Sunday, 29 September 2013

Pantai Lombang: Surga Tersembunyi di Pulau Madura

 Pulau-pulau kecil (PPK) adalah hal yang membuat saya tertarik. Bodohnya di mata kuliah metodologi penelitian lalu saya tidak berani mengambil tema tersebut.Tapi untuk proposal TA kali ini saya akan mencoba mengambil tema tersebut, tentu saja dengan memohon ridho Allah. Rencananya sih saya ingin penelitian tentang bagaimana mengembangkan Kepulauan Kangean sebagai pariwisata bahari, siapapun yang membaca ini mohon do'akan saya untuk kelancarannya yaa... Terima kasih :D

Baiklah, waktu itu hari minggu tanggal 14 September 2013 yaitu hari dimana belum habis capeknya dari Singapore. Oke sip kenekadan ini saya lakukan untuk kesekian kalinya. Pantai ini terletak di Kabupaten Sumenep, tepatnya di Pojok utara Pulau Madura. Ya, dia satu kabupaten dengan Kepulauan Kangean dan tujuan lain dari perjalanan ini adalah untuk mengenali Kabupaten Sumenep, siapa tahu ada yang mendukung untuk mengembangkan kawasan wisata di Kepualauan tersebut. Partner perjalanan kali ini adalah Yuyung kawan saya sejak SMP. Untuk menuju ke sana, yaaa paling timur dari Pulau Madura. Pokoknya setelah dari jalanan Suramadu sisi Madura ambil ke arah Pamekasan dan ikuti saja petunjuk arah ke Kabupaten Sumenep, ikuti saja arahnya sampai ketemu petunjuk arah ke wisata Pantai Lombang. Atau Kalau ragu ya tanyakan pada Bapak Polisi. Haha.... Maaf yaa kali ini saya tidak memuat rute dari google maps karena dijain gampang menemukan tempat ini, cuma ya gitu jaraknya lebih dari 120 Km. Saya saja hampir 5 jam naik motor bergantian dengan kawan saya itu.
Berangkat pukul 6 nih ceritanya saya keluar dari pagar rumah menjemput yuyung, berbekal air minum 900mili liter dan roti untuk santap siang karena pikir kami kalau beli makanan di sana belum tentu cocok dengan lidah dan kantong kami :p jadilah kami nekad pergi dengan jarak yang segitu wow-nya bagi 2 orang wanita. Berangkat dengan tangki full tapi masuk Sumenep sudah harus mengisi lagi. Waktu itu kecepatan motor tidak ada yang stabil hanya saja sampai ke 100 km/jam tidak lebih. Yang cukup menghambat itu saat masuk pasar dari kecamatan, hasilnya kami bergerak seperti siput sampai keluar dari area pasar. Waktu masuk daerah perkotaannya terasa sekali perbedaannya dengan di perdesaannya. Ada apa ya kok selalu begini? Waktu masuk Sumenep, saya lihat banyak sekali tambak garam dan saya sekarang percaya kalau Madura itu Pulau Garam. Haha...

Pengalaman yang paling saya sukai adalah ketika jalanannya dipinggir laut dan yang di Sumenep itu air lautnya benar-benar biru sodaraaa..... Bayangkan sensari berkendara kemudian di pinggir anda adalah laut yang berwarna biru, kemudian kamu lihat gugusan kepulauan setelahnya. Subhanallah... itu adalah very very very cool meeeeen! Ah saya gak punya fotonya yang ini. Sungguh waktu itu kami sangat terpukau dengan pemandangan seperti ini. Untuk mencapai pantainya kita masih harus berkendar sekitar 30 kilometer lagi dari kotanya. Sabar sabar... ronde menyetir yang kedua, saya digantikan oleh Yuyung. Ikuti petunjuk jalan menuju pantai tiba-tiba dari kejauhan ada tulisan besar yang menandakan kami sampai di Pantai Lombang. Yeay.... akhirnya brooo, dari parkiran motor kita bisa lihat air laut yang biru sekali. Pasirnya lembut dengan vegetasi dominan cemara udang. Keren gak itu sob? Hah beruntungnya tidak banyak pengunjung dan rasanya seperti pantai pribadi lho. Padahal ini hari minggu tapi kok sedikit pengunjung dari pantai yang super indah ini ya? Yuk lah kita intip langsung foto yang sekadarnya dari perjalanan kami ini. Thank you Yuyung for the awesome photo of us.  Semua fotonya bisa dilihat di FB Official of Nui D'Criptograph
Foto oleh: yuyung

Foto oleh: Mas mas pengunjung lain

Foto oleh: Indah
Foto oleh: Yuyung

Sayang sekali fasilitasnya kurang memadai. PR nih buat Dinas Pariwisata setempat. Gazebo ada yang rusak, lalu mushola agak kotor dengan tempat wudhu yang ala kadarnya, toilet dan tempat mandi bilas juga kurang bersih. Tapi, jangan pesimis yaa... Kita pasti bisa meningkatkan kualitasnya kok, saya yakin. Akhir kata, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali nyetir ke sana, dua tiga hari capeknya gak ilang-ilang sob. Hahaha....

