Thursday, 26 March 2015

Wajah Surabaya Tua Kini: Pelabuhan Tradisional Kalimas


Jembatan Petekan Tahun 2015
Foto dan Edit Oleh: D. Indah Nurma

Surabaya merupakan kota tempat saya dilahirkan dan tinggal sampai saat ini. Setiap perubahan bisa dibilang saya mengamatinya sebanyak usia saya sekarang. Meskipun begitu bukan berarti saya mengenal dekat bagaimana kota saya ini. Saat memasuki usia Anak Baru Gede, saya banyak melewatkan kebiasaan nongkrong pada umumnya. Bahkan teman-teman saya menggelengkan kepala saat tahu saya tidak pernah memasuki suatu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Surabaya Selatan (itu dulu, sekarang sudah pernah). Tapi lama-lama saya jadi merasa bersalah karena cuek terhadap kota sendiri. Akhirnya waktu kuliah saya sering blusukan bersama teman-teman saya. Ya bukan cuma itu, akhir-akhir ini saya melakukan perjalanan ke utara bukan untuk mencari sebuah kitab tapi sebuah wajah. Perjalanan menyusuri Surabaya dari utara atau orang menyebutnya Tanjung Perak. Perjalanan yang rencananya akan saya tulis di masing-masing lokasi dengan kolom bernama "Wajah Surabaya Tua Kini."
Kapal-Kapal Kayu di Pelabuhan Tradisional Kalimas
Foto dan Edit Oleh: D. Indah Nurma

Hujung Galuh atau Ujung Galuh atau Kampung Galuhan yang menurut peta Surabaya pada masa awalnya terletak di wilayah Tanjung Perak. Dalam tulisan kali ini saya tidak akan membahas panjang lebar kali tinggi (rumus volume dong, bener kan ya? haha) tentang sejarah Ujung Galuh. Tapi saya hendak menunjukkan bahwa tempat itu ada dan hingga kini juga ada, meskipun tidak lagi menjadi jantung yang mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh Kota Surabaya. Mengenai Jung Galuh atau Ujung Galuh atau Hujung Galuh atau Jenggala bisa lihat di catatan sejarah milik Bapak Dukut Imam Widodo, Oud Soerabaia milik Von Faber, yang saya yakin semua pecinta sejarah pasti mendapat penjelasan dari Kitab Kakawin Mpu Prapanca. Namun sampai sekarang nama Ujung Galuh masih diperdebatkan apakah letaknya di Surabaya yang kini bernama Tanjung Perak. Karena saya bukan ahli sejarah makan silakan masing-masing mengkaji dari referensi yang saya sebutkan di atas.

Yang Jelas tempat yang konon katanya itu adalah Ujung Galuh dari dahulu sampai sekarang masih sama-sama memiliki pelabuhan. Ujung Galuh dahulu memiliki pelabuhan dimana kapal-kapalnya bersandar di Sungai Kalimas. Tanjung Perak kini merupakan perkembangan dari palabuhan tradisional tersebut dan menjadi pelabuhan yang sangat sibuk. Dahulu kapal-kapal besar bersandar di muara Sungai Kalimas untuk mengangkut barang-barang niaga ke pusat Kota Surabaya. Sebelum memasuki Pelabuhan Tradisional Kalimas otomatis akan melihat Ophaalburg atau Jembatan Petekan yang dibangun oleh NV Braat and Co pada tahun 1900an. Jembatan yang memiliki bentuk jembatan gantung itu bisa dinaik-turunkan agar kapal-kapal kecil bisa lewat untuk membawa barang-barang niaga ke kawasan bisnis Surabaya di kembang Jepun. Namun sayang sekali kecanggihan benda itu pada masanya hanya tinggal bayang-bayang saya, sekarang tinggal onggokan besi tua yang terlihat cukup menggiurkan jika dijual kiloan.


