Sunday, 23 February 2014

Nostalgia Masa SMP

Hari ini rasa rindu itu sekali lagi menyergapku kembali, seakan merengkuhku pada masa aku disebut anak baru gede. Jika orang-orang mengatakan masa yang paling indah adalah masa di SMA, itu tidak berlaku bagiku. Masa terindahku adalah masa SMPku. Tentu hal ini tadak serta merta kusadari begitu saja saat aku tumbuh di masa SMA. Akhir-akhir ini beberapa semester belakangan semenjak hobiku menjadi suka aneh-aneh, ya hobi mendatangi tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah atau suasana nyaman. Tentu tak semuanya begitu, kadang di tempat yang tak indah atau nyaman juga memberiku pemahaman baru mengenai takdir yang harus kupetik hikmahnya. Tak semua tempat-tempat itu kudatangi dengan sengaja, tapi betapapun ketikdaksengajaan juga telah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Itu pula yang mendasariku terus bernostalgia dengan ingantanku sendiri ternyata betapa berharganya  masa SMP yang pernah kulalui dulu.
Bukan sebuah SMP negeri yang dieluh-eluhkan oleh anak baru gede yang pasti bahagia minta ampun ketika mereka diterima di sana, atau sekolah swasta yang tersohor dengan segala fasilitas mewah di dalamnya. Sekolahku adalah sekolah swasta Islam yang dinaungi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dalam sebuah yayasan bernama Taman Pendidikan Wachid Hasyim Pusat. Dalam ingatanku tak pernah kutemukan hal yang merujuk pada keinginan masuk SMP negeri seperti kawan-kawanku di Sekolah Dasar dulu. Entah mengapa, mungkin saja aku terpengaruh oleh masa kejayaan kakak laki-lakiku yang sama sekali tak pernah membuat ayah mengeluarkan uang untuk menyekolahkannya di sana. Aku iri padanya, pada kecerdasan yang dianugerahkan Allah padanya sampai bisa membuat ayah dan ibu bangga. Yang jelas kuingat cuma aku tak ingin salah langkah dalam pergaulanku yang dalam usia selepas Sekolah Dasar, aku butuh sesuatu lebih dari sekadar pelajaran Agama Islam di dalam kelas. Kupilih SMP Wachid Hasyim 1 Surabaya sebagai tempatku menyerap ilmu dari pengajar-pengajar berhati mulia.
Kala itu kuperhatikan tetangga ataupun orang yang kukenal bersekolah di sana bukanlah sebuah pilihan ikhlasnya, hanya karena tak berhasil menembus sekolah favorit di kotaku. Aku sempat takut juga, jangan-jangan ini keputusan yang salah. Hari-hari awalku tak ada yang istimewa, hanya aku masuk kelas 7 A yang dulu dikenal sebagai tempat murid-murid cerdas digembleng dengan lebih keras. Ya, darimana lagi kudapatkan cerita begitu jika bukan dari kakakku. Sesaat aku merasa senang karena merasa akan mendapat gemblengan yang sama dengan kakakku itu. Sampai pada hari setelah Masa Orientasi Siswa terdapat pengumuman pembagian kelas yang sebenarnya. Aku tak percaya kalau aku digeser di kelas C. Alamak... Tidak apa, kupikir penggemblengan di sekolah ini pastilah adil untuk semua siswanya. Ternyata pembagian kelas sudah berdasarkan kemampuan baca tulis Al-Quran yang dilakukan saat MOS, dan kelas kami termasuk kelas yang lancar. Setidaknya dari penuturan beberapa guru, kelas ini bisa dibilang kelas khusus. Di sekolah kami kelasnya memang dibagi berdasarkan hal tersebut, bukannya tidak adil memisahkan yang sudah lancar atau yang belum tapi itu justru hal paling adil karena mendapat metode belajar yang sesuai dengan masing-masing kondisi kelas.
