Thursday, 29 May 2014

Ayo Berpetualang ke Gili Labak

Hai para pembaca, saya kembali dengan tempat kece yang saya kunjungi.

Sebelumnya saya ucapkan selamat hectic ria dengan TAnya untuk saudara-saudara saya di Plax dan semoga dilancakan sidangnya, yang terpenting semoga saya lekas menyusul kalian. Mohon maaf juga untuk dosen pembimbing saya yang sangat telaten membimbing saya dan terutama untuk Ayah dan Ibu. Bukan bermaksud untuk menunda-nunda tapi ada pilihan yang harus diambil salah satu. Saya sedang mencoba meraih mimpi di kesempatan yang sedang mendekat, jika nanti gagal saya tidak akan menyesal setidaknya saya sudah mencoba. Jadi do'akan saya ya untuk one step closer dengan cita-cita saya sedari kecil. Baiklah cukup monolog singkat saya ini dan saya ajak teman-teman untuk menyimak perjalanan saya kemarin. 
Saat melakukan perjalanan kemarin (24-25/05/2014) saya sedang tidak dalam rangka liburan. Iyap saya pergi ke Gili Labak dengan beberapa pikiran yang menggantung di otak seperti awan di atas lautan. Tapi saya harus pergi ke sana untuk mencatat beberapa hal penting dalam Tugas Akhir saya. Oh ya saya sedang TA yang aa hubungannya dengan Gili Labak tapi apa sih Ndah yang dicatat? Kalau dilihat-lihat kamu hore banget di sana. Duh gimana ya menjelaskannya, yang pasti ada lah yang sedang saya butuhkan di sana. Ok, dari tadi saya menyebut Gili Labak pasti ada yang sudah tau dan ada juga yang belum tahu. Seperti biasa sih saya menebak apa yang dipikirkan oleh yang belum tahu, pasti nebak lokasinya di sekitaran Lombok jadi saudara kembar atau iparnya Gili Terawangan gitu ya. Sama sekali bukan!

Panorama Gili Labak dari Atas Perahu
Foto Oleh: Dwi Indah

Mari Berkenalanan dengan Gili Labak

Gili Labak atau warga lokal biasanya menyebut Gili Labek adalah sebuah pulau kecil ya seperti lazimnya sebuah pulau jika disebut sebagai gili. Terletak di  144o 02’ 276“ Bujur Timur dan 07o 12’ 172” Lintang Selatan dengan luas wilayah sebesar 5 Ha yang termasuk dalam Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep. Nahloh! Lengkap banget kan ya, coba cek korrdinat itu di peta. Haha... Sebenarnya wilayah Kabupaten Sumenep itu paling luas karena ada yang berupa daratan dan kepulauan. Nah wilayah kepulauan yang jumlahnya sekitar 126 pulau ini salah satunya adalah Gili Labak. Sebenarnya masih ada 3 pulau kecil lagi yang bernama Gili, yaitu Gili Iyang, Gili Genting, dan Gili Raja. Tapi kali ini yang akan saya bahas adalah Gili Labak. Keren kan ya Kabupaten Sumenep ini :D

Jadi begini ceritanya, saya di Sumenep dari tanggal 24-25 Mei tapi baru nyeberang ke Gili Labak tanggal 25 dan tanggal 24 saya muter-muter di Sumenep yaitu di Pantai Lombang yang sebelumnya saya sudah beberapa kali ke situ dan ceritanya bisa dibaca disini. Hanya saja kali itu saya melalui Kecamatan Dungkek untuk mengintip Gili Iyang. Alasan saya baru nyeberang di hari minggu karena biar bisa istirahat dulu malamnya sebelum nyeberang soalnya yang bisa nyetir mobil cuma sepupu saya. Oh ya perkenalkan teman ngetrip saya kali ini masih bersama sahabat saya Nurul, Abang saya dan istrinya, serta kakak sepupu saya. 

