya kita bahas dulu definisinya. Menurut Dr. Nuril kemarin, stunting adalah kondisi pada anak yang menyebabkan ia mengalami gangguan pertumbuhan dan secara kasat mata terlihat lebih pendek daripada anak-anak seusianya. Jika kondisi stunting dialami oleh anak yang berusia kurang dari 2 tahun maka hal ini harus ditangani dengan tepat. Karena awal mula kondisi stunting adalah dari tidak terpenuhinya nutrisi si anak secara cukup atau seimbang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan 20% kondisi ini sudah terjadi sejak anak dalam kandungan. Ketika asupan ibu hamil kurang berkualitas maka dampaknya akan terlihat pada si bayi.

Seperti yang Ibu Nuril katakan bahwa pertumbuhan anak itu terjadi sejak dalam kandungan. Karena itu kampanye terhadap perhatian 1000 HPK gencar dilakukan. Tentunya saya merasa beruntung mendapatkan pengetahuan seperti ini bahkan sejak sebelum memiliki pasangan. Hehe... Lalu kapan sih 1000 HPK itu? Ternyata sudah dimulai sejak anak 9 bulan dalam kandungan, lalu 730 hari alias dua tahun sejak anak lahir. Ini yang dinamakan masa emas tumbuh dan berkembang anak di mana dalam masa 1000 HPK ini anak harus mendapatkan nutrisi terbaik. Nutrisi terbaik pertama yaitu pasti saat anak dalam kandungan yang berarti si ibu harus mendapatkan asupan dengan nutrisi yang tepat dan baik agar anak dalam kandungan dapat berkembang dengan baik. Lalu saat anak lahir sampai dengan 6 bulan juga membutuhkan nutrisi terbaik dengan ASI ekslusif. Susu formula juga boleh diberikan pada bayi di usia ini tapi harus dengan catatan medis. Nah... Yang ahlinya saja sudah memberikan pernyataan seperti ini. Jadi ibu-ibu harus semangat ya untuk memberikan ASI ekslusif untuk si kecil. Lalu setelah 6 bulan sampai usia 2 tahun anak membutuhkan MPASI alias makanan pendamping ASI. Kenapa anak membutuhkan MPASI di usia ini? Menurut penjelasan Ibu Nuril ternyata ASI pada usia anak setelah 6 bulan itu kandungan kalori seperti karbohidrat, protein dan lemak itu sudah menurun sebanyak 30%. Apalagi pada usia 12-33 bulan malah berkurang sebanyak 70%. Padahal untuk tumbuh dan berkembang anak membutuhkan gizi makro yang penting seperti karbohidrat, protein dan lemak tadi.

Setidaknya seperti itu yang bisa saya rangkum dari beberapa penjelasan Ibu Nuril tentang nutrisi terbaik di 1000 HPK. Jadi bisa dibayangkan jika nutrisi yang dibutuhkan anak kurang pada 1000 HPK maka tidak hanya stunting tapi ke depannya akan berpengaruh juga pada kemampuan kognitif anak. Kenapa? Karena 80% pertumbuhan sel otak terjadi saat 1000 HPK itu. Usia 18 bulan ubun-ubun bayi sudah menutup. Berarti pertumbuhan kepala secara fisik ini juga berkaitan erat dengan pertumbuhan sel otak. Selepas dari 1000 HPK maka pertumbuhan sel otak hanya bisa sampai 20%.

Akhir-akhir ini saya juga suka memperhatikan tinggi tubuh saya dan rata-rata orang yang saya lihat di ruang publik dengan catatan tinggi badan orang Asia lainnya. Ternyata Indonesia ini tidak lebih tinggi. Saya pernah membaca blog salah satu dokter yang dulu menjadi penyiar radio beken saat saya masih SMP. Di sana dokter Meta ini menyebutkan ternyata Indonesia menempati 5 besar dari seluruh negara di dunia sebagai negara dengan angka stunting terbesar. Betapa ini menjadi prestasi yang menyedihkan. Kalau beralasan hal ini karena faktor genetik, ternyata faktor ini hanya menyumbang 20% saja yang artinya sisa lainnya ditentukan oleh nutrisi terbaik itu tadi. Jika hal ini terus berlanjut maka di masa depan akan banyak orang bertubuh pendek. Dokter Meta juga menegaskan sebagai orang tua untuk bisa lebih concern masalah gizi di 1000 HPK ini. Jika tinggi dan berat anak kurang dari yang seharusnya di usianya, kebanyakan orang tua berlasan bahwa itu karena anaknya sangat aktif jadi berat badannya kurus. Kita diminta untuk buang jauh-jauh pemikiran tidak apa-apa anak kurus yang penting sehat karena jika sehat pasti anak akan tumbuh tinggi dan beratnya normal sesuai anak seusianya.
Terakhir saya juga belajar dari teman saya agar anak bisa mau makan MPASI tanpa paksaan. Teman saya membiasakan untuk mendudukkan anaknya ketika kegiatan makan. Duduk yang bagaimana? Ternyata duduk berhadapan dengan ibu ketika menyuapi. Usahakan untuk memberikan suasana fokus pada makanan saat kegiatan makan. Tidak diberikan mainan, diajak bermain, sambil diajak jalan-jalan atau bahkan menonton televisi. Tujuannya tidak lain adalah agar anak bisa fokus pada makanannya sehingga bisa habis dan dicerna dengan baik. Teman saya ini membiasakan hal ini sejak pertama kali anaknya MPASI dan sampai sekarang anaknya terbiasa dengan kebiasaan ini.

