Wednesday, 24 December 2014

10 Lokasi yang Bisa Kamu Kunjungi di Surabaya

Kota Surabaya sudah menjadi kota yang super sibuk dengan kegiatan perdagangan dan jasanya sejak masa kolonial hingga sekarang. Namun dengan kesibukannya itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak bersantai atau bahkan berwisata di kota ini. Tidak hanya pengunjung atau yang sedang memiliki keperluan bisnis, bagi orang Surabaya sendiri terkadang bingung memilih tempat untuk bersantai atau berjalan-jalan. Berikut tempat-tempat yang bisa anda jadikan referensi jika ingin menikmati Kota Surabaya.
  1. Tugu Pahlawan
    Tugu Pahlawan selain memiliki sebuah tugu sebgai daya tarik juga memiliki museum yg terletak di bawah tanah, Museum 10 November. Benda-benda yang dipamerkan tentu saja adalah yang berkaitan dengan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Ada pula diorama statis yang menggambarkan keadaan saat itu, rekaman pidato suara asli Bung Tomo, dan kita juga bisa menonton film jaman perjuangan. Berkunjung ke Tugu Pahlawan tentunya bisa menambah semangat nasionalisme kita. Jika ingin menikmati area tamannya saja tidak dikenakan biaya retribusi masuk, namun untuk masuk ke museum dikenakan biaya lima ribu rupiah perorang dan untuk anak-anak gratis. 
    Tugu Pahlawan
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  2. Sunrise di Kenjeran
    Banyak yang beranggapan tidak ada sisi menarik dari pantai yang punya air laut senada dengan milo. Tapi jangan salah di THP kenjeran atau biasanya disebut Kenjeran lama menjadi tujuan utama bagi pencari  sunrise. Datanglah saat menjelang matahari terbit dengan membawa kamera dijamin anda akan terpukau. Selain itu angin yang sepoi-sepoi dan suara deburan ombak cukup membuat suasana hati damai saat berkunjung. 
    Sunrise di Pantai Kenjeran
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  3. Kawasan Ampel
    Berkunjung ke kawasan Ampel ini banyak sekali yang bisa kita lakukan. Karena kawasan Kampung Arab ini sudah ada jauh sebelum masa kemerdekaan, kita bisa berwisata sejarah, mengetahui keseharian masyarakat di sana dan mengagumi bangunan-bangunan tuanya. Bagi yang ingin berziarah ke makam Sunan Ampel sah-sah saja dilakukan sebagai bentuk terima kasih telah membawa Islam di Tanah Jawa khususnya Surabaya. Selain itu bisa juga wisata belanja suvenir khas Timur Tengah. Setelah puas berjalan-jalan boleh ditutup dengan wisata kuliner khas Timur Tengah yang banyak disuguhkan oleh restoran-restoran di Kawasan Ampel.
    Wisata Belanja di Ampe Suci
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  4. House of Sampoerna
    House of Sampoerna ini adalah museum mengenai rokok. Oleh karena itu anak-anak dibawah umur dilarang masuk tanpa dampingan orang tuanya. Di dalamnya ada museum, galeri seni, dan cafe. Museumnya sendiri menyajikan hal-hal mengenai sejarah rokok dan yang berkaitan dengan rokok. Di lantai dua ada workshop dimana kita bisa menyaksikan orang-orang melinting rokok dengab super cepat. Galeri seninya sendiri merupakan galeri tempat para seniman menunjukkan karyanya. Satu lagi yang menarik dari tempat ini, yaitu mereka menyediakan fasilitas keliling kota tua Surabaya dengan bus yang bernama Surabaya Heritage Track. Untuk menikmatinya saya sarankan reservasi dulu karena tiketnya cepat sekali penuh. 
    House of Sampoerna
    Foto Milik: D. Indah Nurma