Trip ke Gili Labak ini adalah plan yang kesekian kalinya setelah pernah yang pertama gagal satu malam sebelum hari keberangkatan karena faktor cuaca yang buruk. Alhamdulillah akhirnya saya berhasil juga ke Gili Labak dengan ditemani oleh Mas Dedy, seorang kawan dari sesama blogger tepatnya dari Plat-M. Oke pertama untuk ke Gili Labak kita harus menyeberang melalui Kalianget. Tapi di Pelabuhan Kalianget tidak ada kapal, perahu, apalagi speed boat yang dengan khusus melayani rute ke Gili Labak. Jadi kita harus menyewa perahu dengan kisaran harga 500-700 ribu rupiah tergantung hasil tawar menawar kita dengan pemilik perahu dan faktor lain seperti medan gelombang yang akan dilalui mungkin, ya sang nahkoda yang lebih tahu. Kalau tidak suka perjalanan laut yang lama, bisa juga melalui Desa Kombang yang terletak di ujung Talango tapi ya harus menyusuri jalan darat dulu di Pulau Poteran. Udahlah dari Kalianget aja, seru,

Setelah mendapatkan perahu kita masih harus menempuh perjalanan laut selama dua jam broo... Saran saya yang tidak terbiasa dengan perjalanan laut agar mengisi perut terlebih dahulu dan bawa obat seperlunya untuk menghindari masuk angin dan jaga-jaga kalau mabuk laut. Tapi saya yang sok oke ini malah duduk di haluan selama perjalanan. Lumayan semriwing haha tapi saya suka efek polisi tidur alias gelombang lautnya dan selalu saya kalau di lautannya Madura itu saya mencari gugusan gunung Pulau Jawa yang bisa terlihat. Sekitar satu jam perjalanan  saya sebenernya panik melihat sepupu dan kakak ipar saya mabuk laut tak berdaya, sumpah saya merasa bersalah karena sebelumnya tidak menanyakan apakan mereka ok dengan perjalanan laut. Baiklah jadi pelajaran untuk perjalanan berikutnya. Meski demikian saya harus stay cool karena saya yang mengajak mereka.

Ada Apa di Gili Labak?

Setelah sampai eh salah, dari kejauhan kita akan melihat segaris pulau kecil yang pinggir-pinggirnya berwarna putih. Yap, pulau ini dikelilingi oleh pantai berpasir putih bro, airnya jernih dan bisa melihat ke bawah lautnya. Setelah sampai kita sejenak akan nampak asing di Gili Labak seperti pulau tidak berpenghuni tapi ada parkiran perahunya. Tapi sebenarnya pulau ini dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga yang rata-rata penghasilannya bergantung dari hasil laut.

Saya bingung mau menggambarkan keindahan Gili Labak bagaimana lagi, yang jelas saya sebagai petualang amatir sangat terpukau melihat jernih dan birunya laut berpadu dengan putihnya pasir dan langit biru yang awan putihnya berarak. Komposisi yang sempurna dari Sang Pelukis Alam. Kegiatan yang pertama saya lakukan di sana adalah mengelilingi bagian terluar pulau cantik ini. Agak susah jalan karena semuanya pasir haha... bekeliling naik apa? Ya naik kaki lah, tidak ada kendaraan di pulau yang luasnya tak lebih dari 5 hektar ini. Yang membuat saya tertawa saat mengililingi pulau ini adalah saat saya sedang asyik berjalan tiba-tiba Mas Dedy nyeletuk "kalau jalan sama fotografer itu lama" haha seketika saya lihat orang-orang di belakang saya tertinggal jauh. Sorry lho ya untuk Nurul fotografer saya. Gak kalah kan ya sama Gili terwangan cantiknya. Setelah mengelilingi saya tentunya ingin tau bagaimana permukiman di sana yang katanya tidak ada jaringan listrik. Sejuk di dalam dan jaringan jalannya serupa jalan lingkungan di perdesaan. Oh ya vegetasi yang tumbuh di sini khas pesisir yaitu nyiur melambai hehe, kelapa bro yang melambai untuk dipetik dan dinikmati. Beberapa vegetasi lain yaitu seperti tanaman yang bisa dimanfaatkan penduduk lokal untuk kebutuhan mereka, seperti pisang dan kacang-kacangan. 