Friday, 27 September 2013

Touring Silaturrahim

Postingan ini harusnya saya muat tahun 2012 lalu, tapi karena satu dan lain hal maka baru bisa diposting sekarang. Ini cara kami para mahasiswa menikmati perjalanan mengelilingi hampir separuh Pulau Jawa dalam 5 hari pada Tahun 2012.

Begini Ceritanya
Berawal dari celetukan saat menunggu antrean asistensi di lorong ruang dosen yang akhirnya menjadi kenyataan lebih indah dari yang dibayangkan.  Ya, minggu-minggu akhir perkuliahan adalah saat jantung paling nge-beat mengerjakan tugas yang batas akhir sudah di pelupuk mata. Kegemaran touring (hemat) yang biasanya kami lakukan saat selesai perkuliahan, seperti menjadi candu untuk ingin menjelajahi bumi lagi.  Sebuah perjalanan panjang 10 musafir yang dilakukan dalam 5 hari. Menjadi musafir antar kota dan antar provinsi yang selanjutnya menyusuri perjalanan tiga provinsi dengan duit secukupnya. Suzuki APV L 1280 SZ, tunggangan setia selama 5 hari yang kami dapatkan dari persewaan mobil tentunya. Touring pakai mobil? Pilihan baru yang kami lakukan biar aman saat touring di musim penghujan. Silaturrahim toring, kami menyebut perjalanan ini. Mengapa bisa begitu?   Baiklah mari kita masuk menerawang jauh saat touring lalu.
14 Januari 2012, hari sabtu pagi cerah sesuai request pada Allah saat selesai perkuliahan minggu ke-18 (apakah 18 minggu kuliah sangat membuat mahasiswa tertekan? LOL). 06:00 menunggu lama di salah satu kost teman di daerah Gebang, sesuai dengan perjanjian awal. Lama sudah sampai sekitar jam 8 akhirnya tunggangan kami datang dengan 7 orang lainnya. Tunggangan kami jadi muatan penuh karena diisi oleh 10 orang, nekat memang tapi kapan lagi bisa touring full team.  Melaju dengan pasti tunggangan tersayang menuju Malang. Rumah dua orang kawan yaitu Niko dan Medi  yang juga turut melaju dalam APV biru. Jarum jam yang diragukan kebenarannya dan ketepatannya seperti menunjukkan jam 11 dengan rintik hujan saat sampai di depan rumah Medi.  Seperti yang sudah-sudah, Malang tetap dingin ditambah rintik hujan, seperti menjadi tirai langit yang menjuntai ke Bumi. Tapi di dalam rumah tetap hangat kawan, ditengah keluarga dari kampus perjuangan dan ditengah keluarga yang membesarkan saudara seperjuangan di kampus ITS. Permulaan yang cukup menyenangkan dengan menerka seberapa menyenangkan lagi 5 hari ke depan. Setelah laporan sore pada Tuhan Semesta Alam, kami langsung bertolak ke Blitar dan bermalam di sana sebelum melanjutkan perjalanan besoknya. Hijau hijau  segar ceria, keadaan sore menjelang petang menuju Blitar. Setelah satu semester di tengah perkotaan dan berkeliling kota karena kami Planologi haha…. Saatnya kembali ke alam. Saat sampai di sana masih dalam keadaan hujan. Yang baca jangan iri ya, selain kehangatan keluarga yang sudah pasti kami dapat, kami juga dapat jaminan kesejahteraan. Sejahtera karena banyak makanan saat dijamu di dua keluarga hari pertama ini.
Surabaya – Malang – Blitar (Antar Kota Dalam Provinsi)
15 Januari 2012. Pagi buta hari kedua diawali dengan laporan pada Allah. Sudah dijamu dengan baik, saatnya bercengkerama dengan keluarga besar di dapur sederhana yang khas. Anda tahu saatnya apa ini? Yap yap, saatnya bantu-bantu memasak. Tapi berhubung saya takut merusak cita rasa, saya bantuin cuci piriang saja, hehe…. Blitar udaranya juga sejuk, di rumah kawan ini ada kolam ikannya banyak. Ada sawahnya, ada kebunnya, ada durian runtuhnya yang enaaak. Selama di Blitar, kami melekukan pembantaian masal terhadap lele dan dikubur mati-mati dalam perut. Setelahnya dan sejam kemudian, kami sudah sampai di Kediri untuk mengunjungi rumah  Rifki juga untuk melihat di keluarga seperti apa dia dibesarkan. Selepas dhuhur, kami buru-buru mengejar target sampai ke magetan tak terlalu larut karena harus singgah di nganjuk untuk mengunjungi rumah anis. Jadi, kami bersepuluh mengunjungi rumah kami dan melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Setelah dari nganjuk, perjalanan ke Magetan dimulai. Kali ini tak untuk mengunjungi siapapun, tapi ingin merasakan berlibur bersama. Objek yang ingin kami kunjungi adalah Telaga Sarangan. Bermalam di pengipanan yang Alhamdulillah murah juga.
Telaga Sarangan