  5. Monumen Kapal Selam: Kapal selam yang terdampar di tengah kota ini selalu menarik perhatian. Nama kapal selam ini adalah KRI Pasopati yang pernah turut serta dalam tugas pembebasan Irian Barat. Di dalamnya tentu saja kita bisa melihat bagian-bagian kapal selam seperti ruang mesin, torpedo, tempat tidur awak kapal, ruangan kapten, sampai kamar mandi. Bahkan foto-foto Kapten dan awak kapal juga tersusun rapi di dalamnya. Di bagian luar baru-baru ini dilengkapi dengan fasiliyas kolam renang anak-anak. Di ruang audio visualnya terdapat film mengenai tugas kapal selam ini di masa dahulu. 
    Monumen Kapal Selam
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  6. Ekowisata Mangrove Wonorejo
    Ekowisata Mangrove di Wonorejo sepertinya tidak main-main dalam menunjukkan keseriusannya sebagai tempat wisata. Karena saat ini semakin memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Saat berkunjung ke sana tentunya kita bisa berjalan di antara hutan mangrove. Tapi hati-hati terhadap barang-barang anda karena monyet penghuni hutan mangrove ini gesit dan suka menggoda.
    Ekowisata Mangrove Wonorejo
    Foto Oleh:Surabaya bagus
  7. Jembatan Suramadu
    Jembatan yang menjadi penghubung Surabaya dan Madura di sisi Bangkalan ini menjadi salah satu ikon Jawa Timur. Sayang sekali jika berkunjung ke Surabaya tapi tidak berfoto dengan latar belakang jembatan yang megah ini. Untuk berfoto dengan latar belakang jembatan ini bisa dilakukan di kaki jembatan sisi Surabaya. Jika ingin merasakan sensasi membelah Selat Madura bisa menyebrangi dengan membayar 3 ribu rupiah untuk sepeda motor dan tiga puluh ribu rupiah untuk mobil sekali menyeberang.
    Jembatan Suramadu dari sisi Surabaya
    Foto Oleh: D. Indah Nurma
  8. Kebun Binatang Surabaya
    Kebun Binatang ini dahulu pernah menjadi yang terlengkap se-Asia dan baru-baru ini konflik dan kematian koleksi satwa juga terdengar semakin meluas. Namun dibalik semua itu Kebun Binatang Surabaya (KBS) tetap layak sebagai tujuan wisata. Selain memiliki koleksi satwa, KBS juga menjadi ruang terbuka hijau yang luas tanpa perkerasan di Surabaya. Terbayang kan jika mengunjungi KBS, kita tidak hanya bisa melihat-lihat koleksi satwanya tapi juga bisa menghirup udara segar di tengah padatnya Kota Surabaya. Selain itu di bagian luar juga terdapat ikon Kota Surabaya yang menjadi andalan para wisatawan jika berkunjung di kota ini.
    Kebun Binatang Surabaya
    Sumber: Wikipedia
  9. Taman Bungkul
    Taman Bungkul ini sebenarnya diambil dari nama Mbah Bungkul, yaitu seorang tokoh penyebar Agama Islam yang makamnya terletak di belakang taman ini. Pemerintah Kota Surabaya kemudian membangun fasilitas umum untuk masyarakat bersosialisasi seperti yang kita lihat saat ini. Di hari minggu kawasan taman ini dipadati oleh orang-orang yang mengikuti kegiatan car free day. Kita juga bisa berwisata kuliner khas Surabaya di hari minggu karena banyak pedagang makanan seperti Semanggi Suroboyo dan jajanan khas lainnya.
    Taman Bungkul
    Sumber: http://www.es5press.com/
  10. Surabaya Carnival Night Market (SCNM)
    Pada pertengahan tahun 2014, pariwisata Surabaya diwarnai dengan hadirnya theme park baru bernuansa pasar malam. Meskipun bernuansa pasar`malam tidak berarti seperti yang sering kita jumpai. Selain wahana permainan juga terdapat museum-museum yang menunjukkan ciri khas Kota Surabaya. Surabaya Carnival Night Market yang terletak di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo ini buka mulai sore hingga malam hari. 
    Wahana Permainan di SCNM
    Sumber: Facebook SCNM
Itulah tempat-tempat yang mungkin bisa jadi pilihan saat berkunjung ke Surabaya. Tentunya masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi di Surabaya selain yang saya sebutkan di atas. Jadi apakah kalian pernah mengunjunginya atau pernah mengunjungi tempat menarik lain di saat di Surabaya?