Di dalam perkampungan saya menemukan mushola warga yang bisa dijadikan untuk tempat singgah dan menyembuhkan mabuk lautnya partner trip saya. Akhirnya saya agak lega dan menikmati perjalanan ini. Saya, Mas Dedy dan Nurul mencari warung yang menyediakan teh hangat untuk menyembuhkan mabuk laut kakak-kakak saya. Setelah menemukan orang yang bersedia membuatkan teh hangat (banyak tehnya), saya duduk-duduk dan bercengkerama bersama bapak-bapak yang sedang membuat dan memperbaiki bubu (alat tangkap ikan). Meski tidak mengerti Bahasa Madura, saya menikmati kegiatan bersama warga lokal ini. Selain saya dan teman-teman saya, ada teman-teman dari Mapala yang sedang camping di Gili Labak. Wah pengen juga saya, pasti bisa menikmari sunrise dan sunset dengan puas. Setelah soal teh-mengeteh aman saya putuskan untuk turun ke laut dan melakukan kegiatan yang paling ditunggu, yap... snorkeling

 Ketika menyusuri setapak rumah-rumah warga menuju pantai, lagi-lagi bolehlah saya sebut ini Narnia versi saya. Keluar dari rimbunan vegetasi tinggi dan semak, kita disambut hamparan pasir putih dan birunya laut. Jika kalian melihat ada bagian yang agak-agak gelap di lautnya ya itu adalah terumbu karangnya. Daripada kegiatan snorkeling terganggu, saya putuskan untuk berfoto-foto dulu. Awas ngiler nanti kalau lihat galeri foto kami, hehe. Saya sekali tidak ada yang membawa kamera bawah air untuk mengabadikan taman laut Gili Labak ini. Saya gambarkan saja ya bagaimana rasanya. Sssttt... Ini adalah pengalaman pertama saya snorkeling lho. Wah... meskipun di beberapa titik ada terumbu karang yang rusak tapi ikan dan terumbu karangnya ada yang sehat lho. FYI, terumbu karang di perairan Gili Labak ini masuk dalam kategori sedang-baik yang tutupannya lebih dari 50%. Jadi cobalah snorkeling di sini, mungkin yang belum pernah seperti saya. Hehe..

Seperti Surga kah?


Saya tidak mau mengatakan ini seperti di surga atau surga tersembunyi. Alasan personalnya adalah saya jenuh dengan kata "Surga" untuk tempat yang pernah saya kunjungi. Yang jelas Indonesia adalah tetesan surga yang jatuh ke bumi, tak hanya keindahannya tapi keramah-tamahannya juga. Yang datang ke Gili Labak pasti akan berkata ini Surga tapi apakah ia surga juga bagi warga lokalnya?


Gili Labak yang belum sepenuhnya dikelola oleh Pemkab Sumenep pasti memiliki prasarana dan sarana yang sangat minim untuk pengunjungnya. Seperti contohnya standar fasilitas kawasan wisata bahari, yaitu tempat makan, penginapan, atau toilet umum. Jangan harap bisa menemukannya, hanya ada warung-warung kecil. Jangankan fasilitas untuk wisatawan. Pelayanan umum seperti puskesmas atau puskesmas pembantu dan sekolahan tidak ada di sini. Adanya dukun beranak kalau ibu-ibu mau melahirkan dan anak-anak Gili Labak sekolahnya di Pulau Poteran yang rata-rata mereka pulang ke Gili Labak saat libur saja. Utilitas jaringan listrik dan air bersih juga tidak ada, mereka mengandalkan sumur-sumur air payau dan untuk listrik mereka menggunakan tenaga surya serta diesel yang penggunaannya terbatas hanya malam hari. So buang jauh angan-angan untuk minum es di pantai yang indah itu. 