Blitar – Kediri – Nganjuk – Magetan (Antar Kota Dalam Provinsi)
16 Januari 2012. Hari ketiga ini menakjubkan, tempat ini mengagumkan. Malu-malu perlahan tapi pasti, di ketinggian ini kulihat matahari terbit perlahan. Hijau hijau segar dan cerah. Bukannya ndeso tapi kutit, haha… Kami berjalan mengelilingi telaga sarangan yang lumayan luas. Beruntung air telaga penuh, jadi semakin cantik pemandangan itu. Bayangkan pemandangan alam indah yang dikunjungi orang yang lama hidup di kota, ya pasti adalah saatnya berfoto. Puas melangkahkan kaki di tempat yang indah ini, kami bersiap menuju Solo. 

Solo oh solo, numpang makan ya. Setelah menunaikan kewajiban siang di Masjid Ageng, saatnya ke Pasar Klewer. Bukan untuk berbelanja, tapi untuk mengisi perut yang berontak sejak pagi. Percaya atau tidak, ini kali pertama mengeluarkan uang untuk makan sejak petualangan kami dimulai. Sudah jauh-jauh ke Solo, tak ada salahnya kita kembali ke sejarah. Menyusuri keraton, dan mendapat cerita serta wejangan untuk mencintai sejarah dari abdi dalem. 
          Keratonnya sudah tutup, berarti saatnya bertolak ke Wonogiri, singgah di rumah tata yang juga pernah aku kunjungi tahun lalu. Peluk hangat dan ciuman dari seorang ibu memang mengalahkan dinginnya dataran tinggi yang diterpa hujan. Kebersamaan dalam rumah, bercengkerama dalam kesederhanaan. Malam ambil lelah kami yang menumpuk tinggi.
Di dalam Keraton

Magetan – Solo – Wonogiri (Antar Kota Antar Provinsi)
17 Januari 2012. Ah… tak terasa hari ini sudah masuk hari ke-empat saja. Di sini gunung di sana gunung di tengahnya ada sawah, haha… pasti ada sungai. Sudah tidak peduli jika dibilang masa kecil kurang bahagia. Meniti jalan  di tengah sawah dan turun ke sungai, main air sampai hati puas. Di sungai pun masih saja membawa kamera untuk berfoto. Sudah basah sudah kedinginan, mandi subuh pun sia-sia. Saatnya naik dan mandi lagi sebelum meluncur ke Yogyakarta kota sejuta cinta dan cerita. Sekitar pukul sepuluh pagi setelah makan, kami baru meluncur ke Yogyakarta. Just intermezzo. Apakah anda tahu mbendes? Itu keadaan tunggangan kami. Berdebu tebal, tapi tak dibersihkan malah membentuk berbagai tulisan dengan menggoreskan jari di debu itu. Masih tidak bisa membayangkan? Inilah fotonya.
Main di Sungai Irigasi di Wonogiri

Mobil Kami Bulukan haha...
Jogja oh Jogja, pukul setengah dua siang baru saja mobil kami menginjakkan roda. Menuju Malioboro dengan berbekal selembar peta wisata Kota Jogja. Hanya berjalan-jalan di Malioboro untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi buah tangan dan mencari sesuatu untuk mengganjal perut yang mulai berontak. Tapi sayang sekali bung… hujan turun tak lama kemudian setelah kami menunaikan ashar di Masjid Gubernur. Cari makan dan terus gagal. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dalam mobil saja, dan ke UGM untuk mencari makan dengan harga mahasiswa. Maghrib di masjid UGM, dan makan ditemani oleh teman-teman yang kami kenal dari UGM. Sekitaran pukul sepuluh tak mau pulang tanpa mengambil gambar, akhirnya setelah makan dan beramah tamah dengan teman-teman, kami langsung menuju tugu untuk berfoto ria. Yang ini masih biasa, tapi setelah ini ada yang tidak biasa. Sudah jam segini diragukan untuk masih bisa mendapatkan Bakpia di pasar pathuk. Dag dig dug, was was, ternyata sudah hampir tutup tempat barang yang kami buru. Sudah memohon-mohon tetap tidak bisa. Dan masnya malah mengantar kami ke pabrik bakpia. Beruntungnya kami, dapat diskon banyak haha…  hari ini membuat dompet yang tipis semakin kosong. Tak bermalam di Jogja kami langsung melanjutkan perjalanan ke Bojonegoro.
Fotonya di Tugu Jogja
Wonogiri – Jogja ( Antar Kota Antar Provinsi)
Tidur bergantian di mobil dan nyetir bergantian melewati jalur gaza yang berlubang dan bergelombang menuju Bojonegoro. Waktu menunjukkan pukul setengah empat dini hari saat kami berhenti di Pom Bensin untuk istirahat. 18 Januari 2012. Hari ke empat dini hari menunaikan sholat subuh di mushola pom bensin yang sudah memasuki Bojonegoro. Pukul setengah lima, ini adalah kali pertama bertamu di rumah orang di waktu yang sangat pagi. Bojonegoro, ini rumah Huda. Disambut dengan baik dan ramah oleh seorang ibu, ya tentu ibunya Huda dong. Lelah karena perjalanan semalaman, akhirnya kami pergi kea lam mimpi sampai menjelang siang. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mengisi perut dulu dengan makanan yang sudah disiapkan ibunya. Ya, hari ini adalah hari terakhir touring kami. Berbekal peta Pulau Jawa kami menyusuri jalanan di tiga provinsi. Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan akhirnya kembali ke Jawa Timur dengan Bojonegoro, Gresik rumah Kiki, dan Surabaya sebagai tujuan akhir.
Jogja – Bojonegoro – Gresik – Surabaya (Antar Kota Antar Provinsi)
Mengungkap rahasia seru dibalik touring, adalah biaya yang kami keluarkan serta desak-desakan di dalam mobil (sewaan) tercinta. Rincian biaya bersih yang kami keluarkan:
·         Sewa Mobil 5 hari                               Rp  1.150.000
·         Bahan Bakar Minyak 5 hari                  Rp     450.000
·         Penginapan di Sarangan 1 malam           Rp     150.000 (Kamar ukuran besar dan kecil)
Total                                      Rp  2.000.000 dibagi 10 orang
Jadi setiap orang dari kami menyumbang 200ribu untuk sesuatu yang menyenangkan lima hari ini. Tentu saja sangat terjangkau karena ada keluarga dari teman-teman yang baik hati. Dan tahu sendiri lah, untuk makan kami Alhamdulillah diberi oleh keluarga teman-teman. Berpetualang seperti ini menarik untuk dicoba, mengunjungi keluarga dari orang-orang yang sudah berjuang bersama di kampus perjuangan ITS tercinta. Ssssttt... Maaf fotonya sedikit saja ya :D