Friday, 5 December 2014

Mengunjungi Markas Komando Armada Timur

Di Ujung KRI Dewaruci
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Mengunjungi Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim) di Ujung, Surabaya bagi sebagian orang yang tidak memiliki hubungan kerabat dengan prajurit TNI adalah hal yang sangat istimewa. Begitu pun dengan saya yang dalam sejarah keluarga belum ada yang jadi TNI, eh dulu pernah hampir punya ipar TNI AL tapi enggak jadi, yasudahlah. Setelah gagal mengunjungi armatim di peringatan HUT TNI ke-69 lalu, saya kembali diusik oleh Ruddin teman saya. Mentang-mentang hari Armada sudah dekat yang jatuh tanggal 5 Desember, dia terus-terusan menanyakan saya kapan peringatannya. Alasannya tidak lain agar kami bisa mengunjungi Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) dan lihat Kapal Republik Indonesia (KRI). Mulai dari tanya sana sini, googling dengan berbagai kata kunci, lalu malah akhirnya nemu artikel di situs bola tentang kegiatan Naval Base Open Day 2014 yang diselenggarakan tanggal 30 November 2014 dalam rangka Hari Armada.
Kapal-Kapal Perang RI
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Tanpa banyak pertimbangan dan karena sudah sangat ditunggu akhirnya saya dan Ruddin memutuskan untuk datang. Kami menyebutnya kunjungan militer, haha. Awalnya mau barengan sama Niko lalu dia batal, terus teman lain katanya mau ikut tapi malah gak ada kabar waktu hari H. Oke minggu pagi hari yang saya tunggu-tunggu datang, saat akan memakai sepatu terdengar suara mesin Vixion di depan pagar rumah. Yaelah sampe hapal banget suara mesin motor Ruddin, haha. "Pak, Indah mau saya culik dulu." Eh lah pamitnya antik. Sssttt sebenernya saya ini gak tau jalan ke Armatim kalo lewat jalan sebenarnya, saya cuma tau kalo lewat dalam perumahan dinas TNI AL di Bulak Banteng sana. Ahaha wong Suroboyo apaan aku ini, yasudahlah Suroboyo kan gede banget jadi wajar kalo gak hapal (alesan). Kuda besi bernama vixion itu pun akhirnya dipacu Ruddin lewat rute saya itu, ehehe gak ada yang tau jalan. Tapi toh akhirnya nyampe juga dan pas lihat Monjaya langsung mata berbinar seperti lihat emas segudang haha. Akhirnya aku mengunjungi Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim), bisa foto-foto nih tapi malu karena barengan sama Ruddin. Kan saya cenderung pemalu kalo ada cowok, halah...