Kapal-Kapal Besi di Pelabuhan Tradisional Kalimas
Foto dan Edit Oleh: D. Indah Nurma
Memasuki kawasan pelabuhan tradisional yang terlihat adalah deretan pergudangan dan jasa ekspedisi. Di muara sungai yang paling dekat dengan Selat Madura berjajar kapal-kapal kokoh yang terbuat dari logam. Sedangkan pemandangan menarik jika kita berjalan semakin ke selatan, yaitu kapal-kapal kayu besar yang berjajar dengan muatan yang berbeda-beda. Kegiatan khas yang terlihat adalah aktivitas bongkar muat barang dari dan ke dalam kapal. Jika melihat ke arah Jembatan Petekan maka akan terbayang bagaimana dahulu sibukanya bongkar muat ke kapal-kapal kecil lalu didistribusikan menuju kawasan niaga melalui bawah jembatan yang akan terangkat. Namun kini setelah jalur-jalur darat telah banyak dibangun, pendistribusian barang dagangan dengan diangkut oleh truk-truk. Mungkin karena itu dan manusia lebih menggap jalur darat lebih efisien lalu nasib Jembatan Petekan terlupakan. Kawasan Pelabuhan Tradisional Kalimas selain para pekerja yang mendatangi mungkin hanya pemburu foto yang mencari santapan utama atau camilan, Lalu mungkin para pecinta sejarah yang sedang mencari Ujung Galuh, dan mungkin orang-orang seperti saya yang sedang ingin memandangi lekat Wajah Surabaya Tua Kini. Sampai jumpa di episode selanjutnya.

Seorang Ibu yang Berjualan Makanan di Kapal yang Bersandar
Foto dan Edit Oleh: D. Indah Nurma
Aktivitas Bongkar Muat Saat Ini
Foto dan Edit Oleh: D. Indah Nurma


Monday, 2 March 2015

Bukit Pelalangan Arosbaya: Ini di Indonesia?

Bukit Pelalangan Arosbaya
Foto Oleh: D. Inda
Tren berwisata ke bukit kapur sepertinya bakal menjadi saingan tren batu akik di tahun 2015 ini. Setelah Aeng Guweh Poteh yang sebelumnya aku intip kedahsyatannya dan Bukit Jamur di Gresik (yang ini saya belum pernah, kini Bukit Pelalangan turut mengguncang ketenangan dunia para pejalan.

Alkisah setelah melakukan drama kunjungan ke Guweh Poteh ditemani Mas Fahmi, tiba-tiba ada sebuah mention dari Bang Enzat di facebook. Sebuah postingan foto berisi screen capture instagram seseorang bernama Perry Christian mendapat banyak sekali komentar dari orang yang ingin tahu. Bagaimana tidak? Di foto itu seseorang sedang berpose berjalan dengan menggendong tas punggung di sebuah tempat tebing berbukit yang dihiasi tanaman paku-pakuan. Ditambah lagi embel-embel  kalimat “di Indonesia juga punya tempat seperti itu.” Otomatis memancing tanya orang-orang yang jaman sekarang ingin sekali disebut sebagai tukang jalan. Aku juga sih, gak mau ketinggalan dengan memforward foto itu ke Nurul haha... Sebenarnya sebuah rencana mengunjungi tempat itu di hari minggu sudah disiapkan tapi batal karena satu dan lain hal. Tentu saja tidak nekat mengunjungi tempatnya tanpa tau pasti letaknya dimana. Awalnya kubaca sekilas keterangan fotonya ada di Arosbaya, Bangkalan, Madura dan dekat dengan tempat Ziarah Aer Mata. Wah... itu sih dekat banget. Tanpa basa-basi lagi langsung saja kutanyakan jelasnya pada si empunya foto di instagram.