Saya yakin Gili Labak juga tetap Surga bagi penduduk lokalnya, rumahku adalah surgaku (baiti jannati) karena jika tidak pasti mereka sudah meninggalkan tempat itu. Entahlah, mungkin mereka mencapai titik syukur pada Tuhan yang belum pernah kita capai. Yang Maha Kuasa memang tidak pernah pilih kasih membagi rizki dan kasih sayangnya. Saat saya di sana sempat merenung betapa baiknya Dia menumbuhkan tanaman di pulau kecil tengah lautan seperti ini, sehingga bisa dimanfaatkan oleh penduduknya dan betapa Maha Kaya Allah yang memberi mereka rizki melalui laut yang mengepung mereka. Mungkin mereka bahagia melihat kita sebagai pengunjung juga bahagia ketika menginjakkan kaki di sana. Dan jujur saya bahagia pernah ke sana dan akan ke sana lagi dengan tujuan yang belum terealisasikan.


Saya berani mengatakan bahwa segala fasilitas yang minim itu tidak akan menghambat kita berwisata di sana dan malah akan menambah keseruan petualangan kita. Segala fasilitas yang minim itu membuat kita bisa berbaur dan menyelami kehidupan mereka selain bisa menyelami laut mereka. Mereka baik-baik sekali, terkadang kita akan diberi kelapa muda dan saya kemarin diberi minum teh oleh mereka. Itu buka welcome drink tapi bentuk sambutan mereka yang turut bahagia melihat kita bahagia mengunjungi pulaunya yang cantik. Saya rasanya benar-benar berpetualang karena bisa bercengkerama dengan warga lokal. Semoga suatu saat bisa kembali dan membawa sesuatu untuk anak-anak di sana, membawakan sesuatu yang bisa menyalakan mimpi mereka :)


Ayo ke Gili Labak

Udahan berkata-katanya, saya akan menyematkan beberapa foto dan juga bisa dilihat di Instagram saya maupun facebook fotografer saya. Kalau mau bertanya lebih lanjut atau ada yang bisa dibantu ke Gili Labak silakan langsung inbox di fb saya atau bbm. Jadi ayo berpetualang ke Gili Labak.

Ig: dindahnurma (more photo and funny video when we were stranded at Gili Labak)

Hore-hore dulu...
Foto Oleh: Timer tapi sudah diatur Mas Edi

Perahu milik nelayan Gili Labak
Foto Oleh: Dwi Indah

Main air dulu sebelum snorkeling
Foto Oleh: Nurul
Kami orang terasinkan (baru naik dari snorkeling, hehe)
Mata kami lang disengat matahari, klo ditinggal yang motret bisa gak tau nih.
Foto Oleh: Nurul

Waini hijaber dalam air
Foto Oleh: Dwi Indah Nurma

Estafet The Liebster Award

Hai hai Mak Pipit yang sudah memberikan tongkat estafet ini ke saya. Hehe... Maaf ya baru mengerjakan karena habis melakukan perjalanan lagi dan postingan tentang perjalanan saya setelah ini juga akan muncul. Ini baru pertama kali saya tahu soal Liebster Award dari blognya Mak Pipit Widya , apa kabar Jepang Mak? Hihihi...

Yang dapat award ini pasti dag dig dug soalnya mau diterusin ke siapa, namanya saja award berantai. Seru juga sih karena bisa menjalin kedekatan dengan sesama blogger. Jadi begini nih kalau dapat estafet Liebster Award:

  1. Post awardnya ke blog anda
  2. Sampaikan terima kasih pada blogger yang mengenalkan award ini dan backlink ke blognya
  3. Share 11 hal tentang diri anda
  4. Jawab 11 Pertanyaan yang diberikan pada anda
  5. Dan pilih 11 blogger lainnyya lalu berikan mereka 11 pertanyaan yang ingin anda sampaikan pada mereka.
Mak Pipit makasih ya sudah diberikan award berantai ini semoga tali silaturrahim terjaga dengan baik. Oke mak dari blognya saya tau cerita-cerita tentang Jepang, yaiyalah kan emang lagi di sana. Perkenalkan nama saya Dwi Indah yang ternyata blog saya ini sudah saya isi sejak SMA tapi masih begitu aja isinya.
Sisanya 11 hal tentang diri saya ada di sini ya:
  1. Saya sejak lahir sudah di Surabaya dan melihat morfologi kota ini selama 22 tahun
  2. Anak ke-2 dari dua bersaudara
  3. Saya masih kuliah dan harus lulus Maret tahun 2015
  4. Pernah tinggal di Jogja selama dua bulan
  5. Suka nyobain resep baru di dapur
  6. Orang bilang saya petualang sejati tapi sejujurnya masih amatiran
  7. Tentunya saya suka melakukan perjalanan 
  8. Saya suka merenung tapi kok tetep jadi orang yg rese, hehe...
  9. Suka nulis meski ada yang tidak saya posting di blog
  10. Suka mendengarkan dan melayani curhatan orang lalu membuatnya tertawa terbahak
  11. Yang paling jadi sorotan adalah saya masih single :|
Lalu ijinkan saya menjawan pertanyaan anda Mak...

