Thursday, 29 August 2013

Pernikahan di Sleman

Pernikahan, tidak pernah terpikir sedikitpun akan menghadiri sebuah pernikahan dalam perjalanan hijrah sementara saya. Namun siang itu, 18 Agustus 2013 tiba-tiba saja seorang kawan di studio berkunjung ke kost kami. Waktu itu Mbak Eka, yang menjemput mbak Sri di bawah. Setelah itu terdengar suara percakapan antara Tata, Mbak Eka, dan Mbak Sri yang salah satu diantaranya adalah menyebutkan bahwa akan mengundang kami di acara pernikahannya dan menanyakan kapan kepulangan kami ke Surabaya. Saya yang waktu itu sedang mandi pun rasanya tersambar petir. Cepat-cepat saya keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan percakapan itu. Percakapan tentang bagaimana seorang wanita istiqomah memperbaiki diri sembari menunggu dipertemukan dengan Jodoh. Pelajaran dari seseorang yang dalam diamnya memperbaiki diri dan tidak banyak bicara tiba-tiba mengantarkan kabar gembira tentang pernikahannya. 
Seketika ingatan saya melayang pada materi mengaji sore sewaktu SMP dengan kitab tua bertuliskan huruf arab gundul yang berisi tentang hak dan kewajiban suami istri. Melayang juga pada buku-buku menganai pernikahan yang pernah saya lahab walau saya belum waktunya menikah. Tapi beruntung sekali rasanya mempelajari itu semua, ya hitung-hitung sebagai bekal. Saat dapat undangan pernikahan saya selalu berpikir berulang kali untuk menghadirinya atau tidak, jujur saya ini takut untuk mendatangi sebuah pernikahan apalagi pernikahan teman sebaya. Namun kali ini perasaan yang seperti itu hilang. Sungguh saya sungguh beruntung, hijrah saya yang untuk Kerja Praktek ini mendatangkan berbagai pelajaran dan bekal, lengkap rasanya karena tidak hanya bekal mengenai keprofesian saya yang saya dapat namun bekal mengenai bagaimana harus bersikap sebagai wanita juga. Bekal untuk fungsi publik dan domestik wanita. 
25 Agustus 2013, tiba hari pernikahan kawan saya itu. Pagi harinya pun ketika saya tidak jelas harus tinggal di mana juga memikirkan, ah pastinya teman saya sedang berdebar menjalani akad nikah. Siangnya setelah menumpang mandi di kost Mbak Eka kami (saya, Tata, Mbak Eka, Mas Ridho, dan Mas Azan) bersama berangkat ke resepsi pernikahan Mbak Sri di Jalan Magelang. Ah, benar saja di sana aku begitu terpukau melihat seorang teman yang dalam balutan gaun pengantin cantik nan wangi. Untuk kali ini sayang sekali saya tidak punya foto bersama di kamera saya. Jadi saya berfoto narsis ceria sama mereka, hehe...


Istighfar dulu deh yg lihat :p
Setelah pulang dari sana, karena ini adalah hari terakhir saya dan Tata bisa bercengkerama dengan mereka, jadinya sungguh saya masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Setelah berpusing-pusing ria enaknya kemana jadinya diputuskan saja untuk duduk santai di teras kost sambil makan lotis (yang sesungguhnya di Surabaya itu disebut rujak manis atau rujak buah). Hai teman-teman, tahukah kalian bahwa saya sangat bersyukur mendapatkan cinta baru oleh orang-orang seperti kalian. Semakin memahami bahwa menjadi Planner bukanlah sebuah pekerjaan tapi pengabdian dan perwujudan tugas sebagai khalifah di muka bumi, malu rasanya jika setelah ini mencoba murtad dari tugas sebagai seorang Planner, semoga pemahaman ini dirasakan juga oleh Planner dan Calon Planner yang lain. Keluarku dari zona nyaman yang ternyata sangat merasakan nyaman di tempat hijrah yang baru selama ini membuat saya memahami syair dari Imam Syafi'i yang sangat saya sukai, ya meskipun saya selama ini masih punya nasib di kota ini. 

Foto Oleh: Mbak Eka :D
Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang
Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman

Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan


Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.