Akibat batal ke sana jadi cuma bisa memandangi tempat itu dari layar ponsel. Secara pribadi keinginanku mengunjungi tempat itu karena mirip dalam sebuah setting game petualangan Tomb Raider Legend yang sering saya mainkan waktu SMP. Suatu malam iseng-iseng berselancar di instagram melihat sebuah tempat yang mirip seperti foto itu yang diposting oleh Mas SlameTux, yaitu teman blogger yang sekali kutemui tapi belum kenalan waktu itu. Ini jari-jari nakal banget sampai bisa otomatis mengirim komentar minta ditemenin ke sana. Tak disangka masnya langsung mbalesi.

“Hayuk kapan? Besok? Soalnya aku weekend gak bisa.”

“Hyah bentar cari barengan dulu dari Surabaya.” Gak nyangka bakal dibales secepat itu dan ngajaknya besok juga.

Singkatnya nih aku ngajak Tika lagi yang kosong juga jadwalnya, haha... Di instagram Cuma janjian besok pagi jam tujuh di Alun-Alun Bangkalan yang dekat Kodim. Sebenernya Mas Slamet sudah bilang dilanjut di BBM tapi aku sama sekali gak menghubunginya di BBM. Haha sampai besok paginya waktu sudah perjalanan ke Alun-Alun Bangkalan dia nge-BBM duluan tanya jadi atau enggak. Ya otomatis tak bilang kalau aku udah ondewe dan udah dekat tempat janjian. Pagi itu mungkin terlalu pagi sampai yang jualan di Alun-Alun masih sedikit. Cerita sebelumnya sudah ditemani butiran cimol dan kali ini gak mau lagi makan cimol, masih bosan. Yaudah akhirnya kami berdua nungguin tanpa jajan sama sekali. Sebuah nada ping berisi pesan bahwa Mas Slamet sudah di depan Kodim membuatku berjalan ke arah Kodim sambil melambaikan tangan.  Tanpa mengucap salam dan kenalan secara formal, kami langsung menuju Arosbaya. Mas Slamet yang membonceng temannya yang seorang cowok membuatku sempat kewalahan mengejar. Lha wong dia bawa motor cowok berkopling dan ber-cc leih tinggi dari si Supri-X yang aku kendarai, ditambah jalanan yang mulai enggak mulus alias banyak lubang. Tapi untung hanya perjalanan ke Arosbaya, kalau ke Tanjung Bumi aku pasti udah bawa peralatan kunci segala ukuran buat jaga-jaga benerin motor. Masalahnya jalanan yang rusak parah di Tanjung Bumi membuat spion motorku hampir copot waktu terakhir ke sana. Kalau hanya ke Sepuluh atau Arosbaya masih bersahabat lah.