1. Kota apa yang berkesan buat emaks? Kenapa?
# Jogja mak, alasannya karena Jogja adalah awal mula dari titik tolak saya jadi seperti sekarang

2. Apa warna favorit emaks?
# Warna yang ceria dan hitam mak

3. Buku apa yang emaks sukai?
# Buku kuliah sejujurnya akan sangat membantu saya mak, tapi buku novel dan travelling oke juga.

4. Manfaat ngeblog buat emaks apa sih?
# saya bisa kenal Mak Pipit, haha... Tentu saja untuk menambah pengetahuan dan silaturrahim Mak

5. Gambarkan tentang Capres ideal versi emaks untuk Indonesia dalam 3 kata.
# Wah mentang-mentang tahun politik pertanyaannya begini yang jelas (1) Bicara tegas; (2) Berani Jujur; (3) Bertindak Tegas.

6. Kejadian dodol apa yang nggak bisa dilupain?
#Sering kepleset dan jatuh saat maba sampai temen2 bilang harus beli power balance

7. Siapa orang yang ingin emaks temui dalam waktu dekat ini?
# Warga lokal Gili Labak di Gili Labak

8. Apa lagu favorit emaks? Kenapa?
# Baru-baru ini demen lagunya Fiersa Besari yang judulnya Celengan Rindu, soalnya lucu mak.

9. Hal apa yang bikin emaks bete?
# Saat malas melanda diri sendiri lalu jadi ngebetein diri sendiri

10. Sebutkan makanan tradisional yang emaks sukai. Makanan tersebut dari daerah mana?
# Lontong Balap mak, dari Kota Surabaya :D

11. Habis ini, emaks mau ngapain?
#Habis ini saya mau posting soal perjalanan saya kemarin.

Sekian jawaban saya ya Mak Pipit. Sekarang saya mau melanjutkan tongkat estafet ini ke:

  1. Mak Ika Hardiyan Aksari
  2. Mak Ceria Wisga
  3. Mak Dian WIdyaningtyas
  4. Mak Phalupi Apik Harowati
  5. Mak Ara Dewi 
  6. Mak Dara Nintya Kusumadhani
  7. Mak Murti Yuliastuti
  8. Mak Nur Hasanah 
  9. Mak Elly Kurniawati
  10. Mak Sachi HyeMi
  11. Mak Elok Mahmudah
Ini dia Pertanyaannya:

  1. Apa manfaat blogging untuk Emaks?
  2. Siapa anggota keluarga yang paling berpengaruh untuk Emaks?
  3. Menu andalan yang suka dimasak di rumah apa?
  4. Tempat apa di Indonesia yang paling ingin dikunjungi dan alasannya kenapa?
  5. Bagaimana pentingnya menulis buat Emaks?
  6. Seberapa sering kalian berolah raga?
  7. Dalam waktu dekat apa yang paling ingin dicapai?
  8. Lebih suka nonton tv atau mendengarkan radio?
  9. Apa yang dilakukan jika hari libur?
  10. Lebih suka pantai atau gunung?
  11. Lebih suka burung atau ikan?
Hehe.. Pertanyaan yang aneh tapi saya pengen tahu. Jadi dijawab ya dan selamat melanjutkan tongkat estafet ini. Salam kenal semuanya, semoga silaturrahim tidak terputus :D

Tuesday, 20 May 2014

Yogyakarta: Saksi Terbangunnya Mimpi

Halo teman-teman, kali ini saya tidak menuliskan tempat baru mana lagi yang saya kunjungi karena memang belum ada lagi. Tapi saya ingin berbagi pengalaman tentang suatu titik yang menjadi titik tolak saya memberanikan diri melakukan sebuah perjalanan.