Ada rindu dari tiap jengkal detik yang terlalui
Ada kasih dari tiap tingkah yang tercipta
Ada hangat dari tiap tawa yang terdengar
Ada kenangan yang tercipta dari manis dan pahit langkah kita.
Mari berbagi rindu, kasih, hangat, dan ciptakan kenangan bersama yang lain :D

Dan....
Ada kesan, cinta, dan kagum dari tiap Ibu yang kutemui. Sosok Ibu yang selalu berhasil membuatku kagum :)

Terima kasih untuk Surabaya, Malang, Blitar, Kediri, Nganjuk, Magetan, Solo, Wonogiri, Jogja, Bojonegoro, dan Gresik yang menjadi tempat untuk langkah kami mengukir kenangan dan rindu.
Syukur tiada tara kami persembahkan untuk Tuhan Seluruh Alam yang telah menciptakan Bumi yang begitu indah, yang telah memberikan kesempatan untuk kami merasakan indahnya kebersamaan dalam kesederhanaan.


Sebelum waktu memisahkan detikku detikmu
Sebelum dewasa menua memisahkan kita
Degupan jantung kita akan slalu seirama.


Monday, 16 September 2013

Jurnal Studi Ekskursi di Singapura

9 September 2013
Jujur, ini pengalaman pertama saya pergi melihat dunia di luar negara saya. Sungguh bukan jalan-jalan yang ingin saya dapatkan dalam kesempatan ini. Kesempatan yang sebelumnya sungguh tidak saya ceritakan pada ayah saya mengenainya, disebabkan karena dua hal yaitu saya tidak ingin ayah saya ikut terbebani dalam segala pembayarannya dan saya tidak ingin ayah saya kecewa karena saya ingin mengunjungi negara yang notabene di mata beliau lebih banyak negatifnya. Tapi di mata saya selalu berprasangka bahwa Allah tidak menjadikan sesuatu itu sia-sia, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya. Dan pada kesempatan kali ini saya bersama teman-teman satu angkatan ingin mempelajari tentang transportasi publik mereka. 
Hari ini adalah hari pertama kami, berangkat dari Bandara Juanda dan langsung ke Changi. Setelah sampai di Changi kita langsung membeli Singapore Tourist Pass (STP). STP ini digunakan untuk menaiki transportasi umum di Singapura berulang kali secara tak terbatas. Kartu ini didisain untuk turis yang mengunjungi singapura selama 1-3 hari saja. Harganya 10 SGD untuk satu harinya dan harus menambah deposit sebesar 10 SGD yang akan dikembalikan jika kartu STP ini dikembalikan. Namun jika tidak, maka kartu STP ini bisa diisi seperti EZ-Link biasa.
Sumber: Google (karena milik saya gak saya foto)
Oh ya, beda STP sama EZ-link ini adalah STP ditujukan untuk turis dan EZ-Link digunakan untuk yang tinggal lama di Singapura. Perusahaan yang mengeluarkan kartu ini juga sama dan cara pakainya juga sama, tinggal di tap di mesin pada pintu masuk bus dan saat keluar atau jika di MRT yang tinggal men-tapnya sebelum memasuki dan saat keluar stasiun. 
Setelah masing-masing kami memegang kartu STP ini, kami langsung menuju Fern Loft Hostel di kawasan Little India yang lebih dekat ditempuh jika turun di Farrer Park. Dan hari ini diisi dengan mengunjungi beberapa tempat yang manjadi ikon Singapura karena jika langsung melakukan aktivitas sudah tidak efektif lagi jamnya.Tempat-tempat yang kami kunjungi tentunya di Merlion Park dan menonton pertunjukan proyektor yang ditembakkan di air (Wonder Full) di Marina Bay, di sini cakrawala Singapura akan menjadi latar belakang pribadi anda. Tentunya dengan menggunakan MRT serta SBS Transit. Setelah itu kami kembali ke Hostel untuk istirahat karena esok harinya akan padat kegiatan.
Merlion Park