Biasa saja tak ada yang istimewa kupikir, tak ada jam olah raga sebelum jam 7 dan tak ada pulang jam 5 untuk kelas tambahan bagi kelas khusus. Kecuali aku harus membiasakan diri untuk upacara hari senin dan taqorub ilallah pada senin berikutnya. Semua dilakukan bergantian masing-masing senin, jika senin ini kami upacara berarti murid SMA dan SMK sedang taqarub ilallah begitu pula sebalikanya. Karena kondisinya memang sekolah kami memiliki SMP, SMA dan SMK. Pembiasaan itu juga pada saat aku harus sabar menjawab bahwa aku mengenakan seperangkat logam aneh pada gigiku untuk memperbaiki kondisi gigi ba’da gigi susu yang kacau balau bagai satu pleton pasukan yang tanpa komandan. Lama-lama kunikmati juga sistem sekolah baruku ini. Sampai kutemukan teman-teman yang lengket bagai permen karet yang hilang rasa manisnya setelah dikunyah, bedanya lama kami berteman semakin lengket dan semakin terasa manis.
Macam-macam pula tingkah pola kawan-kawan saya di kelas, termasuk kejadian yang memilukan hatiku. Seorang teman dari etnis Cina namun beraga islam ada di kelasku. Semakin dia terlihat Cina karena tidak mengenakan jilbab. Oh iya di sekolahku meskipun sekolah Islam tidak mewajibkan murid wanitanya memakai jilbab, awalnya memang agak protes tapi aku tahu mereka membebaskan bukan tanpa sebab. Mungkin teman-teman tak terbiasa dengan dia yang satu-satunya berbeda garis muka dan warna kulitnya sangat mencolok. Terus terang aku senang memiliki teman dia, apalagi terbiasa hidup bertetangga dengan etnis Cina yang bahkan memiliki agama yg tidak ada di pelajaran IPS. Hal itu juga mengingatkanku pada masa Orde Baru akhir yang beberapa orang tua tetangga Cinaku itu menyuruh anak-anaknya memilih agama di dalam pelajaran IPS agar bisa bersekolah. Yap, meninggalkan kepercayaan mereka sedari nenek moyang mereka. Ah kembali pada masa SMP saya. Beberapa orang memanggilnya dengan sebutan ‘tacik’ yang kutahu itu sangat mengganggunya, kutahu juga pasti teman-teman tak bermaksud menghina justru mereka ingin akrab. Mungkin caranya salah bagi temanku itu. Suatu ketika mungkin dia jenuh terganggu terus menerus, hinga dia bolos sekolah. Tentu aku sangat iba, tapi aku tak mau dianggap jadi pahlawan kesiangan yang sok-sok’an menepuk pundaknya. Sering kali aku bersama kawan lengketku menyambangi rumahnya untuk berbincang dengan orang tuanya dan dengan dia juga tentunya. Pada akhirnya keputusan harus diambil, temanku memutuskan untuk keluar dari sekolah itu. Aku merasa bersalah dan malu karena mungkin juga turut menyakiti hatinya. Semoga dia memiliki kehidupan lebih baik sekarang dan menjadi muslimah yang baik tentunya. Ampuni kami yang belum mampu dewasa ini Yaa Allah.
Itu salah satu ceritaku yang paling aku ingat karena rasa bersalah.
Mari saya ajak menengok apa saja hal berharga dari sebuah sistem pendidikan di SMP saya yang melekat sampai ke hati dan ingatan saya saat ini. Tentu saja mengenai sistem pendidikannya juga seperti yang saya sebutkan di awal. Selain itu masih lekat bahwa ada shodaqoh rutin di hari senin dan kamis, akan ada petugas yang mengambil di masing-masing kelas saat jam pelajaran pertama. Tentunya seusai do’a dalam Bahasa Arab yang kami panjatkan bersama, do’a sederhana yang tidak main-main maknanya. Saat kelas 8 ada sistem baru dalam sekolah, setelah do’a belajar sebelu memulai pelajaran ada tilawah bersama yang dipimpin dari pusat dan diulang sebanyak 3 kali dengan harapan semua murid bisa membacanya dengan lancar dan tartil. Kulihat ada yang ogah-ogahan ada pula yang bersemangat. Tentu aku termasuk yang tengah-tengah, yang penting ikhlas pikirku.
