Thursday, 29 August 2013

17 Agustus, Borobudur dan Puncak Suroloyo

Hari ini katanya diperingati sebagai hari kemerdekaan Negaraku dari penjajahan negara lain 68 tahun yang lalu. Hari ini juga hari sabtu pertama setelah kembali dari Surabaya untuk menunaikan kewajiban Kerja Praktek yang tinggal sedikit lagi. Tanggal merah itu harusnya libur kan? nah, oleh karena itu ba'da subuh tapi jam 6 pagi haha... Saya dan Tata memutuskan libur dari studio dan pergi ke Magelang, ingin tahu candi yang menjadi warisan budaya dunia itu. Sumpah bukannya cupu, tapi saya benar-benar belum pernah ke Candi Borobudur. Dari kost ke sana cukup jauh juga sih, tapi bukannya lebih jauh Surabaya ke Borobudur ya? Haha jadi saya oke oke saja untuk memutuskan pergi ke sana. Berbekal rute yang saya dapat dari google maps dan teori "Nyasar Adalah Bagian dari Petualangan" saya dan Tata nekad pergi. Rute yang disarankan google sih cukup jauh jadi saya bikin rute saya sendiri di google dengan teori pitagoras. Anehnya rute yang disarankan google itu lebih jauh tapi waktu tempuh lebih singkat dari rute saya yang jaraknya singkat tapi waktunya lebih lama. Setidaknya itu kata google maps. Saya sih tidak serta merta percaya pada google. Haha... Tapi tapi. Yah nanti lah ceritanya dan beginilah rute ke Candi Borobudur. 
Rute yang disarankan Google Maps

Rute yang saya bikin sendiri
Kenyataannya, rute saya yang pitagoras itu benar-benar membutuhkan waktu lebih lama daripada rute awal yang lebih jauh. Sumpah deh saya gak mau macam-macam sama google. You know what? Ternyata rute saya itu melewati perbukitan ditambah acara nyasar. Aaaak... Keren kan? Tapi kalau gak lewat rute itu paling saya tidak akan pernah mencapai puncak Suroloyo. Haha... FYI, Candi Borobudur ini terletak di Magelang lho bukan Jogja. Terkadang masih sering ada yang salah kaprah. Memang sih letaknya dekat sekali dengan batas Jateng-DIY. Anda cukup membayar 30ribu rupiah untuk masuk di candi yang didaulat sebagai warisan budaya dunia itu. Tasirok-sirok darah awak waktu melewati tulisan Selamat Datang di Jawa Tengah dan batas DIY yang ada di Kalibawang.
Batas di Kalibawang, Kulon Progo
Ternyata Nyata Keren

Kelihatan Bukit-Bukit ya :D
Oh ya, di sini ada museum yang keren. Menceritakan tentang sebuah kapal yang melakukan ekspedisi ke Romawi, Arab, Nusantara, dan Cina. Nama kapal ini adalah Samudraraksa atau Pelindung Lautan. Wiiih.... keren sekali. Bisa juga lho masuk ke kapal ini tapi ongkosnya berat bro :( 100.000 rupiah. Mana waktu itu itu cuma bawa duit yang cukup buat makan, bensin, dan tiket masuk Candi Borobudur. Ah ngefans sekali sama kehidupan lautan. Seperti saya yang selalu terkagum juga dengan Pinisi. 
Samudraraksa (Pelindung Lautan)
Setelah lelah muter-muter, kami piknik di rerumputan sambil nyemil bikuit gratis dari kost dan minum yang bawa dari kost juga. Haha... Sudah hampir duhur tiba, kami ingin menginjakkan kaki di Puncak Suroloyo, yang signagenya kami lihat saat mencari jalan ke Borobudur di perbukitan. Tulisannya berlogo Indom*e dan bertuliskan sekitar 10Km lagi dengan medan yang pastinya seru, menanjak, dan harus masuk perseneling 1. Oh sebelum itu kami mengisi amunisi dan semangat dengan presensi sholat duhur dulu. Brrr.... Air Suroloyo adem dan enak bro... 
Menurut sumber yang saya dapat Puncak Suroloyo ini merupakan pertapaan Raden Mas Rangsang yang selanjutnya diberi gelar Sultan Agung Hanyorokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang. Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yosodipuro yang ditulis pada abad ke 18, Sultan tersebut mendapat dua wangsit, yang pertama bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa sehingga dia berjalan dari Kotagede ke arah barat sampai pada Pegunungan Menoreh, kedua bahwa ia harus melakukan tapa ksatrian agar bisa menjadi penguasa.Ya begitulah ceritanya, tapi yang lebih keren di sini adalah saat perjalanannya saya menoleh ke arah belakang, dan Subahanallah saya seperti melihat sebuah peta kontur secara nyata. Gambar yang saya abadikan sama sekali tidak dapat menggambarkan apa yang dilihat oleh mata saya. Datang sendiri dan Agungkan nama Tuhan. Yang jelas, saya kurang beruntung waktu itu. Kurang beruntung saja, saya udah terkagum seperti itu. Ya kurang beruntung karena kabut tebal, jika tidak maka dari sana kita dapat melihat puncak Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, dan Merbabu. Gunung, ah I love gunung, kita juga bisa melihat Borobudur dari atas sana. Sungguh kamu harus mencoba sendiri ke sana apalagi jika kamu warga DIY, kenali jati diri DIY sob. Cukup cukup terseponanya, hehe... saya mau berbagi foto ketika disana. Satu lagi bukti bahwa nyasar adalah bagian dari petualangan. 
Foto oleh D Indah Nurma
Foto oleh timer :p

Dari tempat saya duduk

Folo oleh Eta Rahayu