Bird of Peace


Add caption

Wonder Full

Namun sebelum kembali ke hostel, saya dan sahabat saya Ika Permata Hati memisahkan diri dari rombongan untuk pergi ke Sevel. Sampai di sana, saya malah pengen beli minum air mineral dan you know what? saya ngidam minum air Indonesia, jadilah saya menemukan Aqua 1,5 liter brooo dan saya beli meski harganya hamppir 3 SGD. Haha... Dollar pertama yang saya belanjakan. Dollar kedua saya gunakan untuk mengisi perut dengan membeli kwatiau goreng di warung halal di ujung Jalan Besar (ini nama jalan lhooo). Jauh-jauh pengennya kwetiau goreng, haha.. Yang lebih mantap makanan Ika bro, Mie Kuah dengan kuah kari India, coba kau bayangkan. Haha...

10 September 2013
Hari kedua di Singapura. Ini hari yang sangat padat karena akan mengunjungi tiga tempat sekaligus. Yang pertama adalah di Nanyang Technology University, Land Transport Authority, dan ke Urban Redevelopment Authority. Di tujuan pertama (NTU) kami mendapatkan sharing mengenai kondisi Singapura sebelum jadi seperti ini dan bagaimana untuk memulai perubahan. Ternyata untuk mejadi seteratur itu, Singapura membutuhkan waktu yang lama bung yaitu 40 tahun. Memanai bagaimana sesungguhya sustainable development, yaitu bukan lagi pada tingkat "generasi mendatang masih bisa merasakan hal baik apa yang generasi saat ini rasakan dan temui" namun pada tingkat bahwa generasi mendatang haruslah merasakan keadaan yang lebih baik atas dasar usaha generasi saat ini. Subahanallah, entah ini pemaknaan saya sendiri atau bagaimana. Tapi saya menemukan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik harus dilakukan, tak boleh egois jika kita tak merasakan hasilnya, namun kewajiban kita adalah turut berproses hingga entah pada generasi siapa yang akan merasakan manfaat dari usaha kita untuk menjadikan tempat tinggal kita menjadi lebih baik.

Administration Building NTU

Bus Stop
Nah, tujuan kedua adalah di LTA. Untuk mencapainya kita harus naik MRT dan turun di Little India kemudian melanjutkan dengan jalan kaki sampai ke jalan apa ya? saya lupa. Hehe... Pokoknya kalau ke sana lagi Insya Allah saya masih ingat. Nyah, kabar beritanya tempat ini adalah gabungan seperti Dinas Perhubungan dan Dinas PU pemerintah Singapura. Tentu saja ini sangat menarik, mengetahui seluk beluk transportasi darat di Singapura, bagaimana perencanaannya, tujuannya, ah ya seperti visi misinya gitu lah. Berkunjung ke sini seperti agendanya Pak Jokowi ya? hehe... bedanya Pak Jokowi pakai bertemu pejabat LTA sedangkan kami mengunjungi LTA Gallery dengan tour guide. Terpukau? tentu... karena mempelajari sesuatu yang penting bisa menjadi menyenangkan seperti ini. Jika saya anak-anak, jelas saya akan suka mengunjungi tempat ini.

LTA Gallery
Sampai pada tujuan ketiga kami, yaitu URA. URA adalah semacam otoritas pembangunan kembali perkotaan di Singapura. Untuk mencapai tempat ini, kita menaiki MRT dan turun di China Town kemudian berjalan kaki menuju URA. Di URA ini kami mengunjungi galerinya. Memberikan pendidikan untuk perkotaan menjadi sangat menyenangkan untuk anak-anak. Kalau di Indonesia, generasi mudanya supaya sadar tata ruang ada yang namanya Kader dan Pelopor tata ruang yang dibentuk oleh kementrian PU, tapi di sini anak-anak diajak bermain yaa bisa dibilang game mengenai tata ruang dan itu sangat menyenangkan. Secara tidak langsung bisa membuat generasi muda sadar tata ruang. Jangankan anak-anak, saya yang sudah besar begini saja bahagia banget lihatnya. Singapura dalam dua kata, yaitu "berteknologi tinggi." Indonesia mampu kok jad seperti itu, yakindeh. Asal orang-orang kreatif dari berbagai disiplin ilmu mau bersatu gitu aja. Hehe...
URA
Selepasnya adalah jam bebas, jadi saya dan Ika memutuskan untuk pergi berpetualang sendiri, mengelilingi China Town dan menuju Bugis via Bras Basah, jalan kaki sepanjang Queens Street. Wehehe... Seperti orang hilang, tanya sana sini pakai bahasa Singglish. Sadar diri, tujuan pergi ke Singapura bukanlah untuk senang-senang semata, tapi orang di rumah pasti menantikan yang namanya buah tangan. Betul apa betul? haha... Jadi ya sekalian saja.
China Town