Di bulan Ramadhan jam belajar dikurangi tapi ditambah mengaji sore. Masing-masing kelas punya jadwalnya sendiri. Mengaji ini bukan mengaji Al-Quran tapi kitab yang judulnya saya lupa tapi mengajarkan tentang berkehidupan dalam Islam. Seperti biasa yang paling saya ingat adalah pelajaran mengenai hak dan kewajiban istri dan suami. Haha bekal nanti lah. Tapi saya selalu datang setiap hari, bagi saya suasananya sangat patut dirindukan. Di luar itu tentu ada pelajaran-pelajaran Qurdits (Al-Quran dan Al-Hadits), AA (Aqidah Akhlaq), Fiqih, Tarikh Islam, Bahasa Arab, dan serangkaian pelajaran umum lainnya. Banyak ya? Tentu saja karena karena jam belajarnya mulai dari hari senin sampai sabtu jam 6.30 sampai jam 4 sore. Di hari minggu tentu adalah hari ekstra kurikuler. Apakah saya merasa bosan? Ternyata tidak, justru ingin cepat-cepat menikmati pelajaran demi pelajaran.
Saya masih ingat Bu Chaula, guru Bahasa Indonesia saya  di kelas 7 yang  mewajibkan kami menulis menggunakan huruf bersambung, alamak tulisan saya yang tak karuan makin tak bisa terbaca. Justru itu yang membuat pelajaran ini berkesan. Ada juga Bu Sochifah, guru geografi yang berhasil membuat saya mengingat jalur busur gunung api dunia. Pak Choi guru Sejarah yang bagi saya cara mengajarnya tulus, sampai-sampai waktu itu saya hafal di luar kepala. Pak Choi ini bukan orang Cina tapi itu adalah panggilannya karena nama sebenarnya adalah Choirul. Lalu ada guru fisika yang tampan sekali, Pak Ainul Yaqin. Beliau cara mengajarnya juga unik, menjelaskan dengan bahasa yang saya mudah sekali untuk memahami. Kepala sekolah saya waktu itu juga menjadi guru Aqidah Akhlaq, diselingi cerita tentang bagaimana beliau menuntut ilmu. Bu Muthaliah guru Fiqih kelas 7 saya, juga  mengajarkan fiqih khusus wanita yang wajib  diikuti oleh murid laki-laki juga. Guru wali kelas kami tercinta saat kelas 8, Pak Sabran yang juga guru Bahasa Inggris. Wataknya keras, disiplin,  dan penyayang. Beruntung sekali selama sekolah di sana tak jarang saya Pak Sabran memberiku jajanan, coklat, dan minuman kemasan botolnya dari rapat guru. Sering kali mendapat traktiran bakso di kantin oleh Pak Sabran dan juga satpam sekolah yang tidak lain adalah tetangga di rumah.
Pelajaran lain yang berkesan adalah Bahasa Arab. Pernah hal memukau terjadi pada saat pelajaran Fiqih oleh Pak Fadlan, ada Ustadz Lafi yang datang mencari Pak Fadlan kemudian datang guru lain, mereka bercakap menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Subhanallah itu membuat saya geleng kepala. Pelajaran Bahasa Arab yang juga saya dapat diluar jam sekolah membuat saya mencintai Al-Quran. Yang lain ada Pak Mudjiono, guru kesenian dan Bahasa Jawa. Bapak ini telah hidup sejak zaman penjajahan Jepang mungkin itu yang membuat beliau masih fasih berbahasa Jepang hingga terbawa pada logatnya yang cepat. Beliau juga cerita bagaimana perjuangannya dulu. Bapak direktur yayasan kami tak kalah uniknya, beliau memiliki ciri khas suka memakai kopiah hitam dan sendal bakiak. Pada pagi hari beliau berjalan dengan santai dan bersahaja, tangan disilang ke  belakang, serta bunyi sendalnya yang kletuk-kletuk membuyarkan candaan khas kelas yang ditinggal sejenak oleh gurunya. Ketika persami dan sholat subuh di masjid sekolah dan yang jadi imam adalah Pak Direktur, maka yang terjadi adalah sholat subuh bagai duhur lamanya, haha. Masing-masing mereka punya keistimewaan dan cara mengajar masing-masing. Mimpi-mimpi saya pun terbit di sini, dimulai dari ada spanduk besar bertuliskan ucapan selamat kepada Pak Nuh yang alumni sekolah kami karena telah menjadi rektor ITS (sekarang jadi Menteri Pendidikan). Awalnya saya tak mengenal  beliau lalu akhirnya saya tahu juga.
Pak Choirul yang tak cuma piawai di dalam kelas


