Wednesday, 11 November 2015

Dari 11:11 Hingga Konspirasi Alam Semesta Fiersa Besari

Sepaket Album buku Konspirasi Alam Semesta Milik Saya

Saya penikmat musik random. Tak ada satu genre khusus yang saya gandrungi. Tak ada lirik khusus atau komposisi musik tertentu yang wajib saya dengarkan. Kadang bisa mendengarkan nasyid yang membuat hati bertaubat barang 5 menit, lagu romansa yang mengalirkan pada bayang-bayang yang kunjung datang, atau musik keras semacam SOAD. Semua random. Ah tapi tulisan ini tak sedang untuk menunjukkan bagaimana ketertarikan saya pada musik. Tulisan ini tentang perkenalan saya pada musiknya Fiersa Besari. Ya seorang yang namanya saya kenal sejak album 11:11 miliknya hingga kini saya ikuti sampai Album Konspirasi Alam Semesta. Nama Besari sendiri unik, ternyata ada nama seperti itu selain kakak saya dan saat film Ainun Habibie, nama Besari tak lagi asing di telinga manusia.

Fiersa Besari, pemusik indie asal Bandung yang saya tak tahu awal karir bermusiknya secara profesional sejak kapan. Seorang teman begadang mengenalkan saya pada musiknya namun malah saya yang terjatuh ke sungai arus hingga albumnya yang terbaru. Saya enggak ngerti musik-musik indie lainnya yang saya dengarkan enak ya saya suka, gitu aja. Setahu saya album 11:11 sempat diproduksi secara fisik lalu habis terjual dan dapat diunduh secara gratis di situs lelaki yang lebih senang dipanggil Bung itu. Lalu setelah itu ia juga sempat membuat album Tempat Aku Pulang yang juga dapat diunduh secara gratis. Katanya itu album sebelum ia pergi menyambangi wajah tiap manusia di pelukan ibu pertiwi. Tak hanya mengikutinya dalam hal bermusik, saya sebagai manusia kekinian yang gemar berselancar di dunia maya kerap menyapanya di twitter. Bahkan iseng mengirim pesan agar menerima permintaan teman di facebook. Fiersa, musik, dan petualangannya turut jadi penyemarak hari-hari. Pernah dari obrolan lewat twitter saat oktober 2013 menjelang habis, ia mengirim sebuah DM menanyakan apakah saya sedang ulang tahun. Ucapan selamat hingga folback twitter jadi kejutan. Sesekali norak karena hal yang disukai sah-sah saja kan? Ya, lalu setelah kepulangannya dari berkeliling Indonesia, ia merilis ulang album Tempat Aku Pulang dalam bentuk fisik dan bonus hidden track yang luar biasa keren. Konsep dari album fisik Tempat Aku Pulang juga tak biasa. Syairnya ditulis tangan oleh kawan-kawa Fiersa Besari yang ia temui selama perjalanan dan dilengkapi ilustrasi di sampingnya.
Album Tempat Aku Pulang Milik Saya (Lusuh ya? hehe)
29 Oktober 2015, Fiersa kembali merilis album yang bertajul Konspirasi Alam Semesta. Uniknya dia menggadang konsep fusi antara musik dan literasi hingga karya terbarunya lahir dalam bentuk albook, yaitu album dan buku. Kecintaannya pada dunia literasi dibuktikan dengan serius kali ini. Berisi 14 track dan berarti pula ada jumlah chapter yang sama di bukunya. Saat pertama mendengar musik di album yang baru ini akan sangat terasa segar dengan beat baru yang ditambahkan. Ah saya enggan mengkritisi, saya buka profesional. Hanya berkomentar dari sudut pandang orang yang setia menikmati karyanya. Syair-syairnya kali ini dibuat dengan jauh lebih sederhana dari album sebelumnya. Tapi itu tak berarti menjadikannya tak lebih menarik. Justru secara sederhana ia bagai mampu menyampaikan seluruh pesannya dengan sempurna, meski kata sempurna hanya pantas disandingkan dengan Tuhan. Lagi-lagi setiap tracknya akan mampu membawa hati pendengarnya turut mengalir hingga musik berakhir. Bahkan saya yakin banyak pula manusi di luar sana yang setuju jika kisahnya dibilang masuk banget dengan lagu-lagunya.