Tempat ziarah Aer Mata Ebu memang pernah sekali saya datangi, lagi-lagi ya sama rombongan pengajian kampung hehe. Bedanya waktu itu naik bus dan kali ini naik motor sendiri. Gampang sih jalanannya tinggal ikuti petunjuk jalan saja, kalau tidak paham bisa pakai GPS (Gunakan Penduduk Sekitar). Sampai di depan gerbang tempat ziarah ternyata harus belok kanan memasuki kampung penduduk. Jalanannya mulai sempit dan menanjak yang menandakan petualangan baru saja dimulai. Sampai di tengah jalan Mas Slamet berhenti dan menawari untuk dibonceng saja. Tadinya aku yang strong ini jadi menurut saja karena enggak tahu medan di depan. Ceritanya nurut aja gitu sama yang udah pernah, haha. Mulai terlihat tebing-tebing dengan bekas pahatan yang indah dan para penambang batu kapur di sana. Ternyata di sana ada pengunjung selain kami, yaitu segerombolan anak muda yang juga juga ingin tahu seperti aku dan Tika. Baru-baru ini kutahu mereka dari Surabaya setelah berkenalan dan mereka minta difotokan, mungkin mereka ingin hunting foto. Yak jalanan di depan semakin menanjak dan menukik sodara-sodara tapi pemandangan di depan juga semakin memukau saja. Jalannya licin bekas lembab atau habis hujan. Tidak ada motor selain motor kami, yang lewat sesekali cuma  mobil bak terbuka pengangkul hasil tambang yang yakin banget deh kalo mesin mobil itu sudah dimodifikasi. Saat keyakinan hati bicara kalau lebih cocok pakai motor trail , di situ terjadi seseuatu yang konyol. Saat jalanan menanjak tiba-tiba perasaan tidak enak muncul, Mas Slamet gagal menguasai tunggangannya. Saat stag tidak bisa menanjak lagi yang terjadi adalah mundur teratur. Tapi bro mundurnya itu ke bawah dan itu meluncur tajam. Lebih kocaknya saat mundur bukannya khawatir malah aku tartawa-tawa sampai akhirnya aku mendarat bebas di rerumputan pinggir tebing. Untung enggak terluka sama sekali dan juga enggak kotor kena jalanan yang seperempat becek itu. Tiduran terlentang di rerumputan sambil memakai helm itu adalah pose terakhirku waktu motor terguling. Aku malah ketewa tanpa mikirin Mas Slamet yang khawatir pixionnya bakal ngambek setelah diajak guling-guling di sana. Kayaknya Mas Slamet salah masukin kopling dah tadi, tapi untung jatuhnya jadi jatuh terencana sehingga kami tidak ada yang terluka. Sebenarnya yang aku khawatirkan bukan jatuhnya tapi kena motor yang belakang. Kebetulan motor yang belakang adalah si supri-x tercinta yang lagi dikendarai temennya Mas Slamet sama Tika.

Setelah kejadian konyol itu berlalu kami menepikan kendaraan di spot pertama untuk istirahat dan foto-foto dong. Eh iya tak lupa kenalan secara resmi dan akhirnya aku tahu nama temannya adalah Stevian. Namanya sama susahnya untuk diingat dan disebut dengan bukit yang sedang kami kunjungi, yaitu Bukit Pelalangan. Mungkin yang nganggep tempat itu seperti setting game hanya aku, lainnya sepakat seperti di film Indiana Jones. Aku hampir kehilangan kata-kata karena beneran merasa senang di sana. Tempatnya seru dan memukau menurutku. Di kanan dan kiri semuanya tebing yang dulunya bukit. Tebingnya memiliki pola khas pahatan kotak atau garis-garis terartur dan dihiasi tumbuhan paku atau keluarga tumbuhan perintis lainnya. Banyak sudut yang bisa didatangi seperti goa-goa yang juga terbentuk karena proses penambangan. Ah gimana ya bro jelasinnya, pokoknya keren banget lah serasa berpetualang dimana gitu. Eh ya sampai lupa, hati-hati terhadap pungli di sana. Saat kami istirahat ada seorang bapak yang menanyakan asal kami dari mana dan langsung kujawab dari Surabaya. Ternyata pemirsa dia langsung bilang minta duit 50 ribu rupiah, eh buset dah... Langsung Mas Slamet ngeluarin jurus silat lidah ala orang Madura sampai akhirnya dia menang, yay! Kesalahanku sih, harusnya gak asal jawab tadi. Tapi kalau aku jadi penduduk sekitar juga pasti bakal miris sih, lokasi yang ada di sekitar mereka jadi tujuan wisata tapi mereka belum merasakan dampak positifnya.