Tahun 2011 adalah tahun yang menjadi titik tolak bagi saya. Yogyakarta menjadi saksi bisu terbangunnya mimpi-mimpi. Waktu itu Januari 2011, saya sedang duduk santai di pinggir Jalan Malioboro sambiil menikmati jajanan yang baru saya beli. Entah kenapa tidak ada rasa khawatir karena matahari semakin tergelincir ke barat tapi saya dan teman-teman saya belum dapat penginapan juga di kota yang baru pertama saya datangi. Ingatan saya malah semakin melayang-layang ke masa Sekolah Dasar.

Acara perpisahan SD teman-teman mengaji saya menceritakan mereka pergi ke suatu tempat bernama Yogyakarta. Saya hanya bisa menyimak tanpa bisa membayangkan, hanya saja terdengar sangat menyenangkan di tempat itu. Saya sendiri pergi ke Malang yang tak jauh dari Surabaya. Lalu melompat juga ingatan sepanjang masa SMA. Saat teman-teman sekelas hobi nongkrong di taman-taman kota dan mall, saya sama sekali tidak tertarik. Saat anak-anak pecinta alam mendaki gunung sana sini, saya juga cuma bisa mendengarkan. Saya merasa jadi anak paling cupu sedunia. Dilarang orang tua untuk bepergian atau bermain juga tidak, saya hanya tidak tahu bagaimana memulai langkah awal untuk melakukan sebuah perjalanan.

Kenangan panjang itu ternyata bisa juga menemani singkatnya acara duduk santai saya. Berkali-kali saya memejamkan mata cuma untuk memastikan saya benar-benar membuka mata dan tidak bermimpi bahwa saya ada di salah satu kota impian saya. Yogyakarta, buah rencana singkat bersama teman-teman saya di kampus sebagai mahasiswa tingkat satu di Surabaya. Baru tadi pagi saya mencium tangan ayah dan ibu saya untuk meyakinkan mereka bahwa saya akan baik-baik saja selama seminggu ke depan.  Nyatanya memang demikian, saya dan teman-teman saya berhasil hanya mengeluarkan 40 ribu rupiah untuk menginap selama 5 hari di Yogyakarta. Geliat kota ini juga turut menjanjikan saya bahwa saya akan menikmati perjalanan pertama saya.

Belajar dari internet yang semakin mudah diakses saat ini, saya menyusun sebuah itinerary yang akan menjadi pemandu selama perjalanan ini. Benar saja, saya beruntung karena lancar-lancar saja melakukan kegiatan yang sudah disusun kecuali saat hujan turun yang malah menambah keseruan perjalanan pertama saya. Mulai dari bisa mendapatkan penginapan murah, makanan yang mengenyangkan tapi murah, dan segala kegiatan di kota yang menyenangkan itu membuat saya membangun rasa percaya diri untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi mengunjungi tempat yang lain.

Tidak sampai satu tahun setelah perjalanan di Jogja, saya malah dua kali memantapkan langkah di Jakarta. Yang pertama bersama ayah dan ibu saya untuk melihat keadaan abang saya di Jakarta. Satu minggu kemudian malah saya melakukan perjalanan ke Jakarta lagi bersama seorang teman dan lagi-lagi tanpa tahu harus bermalam dimana. Saya juga tidak khawatir karena pernah mengalami hal yang sama. Jakarta adalah kota lain dalam impian saya. Sampai saat ini saya sudah 3 kali menggapai Jakarta, dan yang ketiga adalah yang termanis karena mendapat undangan dari salah satu kementrian.