Lalu dimana letak fusi antara musik dan bukunya? Kuncinya adalah nikmati dulu dua karyanya di Konspirasi Alam Semesta. Tak bisa jika hanya mendengar saja atau membaca saja. Paling tidak keduanya harus pernah dinikmati. Saat membaca bukunya kita akan tahu bagaimana mereka berfusi. Dibalik syair sederhana ada cerita sederhana namun hangat dari dua anak manusia dalam buku tersebut. Juang Astrajingga dan Ana Tidae adalah dua tokoh sentral dari buku Konspirasi Alam Semesta yang terdiri dari 118 halaman tidak termasuk cover. Jadi dari yang saya pahami bahwa bukunya memberi warna dan menjabarkan makna dari sederhananya syair. Menggambarkan keadaan sesungguhnya dari sisi penulis. Menghidupkan syair-syairnya dari setiap cerita di chapternya. Lalu syairnya sendiri merupakan sebuah wakil dari keadaan yang dituliskan di buku dengan secara sederhana. Kemudian para pendengar dipersilakan mensubstitusi kisah dalam buku dengan kisah mereka sendiri.

Awalnya saat membaca halaman pertama saya sempat curiga bahwa isi dari buku ini adalah roman picisan dengan dambaan jalan cerita ala anak muda. Seperti berawal dari keadaan yang tak terduga, jatuh cinta tapi si wanita saki, konflik, klimaks, anti klimaks, lalu bahagia selamanya. Nah memang manusia baiknya tak cepat menilai. Jujur 118 halaman yang harusnya mudah bagi para pecinta novel ternyata tak demikian. Untuk menikmati buku ini harus pelan, menikmati diksi yang tersaji apik. Awal pertemuan dua tokoh sentral agak bisa diduga namun isi perjalanan mereka yang tidak. Seperti saat mereka bertemu karena tidak sengaja, kemudian telibat cinta segitiga, sampai akhirnya Ana Tidae diharuskan memilih satu untuk hatinya. Cerita ini memiliki beberapa klimaks semu seperti pada waktu mereka merayakan resminya cinta hanya berdua, perginya Juang ke Papua lalu menghilang. Namun klimaks semu itu mengantarkan pada klimaks sesungguhnya dimana mereka merayakan sembuhnya Ana dari penyakit, merayakan resminya cinta mereka di mata Tuhan, lalu perginya Juang dari dunia untuk selamanya. Anti klimaks paling memilukan saat Ana berdamai dengan takdir buruk yang menimpa kisah mereka.


Sederhana bukan jalan ceritanya? Memang, tapi mampu dikemas dengan bumbu yang tak biasa. Saya mengira bahwa jalan ceritanya pun fusi antara fiksi dan pengalaman pribadinya sewaktu di Bandung maupun keliling Indonesia. Buku ini menawarkan paket lengkap manisnya percintaan, pahitnya pengkhianatan, eratnya persahabatan, hangatnya keluarga, gigihnya perjuangan, hingga beratnya melepaskan. Sewaktu membaca juga sukses membuat emosi seperti papan jungkat-jungkit lalu dikatrol ke atas dan dihempas ke bawah. Iya sukses mengaduk emosi pembaca. Seratus delapan puluh halaman yang tanpa sia-sia. Diksinya menyelamatkan para penulis ulung dari kemiskinan. Iya sesuatu yang ditakutkan penulis bukannya miskin harta namun miskin diksi. Bagi saya pribadi fusi antara musik dan literasi dalam karyanya kali ini adalah berhasil. Saking berhasilnya saya ingin suatu saat buku ini didaftarkan ke ISBN dan ISSN. Terima kasih atas suguhan karyanya yang mewarnai dunia seni dan literasi. Selamat terus berkarya hingga tak mampu lagi melawan kehendak Tuhan untuk sebuah akhir. Selamat menikmati dan menghargai karya Fiersa Besari bagi para pecinta seni dan literasi. 

No comments:

Post a Comment