Pagi itu suasana Mako Armatim tentunya riuh sekali karena kabarnya jumlah peserta fun bike adalah yang terbanyak di Surabaya. Mulai dari orang-orang seperti saya dan para keluarga anggota TNI tumplek blek di sana. Saya langsung membayangkan bagaimana suasana sehari-harinya pasti nampak damai kalo dipakai berfoto. Asli bung saya bahagia banget lihat kapal-kapal diparkir. Petualangan narsis pun dimulai saat bertemu KRI Dewaruci. Dan ternyata Ruddin bisa diajak narsis ria haha... Saya tidak akan menceritakan sejarah mengenai KRI Dewaruci karena kalian pasti sudah tahu atau bisa cari tahu di tempat lain. Yang jelas ini adalah kapal layar yang mengagumkan dengan tiang-tiang layar yang diberi ukiran khas Indonesia. Saya langsung membayangkan bagaimana rasanya berlayar. Saya sangat suka kapal dan berharap suatu saat bisa melakukan pelayaran yang jarak tempuhnya adalah hari bukan jam. Alasan kenapa saya menyukai kapal dan berlayar adalah karena rasa sabar, syukur, ikhlas, dan penuh tanda-tanda bahwa Allah itu Maha Besar dan Maha Kuasa. Di laut itu kalau bukan sama Allah mau berpegang pada siapa lagi? Laut yang begitu ganas dan badai yang bisa merenggut tanpa sisa tapi Allah menaklukan lautan itu bagi manusia. Masya Allah... Ya begitulah dasarnya mengapa saya mengagumi kapal dan laut. Diantaranya seperti yang terdapat di Al-Quran surat Yunus ayat 22, Luqman 31, dan masih banyak lagi.
Tiang Layar KRI Dewaruci
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Ukiran Tiang Layar KRI Dewaruci yang Mempesona
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Saat itu acaranya selain fun bike juga ada open ship dimana para pengunjung berkesempatan menaiki dan melihat-lihat kapal perang yang dimiliki oleh TNI AL kita dan juga pameran alat utama sistem pertahanan (alutsista). Kapal perang lainnya yang dipamerkan adalah KRI Usman Harun yang beberapa waktu lalu sempat menjadi pembahasan serius oleh Singapura. Negara tetangga kita nggak terima tuh atas penamaan kapal perang baru kita. Katanya sih menyinggung luka lama mereka. Googling sendiri aja deh ya gaes tentang kontroversi itu. Lalu berbersandar sejajar dengan KRI USH adalah KRI Bung Tomo. Di kapal-kapal ini kita bisa berkeliling menikmati kecanggihannya tapi enggak bisa masuk ke dalam. Kata salah satu petugasnya boleh masuk kalau kita keluarga TNI atau pacarnya TNI. Lha masa saya harus punya gebetan TNI dulu pak baru boleh masuk ke ruangan-ruangan di dalamnya? Yang benar saja, aturan macam apa ini? Huh. Yasudah pokoknya dapat foto bareng sama awak kapal Mas Ricky. Dan kata orang setelah melihat foto itu wajah kami mirip, jangan-jangan..... hahaha.
Maap bagi yang merasa keluarganya, saya cuma poto bareng hehe.
Foto Oleh: Ruddin
Turun dari kapal-kapal perang itu kami melihat kapal lain yaitu KRI dr. Soeharso. Kapalnya besar sekali yang jelas geladaknya super luas. Dan ternyata geladak yang super luas itu bisa mengoperasikan dua buah helikopter sekaligus.Kapal ini juga dilengkapi dengan sebuah hanggar untuk menampung satu helikopter lagi. Sesuai dengan namanya, kapal ini berfungsi sebagai kapal rumah sakit yang memiliki 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, dan 2 ruang perawatan yang masing-masing memiliki 20 tempat tidur (sumber: wikipedia). Iya bro wikipedia sumbernya, soalnya kami enggak masuk kapalnya karena antrean yang panjang. Jadi kami cuma lihat dari luar dan dari atas Monjaya. Bersamaan dengan kami lihat-lihat bagian luar kapal ini ada para peserta lomba renang yang finish. Tau enggak kalau lomba renangnya ini adalah lomba renang Selat Madura. Heleh gak bisa ngebayangin itu bahu bakal jadi selebar apa setelah renang. Waktu saya lihat ternyata para peserta pakai fins, mask, dan snorkel. Jadi berminat ikutan kalau tahun depan ada lagi dan gak finish gak apa-apa deh, hehe... di tengah-tengah melambaikan tangan pada boat yang mendampingi.