Gaes kami sarankan saat ke sana membawa perbekalan yang cukup, seperti minuman dan makanan ringan tapi kalau selesai bawa pulang sampah kalian ya. Di sana tidak ada yang jualan makanan atau minuman dan waktu itu yang bawa minum air putih cuma aku seorang dan diminum berempat. Mas Slamet dan Mas Stevian belum sarapan pagi juga. Sementara kami bertiga masuk-masuk di goa, si Mas Stevian sepertinya kelaparan sampai hanya diam dan selfie-selfie. Saat melanjutkan petualangan tanda-tanda dia kelaparan makin tampak jelas, bukan pucat atau mau pingsan tapi rese gak karuan. Mulai dari ngambil sabtang ranting dan dia pukul-pukul ke tas punggung aku sampai dia narik tasku waktu aku jalan. Bro lo rese banget kalau lagi laper, haha...
Kartika di salah satu sudut Bukit Pelalangan
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Lompat
Foto Oleh: Mas Slamet
Kegiatan Penambangan Batu
Foto Oleh: D. Indah Nurma
Matahari sudah tepat di atas dan kami memutuskan mengakhiri petualangan seru menjelajahi Bukit Pelalangan Arosbaya ini. Saking serunya berpetualang dan melihat orang-orang menambang dengan cara memahat, waktu cek hasil foto-foto di galeri ponselku ternyata hanya sedikit, huhu sedihnya. Sebelum benar-benar balik ke Surabaya kami menunaikan ibadah sholat duhur di Masjid Besar Arosbaya dan mengisi perut di warung pinggir jalan. Setelah makan rupanya Mas Stevian sudah sembuh dan nyamperin. Kukira mau ngapain ternyata minta diinvite ke BBM, haha... Seru pol petualangan dadakan ke Bukit Pelalangan Arosbaya ini. Pengalaman baru dan dapat teman baru. Akhirnya saat pulang aku merasa digelayuti rasa khawatir bakal dikutuk massal kalau upload foto Bukit Pelalangan karena enggak ngajak dan mendahului teman-teman. Selain itu mungkin saja Bukit Pelalangan bakal ganti nama menjadi Bukitnya Indah setelah Gili Labak disebut teman-teman saya Pulaunya Indah dan kolam renang di Jaddih juga disebut Kolamnya Indah. Haha... Eh iya semoga ya pemda setempat mengelolanya dengan baik.

Bro dan sis sekalian saya punya catatan khusus kalau ke sana:
  1. Bagaimana rute ke sana? Cukup ikuti petunjuk arah menuju Arosbaya dan Aer mata Ebu. Sampai sana masuk jalan ke kanan yang melewati rumah penduduk.
  2. Kalau bawa mobil, silakan parkir di tempat ziarah dan ke sananya trekking bentaran gapapa. Kalau bawa motor pastikan kalian memakai helm untuk antisipasi kejadian yang kami alami.
  3. Bawa perbekalan secukupnya tapi jangan tinggal sampahmu di sana ya.
  4. Meskipun tidak membawa teman yang asalnya Madura jangan khawatir dan tetaplah ramah sambil tersenyum pada orang-orang di sana.
  5. Terakhir jangan corat-coret bukitnya ya biar terjaga keindahannya. Kalau mau corat-coret di FB masing-masing aja ya atau sekalian tulis di blog.
More photo di google plus atau instagram ya gaes. Selamat berpetualang di sana.

Sunday, 1 March 2015

Drama Perjalanan ke Guweh Pote

PING!!!

“Tik, besok hari rabu free atau ada jadwal?”

“Libur mbak, ada apa?”

“Yuk touring ke pulau seberang, refreshing sebelum kesibukan mendera.” Tanpa basa-basi langsung saja kuajak Tika, tetanggaku sedari kecil itu.

Rencana awal kami pergi di hari rabu bukan ke pulau seberang melainkan ikut Lunar Track dari House of Sampoerna. Ternyata jadwal Lunar Track diundur dan kami sebelumnya sudah pernah ikut tour yang track biasanya itu. Dulu pernah punya rencana ngajak dia ke Mercusuar dan makan Bebek Sinjay langsung di tempat asalnya tapi gak jadi-jadi.

Lalu tiba-tiba teringat Mas Fahmi, seorang teman yang kukenal lewat kekonyolan dunia maya dan konspirasi Gili Labak itu sedang pulang kampung di Bangkalan. Ponsel yang masih ditangan langsung saja kubuka aplikasi messanger dan mencari nama Fahmie Ahmad di sana.