17 Agustus, Borobudur dan Puncak Suroloyo

Hari ini katanya diperingati sebagai hari kemerdekaan Negaraku dari penjajahan negara lain 68 tahun yang lalu. Hari ini juga hari sabtu pertama setelah kembali dari Surabaya untuk menunaikan kewajiban Kerja Praktek yang tinggal sedikit lagi. Tanggal merah itu harusnya libur kan? nah, oleh karena itu ba'da subuh tapi jam 6 pagi haha... Saya dan Tata memutuskan libur dari studio dan pergi ke Magelang, ingin tahu candi yang menjadi warisan budaya dunia itu. Sumpah bukannya cupu, tapi saya benar-benar belum pernah ke Candi Borobudur. Dari kost ke sana cukup jauh juga sih, tapi bukannya lebih jauh Surabaya ke Borobudur ya? Haha jadi saya oke oke saja untuk memutuskan pergi ke sana. Berbekal rute yang saya dapat dari google maps dan teori "Nyasar Adalah Bagian dari Petualangan" saya dan Tata nekad pergi. Rute yang disarankan google sih cukup jauh jadi saya bikin rute saya sendiri di google dengan teori pitagoras. Anehnya rute yang disarankan google itu lebih jauh tapi waktu tempuh lebih singkat dari rute saya yang jaraknya singkat tapi waktunya lebih lama. Setidaknya itu kata google maps. Saya sih tidak serta merta percaya pada google. Haha... Tapi tapi. Yah nanti lah ceritanya dan beginilah rute ke Candi Borobudur. 
Rute yang disarankan Google Maps

Rute yang saya bikin sendiri
Kenyataannya, rute saya yang pitagoras itu benar-benar membutuhkan waktu lebih lama daripada rute awal yang lebih jauh. Sumpah deh saya gak mau macam-macam sama google. You know what? Ternyata rute saya itu melewati perbukitan ditambah acara nyasar. Aaaak... Keren kan? Tapi kalau gak lewat rute itu paling saya tidak akan pernah mencapai puncak Suroloyo. Haha... FYI, Candi Borobudur ini terletak di Magelang lho bukan Jogja. Terkadang masih sering ada yang salah kaprah. Memang sih letaknya dekat sekali dengan batas Jateng-DIY. Anda cukup membayar 30ribu rupiah untuk masuk di candi yang didaulat sebagai warisan budaya dunia itu. Tasirok-sirok darah awak waktu melewati tulisan Selamat Datang di Jawa Tengah dan batas DIY yang ada di Kalibawang.
Batas di Kalibawang, Kulon Progo
Ternyata Nyata Keren

Kelihatan Bukit-Bukit ya :D
Oh ya, di sini ada museum yang keren. Menceritakan tentang sebuah kapal yang melakukan ekspedisi ke Romawi, Arab, Nusantara, dan Cina. Nama kapal ini adalah Samudraraksa atau Pelindung Lautan. Wiiih.... keren sekali. Bisa juga lho masuk ke kapal ini tapi ongkosnya berat bro :( 100.000 rupiah. Mana waktu itu itu cuma bawa duit yang cukup buat makan, bensin, dan tiket masuk Candi Borobudur. Ah ngefans sekali sama kehidupan lautan. Seperti saya yang selalu terkagum juga dengan Pinisi. 
Samudraraksa (Pelindung Lautan)
Setelah lelah muter-muter, kami piknik di rerumputan sambil nyemil bikuit gratis dari kost dan minum yang bawa dari kost juga. Haha... Sudah hampir duhur tiba, kami ingin menginjakkan kaki di Puncak Suroloyo, yang signagenya kami lihat saat mencari jalan ke Borobudur di perbukitan. Tulisannya berlogo Indom*e dan bertuliskan sekitar 10Km lagi dengan medan yang pastinya seru, menanjak, dan harus masuk perseneling 1. Oh sebelum itu kami mengisi amunisi dan semangat dengan presensi sholat duhur dulu. Brrr.... Air Suroloyo adem dan enak bro... 
Menurut sumber yang saya dapat Puncak Suroloyo ini merupakan pertapaan Raden Mas Rangsang yang selanjutnya diberi gelar Sultan Agung Hanyorokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang. Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yosodipuro yang ditulis pada abad ke 18, Sultan tersebut mendapat dua wangsit, yang pertama bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa sehingga dia berjalan dari Kotagede ke arah barat sampai pada Pegunungan Menoreh, kedua bahwa ia harus melakukan tapa ksatrian agar bisa menjadi penguasa.Ya begitulah ceritanya, tapi yang lebih keren di sini adalah saat perjalanannya saya menoleh ke arah belakang, dan Subahanallah saya seperti melihat sebuah peta kontur secara nyata. Gambar yang saya abadikan sama sekali tidak dapat menggambarkan apa yang dilihat oleh mata saya. Datang sendiri dan Agungkan nama Tuhan. Yang jelas, saya kurang beruntung waktu itu. Kurang beruntung saja, saya udah terkagum seperti itu. Ya kurang beruntung karena kabut tebal, jika tidak maka dari sana kita dapat melihat puncak Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, dan Merbabu. Gunung, ah I love gunung, kita juga bisa melihat Borobudur dari atas sana. Sungguh kamu harus mencoba sendiri ke sana apalagi jika kamu warga DIY, kenali jati diri DIY sob. Cukup cukup terseponanya, hehe... saya mau berbagi foto ketika disana. Satu lagi bukti bahwa nyasar adalah bagian dari petualangan. 
Foto oleh D Indah Nurma
Foto oleh timer :p