Hari-hari drama berbahasa Inggris tentang Peterpan and The Lost Boys juga jadi yang tak terlupakan. Berteman dengan orang-orang yang menyenangkan dan belajar bersama mereka sungguh menjadi hal yang sangat saya rindukan di semester terakhir kuliah saya ini. Sungguh barokah ilmu yang pernah kalian bagikan dulu. Terima kasih telah memberikan kami guru-guru yang ikhlas membagikan ilmunya untuk kami. Rindu ini rindu yang tak tertahan semoga Allah melindungi bapak dan ibu dimanapun berada. Sungguh itu adalah amal jariyah yang tak akan terputus. Semoga teman-teman yang lain juga merasakan keberuntungan yang sama dengan saya. 
With Jimmy and Adi as Peterpan and Captain Hook in our drama

Wednesday, 19 February 2014

Beli Alat Snorkeling di Ampel

Snorkel dan Mask

Hai pembaca setia blog saya, hehe.  Pasti bingung ya dengan judul tulisan kali ini? Kalian pasti tau dong Ampel. Ya, Ampel ini adalah kawasan Kampung Arab di Surabaya. Nanti ya tunggu artikel berikutnya yang membahas tentang Ampel secara murni. Pasti kalian mikir kok beli alat snorkeling di Ampel? Kan ini kawasan yang paling tidak kita bisa mendapatkan barang-barang untuk beribadah, makanan khas Arab, dan produk lainnya yang berbau Arab dan Islam. Yap tepat sekali, kalau niatan berwisata belanja nanti ketemunya ya produk-produk yang seperti itu.
Sebenarnya saya beli alat snorkeling ini di teman main satu komunitas saya yang punya hobi jalan-jalan. Kebetulan teman saya ini punya beberapa snorkel dan mask yang belum pernah dipakai karena beli beberapa/grosir untuk tujuan pergi ke Kepulauan Kangean. Karena gak jadi pergi itu akhirnya beberapa alat ada yang menganggur dan boleh saya beli. Jadi mohon maaf ya kalau ada pembaca nyasar dari google untuk beneran cari alat snorkeling, hehe. Jadi beli alat snorkeling di Ampel ini karena teman saya itu punya toko di kawasan Ampel, sebut saja Toko Abdullah (nama toko sebenarnya) dan Mujib (nama sebenarnya juga J) nama teman saya. So, ga salah jika saya beri judul “Beli Alat Snorkeling di Ampel.”

Sebenarnya hal yang menarik bukan itu saja. Itu sih gak menarik ya? Haha...  Ini nih yang sempat bikin heboh
Salah satu plurk yang menghebohkan
Di situ saya menuliskan kata-kata ijab qabul, seketika langsung heboh dan teman-teman mengira saya melangsungkan pernikahan. Telinga kita mungkin terbiasa mendengar ijab qabul adalah hal yang berhubungan dengan akad nikah. Sebenarnya  ijab qabul berfungsi untuk mengekspresikan akan maksud dan keinginan kedua belah pihak. Baik dalam konteks akad nikah ataupun akad jual beli. Ijab ialah perkataan yang diucapkan oleh penjual, atau yang mewakilinya dalam mengutarakan kehendak hatinya yang berkaitan dengan akad yang dijalin  Sedangkan Qabul ialah perkataan yang diucapkan oleh pembeli atau yang mewakilinya sebagai ekspresi dari kehendaknya berkaitan dengan akad tersebut. 
Secara sederhana  ada ucapan saya jual barang ini oleh si penjual dan ucapan saya beli oleh si pembeli. Atau kata-kata tersebut bisa dikonversi dalam bentuk lain. Hal ini membuat saya kembali mengingat pelajaran fiqih saat SMP dulu di Bab Jual-Beli. Tepatnya ada 3 rukun jual beli:
  1.  Al- ‘Aqid (penjual dan pembeli atau orang yang melakukan transaksi) haruslah seorang yang merdeka, berakal (tidak gila), dan baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik/buruk atau najis/suci, mengerti hitungan harga). 
  2. Al-‘Aqd (transaksi itu sendiri) Penjual dan pembeli harus saling ridha dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun meskipun tidak diungkapkan. Dari sinilah lahirlah aqad jual beli. Namun ada dua pendapat mengenai hukum ijab qabul jual beli.