Ruddin dan Monjaya
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Kita tinggalkan sejenak kecanggihan kapal-kapal perang kita dan beralih ke monumen yang menjadi daya tarik dari Armatim, yaitu Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya). Monjaya ini adalah monumen berupa patung seorang Perwira TNI AL dengan memakai Pakaian Dinas Upacara yang gagah menghadap ke laut dan ditopang oleh bangunan setinggi 29 meter. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan para penerus bahwa nenek moyang kita adalah pelaut yang berhasil menjelajahi dunia. Jalesveva Jayamahe sendiri memiliki makna di laut kita berjaya. Monjaya selain menjadi monumen juga memiliki fungsi sebagai mercusuar. Di dalam bangunan yang menopangnya berfungsi sebagai museum yang menyimpan sejarah kelautan dan TNI AL. Dari jauh Monjaya terlihat sangat mencolok dan jika kapal melintasinya akan seperti melintasi Patung Liberty di New York, ya setidaknya itu yang saya bayangkan hasil dari menonton Titanic haha/ Menaiki bangunan untuk ke atas Monjaya ternya menyadarkan saya bahwa saya sudah tua eh atau saya jarang olahraga? haha yang jelas energi saya tidak segarang waktu menaiki Mercusuar Sembilangan yang 18 lantai itu. Tapi Ruddin berhasil menghibur saya dengan mengatakan pasti rasanya capek karena tadi awalnya kami sudah berkeliling kapal dulu. Masuk akal juga haha... Di atas kami bisa melihat kapal-kapal yang gagah itu lagi dan juga tentunya kapal-kapal Pelabuhan Tanjung Perak. Dari atas juga makin terlihat bagaimana riuhnya pengunjung acara naval Base Open Day ini. Itu berarti masyarakat memang tertarik dengan bagaimana keadaan markas prajurit pembela tanah air kita. Selain Monjaya ini sebenarnya masih ada Fleet House dan lain-lain yang bisa dikunjungi. Hanya saja waktu itu kami sudah lelah untuk melanjutkan langkah. Semoga ada kesempatan lagi buat bisa berkunjung ke Armatim.

Ternyata Armatim mampu menambah kekaguman saya terhadap kapal dan lautan. Tidak salah jika saya mengunjunginya. Meskipun menarik, kita tidak bisa mengunjungi Armatim sesuka hati kita karena jika selain di acara seperti ini pengunjung harus meminta ijin terlebih dahulu. Seringnya sih anak-anak sekolahan yang mengujungi Armatim. Nah kalau saya? Siapalah saya ini haha. Selain pengen ikut lomba renang Selat Madura, saya juga jadi ingin sertifikasi selam di Dislambair saja, hehe. Yang jelas kurang apa TNI AL kita? Mereka hebat seperti nenek moyang kita yang seorang pelaut itu. Ghora Vira Madya Jala Jales Veva Jaya Mahe, Selamat Hari Armada RI 2014.

Monjaya
Foto dan Edit Lebay Oleh Saya


Monday, 1 December 2014

Kekuatan Komunitas untuk Pariwisata Syariah di Madura.

Jembatan Suramadu dari Sisi Surabaya
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Jembatan Suramadu sejak 10 Juni 2009 memberikan kesan baru pada penampilan Surabaya, Madura, Jawa Timur bahkan Indonesia. Ibarat penampilan seseorang, Suramadu berhasil menjadi aksesori khas yang menyimbolkan identitas tuannya. Bahkan sejak saat dilahirkan sampai sekarang, pembangunan Jembatan Suramadu ini yang menyumbangkan perubahan paling drastis atas wilayah di sekitarnya. Wajah pedesaan yang dulu melekat di pinggiran Kota Surabaya ini sekarang benar-benar menjadi sebuah kota. Jadi ini sebenarnya yang dinamakan urbanisasi, yaitu proses mengkotanya suatu perdesaan.