Dari tempat saya duduk

Folo oleh Eta Rahayu

Bonus yang Lain Bersama Jogja Plurker

27 Juli 2013
Hari-hari sebelumnya saya sama sekali tidak berniat datang ke acara bka bersama Jogja Plurkers. Oh iya sebelumnya kalau yang belum tahu, Plurk itu semacam sosial media dan saya sendiri telah menggunakannya sejak tahun 2010. Anehnya entah mengapa sejak awal membuat akun, teman-teman saya banyak yang dari Jogja bukan dari Surabaya. Salah satunya adalah Pramudya Arif Dwijanarko, seorang mahasiswa UGM (sekarang sudah lulus), tidak menyangka akan banyak bertukar pikiran dan mengispirasi. Hehe... Plurk ini juga yang tetep menyatukan komunikasi saya dan Jhoqwan saat Koprol bubaran.
Puasa di tahun-tahun sebelumnya biasanya mengadakan buka bersama teman-teman netizen juga, biasanya bersama Surabaya Koprol Community (Sukoco), tapi hari ini saya di tempat hijrah di perantauan sementara yang saya kira akan susah mendapatkan teman baru. Tiba-tiba Jhoqwan menanyai saya akan ikut atau tidak ke acara bukber, dan dia lebih tepatnya mengajak sih. Seketika berubah pikiran untuk ikut saja. Takut sih awalnya, tapi konyol juga kan saya sudah pernah merasakan bagaimana kopdar pertama waktu sama Sukoco. Haha... tapi tetap saja dag dig dug, halah. Tidak menyangka ternyata semuanya menyenangkan. Di sini juga berhasil membuat saya memakan keripik belalang dari seorang pengusaha, yang katanya bukan trainer | bukan motivator | bukan konsultan Mas Gandhung namanya. Sebuah rumah makan di Jalan Patangpuluhan Yogyakarta, saksi dipertemukan saya dengan banyak teman baru, teman yang selama ini namanya selalu bergeliat di linimasa saya.


Foto-foto oleh teman-teman Jogja Plurker
25 Agustus 2013
Saya kira kesempatan untuk ketemu anak-anak Jogja Plurker akan udahan di hari kopdarnas itu, ternyata tidak. Hari ini setelah idul fitri ada acara syawalan bersama mereka di sunmor UGM. Lucunya acara ini kita duduk bareng beralaskan koran di pintu masuk Fakultas Psikologi UGM, jadi setiap orang yang lewat selalu melongo ingin tahu apa yang sedang kami lakukan, apakah pengajian bersama? haha... Ceritanya pada hari itu saya lagi banyak acara dan lagi dalam keadaan menyedihkan, ah sudahlah di lain postingan saja saya akan cerita soal ini. Kalau sebelumnya saya diajak-ajak untuk ikutan kali ini saya malah sengaja menyempatkan hadir meski cuma sebentar, karena sekalian ingin berpamitan pulang ke Surabaya. Sedetik di mata sih tapi Insya Allah selamanya di Jiwa. Terima kasih teman-teman Jogja Plurkers sudah boleh bermain bersama, haha... Naluri netizen itu tidak enak kalau tidak kopdar. Yang ini gak ikut foto bersama karena udah pulang duluan.
Oleh-oleh dari Jogja Plurker

Taman Nasional Gunung Merapi (Versiku)