Pendapat pertama: Mayoritas ulama dalam mazhab Syafi’i mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli, maka tidak sah jual-beli yang dilakukan tanpa mengucapkan lafaz “saya jual… dan saya beli…”.
Pendapat kedua: Tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli. Bahkan imam Nawawi -pemuka ulama dalam mazhab Syafi’i- melemahkan pendapat pertama dan memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab-qabul dalam aqad jual beli yang merupakan mazhab maliki dan hanbali. (lihat. Raudhatuthalibin 3/5).
Dalil pendapat kedua sangat kuat, karena Allah dalam surat An-Nisa’ hanya mensyaratkan saling ridha antara penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul. Dan saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz ijab-qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua belah pihak). Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang menjelaskan lafaz ijab-qabul, andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah akan diriwayatkan. (lihat. Kifayatul akhyar hal.283, Al Mumti’ 8/106).
Imam Baijuri –seorang ulama dalam mazhab Syafi’i- berkata, “mengikuti pendapat yang mengatakan lafaz ijab-qabul tidak wajib sangat baik, agar tidak berdosa orang yang tidak mengucapkannya malah orang yang mengucapkan lafaz ijab-qabul saat berjual beli akan ditertawakan” (lihat. Hasyiyah Ibnu Qasim 1/507).
Dengan demikian boleh membeli barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil atau mengambil barang dari rak di super market dan membayar di kasir tanpa ada lafaz ijab-qabul. Wallahu a’lam.
(Sumber: MAJALAH PENGUSAHA MUSLIM Edisi 6 Volume 1 Tanggal 15 Juni 2010)
            3.  Al-Ma’qud ‘Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang).
Kembali ke alat snorkeling, saya datang ke sana untuk melihat kondisi alat sebelum melakukan jual beli. Kemudian Mas Mujib menanyakan saya apakah  saya ikhlas membeli barang tersebut dan saya juga balik tanya apakah Mas Mujib ikhlas menjual alat snorkeling tersebut pada saya. Setelah itu saya menyerahkan sejumlah uang sambil berkata “saya beli ya mas.” Lalu Seketika beliau menegaskan sekali lagi dengan mengatakan “iya saya jual.” Di sini saya pribadi merasakan sebuah keridhoan untuk transaksi ini. Menurut saya itulah yang point penting dari adanya ijab qabul jual beli.
Selain hari itu saya juga pernah ke toko kawan saya itu bersama abang saya saat mencari peci untuk akad nikah. Akhirnya kami nyantol di tokonya. Dan beberapa percakapan pun dimulai antara abang saya dan kawan saya itu. Kira-kira seperti ini beberapa percakapannya yang dimulai dari pertanyaan-pertanyaan abang saya sejak kapan dia memulai usahanya sampai bagaimana dia menjalankan usahanya.
Promosi yang dilakukan untuk mengembangkan usaha ini bagaimana?
Tidak ada promosi secara khusus, orang-orang taunya ya dari mulut ke mulut dan pelanggan taunya juga dari kualitas barang-barang di sini. Apalagi kan di sini saya menjual dalam partai besar.
Apa gak melakukan promosi lewat website biar orang-orang makin kenal produk-produk kamu?
Enggak mas, kalau saya melakukan promosi lewat website juga takutnya malah mengganggu pedagang yang di dalam (dekat masjid Ampel). Kan yang mengambil bukan Cuma orang-orang dari luar kawasan Ampel tapi pedagang-pedagang di dalam juga. Takutnya malah pelanggan pedagang di dalam pada lari ke sini karena di sini lebih murah tentu dalam partai besar. Sama-sama cari nafkah kan harus saling menghormati. Allah pasti sudah menggariskan rizki masing-masing.
Kira-kira begitulah percakapannya, tentu masih panjang tapi itu sih intinya. Saya memetik pelajaran dari percakapan mereka. Bahwa dia ingin usahanya barokah dengan tidak serakah untuk meraup untung sebanyak-banyaknya tapi sebarokah-barokahnya, istilahnya begitu sih. Disamping itu untuk menambah keberkahan rizki, beliau juga melakukan kegaiatan-kegiatan terpuji lain yang tidak perlu saya sebutkan. Meskipun tentu saya beda partai dengan pedagang lain, dia tetap tidak ingin melakukan promosi berlebihan sehingga bisa mengganggu hak pedagang lain. Hal baik itulah yang saya ambil dari pertemanan kami, banyak pelajaran yang bisa diambil.
Mohon maaf jika akhirnya tulisan ini jadi ngelantur kemana-mana. Tidak ada maksud lain juga selain mengambil hikmah dari setiap pertemuan saya dengan kawan saya satu itu. Semoga usahanya semakin lancar dan semakin barokah J