11 September 2013
Sebenarnya hari ini ada satu agenda penting, yaitu pergi National University of Singapore (NUS) untuk berdiskusi dengan dosen arsitektur di sana. Yaitu Bapak Johannes Widodo. Satu hal keren yang saya tangkap adalah mengenai bagaimana pemerintah setempat sangat dapat dipercaya. Sampai-sampai yang paling keren adalah umat muslimnya tidak perlu lagi risau memikirkan berzakat, karena oleh MUI setempat telah mengurusinya dari potongan gaji masing-masing umat islam.
Sorenya setelah dari NUS, kami bersiap pergi ke Sentosa Island untuk menyaksikan Song of The Sea. Sama sih bentuknya dengan Wonder Full, tapi di sini lebih bercerita sih. Yang bikin gak sreg ya pakai nyanyi lagu Anak Kambing Saya yang versi Singapura. It's not good anyway. Secara gitu lagu negara gue dinyanyiin versi yg lain. Aneh wah... Namun di samping itu, kan Pulau Sentosa kecil kan ya? Tapi teratur pula itu pulau sama seperti di perkotaan  Singapura. Wah mereka itu ya, bikin nampar muka saya sendiri. Karena mereka memperhatikan hal-hal kecil pula. Setelah itu, kami pulang ke hostel dan istirahat untuk siap-siap pulang besoknya.

Sebuah Pemaknaan
Siapkah Indonesia terkoneksi dengan sangat baik? Atau malah perlukah? Jangan jauh-jauh dulu. Mari kita bawa ke Kota Surabaya dulu. Ya, sebelum menunggu jalanan menjadi penuh sesak, sudah saatnya dimulai untuk menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, dan murah. Sudah saatnya "tidak menjadi tua di jalan." Ah kamu itu ndah omong doang bisanya. Lhoh bukan begitu, tapi ini pemikiran saya, berharap pula suatu saat bisa terlibat untuk sustainable Surabaya ah salah untuk Surabaya yang berkelanjutan.
Apakah bisa atau perlukan seluruh Indonesia mendapatkan model transportasi publik seperti demikian? Ya tentunya tidak. Indonesia tidak hanya perkotaan bung, masih ada perdesaan serta pesisir. Perpindahan barang dan orang itu pasti, transportasi publik itu perlu. Tak selamanya memiliki transportasi pribadi itu membanggakan, bangga atas siapa? diri sendiri? Justru kebanggaan negara akan tercipta jika mampu memenuhi transportasi yang layak untuk seluruh penduduknya.
Yang seperti demikian membawa saya memikirkan bagaimana penyediaan transportasi publik bagi perdesaan? Untuk menunjang keberlanjutan pertanian Indonesia juga. Yang ini saya belum tahu nih, mungkin ada yang mau sharing? Saya akan sangat senang.
Emmm transportasi publik yang baik berpengaruh pada kesehatan penduduk di dalamnya dan tingkat kemauan untuk berusaha. Bagaimana, benar  tidak? Dan yang lain lagi, yaitu tingkat kemampuan dan kemampuan manusianya untuk on time. Hehe... Karena semua sudah diatur eh teratur. Soalnya kalau pakai transportasi pribadi kan cenderung ya waktu berangkat semau gue. Nah kalau transportasi publik, harus diperhitungkan agar tidak terlambat. Haha...

Cerita Di Balik Layar
Cerita ini bukan bermaksud untuk apapun, hanya saja saya ingin berbagi tentang pemaknaan apa yang saya dapat bagi kondisi iman saya selama melakukan perjalanan di sana.
Pada bab 1 Fiqih, yaitu thaharah sudah jelas kalau ada air ya bersuci dengan air. Sedangkan kondisi toilet di Singapura sama sekali tidak mendukungnya. Namun semua menjadi tertolong oleh sebuah masjid di dekat China Town. Masjid tersebut, jujur saja membuat saya merasa aman dan nyaman. Ini adalah kasih sayang Allah, seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Sholat di penginapan dan tak tau di mana lagi jika keluar. Kali ini menemukan masjid, ya masjid bukan mushola (karena mushola rata-rata tidak ada). Semoga segala amal shalih dan jariyah orang-orang yang mengusahakan masjid dan menghidupkan masjid tersebut diterima dengan baik oleh Allah.
Pada hari ketika ada agenda di NUS, dari kawasan Bugis menuju NUS sudah masuk jam sholat ashar. Belum sholat duhur pula karena saya dan kawan-kawan sulit menemukan masjid. Saat jalan kaki sepenuhnya saya mengucap istighfar karena mungkin shalat duhur dan ashar hari ini akan terlewat. Dalam hati rasanya pengen nangis, apa saya yang tidak sepenuh hati mencari tempat sholat atau bagaimana? Yang jelas saya sangat mengharapkan pertolongan Allah. Dan subhanallah, tiba-tiba ketika dalam perenungan ada seorang bapak di NUS yang menanyai saya sudah sholat atau belum, dan bapak tersebut mengajak saya ke suatu tempat yang digunakan untuk sholat. Anda tahu apakah itu? Semoga anda bersyukur karena tinggal di tempat yang sangat aman bagi kondisi iman anda, karena saya di sana sholat di tangga emergency. Tak selamanya peningkatan iman mesti mengunjungi tempat religius. Saat berada di tempat yang bahkan kau di ujung tanduk mengenai sholatmu dan kau berhasil menyelamatkannya, itu akan membuatmu malu jika dalam keadaan lapang dan mendukung malah mengalami penurunan iman. #notedformyself Apakah orang tersebut benar-benar manusia atau malaikat yang dikirimkan Allah untuk menjawab do'a saya? Wallahu a'lam :)
 