Tentu saya masih ingat dengan jelas bagaimana proses pembangunan jembatan yang masih menjadi jembatan terpanjang di Indonesia ini. Perjalanan pembebasan lahannya tak mengenal ganti rugi namun ganti untung dengan diskusi yang dilakukan tidak sekali dua kali bersama masyarakat. Finishing jalan raya menuju Suramadu juga sempat mengacaukan jalanan dan lalu lintas untuk sementara. Dengan kesibukan seperti itu pasti terbayang berapa besar pembiayaan Jembatan Suramadu. Pembiayaan dari pemerintah maupun swasta yang terlibat. Tujuan pembangunan Jembatan Suramadu sederhananya adalah untuk meningkatkan perekonomian dengan mempermudah aksesibilitas. Namun dalam waktu lima tahun setelah diresmikannya jembatan ini kita tidak melihat perputaran perekonomian secara signifikan. Jangankan pemerintah dan pihak investor, saya sendiri yang warga biasa saja rasanya was-was juga karena perputaran ekonomi yang cepat tak kunjung terjadi seperti harapan. Sementara Jembatan Suramadu pastinya juga punya usia dan usia investasi. Bukan perkara mudah untuk menyiram jenggot pemerintah yang kebakaran karena ini. Tapi pasti ada cara untuk mempercepat pembangunan dan perputaran ekonomi ini.

Kota Surabaya merupakan kota yang dikembangkan sebagai kota jasa dan perdagangan yang berwawasan lingkungan. Namun bukan berarti orang-orang yang berkunjung ke Surabaya tidak bisa melakukan kegiatan berwisata di Surabaya. Sedangkan di Madura sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Sementara itu terdapat pula orang yang sekadar ingin menikmati sensasi melewati Jembatan Suramadu. Oleh karena itu dalam usulan rencana percepatan pembangunan wilayah Suramadu ini difokuskan pada Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJS) dan Pulau Madura. Sistem yang diterapkan tidak hanya satu arah namun dua arah (top-down dan bottom-up). Percepatan melalui pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan melalui kekuatan komunitas masyarakat.

Pengembangan KKJS

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya, Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJS) sisi Surabaya direncanakan sebagai pariwisata dan perdagangan jasa (perjas). Singkatnya KKJS sisi Madura juga demikian. Namun lima tahun berdiri kokoh, yang dapat dihadirkan di dua sisi KKJS adalah masih berupa barisan Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebenarnya lebih baik daripada tidak ada apapun, tapi PKL yang hadirpun cenderung homogen jenis dagangannya. Padahal pengembangan wilayah Surabaya dan Madura seluruhnya meliputi kawasan perdagangan dan jasa, industri, pariwisata, dan lain sebagainya. Luas KKJS sisi Madura sesuai Perpres No. 27 Tahun 2008 adalah kurang lebih 600 ha. Sedangkan KKJS diharapkan menjadi simbol dan gerbang yang menandakan bahwa kita sudah memasuki wilayah Surabaya atau Madura, tentunya harus bisa menjadi cerminan keadaan seluruhnya. Mari kita lihat kondisi eksisting pengembangan wilayah di KKJS.
Kondisi Eksisting KKJS sisi Madura
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Saat ini KKJS sisi Surabaya telah dibangun taman-taman yang semoga saja nanti menjadi taman aktif bukan taman pasif. Dari taman ini diharapkan ada langkah kecil dari pemerintah untuk mengenalkan potensi-potensi pariwisata yang ada di Surabaya maupun Madura. Contohnya seperti dengan memberikan edukasi pariwisata di Madura dan Surabaya melalui peta-peta wisata yang dipasang di taman. Dengan demikian, pengunjung akan tertarik dan memiliki pengetahuan mengenai apa saja potensi pariwisata yang dimiliki.