Selalu terpukau dengan gunung. Seperti saat pagi hari melihat ke arah selatan di Surabaya, terlihat Arjuna dan Anjasmara jika penuh ada Bromo pula terlihat. Terpukau sekali lagi pada mereka saat bersantai di lantai 7 rooftop gedung perpustakaan kampusku. Tapi kali ini benar-benar berbeda, bukan terpukau lagi, takjub luar biasa seakan Merapi dapat kusentuh. Setiap hari selama delapan minggu hijrahku, aku menikmatinya mambawaku selalu mengagungkan nama Tuhanku. Rasanya aku ingin benar-benar menghampirinya. Aku menyukainya setelah Arjuna, Merapiku. 
Hari minggu entah minggu keberapa dalam hijrahku, yang kuingat hanya setelah tata pulang ke Surabaya dan meninggalkanku sendirian. Hari minggu itu pukul sembilanan menurut jamku yang diragukan keakuratannya. Kami putuskan untuk mencari tahu ada apa di ujung utara Jakal (Jalan Kaliurang).Yang kutau ada tulisan Taman Nasional Gunung Merapi. Ah berarti ini adalah bagian dari Merapi yang membuatku terpukau itu. Di jalan kulihat plang sepertinya menunjukkan nama tempat rekreasi, ada yang bertuliskan Museum Gunung Merapi ada yang menuliskan Tlogo Putri, ah kesemuanya berbeda arah. Kuputuskan untuk mengikuti arah ke Museum Gunung Merapi.
Di jalan biar kelihatan seperti anak touring :D
Setelah dari gambar itu ada signage untuk menuju museum, ikuti saja jangan takut tersesat itu prinsip saya karena nyasar adalah bagian dari petualangan. Haha...
Dari pintu gerbang inilah wajah gedung Museum Gunung Merapi
Dilihat dari bentuknya dan kondisi yang sedang renovasi, sempat berpikir kalau akan kecewa dengan tempat ini. Yasudah kita masuk saja, di loket terdapat 2 kegiatan yang memerlukan tiket. Pertama untuk menikmati museum itu sendiri dan yang kedua adalah untuk melihat film mengenai Merapi yang diputar di sebuah mini teater di dalam museum. Karena sudah sampai sini, kami putuskan untuk melihat film sekalian. Kalau tidak salah ingat sih kesemuanya masing-masing kami harus membayar 8ribu rupiah. Hehe.... Mari kita lihat kejuatan apa yang ada di dalam museum.
Foto Oleh Eta Rahayu
 Cerita di dalam sini yang paling saya garisbawahi adalah bagaimana kita berterima kasih pada Tuhan karena Merapi telah memberikan waktu pada manusia untuk mencari hidup di dalamnya dan menikmati keindahannya. Jadi hendaknya manusia juga memberikan waktu pada merapi untuk melakukan kegiatannya saat ia mulai batuk. Keluar dari teater mulai masuk ke museum-museumnya bisa lihat seperti yang di bawah ini.
Seperti ngeluarin kekuatan ala film Indosi*r 
Abaikan gambar di atas, haha... Tapi daku sangat tergoda untuk foto dengan pose itu. Ah kukira tak akan menemui sesuatu yang menarik tapi ternyata semuanya menarik. Dari dalam sini kita bisa melihat morfologi Merapi, bagaimana letusannya, ah cocok banget nih buat belajar. Ada peta Indonesia dan peta dunia gede yang menunjukkan di mana titik-titik gunung api aktif. Bisa dipencet nanti lampunya nunjukin letaknya. Keren kan? haha...
Bola dunia raksasa
Foto oleh timer kamera
Ada sesuatu, haha...
Yang di bawah ini kamu dapat mengetahui aliran lahar dinginnya dari erupsi-erupsi besar yang pernah terjadi.
Ini keren entah skala berapa
Setelah terkagum-kagum kami melaksanakan sholat duhur dulu, kemudian berbekal peta Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang dibuat signagenya di jalan kami melanjutkan perjalanan menuju Tirtonirmolo dan Tlogo Putri. Ada apa ya di sana? berharap bisa melihat Merapi dari dekat, ah kurang beruntung karena ditutupi kabut. Oh ya, waktu itu mulai hujan abu juga. Di sana sebenarnya ada gardu pandang dan Goa Jepang, banyak monyet liar juga. Yang itu saya takut, tapi kalau Orangutan saya suka :D haha... bersantai sejenak lah ditengah para monyet dan pemandangan yang subhanallah... sebelum menuju ke Goa Jepang. Berhasil atau tidak kami menuju Goa Jepang yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dengan track tanjakan? Hahaha tidak berhasil bung! eman ya? Iya soalnya perjalanan ini waktu puasa takut batal :p Sebenarnya di Kaliurang ini banyak villa sudah sejak jaman Belanda dulu. Para pejabat Belanda menggunakannya sebagai tempat istirahat dan bersantai karena memang di sini indah dan sejuk sekali.
Tirtonirmolo

Lupa nama bukit ini
Tlogo Putri
Kalau gak nekad ga bakal tau tempat-tempat ini nih. Puasa bukan halangan untuk ngetrip dan nyasar. haha...