Mushola di NUS

Hari terakhir di Singapura saya mengalami kejadian yang di luar dugaan. Begini ceritanya, jam 8 tepat waktu Singapura kami bersiap pergi ke Changi untuk pulang ke Indonesia. Saya dan kawan saya Ika sudah beres memasukkan tas ke dalam bagasi bus hostel yang akan membawa kami ke Changi. Betapa terkejutnya saya saat sampai di Changi dan tidak mendapati tas saya di dalam bagasi. Oh Allah cobaan apa ini? Semua barang-barang saya ada di sana kecuali surat-surat penting yang selalu di tas kecil saya. Oh Allah apa yang harus saya lakukan? Saya bertanya tak ada satupun yang tahu. Tiba-tiba seorang teman menyeletuk apa tas saya ransel Eiger hitam? Dan saya jawab ya, dia bilang kalau tas itu ada di pinggir jalan di samping  bus kami. Sungguh saya bukan pengidap Short Term Memory  yang gampang melupakan sesuatu yang penting begitu saja, apalagi saya tadi sudah benar-benar menaruhnya di dalam bagasi bus. Oh Allah kenapa harus begini? Bingung? tentu saja karena ini di negeri orang brooo. Kemuadian teman-teman saya patungan untuk ongkos taksi menjemput tas saya yang entah masih ada atau tidak di sana. Terima kasih teman-teman untuk bantuannya. Dan terima kasih kepada teman saya Revi yang telah menemani saya dalam kebingungan itu. Sungguh di dalam taksi, hampir-hampir saya menggerutu kesal kenapa bisa seperti itu, pastilah ada yang mengeluarkan tas saya lagi untuk memasukkan tas lain tapi lupa memasukkannya lagi. Ah sudahlah, ayolah berhenti mencari-cari kesalahan orang lain dan mulai berbaik sangka pada Allah. Sekali lagi terima kasih untuk kawan saya Revi yang mengingatkan saya untuk tidak menggerutu. Sungguh dalam hati saya mengatakan jika itu adalah rizki saya, saya mohon pertolongan Allah untuk menjaganya sampai saya datang mengambilnya kembali. Lagi-lagi saya hampir berprasangkan negatif terhadap Allah kalau pasti tas saya sudah tidak ada di sana. Tapi Alhamdulillah saya ingat bahwa Allah itu sesuai prasangka hambanya, sekuat hati saya mencoba untuk berkhusnudzon terhadap Allah dan kuasa Allah untuk menjaganya. Di sini saya benar-benar secara langsung menyaksikan kuasa Allah dan janji Allah yang pasti dipenuhi. Saat di dalam taksi dari kejauhan melihat tas saya di pinggir jalan dan sampai saya mengambilnya bersama saya seperti ada terikan kuat di telinga saya, "Ini adalah kuasaKu, ini adalah janjiKu yang Aku penuhi terhadapmu. Lantas mau apalagi kau? Tunduklah kepadaKu." Astaghfirullah... Subahanallah... jatuhlah hati yang meninggi, leburlah sombong yang menguap, lelehlah air di mata saya merasakan hati saya diguncang seperti gempa bumi. Sampai sekarang, dalam perenungan saya belum paham apakah ini ujian atau teguran Allah. Maha Suci Allah! #bignotedformyself


Tuesday, 3 September 2013

Mercusuar Sembilangan Pemberi Isyarat Perjalanan Kapal

Foto oleh: D Indah Nurma Tahun 2011


FYI, mengenai lokasi mercusuar ini.  Terletak di Desa Sembilangan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Dari kaki Jembatan Suramadu sisi Madura lurus saja sampai menemukan APILL (Alat Pengatur Isyarat Lalu Lintas) dan signage arah Bangkalan dan Pamekasan. Ikuti saja arah ke Bangkalan kota sampai setelah Bebek Sinjay menemukan APILL lagi belok saja ke arah kiri di Jalan Halim Perdana Kusuma. Kemudian lewat tempat ziarah Kyai Kholil, bertanyalah jika tidak tahu. Ah yasudahlah berikut ini penampakan di goole map untuk rute terbaik yang saya lewati. Kalau masih tidak ngerti bisa tanya saya langsung atau ajakin saya main. Haha..