Friday, 14 February 2014

KTP Ke Bromo

Cerita ini adalah tentang perjalanan pertama saya bersama Komunitas Touring Planologi ITS atau kami biasanya menyebut KTP. Perjalanan ini kami lakukan menjelang pertengahan tahun 2012, harusnya saya tulis terlebih dahulu sebelum  Touring 2 Trenggalek tapi karena satu dan lain hal jadinya baru saya posting. Jujur ini salah satu pengalaman saya yang mengesankan, alasannya adalah karena ini perjalanan pertama saya bersama KTP. Kalau tidak salah ingat, kami berangkat hari jum'at malam start dari jurusan tercinta. Nah karena ini pengalaman pertama touring jadi membentuk formasi bahwa paling depan adalah Kapten (tukang bawa light stick) yang siap memberi komando, kemudian disusul motor dengan cc kecil selanjutnya motor cc besar, ya memang karena kami bukan klub touring dengan satu jenis motor. Oh ya hampir ketinggalan, dibelakang sendiri adalah sweeper (tukang nata barisan haha). Ya segitu tentang formasi komunitas touring kami.
Yep, lanjut lagi. Berangkat hari jum'at malam bukan malam jum'at lho, start dari Perencanaan Wilayah dan Kota ITS. Nah janjian ba'da isya tapi kenyataannya jam 10an baru berangkat. Saya waktu itu partneran sama Mas Afriz senior saya dengan motor Supra Fit. Apa kuat tuh motor? Tunggu ceritanya, haha. Oke rutenya adalah Surabaya - Sidoarjo - Pasuruan - Probolinggo. Cek poin pertama di depan RSUD Bangil karena ada yang ketinggalan sih kalau gak salah. Lalu cek poin kedua di pom bensin terakhir pas naik ke Bromo. Nah ini nih tantangannya, ada dingin dan jalan menanjak yang jadi tantangan buat orang gak kuat dingin sama motor-motor cc kecil. Ketika naik beberapa teman saya mulai minggir memasang sarung tangan dan jaket dobel. Sumpah ini pertama kali saya ke Bromo dan penasaran katanya dingin banget banget banget. Tapi doh banget saya malah gak ikut memakai jaket dobel ataupun sarung tangan. Apa gak dingin? Saya bilang (bukan sombong) kaga bro. Mungkin penyebabnya adalah awal 2012 saya pergi ke Sarangan yang dulu saya anggap tempat yang dingin dan ternyata tidak lagi, jadi terpengaruh demikian juga kalau paling-paling di Bromo juga kaga seberapa dinginnya. Selanjutnya waktu beberapa motor butuh dorongan (didorong karena jalan menanjak), saya dan Mas Afriz oke-oke saja haha. Tapi maaf kalau Mas Afriz mengeluarkan tenaga lebih waktu nanjak, hehe. Sampai di sana saya benar-benar penasaran sama yang namanya Bromo berpasir. Waktu itu gelap banget lewat tengah malam. Setelah membayar tiket dan numpang di toilet, kami lanjut motoran ke penanjakan di kawah untuk menikmati sunrise.
Oke, setelah memarkir motor kami langsung melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kaki. Masih dalam suasanaa dingin dan gelap tapi riuh kegembiraan tentang trip ini, riuh dari pengunjung lain juga. Di sini bisa menyewa kuda untuk ke atas ataupun berjalan. Yang gak kuat boleh saran naik kuda saja, karena dingin dan menanjaknya ditambah ada debu dari pasir-pasirnya. Tapi yakin deh seneng banget kalau udah di sana. Oh ya, ceritanya saya masih cuma pakai satu jaket himpunan yang tergolong tipis dan tanpa sarung tangan. Lebih lanjut saya malah lepas kaus kaki soalnya cuma bawa satu, takut kotor kena pasir-pasirnya. Sensasi dinginnya menakjubkan dan saya heran kenapa orang-orang sana pake sarung gitu? Melindungi dari dingin atau style? hehe... Emang sih saya ngerasa ga dingin tapi ternyata jadi kaku dan agak biru tangan saya. Salah satu temas saya sampe ngelus-elus knalpot sambil pakai sarung tangan. Hehe... saya cuma gosok tiup tangan saya yang ga pake sarung tangan. Jangan contoh saya, lebih baik teman-teman pakai yang serba menghangatkan, takutnya malah hipotermia.
Saya yang ga pake jasa kuda jadi beberapa kali istirahat pas menuju kawah yang jalannya menanjak dan kamu tau anak tangga yang banyak itu? Banyak orang yang mau naik dan tangganya kecil. Wah yang ini saya terus disemangati dan didorong sama Angsar dan Niko biar sampai ke atas. Haha... Biar kayak backpacker yang lain gitu, kerjaannya menanti sunrise dimana dan melepas sunset dimana. Setelah susah payah saya sampai juga, di atas ada Mas Duta, kawan seangkatan saya Lilik, Endang, dan Taufi, sama Mbak Okta.Teman-teman lain di sisi lain kawah. Oke setelah lelah akhirnya berbaring sebentar di pinggiran kawah sambil menanti matahari terbit dan pandangan jadi lautan awan, hehe. Sumpah itu keren banget, sayang sekali saya gak bawa kamera poket andalan karena lagi diservis. Tapi nanti saya bagi lah dari kamera teman-teman.
Gunung Batok Pagi Hari
Sumber: Angsar
Tim Cewek
Foto: Oleh Angsar