Wednesday, 28 August 2013

Jalan Lurus Menuju Pantai Parangtritis

Kali ini saya akan mereview perjalanan yang bukan dalam tujuan berwisata tapi di tempat wisata. Seperti yang saya ceritakan dari postingan sebelumnya di Delapan Mingguku Berhijrah. Tidak melarang juga kalau kali ini dibilang mencari kesempatan di dalam kesempitan. Memang benar ya, mungkin sempit menjadikan fokus tersendiri.
Ini adalah weekend pertama dalam hijrahku. Sudah menjadi keinginanku untuk mengenal lebih jauh tempatku berdomisili sekarang meski hanya sementara. Empat kabupaten dan satu kota, rasanya tak masuk akal kalau provinsi yang tak boleh disebut provinsi ini punya banyak sekali objek menarik, tapi subjek yang menarik gak kalah banyak lho... heleh #eh haha... Syudah syudah.
Siapa yang tak tau Pantai Parangtritis? Pesonanya yang mungkin mulai digeser oleh pantai-pantai keren yang berjajar di Kabupaten Gunung Kidul. Saya yang sejujurnya baru pertama kali melihat Jogja pada tahun 2011, jujur juga baru kali ini melihat Pantai Parangtritis secara langsung. Tak apa, bukannya kita tak boleh meremehkan ciptaan Tuhan? Setiap yang diciptakan bukannya selalu membawa manfaat? Cukup buat saya membuncah ingin segera melihat banyak air dan deburan ombak.
Kala itu, seorang rekan kerja saya di Studio Hore Embung Tambak Boyo (Studionya pak Edy maksudnya), mbak Nita memberi ide pergi ke Parangtritis. Tanpa babibu, langsung saja saya menghubungi teman-teman yang lain. Naluri planologi gak pernah pikir panjang soal mengambil perjalanan. Haha...  Sebagai ucapan terima kasih kuminta Tata mengajak Elisa yang hari pertama di Jogja sudah mau menampung kami di kostnya. Lah... motornya cuma satu. Gak kehabisan ide, kuhubungi kawan lamaku dari Padang yang sedang mengerjakan proyek teknik sipil di Godean. Minggu jam 1 siang kami sudah siap tancap gas motor untuk pergi ke sana, tentunya sebelumnya udah kepo jalan di maps dong. Jalannya gampang dari Jalan Raya Parangtritis lurus aja ikutin jalan sampai ketemu yang namanya Pantai Parangtritis.
Mari kita lihat, ekspetasi gak sesuai sama kenyataan. Tadinya saya yang bermotor sama Jhoqwan bisa bercandaan di jalan lama-lama diem, kehausan,dan mulai panik cari indom*rt dan sejenisnya buat cari minum. Haha... Masya Allah panjang bener ini jalannya. Mau posting foto jalan nih, tapi gak kefoto waktu itu. Maap yaa.. hehe.
Nyampe sana langsung sholat asar dulu brader, bolehlah sesekali berpetualang tidak boleh diganggu sama urusan kuliah tapi berpetualang jangan sekali-sekali mengalahkan urusan laporan pada Tuhan. Sudah lama sejak bulan Juni 2012 di Pantai Karanggongso tidak merasakan harus berbicara teriak karena deburan ombak mengalahkan desibel suaraku. Ini pantai, tempat baru yang kudatangi bersama orang-orang baru kecuali tata yang kawan klop kuliahku dan Jhoqwan kawan lamaku yang bertemu di 1st Kopfest by Yahoo Indonesia. Selebihnya Mbak Nita dan Riska yang satu studio dan Elisa kawan Tata yang bersedia kami tumpangi kostnya waktu pertama kali ke Jogja. Sambil menunggu Mbak Nita dan Riska datang inilah kegilaan yang kami lakukan. Haha...
Nurutin maunya Elisa naik kuda
Foto oleh bapak pemilik kuda.
Lagi ngobrol malah dicandid sama Elisa. Coba zoom gambar ini, Tata makan kaki orang. Haha...