Pada awal 2012 saya berhasil melakukan perjalanan mengelilingi separuh Pulau Jawa bersama sembilan orang teman saya. Dalam perjalanan ini, saya lima hari melihat kehidupan di kampung halaman teman-teman saya itu. Rehat sehari dari perjalanan itu, saya langsung terbang menuju Makassar berdua bersama kakak saya. Yap, ini pesawat pertama saya dan luar pulau terjauh pertama saya. Akhirnya saya tahu bagaimana rasanya berada diantara awan. Di tahun 2012 ini saya juga berhasil terdampar di Bromo yang juga Bromo pertama saya, Pantai Karanggongso Trenggalek yang jadi laut biru berbukit pertama saya, sampai nekat mengajak teman saya yang lain berdua saja backpackeran ke Jogja.

Tahun 2013 juga tak kalah seru. Saya memutuskan menetap di Jogja selama dua bulan untuk suatu urusan non traveling, mencuri waktu untuk explore DIY semakin seru. Namun tetap saja Kabupaten Gunung Kidul yang sedang tersohor itu belum berhasil saya kunjungi. Seminggu setelahnya, saya juga memberanikan diri ikut ke Singapura untuk keperluan yang juga non traveling. Tentu saja itu adalah luar negeri pertama saya dan meskipun sedang observasi tetap saja banyak yang bisa dipelajari ketika nanti kembali untuk traveling. Dua hari setelahnya, saya punya perjalanan yang tak kalah menegangkan. Saya berkendara lebih dari 100 Km menuju ujung timur Pulau Madura bersama seorang partner perjalanan, tentunya ini juga berkendara terjauh pertama yang saya lakukan tanpa partner perjalanan laki-laki.

Semua orang pasti memiliki pengalaman tentang pertama kali dan itu adalah ingatan terjelas saya mengenai semua yang serba pertama selama saya traveling. Kalau mengingat itu semua, saya jadi malu jika disebut traveler sejati oleh teman-teman yang lebih serius menekuni dunia traveling ini. Saya masih benar-benar hijau dalam dunia traveling, backpacking, atau petualangan. Oleh karena itu, dalam beberapa bio saya menuliskan kalau saya ini masih petualang amatir. Berbeda dengan beberapa kenalan saya yang mungkin saking berpengalamannya malah membuka biro perjalanan kecil-kecilan atau menjadi travel writer yang terkenal di dunia blogging. Terkadang saya kagum juga iri melihat mereka tapi yasudahlah, setiap orang punya fase tersendiri dalam hidupnya. 

Langkah kaki pertama saya menuju dunia traveling membawa saya pada banyak perenungan. Benar jika pariwisata itu adalah multi sektor perekonomian yang mampu menyediakan banyak lapangan pekerjaan. Daerah yang seringkali menjadi tempat transit saja malah berkembang menjadi kawasan pariwisata terlengkap. Seandainya berandai-andai itu boleh, andai semua potensi wisata di negara ini digarap dengan baik. Pastinya mampu menggerakkan berbagai sektor perekonomian dan dengan sendirinya mampu menjaga lingkungan serta budaya. Perenungan yang lain adalah tertambatnya saya pada pemahaman betapa beragamnya budaya yang kita miliki. Pergi ke satu daerah dan daerah lain, kita menjunjung dan menghormati kebudayaan itu.

Langkah kaki pertama saya dalam dunia traveling mengantarkan saya pada beberapa mimpi yang bisa saya raih. Semoga saja mimpi yang lain segera menyusul untuk tewujud. Suatu saat saya ingin melakukan perjalanan ke gunung yang benar-benar mendaki, perjalanan ke laut yang benar-benar menyelam, perjalanan ke perdesaan yang benar-benar tenggelam dalam budaya dan adat setempat. Saya tidak malu menjadi petualang amatir yang baru saja memulai petualangan, yang terpenting adalah tentu saja akhirnya saya berani memulai langkah. Temukan bahwa yang paling menyenangkan saat melakukan perjalanan adalah saat perjalanan pulang. Semakin jauh melangkah, semakin tahu dimana tempat kita pulang. Setidaknya itu menurut pandangan saya yang petualang amatir ini. Terima kasih Yogyakarta atas turut sertanya membangun semangat melangkahkan kaki di dunia traveling. Salam langkah kaki.

Artikel ini menjadi tulisan favorit II dalam blog competition #NubieTraveller