Setelah cukup puas menikmati matahari terbit kami turun. Dan keanehan apalagi yang saya perbuat? Simak, hehe. Kan tangga penuh tuh ya, jadi saya turun prosotan pasir kawah di samping tangga. Nanti saya tunjukkan fotonya. Prosotan di gunung bro. Haha... Jangan ditiru. Setelah di depan Gunung Batoknya, untuk kali pertama foto full team dengan banner KTP. Haha... Sedinya saya gak bisa narsis, soalnya ga bawa kamera pribadi. Oke keanehan lain yang saya perbuat adalah saya minta ijin Mas Al untuk mengeluarkan motornya dari tempat tiket-tiket itu. FYI, motornya adalah Honda New Mega Pro yang ditambahi box belakang. Sumpah waktu itu saya cuma niat mau ngeluarin motor aja. Sebelumnya diwawancarai dulu tentang kemampuan saya membawa motor itu, saya jawab sekenanya kalau saya belajar pertama kali pakai GLnya ayah saya dan mencoba 2 kali punya Huda. Hehe... Eh setelah keluar motornya, taunya Mas Al menclok aja di belakang dan nyuruh saya lanjut. Tim yang lain udah di depan sedangkan saya turun Bromo bawa motor laki yang itu, Astaghfirullah. Pertama-pertama sih dipandu Mas Al untuk kelancaran bawa motor di jalanan yang sebelahnya jurang itu. Setelah pindah memindah kopling sudah mulus, eh saya malah ditinggal telponan sama Ibunya Mas Al. Belum sampai pom bensin terdekat dengan Bromo di tengah jalan teman-teman yang lain nungguin saya dan Mas Al. Seketika mereka bersorak meledek kami lelet karena mengetahui saya yang bawa motor. Akhirnya sampai di pom bensin untuk istirahat sejenak dan ganti formasi.
Prosotan dari atas pinggiran kawah tempat orang-orang berpijak itu
Foto Oleh: Angsar
Full Team KTP di Bromo termasuk yang motret :p
Foto Oleh: Angsar lagi 

Setelah numpang ke toilet dan istirahat, kami lanjutkan perjalanan ke tempat ritualnya  para pengunjung Bromo. Yaitu ke air terjun Madakaripura. Ritual itu maksudnya setelah kena debu Bromo saatnya bersih diri di Madakaripura, hehe. Di sini jujur saya tidak turun ke air terjun, rasa kantuk tak tertahankan. Akhirnya saya penuhi hak tubuh untuk tidur. Saya putuskan untuk mengeluarkan mantel hujan sebagai alas, tas sebagai bantal, memasukkan barang berharga dalam jaket, pakai masker untuk menutupi wajah, dan saatnya mengucapkan selamat tidur. Hahaha... Ya Allah anak orang kelayapan begini. Ya itulah sepenggal keanehan saya waktu mengunjungi Bromo untuk pertama kalinya. Saya lakukan dalam waktu semalam sehari seperti anak gaul Surabaya pada umumnya karena tidak menginap beberapa hari.

Berikut adalah tips untuk anda:

  1.  Ketika merasakan dingin pakailah jaket dobel, dan sarung tangan. Bila perlu kupluk penutup kepala sampai telinga. Kenapa menunggu kedinginan? Karena jika sebelum kedinginan anda sudah memakai baju dobel-dobel dikhawatirkan saat kedinginan anda sudah menyesuaikan diri dengan perlengkapan dingin anda dan anda tidak akan merasa hangat. Yang terpenting jangan sok-sok'an ga kedinginan seperti saya.
  2. Bila perlu bawa coklat untuk menambah tenaga saat jalan menanjak. Bukan tenaga motor, tapi tenaga anda. Hehe...
  3.  Jangan melakukan hal aneh untuk prosotan di pasir turun dari kawah. Via tangga aja seperti yang lain.
  4. Istirahatlah jika  lelah di perjalanan, terutama untuk yang tidak menginap seperti kami.
  5. Jika menginap, di Bromo menyediakan berbagai macam fasilitas penginapan. Mulai dari hotel sampai rumah warga. Silakan cari referensi penginapan di mesin pencari berwarna hijau sebelah kanan ini. Hehe..
  6.  Jangan meniru saya atraksi bawa motor lumayan gede untuk ukuran cewek di tempat pegunungan yang ada jurangnya. Saya sudah bertaubat dan berjanji tidak akan mengendarai motor seperti itu lagi sih. Pengalaman kemarin cukup dijadikan peajaran dan pengalaman saja.
  7. Selamat menikmati perjalanan anda :D