Pengembangan Komunitas (Community Development)

Madura dari ujung Kabupaten Bangkalan sampai Kabupaten Sumenep memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan daerah lainnya. Hanya saja bagi sebagian orang Madura masih dikenal sebagai pulau garam saja. Padahal atraksi alam dan kebudayaan di Madura sangat kaya. Mulai dari wisata bahari, keajaiban alam, heritage, religi, sampai pertunjukan kebudayaan yang diselenggarakan setiap tahunnya. Saya sendiri pernah mencoba menjajaki pantai-pantai dari Kabupaten Bangkalan sampai Sumenep dan juga wisata religi. Sejak saat itu semakin saya menulis tentang Madura, semakin saya tahu bahwa pulau ini sedang berkembang dan mulai diminati sebagai tujuan wisata. Mulai dari sekadar Suramadu dan Bebek sampai yang seperti saya lakukan. Oleh karena itu jika tidak dipersiapkan dengan baik maka wisata di Madura tidak memiliki jaminan berkelanjutan. Definisi berkelanjutan yang banyak orang sepakati adalah keadaan dimana anak cucu kita di masa yang akan datang masih bisa menikmati hal yang sama seperti saat ini. Persiapan tersebut tentunya tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja (pemerintah) tapi juga masyarakat yang menjadi bagian dari wilayah pariwisata. Untuk itu diperlukan pengembangan komunitas sebagai orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan kawasan pariwisata.

Komunitas dalam konteks pembahasan ini adalah komunitas masyarakat yang dalam suatu wilayah memiliki peranan terhadap wilayah tersebut. Madura sebagai pulau kultural yang kental dengan tingkat religius yang tinggi tentu perlu dijaga akan asimilasi budaya yang datang tidak perlu melunturkan budaya yang ada. Pengembangan kominitas ini sangat penting mengingat komunitas sebagai modal sosial. World Bank memberikan pengertian modal sosial sebagai lembaga-lembaga, hubungan dan norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas dari interaksi sosial masyarakat. Akhir-akhir ini promosi terhadap Pulau Madura semakin gencar dilakukan di media elektronik. Salah satunya adalah melalui komunitas Plat-M yang memiliki slogan "Menduniakan Madura". Mereka tidak hanya melakukan promosi melalui media elektronik saja, namun melakukan berbagai macam pelatihan. Pelatihan yang diharapkan mampu membuat orang-orang berbodong-ondong mengunjungi Madura dan membuat mereka kembali lagi. Seperti memberikan travel experience yang berbeda dan hanya bisa dinikmati di Madura. Hal-hal semacam ini turut membantu membangun dan memperkuat modal sosial sehingga dapat membangun pariwisata di Madura secara bottom up.

Selain itu yang turut membangun modal sosial dalam pengembangan masyarakat adalah munculnya penyedia jasa pariwisata lokal atau yang biasa disebut sebagai Tour Organizer (TO). Menjamurnya TO seperti ini tidak hanya terjadi di Madura namun juga di Surabaya yang menyediakan jasa pariwisata di Madura.Tentunya dengan adanya TO secara tidak langsung juga turut mempromosikan potensi pariwisata di Madura. Dengan usaha dari berbagai pihak bukan tidak mungkin impian menduniakan Madura bisa terwujud. Namun penguatan sosial tersebut jika tidak dibarengi dengan konsep untuk menjaga kultur malah akan menimbulkan dampak pengembangan tak terkendali dan sporadis. Dibutuhkan suatu konsep yang dapat mendukung perkembangan pariwisata serta menjaga kultur masyarakat. Sekali waktu pernah terdengar bahwa investasi di Madura banyak terhalang oleh kultur dan karakteristik masyarkat lokal yang sangat religius. Sebenarnya hal tersebut bukanlah halangan lagi untuk saat ini. Karena konsep pariwisata syariah bisa menjadi solusi untu pengembangan pariwisata di Madura.