 
Dukungan Terhadap Ibu Hamil Berpengaruh Pada 1000 HPK
Ibu Atik
image: dok pribadi


Dalam materi diskusi yang dibawakan oleh Ibu Bidan Atik Kasiati adalah tentang dukungan terhadap ibu hamil untuk turut mensuksekan kampanye 1000 HPK.  Lho kok ibu hamil juga jadi bahasan dalam 1000 HPK anak? Ya wajib ada lah... Kan 1000 HPK dimulai sejak anak dalam kandungan, jadi tidak hanya anak yang harus diperhatikan tapi Si Ibu juga. Kalau Ibu hamil bahagia maka akan semangat. Kalau Ibu hamil semangat maka Insya Allah kandungan akan senantiasa diperhatikan dan dijaga. Sesederhana ini sebenarnya hubungannya.

Untuk para  suami atau yang berencana menjadi suami juga wajib tahu soal ini nih. Jadi saya dan para single lainnya yang ikut diskusi juga termasuk tidak terlalu dini untuk menimba pengetahuan tentang 1000 HPK nih. Ternyata tidak hanya saat hamil, bahkan sebelum hamil juga SI Ibu wajib menjaga kesehatan serta memastikan bahwa nutrisi untuk dirinya sendiri tercukupi. Jadi para suami dan calon suami harus perhatian dan selalu mengingatkan istrinya untuk memakan makanan yang bergizi seimbang. Karena anak kalian kelak di dalam kandungan akan numpang makan dari nutrisi yang masuk dan dimiliki oleh Ibunya. Selain menjaga asupan makanan dengan gizi seimbang yang cukup, ternyata segala bentuk komunikasi yang terjadi oleh Ibu hamil juga berpengaruh bagi perkembangan bayi dalam kandungan. Komunikasi yang baik cenderung bisa menjaga psikis Ibu Hamil dan berpengaruh pada ketenangan. Kondisi ini akan menjadikan Ibu hamil dalam suasana penuh dukungan dari orang sekitar.

Ibu Atik juga bercerita bahwa pergi ke Bidan bukan hanya perihal numpang melahirkan. Namun segala urusan tentang program hamil, kesehatan, kehamilan, bahkan curhat-curhatan juga bisa dilakukan. Jadi sebenarnya peran Ibu Bidan itu sangat banyak. Termasuk memberi tahu bahwa pemerintah Indonesia juga memberikan dukungan terhadap Ibu yang hendak melakukan program hamil maupun Ibu hamil.  Yaitu dengan menerapkan standar pelayanan antenatal yang di antaranya sebagai berikut:

1.       Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan
2.       Mengukur tekanan darah
3.       Mengukur LiLA atau lingkar lengan atas untuk mengetahui nilai status gizi Si Ibu
4.       Mengukur tinggi fundus uteri
5.       Menentukan presentasi dan denyut jantung janin
6.       Skrining dan pemberian imunisasi TT
7.       Peberian tablet zat besi (90 tablet pada masa kehamilan)
8.       Melakukan tes sederhana di laboratorium untuk mengetahui golongan darah, HB, glukoprotein urin) dan atau berdasarkan indikasi HbsAg, sifilis, HIV, Malaria, TBC.
9.       Tata Laksana kasus
10.   Dan konseling termasuk P4K serta KB PP.

Wah ternyata menikah dan hidup berkeluarga tidak hanya tentang merajut kasih dan hidup bahagia selamanya di kerajaan nan jauh di sana. Tapi untuk mewujudkannya butuh banyak proses yang harus diperhatikan. Dengan memperhatikan diri sebelum dan selama masa kehamilan kita sudah memberikan hak anak untuk bisa sehat di masa depan. Semoga kasus stunting pada anak segera bisa berkurang secara signifikan. Dan pada akhirnya saya merasa beruntung bisa berada di tengah diskusi tentang 1000 HPK bersama Nutrisi Untuk Bangsa. Dan nanti kalau sudah ketemu calon jodoh hal pertema yang saya beri tahu adalah tentang ini. Karena menikah dan hidup berkeluarga bukan hanya tentang kebahagiaan milik berdua tapi juga milik anak-anak di masa depan.



1 comment:

  1. Semangat jadi calon ibu berkualitas ya, Mba Indah.
    Semoga kelak dapat orang Korea agar si kecil bisa bervariasi keragaman pengetahuannya 😄😄

    ReplyDelete