Monday, 10 February 2014

Hutan adalah Surga Bagi Dunia

Sumber: Dokumen pribadi saat di Tirtonirmolo

Bumi sudah banyak berubah ya? Bukan berubah bentuk dari bulat menjadi persegi namun secara kasat mata maupun tingkat amenitinya. Saya memang baru 22 tahun melihat bagaimana dunia, mungkin tak seluas pandangan orang lain tapi cukup untuk melihat morfologi Kota Surabaya sebagai tempat tinggal saya. Dahulu RTH 30%  untuk setiap kota sesuai dengan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang masih sangat mungkin terjadi. Dahulu tidak perlu menghadirkan RTH segencar saat ini sudah terealisasi dengan halaman-halaman rumah yang luas dengan banyak pepohonan dan tanpa perkerasan. Saat ini jangankan memiliki halaman, memiliki pagar rumah saja sudah untung. Tanah sedikit, setelah mengajukan permohonan IMB terpotong rencana jalan sampai syarat Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Luas lahan semakin terbatas, pembangunan semakin vertikal. Upaya penggantian RTH dilakukan dengan roof top garden oleh perusaahan maupun pengembang untuk mengatur iklim mikro. Cukupkah? RTH bukan hanya pemanis mata, lebih dari itu ternyata memiliki fungsi untuk menangkap dan menyimpan air, mengatur iklim mikro, hingga saat ini berkembang fungsi sebagai sarana sosial untuk taman aktif perkotaan. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan pun sampai memperkuat undang-undang di atas dengan Perda Kota Surabaya No 3 Tahun 2007 tentang  RTRW Kota Surabaya dengan aksi nyata menghadirkan RTH sebagai taman aktif perkotaan dan pada median jalan atau pulau-pulau jalan. Tujuannya tidak lain adalah untuk resapan air dan mengatur iklim mikro perkotaan, menginternalisasi polusi yang ditimbulkan suatu wilayah agar tidak menyebar ke wilayah lain. Fungsinya lebih manis dari sekadar estetika kota bukan?
Lebih luas lagi fungsi hutan di Indonesia sebagai pengatur iklim makro. Hutan lebih dari RTH namun sama-sama berfungsi untuk menghasilkan oksigen, tidak ada perkerasan sebagai penangkap dan penyimpan cadangan air tanah, tentunya semua itu dengan skala yang lebih besar. Orang bilang negara tetangga kita bernapas dengan hutan Indonesia, orang bilang mereka lumpuh jika lahan atau hutan Indonesia kebakaran. Begitu besarnya peran hutan yang tidak hanya bagi orang Indonesia. Begitulah hutan mampu menghadirkan surga bagi manusia. Bisa mendapatkan oksigen dan bernapas dengan layak, mampu menjaga kita dari terpaan sinar UV secara langsung, serta dapat minum air yang disimpan oleh tanah dengan aman. How come? Read it more. Hutan ternyata juga mampu menyediakan kebutuhan pangan sampai kebutuhan sehari-hari. Kenapa bisa? Menilik hutan berdasarkan fungsinya, yaitu sebagai hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, dan hutan produksi. Terbayang kan bagaimana peran masing-masing bagi kehidupan kita?
Baiti Jannati, Rumahku adalah Surgaku begitu pepatah Arab ini jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Pepatah ini tidak hanya berlaku bagi kita manusia saja sebagai khalifah di muka bumi. Biota pesisir menjadikan hutan mangrove sebagai rumahnya, sedangkan hutan di darat menjadi rumah dan surga bagi berbagai macam satwa di dalamnya.  Tentu tidak asing lagi terdengar mengenai deforestasi di Indonesia yang mengancam habitat satwa bahkan tempat tinggal masyarakat adat. Karena Indonesia memiliki hutan yang berfungsi sebagai hutan produksi dan banyak kebutuhan manusia yang berasal darinya maka beberapa peraturan perundang-undangan dibentuk untuk mengendalikannya. Tak semudah yang dibayangkan, praktiknya selalu ada yang melebihi batas sampai mengancam makhluk di dalamnya. Baik itu hutan produksi yang menghasilkan kayu maupun bukan kayu, entah melalui proses analisa kelayakan proyek atau tidak pada akhirnya masih banyak yang tidak memperhatikan kelestarian. Pengawasan yang lemah memang masih jadi soal tapi bukan tidak mungkin untuk berperan menjadikan hutan lebih baik. Salah satu yang paling mudah dilakukan adalah cermat memilih produk yang kita gunakan atau konsumsi, paling tidak produk yang kita pakai tidak menyakiti hutan. Menyakiti hutan berarti menyakiti surga kita bersama.
Jangan sampai generasi yang akan datang mengenal Harimau, Orangutan, Gajah, dan satwa-satwa lainnya sebagai satwa yang hidup di Taman Safari atau Kebun Binatang. Karena sejatinya pembangunan berkelanjutan bukan yang seperti itu. Pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana membangun harmonisasi aspek sosial, ekonomi, dan ekologi. Lebih mudahnya adalah generasi mendatang dapat menikmati sesuatu yang sama dengan yang kita nikmati saat ini. Tidak lucu bukan kalau kita mengenal Orangutan atau Harimau adalah satwa yang hidup liar di hutan dan kemudian anak cucu kita mengenalnya dengan satwa yang hidup di taman safari? Jadi mari laksanakan perintah Tuhan untuk menjaga semesta, surga dunia bukan hanyak hak manusia tapi juga flora dan fauna yang ada di bumi. Justru hal ini adalah kewajiban manusia agar dunia ini cukup untuk memenuhi kabutuhannya, karena sampai kapanpun dunia dan seisinya tidak akan cukup untuk memenuhi keinginan manusia. So, let us Protect Paradise!
Dukung Gerakan Keren Ini