Pariwisata Syariah di Madura

Pariwisata syariah bukanlah jenis pariwisata ziarah saja. Wisata syariah (Halal Tourism) sejatinya adalah bentuk pariwisata yang mengedepankan layanan-layanan sesuai standar halal umat muslim. Standar tersebut meliputi pelayanan hotel, biro perjalanan, spa, dan juga sarana prasarana penunjang pariwisata. Di negara-negara tetangga bahkan yang bukan mayoritas penduduk muslim telah lama mengusung konsep wisata syariah untuk menarik pengunjung yang beragama muslim. Sedangkan di Indonesia, pariwisata syariah mulai diresmikan oleh Kemenperakraf pada Oktober 2013 lalu dengan mencatat tujuan potensial adalah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar, Yogyakarta dan LombokKunjungan turis muslim ke Indonesia sendiri mencapai 1.270.437 orang setiap tahunnya. Pada tahun 2013 lalu potensi syariah  mencapai US$ 137 miliar dan terus dipacu menjadi US$ 181 miliar di tahun 2018 mendatang (Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenperakraf pada Tempo, 2014).

Pariwisata syariah sendiri tidak akan mengkhususkan diri bagi turis muslim saja, namun seluruh pasar. Karena sejatinya yang disebut syariah adalah meniadakan hal-hal yang membahayakan bagi kemanusiaan maupun lingkungan dalam produk dan jasa yang diberikan. Pulau Madura sendiri dengan potensi pariwisata yang tinggi dan kultur religius masyarakat lokal seharusnya bisa menjadi pemain dalam industri pariwisata syariah ini. Tentu saja dengan dukungan dari masyarakat lokal dan masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang memberikan standar pariwisata syariah. Tidak hanya Madura, Kota Surabaya pun sudah mulai mengusung pariwisata syariah ini pada produk dan jasa pariwisatanya. Sehingga tidak ada alasan bagai Pulau Madura untuk tidak mencoba menerapkan konsep halal tourism ini. Di sini kewajiban pemerintah adalah untuk memberikan sosialisasi pada komunitas masyarakat dan pelaku usaha tour organizer mengenai pariwisata syariah. Tidak hanya soasialisasi namun pemerintah juga memberikan label halal bagi produk dan jasa pariwisata. Menjadi semacam labeb halal dari MUI pada produk makanan. Sedangkan komunitas masyarakat yang terdiri dari masyarakat lokal maupun penyedia tour organizer memiliki tugas untuk melaksanakan dan menjamin produk serta jasa pariwisatanya sesuai dengan pariwisata syariah. Koordinasi antara komunitas masyarakat dan pemerintah menjadikan pembangunan pariwisata secara dua arah (top-down dan bottom-up) dan juga menjaga sustainable tourism. Pengembangan pariwisata yang kuat dukungan dua arah serta konsep yang tepat dapat menjaga arus asimilasi budaya akibat pembangunan pariwisata.  Komunitas pemuda lokal terus mempromosikan pariwisata melalui media-media elektronik, komunitas masyarakat lokalnya menjaga kultur dalam menyediakan jasa dan produk wisata, dan pemerintah yang mengawasi jalannya stadarisasi pariwisata syariah menjadi koordinasi yang cukup baik jika diterapkan. Dengan demikian benturan antara investor dan kultur masyarakat yang sempat terdengar tidak akan terjadi. Dan Madura kelak benar-benar menjadi pemain dan tujuan utama dalam dunia pariwisata syariah.

Dengan berkembangnya pariwisata di Madura, turut pula berkembang sektor-sektor perekonomian yang lain. Karena kita tahu bahwa pariwisata merupakan multisektor perekonomian yang artinya tidak hanya menyediakan satu macam produk atau jasa saja. Dalam perkembangannya pariwisata yang semakin diminati juga memacu pertumbuhan sektor-sektor lainnya, yang nantinya diharapkan dapat mempercepat pembangunan di wilayah Madura maupun Surabaya seperti yang banyak ditunggu oleh masyarakat maupun pemerintah. Percepatan pembangunan tersebut bukan hanya dalam bidang pariwisata tentunya namun sarana dan prasarana kota yang sesuai standar kebutuhan masyarakat juga merangkak menjadi layak untuk masyarakat lokal maupun turis yang akan datang.