Saat itu pantai ini benar-benar penuh sesak oleh orang-orang yang berlibur di hari minggu itu. Tiba-tiba pantai ini penuh sesak juga dengan ingatanku tentang foto orang main ATV di sini. Ah sudahlah, bukankah memandang luka hanya membuatku takut melangkah. Mari nikamti hari bahagaia yang penuh cinta ini. Ada sebuah keakraban yang terlihat dari sini. Lihatlah...
Jhoqwan, Aku, Tata, dan Elisa
Baca tulisan itu jadinya malah pengen ketawa
Matahari hampir berselancar ke arah barat, tapi belum juga ketemu sama dua teman yang lain. Teman yang membuatku melangkahkan kaki pergi ke tempat ini. Dan membuatku ketagihan pergi ke tempat lain juga. Deburan ombak punya desibel yang memecahkan sekat kenangan kegiatan yang pernah aku lalui bersama teman yang lain dan di tempat lain. Meski belum banyak tempat yang aku kunjungi. Semuanya selalu berhasil meluluhkan hatiku untuk menghargai setiap kenangan bersama teman lama atau baru di tempat lama atau baru.
Ini akhirnya ketemu juga diantara kerumunan
Yang ini enggak banget di Pantai Depok
Wah wah... ada yang kelupaan. Lupa di jalan pas mau ke Pantai Depok kita lewat gumuk pasir. Subhanallah... ini sesuatu yang kulihat secara langsung bukan lagi di gambar-gambar saat kuliah di kelas. Gumuk pasir yang punya banyak fungsi penting dan harus dilindungi. Ternyata gumuk pasir itu keren ya? Haha... bolehlah anda anggap saya ndeso. Fine fine aja karena memang belum pernah melihat yang seperti itu.
Gumuk Pasir
 Terima kasih Pantai Parangtritis atas pengetahuannya. Dan terima kasih Allah, telah memberikan kesempatan dalam kesempitan ini. Kita lihat kejutan apalagi yang akan saya dapatkan selama di sini? :D

Tuesday, 27 August 2013

Delapan Mingguku Berhijrah

Hijrah berasal dari Bahasa Arab yang berarti " meninggalkan suatu perbuatan" atau "menjauhkan diri dari pergaulan" atau "berpindah dari suatu tempat ke tempat lain." Tapi secara syariat ada tiga makna. Singkatnya yang pertama adalah hijrah (meninggalkan) dari semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Hijrah ini wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama Islam. Kedua, hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang musyrik atau orang kafir yang memfitnah orang yang telah memeluk Islam. Ketiga, adalah hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan negeri atau daerah orang-orang kafir atau musyrik ke negeri atau daerah orang-orang Muslimin, seperti hijrah Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah. Nah sebenarnya hijrah yang menjadi judul saya bukan bagian dari penjelasan tersebut, cuma saya mau tanggung jawab untuk menjelaskan makna yang sebenarnya itu saja. Hehe...
Hijrah saya kali ini tujuannya untuk mencari pengalaman hidup yang lebih di tempat lain untuk bekal hidup yang lebih baik ke depannya. Aamiin... Ada kesempatan, sikat saja bos untuk belajar. Bentar-bentar jadinya begini, saya berhijrah untuk menyelesaikan tugas dari kampus selama 8 minggu menuntut ilmu di tempat orang. Saya pribadi dan teman saya Eta Rahayu memutuskan untuk mencari tempat di provinsi yang sekarang sudah tidak boleh lagi disebut provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya di Kabupaten Sleman, satu desa dengan tempat dari band favorit saya. Di sini saya benar-benar dipertemukan dengan kawan-kawan baru yang menyenangkan. Semoga proyek yang dikerjakan bisa membawa manfaat dan tidak ada yang terdzalimi atas kekeliruannya. Aamiin...
Rasanya pengen mengakhiri prolog ini dan bercerita tentang kesempatan yang saya ambil dari kesempitan waktu dan saya sebut itu "bonus." Tapi tidak tahan juga ingin menceritakan bagaimana perjuangan mendapat kost dan bagaimana setelah 8 minggu tidak punya kost. Ah yasudahlah biar saya simpan saja dan jadi ilmu ikhlas, semoga barokah. Aamiin...