PING!!!

Lama tak ada tanda-tanda dilihat, dibaca, dicelupin eh dibalas maksudnya. Duh jaman udah semakin canggih tapi ternyata menghubungi orang juga rada-rada susah. Enggak kehabisan akal, kubuka aplikasi Instagram dan meninggalkan sebuah komentar di salah satu fotonya agar menghubungiku di BBM. Dan ajaib langsung  ada nada pesan masuk dan ternyata dari dia. Tak lama pesan berderet yang intinya sama seperti yang kukirim ke Tika terkirim padanya.

“Ayok, jam berapa? Ketemu dimana?” respon cepat dari Mas Fahmi.

“Pagian gimana? Jam tujuh gitu aku berangkat dari rumah.” BBM terkirim secepat kilat (efek pakai simpati dan bukan iklan apalagi endorse).

“Aku bisanya jam 9 baru berangkat dari rumah, kita ketemuan di Alun-Alun Bangkalan aja. Sekalian gitu ke kolam renang yang di Jaddih”

Gagal sudah rencana berangkat pagi biar enggak pulang terlalu sore. Aku mulai tak bisa berpikir jernih karena jam malam yang biasanya disebut jam goblok ditambah lagi sedang haha hihi main Ingress di warung kopi Cak To sama teman-teman Enlight yang lain. Kubalas singkat saja, kalo nanti aku BBM lagi karena masih di luar rumah.

Esok paginya subuh-subuh sebuah BBM yang berisi rute ke Jaddih sudah melayang ke Mas Fahmi. Sudah lima menit berlalu tapi Cuma tanda centang yang terlihat. Tadinya masih asik aja mungkin dia sedang kesiangan seperti sebuah cerita dari Bang Enzat yang pernah kubaca saat mereka melancong ke Sumbawa. Tapi setelah sebuah PING yang juga kukirim tak kunjung berbalas mulailah panik mendera. Satu-satunya yang bisa jadi teman curhat cuma Bang Enzat. Dan Bang Enzat kasih saran kalau ditelpon aja. Duh lupa aku kalau gak punya nomornya, lalu dia memberiku dua nomor Mas Fahmi. Setelah coba aku simpan dulu eh lah kok di kontak telpon ada nama Fahmie Ahmad dan ternyata aku pernah berkirim Whats App dengannya. Duh pikun deh, haha... tapi setelah coba telpon, ternyata masa aktif kartuku indosatku yang habis dan telkomsel cuma ada paket internet. Sebuah pengakuan memalukan itu melayang juga ke BBM Bang Enzat. Akhirnya Bang Enzat yang coba telpon ke nomor-nomor Mas Fahmi tapi semuanya gak bisa dihubungi.

“Tik, kita berangkatnya nunggu kabar temenku dulu ya? Dia katanya bisa kalau jam 9 tapi sekarang gak bisa ditelpon atau BBM. Ntar kalau gak bisa kita berangkat sendiri tapi gak usah ke kolam renang Jaddih. Aku Cuma tau jalan ke Mercusuar.”

“Iya, mbak.” Jawaban yang pasti akan diberikan Tika. Haha...
Setelah memasuki jam manusiawi untuk beli pulsa akhirnya masa aktif kartu bertambah dua minggu. Bergantian telpon dan sms ke kedua nomor Mas Fahmi jadi usaha terakhir. Setelah jari-jemari hapal untuk bergantian telpon yang disambut mailbox di XL dan tanpa nada sambung di axis akhirnya membuahkan hasil setelah 30 tahun (entah berapa jam yang rasanya bagai bertahun-tahun). Pesan singkat yang berisi dia jadi ikut dan ketemu di alun-alun langsung masuk ke inbox SMSku.