FYI lagi, mengenai sejarah dari mercusuar sembilangan ini. Dulunya berfungsi untuk mengintai gerak-gerik musuh yang akan memasuki Madura. Oleh karena itu, mercusuar dibangun di pinggir pantai paling barat Madura untuk mengintai kapal musuh yang akan memasuki wilayah Bangkalan dari sisi barat. Oh ya, jika anda melihat desain si mercusuar ini akan sangat mirip dengan yang di Anyer (jika sudah pernah ke sana). Dibangun pada masa yang sama.
Oh ya, perjalanan 1 September 2013 ini bukanlah pertama kali saya ke sini tapi sudaj keempat kalinya. Yang pertama dan kedua waktu saya semester 2 di tahun 2011. Yang ketiga ya di tahun ini juga, itu pun karena ingin bernostalgia pertama kali ke sana. Oh ya, waktu itu bisa menemukan lokasi ini karena ada tugas mata kuliah komputasi perencanaan. Sekilasnya bisa dibaca di blog lawas kami yang berfungsi sebagai logbook http://mercusuarbangkalaninnewconcept.blogspot.com/ dan waktu itu saya yang bertugas untuk menggambar bagian mercusuarnya lho, mulai dari nol dan alhamdulillah nayamul mirip lah.
Hari ini, mumpung liburan jadi sengaja pengen ke sana sama sahabat saya dari SMP, yaitu Nurul Alfiana yang biasanya saya panggil Yuyung. Haha... Pengen menikmati momen liburan di tempat yang saya suka sama sahabat saya itu. Jadilah kami pagi-pagi berangkat ke sana dengan dua buah roda yang seperti kuda bentuknya, tapi kuda besi. Orang bilang sih itu motor namanya. Haha... Di sana itu ada mercusuarnya (pastinya lah...). Terdapat sekitar 18 lantai yang lantai teratas untuk lampu suarnya dan lantai 17 kita bisa melihat ke seluruh penjuru sejauh jarak pandang kita. Di depan berhadapan dengan Pulau Mengare yang merupakan bagian dari Kabupaten Gresik, saya pernah ke sana juga dan di sana ada Benteng Portugisnya, ada pula bunga bangkainya. Lalu perairannya merupakan jalur pelayaran yang sibuk, jadi jangan heran kalau anda akan menjumpai banyak kapal yang berlayar.
Banyak Kapal
Tempat ini memang bukan merupakan tempat wisata tapi dalam perkembangannya, orang-orang mengunjungi tempat ini sebagai objek yang menarik untuk dikunjungi. Dan entah sejak kapan sebelum masuk site mercusuar ada pungli sih, 2000 rupiah untuk motor dan 5000 rupiah untuk mobil. Yaa anggap saja itu shodaqoh. Kalau mau masuk dan naik ke mercusuar memang ada penjaganya dan dipungut biaya juga untuk 1 motor 2 orang sebesar 5000 rupiah. Tidak tahu lagi jika berjalan kaki. Yang jelas naik saja jika sudah di sana, daripada menyesal. Hehe..
Foto oleh: D Indah Nurma
Edit oleh: Nui D'Criptograph
Di atasnya adalah lampu suar
Foto dan edit oleh: Nui D'Criptograph
Foto oleh: Yuyung
Foto oleh: saya :D
Sebenarnya tujuan ke sana adalah untuk duduk-duduk di atas, melihat laut biru, dan kapal-kapal yang berlayar, mau menghilangkan galau, haha...Tapi gagal total bro. Itu semua karena tiba-tiba saja ada segerombolan orang jayus tanya-tanya tentang tempat tersebut dan DIY, buyarlah semua. Yang kedua, ada pengunjung dari Jakarta yang minta poto2 bareng, waaah ada apa ini minta poto bareng? Apa saya selebriti yg lupa ingatan? haha... Kacau lah pokoknya, udah gak mood buat duduk-duduk menikmati lautan dari atas sana, sehingga saya memilih poto-poto sajalah, lho gak mood kok malah pilih foto-foto? :p Yasudah kami langsung turun dan melihat-lihat sekitar mercusuar lalu segera pulang. Kalau pulang tak lupa mampir ke tempat makan yang sedang naik pamornya. Yaaa apalagi kalau bukan Nasi Bebek Sinjay :D FYI, seporsi sekitar 18.000 rupiah (ini harga kalau tidak/belum redenominasi ya). Lalu pulangnya, saya tercengang kagum luar biasa. Dari pulau ini saya melihat gunung kesukaan saya lebih terlihat gagah. Melongo brader sepanjang perjalanan pulang. Sumpah saya baru tahu gunung itu bisa terlihat dari sini bahkan lebih mengagumkan.


Foto-foto dan edit oleh: Nui D'Criptograph

Ini gunung yang saya maksud
Yuyung di Bebek Sinjay