Bak gayung bersambut (ceileh...) kami langsung tancap gas motor dari Surabaya. Pelan-pelan saja biar menikmati angin di jalan dan lagipula jarak rumahku yang di Surabaya dan rumah Mas Fahmi di Bangkalan menuju alun-alun sama jaraknya, bahkan mungkin lebih dekat rumahku, haha... Benar saja aku dan Tika yang sampai duluan. Seperti disambut malaikat-malaikat yang membuka pintu surga, di sana banyak jajanan broh.... mataku berbinar berbintang-bintang melihat itu semua. Akhirnya sambil menunggu Mas Fahmi datang kuhabiskan waktu bersama butiran cimol dan pentol, tak lupa berkirim kabar ke Bang Enzat kalau Mas Fahmi sudah bisa dihubungi.  Lalu setelah 675 kata tulisan ini belum juga aku bercerita bagaimana perjalanan menuju ke kolam renang di Jaddih dan Mercusuar. Bro drama di atas terlalu seru untuk dilewatkan haha.

Baiklah akhirnya Mas Fahmi datang bersama seorang bocah yang bukan bocah lagi, katanya untuk penunjuk jalan ke Jaddih dan ternyata satu lagi bocah yang sudah ada di alun-alun sejak tadi ternyata teman ponakan Mas Fahmi yang masih bocah itu. Setelah rehat sambil mengenang bagaimana cerita mengenal Mas Fahmi di Instagram yang ternyata pernah ketemu di Gili Labak dan perkenalan dengan Bang Enzat di dunia maya yang gara-gara memperjuangkan Sempu lalu ternyata mereka berteman mesra sampai-sampai kalimat ini entah kapan titiknya akhirnya kami berangkat juga ke tujuan pertama.   

Kolam renang Aeng Guweh Pote ini merupakan sebuah kolam renang yang terletak di antara bukit kapur di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Setelah dua kali muter karena di penunjuk jalan kebablasan yang ternyata belum kebablasan jalan akhirnya sampai juga di sebuah bukit kapur dengan kegiatan khas penambangan seperti yang ada di Gresik. Kira-kira bagaimana bentuknya sebuah kolam renang jika ada di tempat seperti ini? Ya tau sih dari mbah google tapi penasaran aja kalau lihat langsungnya. Ternyata beneran enggak jauh dari pusat kota, sekitaran 15 menit tanpa nyasar tapi ya jalanannya mudah banget kok.
Penampakan kolam renang Aeng Guweh Pote (maap saya gak mahir motret)
Foto Oleh: D. Indah Nurma

Setelah membayar yang entah berapa saya lupa akhirnya bisa parkir juga di bawah goa-goa  bukit kapur. Tujuan ke situ yang semula mungkin bisa icip-icip air kolam renang akhirnya urung dilakukan. Matahari siang itu ada dua dan bisa dibayangkan berubah dekil setelah berenang di bawah sinar matahari. Lalu kami memilih foto-foto dan mengamati saja keadaan sekitar. Konon katanya air di kolamnya berasal dari sumber air di bukit tersebut ketika penambang sedang melakukan penambangan. Daripada airnya hanya menjadi kubangan besar lalu diputuskan untuk dibangun kolam renang sebagai tempat wisata. Tidak lazim memang kolam di lokasi seperti itu tapi justru itu yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Bagi yang ingin berenang di sana juga sudah ada tempat ganti lho seperti di tempat berenang pada umumnya. Lalu yang ingin duduk-duduk menikmati pemandangan bisa nongkrong di warung-warungnya. Kalau yang ingin foto-foto bisa banget dan gak bakal bosen dengan berbagai angle menarik di sana. Setelah meilhat-lihat pasti kita akan tahu kenapa dinamakan Guweh Pote atau dalam Bahasa Indonesia Goa Putih. Karena banyak goa di bukit kapur yang putih itu dan goanya juga terbentuk karena penambangan batu kapur. Karena gak jadi nyebur kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Mercusuar Sembilangan yang pernah beberapa kali saya kunjungi.
Oh ya gaes buat kalian yang memang ingin berenang di sana lebih baik pagi atau sore hari. Buat yang berenang siang kalian super tapi jangan lupa pakai sunblock, bukan masalah dekilnya yang saya khawatirkan tapi paparan sinar matahari yang menyengat di kulit.  Dan untuk peta lokasi bisa dicek di sini.

Oke gaes, kami mengginggalkan Guweh Pote dengan foto-foto seadanya yang penting pernah ke sana, haha. Sebelum menuju Mercusuar kami memenuhi dulu panggilan Pemili Alam untuk bersyukur. Masjid Syaichona Cholil yang kami pilih karena searah dan bagus pula masjidnya. Aku pernah sekali ke sana sih tapi bareng rombongan pengajian Kampung Kapas Gading Madya tercinta. Syaichona Cholil merupakan orang berpengaruh di Bumi Madura, enggak heran banyak yang berziarah ke makam beliau apalagi masjidnya mengagumkan. Di sana foto-foto boleh asal tidak mengganggu ketenangan ya gaes.

Dari masjid menuju mercusuar bisa memakan waktu hanya lima menit kalau kalian bermotor seperti angin. Haha... nyante aja lah menikmati pemandangan sekitar. Tidak ada yang berubah di mercusuar tetap ada pungli dari penduduk sekitar sejumlah dua ribu rupiah untuk satu sepeda motor dan lima ribu rupiah untuk mobil. Masuk ke mercusuar juga dikenakan biaya lima ribu yang dihitung permotor, kalau yang ini saya maklum lah untuk sumbangan ke penjaga mercusuarnya. Di mercusuar yang berubah hanya saya yang mulai ngos-ngosan naik ke lantai 17. Entah efek bertambah tua atau jarang olahraga, mungkin opsi kedua sih hehe... Yang menarik di atas adalah saya ke sana dan menikmati pemandangan di sana dengan orang-orang yang baru lagi. Tempatnya sama, pemandangannya sama, yang baru dan membuat cerita yang lain adalah orang yang baru juga. Tak disangka-sangkan, Mas Fahmi yang jago naik gunung malah ketakutan di atas sana. Duh.... akhirnya dia memilih sembunyi dibalik pintu mercusuar bagian dalam tapi keluar lagi karena berhasil meminjam tongsis dari pengunjung lain. Subhanallah... ajaib kalo soal foto-foto haha. Pakai kamera depan hape Tika yang baru emang cihuy dan hasilnya bening. Tapi bro, tumben ngeri sih karena anginnya kenceng. Sempat hape hampir jatuh dari tongsis tapi masih bisa diselamatkan,  yang wasalam hanya duit dua ribu rupiah dari saku jaketku yang melayang entah kemana diterbankan angin laut. Huhu... dua ribu rupiahku melayang sia-sia. Daripada terjadi drama yang lain, kami putuskan bersantai di warung rujak saja dan saya bantuin Mas Fahmi ngehabisin rujak. Haha...
Dibalik senyum ada ketakutan, haha


Di sini sebenernya yang paling ditunggu. Konklusi dari drama perjalanan hari ini yaitu makan makanan yang turun dari surga, Bebek Sinjay. Khawatir sudah tutup akhirnya kami memacu kendaraan secepat dan seaman yang kami bisa. Yay! Masih buka bro, terharu aku jadinya. Saat yang lain memesan dan cari tempat duduk, saya sholat asar dulu saja. Setelah sholat semuanya sudah terhidang dihiasi wajah-wajah kelaparan mereka. Haha... setia kawan juga rupanya karena ditungguin. Jangan ditanya lagi, lapar dan Bebek Sinjay itu perpadua luar biasa. Jangan dibayangin nanti ngiler lho. Haha... akhirnya drama hari itu yang terangkum dalam 1.500an kata ini diakhiri dengan hati senang, perut kenyang, mari pulang.