Thursday, 26 December 2013

Tantangan Masyarakat Pesisir Menuju Ketahanan Pangan

Repost

Persoalan kependudukan di Indonesia bukan hanya tentang tidak disiplinnya berbagai proses registrasi untuk kearsipan Negara mengenai kepastian jumlah penduduknya. Namun pada sisi tingkat kesejahteraaan penduduk yang sering di bahas dengan berbagai variabel yang pada akhirnya dapat menggambarkan kesejahteraan penduduk pada suatu kelompok masyarakat secara menyeluruh ataupun kelompok masyarakat. Keterkaitan antara wilayah tempat tinggal kelompok masyarakat, matapencaharian, dan kesejahteraan dapat diukur dengan tingkat keberhasilan menangani berbagai indicator ketahanan pangan untuk setiap anggota keluarga dalam kelompok masyarakat tersebut.
Sebagai Negara yang terdiri dari ribuan pulau, tidak perlu dipertegas lagi bahwa Indonesia tentunya banyak memiliki wilayah pesisir. Secara sosial, wilayah pesisir dihuni tidak kurang dari 110 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai. Sedangkan secara administratif kurang lebih terdapat 42 Daerah Kota dan 181 Daerah Kabupaten yang berada di pesisir, dimana dengan kondisi saat ini adanya otonomi daerah masing-masing daerah otonom tersebut memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. dengan meninjau fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi Indonesia pada masa yang akan datang. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang bermatapencaharian di sektor-sektor non-perkotaan. Sebagian besar dari 126 kawasan tertinggal yang diidentifikasi dalam kajian penyempurnaan RTRWN merupakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kemudian pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam hal jumlah ataupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sedangkan menurut Food and Agriculture Organization ketahanan pangan merupakan kondisi dimana rumah tangga memiliki akses yang baik untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarga baik akses fisik maupun ekonomi.
Perkembangan prasarana transportasi  di wilayah pesisir di Surabaya yang sudah tidak asing lagi, yaitu saat dibangun dan diresmikannya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura. Setelah Jembatan Suramadu resmi beroperasi, berbagai dampak langsung terhadap penduduk sekitar dan dampak tidak langsung terhadap lingkungan secara otomatis langsung dapat dirasakan. Dampak langsung dari diresmikannya Jembatan Suramadu semakin menguatkan fakta bahwa kawasan pesisir adalah cikal bakal perkembangan urbanisasi di Indonesia. Salah satu penggambaran dari seluruh keterkaitan antara perkembangan aksesbilitas dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan penduduk adalah pada Kecamatan Bulak.
Kecamatan Bulak adalah salah satu kecamtan di Surabaya yang berada di wilayah pesisir dekat dengan Jembatan Suramadu. Penduduk pada Kecamatan Bulak adalah masyarakat yang bermatapencaharian sektor non-perkotaan  sebagai nelayan. Dimana selama ini diketahui matapencaharian sektor non-perkotaan menjadi salah satu indikasi rendahnya tingkat kesejahteraan. Selain itu Kecamatan Bulak yang strategis juga banyak menarik minat penduduk Pulau Madura untuk bermigrasi dan tinggal di Kecmatan Bulak. Perpindahan penduduk dari Pulau Madura tersebut  menjadi faktor pertambahan jumlah penduduk di Kecamatan Bulak, disamping pertambahan dari faktor penduduk asli Kecamatan Bulak.
Menengok kembali pernyataan Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika.  Fenomena yang pernah digambarkan oleh Malthus pada tahun 1798 tersebut kini banyak dijumpai. Dapat pula digunakan untuk menggambarkan keadaan Kecamatan Bulak, Surabaya. Pada suatu penelitian tentang ketahanan pangan di kampung nelayan Kecamatan Bulak yang dilakukan oleh Saudi Imam Besari pada tahun 2010 yang menggunakan beberapa variabel untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan di Kecamatan Bulak. Variabel yang digunakan adalah variabel demografi seperti usia pada tahun tersebut, usia pada saat pertama kali melaut, pendidikan terakhir, dan status kependudukan. Sedangkan variabel non-demografi dalam penelitian itu selanjutnya disebut sebagai variabel ketahanan pangan yang terdiri dari pendapatan melaut, pendapatan rumah tangga, pengeluaran rumah tangga, sisa pendapatan, kondisi rumah tinggal nelayan, sanitasi rumah (ketersediaan MCK), bahan bakar memasak, cara memperoleh makanan pokok, cara memperoleh lauk pauk kualitas, pangan yang dikonsumsi, frekuensi makan dalam sehari, dan jumlah alat tangkap yang dimiliki.
Hasil akhir dari penelitian tersebut dapat terlihat gambaran umum mengenai kondisi kesejahteraan secara realita dari masyarakat nelayan Kecamatan Bulak. Pada pendapatan total masyarakat nelayan Kecamatan Bulak pada umumnya adalah Rp 1.000.000–Rp 2.000.000. pengeluaran pangan mayoritas adalah Rp 500.000-Rp 1.000.000, sedangkan untuk non-pangan adalah sebesar kurang dari Rp 500.000. kondisi rumah mayoritas adalah rumah permanen namun kurang didukung sanitasi yang baik dan lengkap. Pendidikan terakhir nelayan di Kecamatan Bulak adalah mayoritas Sekolah Dasar dan hampir semua nelayan memiliki alat tangkap ikan sendiri.
Angka pada pendapatan dan pengeluaran pada mayoritas tidak jauh berbeda dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat  di kampung nelayan Kecamatan Bulak Surabaya. Matapencaharian utama sektor non-perkotaan sebagai nelayan kurang mampu untuk menopang seluruh kebutuhan keluarga masyarakat nelayan. Ditambah lagi dengan pada tahun 2009 perairan Selat Madura mengalami overfishing lebih dari 12% sehingga produktivitas perikanan Selat Madura menurun dari tahun ke tahun. Jika  regulasi untuk membatasi jumlah nelayan dan armada kapal yang melaut yang pernah diusulkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur jadi disahkan maka masyarakat kampung nelayan Kecamatan Bulak akan kebingungan untuk mencari sumber pendapatan yang lain.
Penjual Ikan Asap di Depan TPI Bulak
Oleh-oleh Kerupuk Ikan
Karena mayoritas mereka hanya mengandalkan hasil melaut serta tingkat pendidikan terakhir dan keterampilan yang kurang menjadikan mereka akan sulit mencari pendapatan dari sektor-sektor lain. Untuk itu selain mengandalkan hasil melaut yang saat ini mulai tidak stabil, masyarakat nelayan sebaiknya mulai beradaptasi dengan memperhatikan sector pendapatan lain yang sesuai dengan kemampuan dan yang mampu untuk menopang kebutuhan pada saat mereka tidak melaut. Salah satu pendukung masyarakat  untuk beradaptasi mencari pendapatan selain melaut adalah mudahnya aksesbilitas menuju pusat-pusat kota hingga setidaknya sebagian besar indikator-indikator dari FAO (Food Agriculture Organization) untuk ketahanan pangan sebagian besar dapat terpenuhi dengan baik, seperti kecukupan ketersediaan pangan, stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi berarti dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, aksesbilitas atau keterjangkauan terhadap pangan, dan kualitas atau keamanan pangan. Jika satu-persatu indikator tersebut terpenuhi maka harapan masyarakat nelayan Kecamatan Bulak telah mampu menuju adaptasi matapencaharian selain melaut, ketahanan pangan dan kesejahteraan yang semakin membaik.








Saturday, 14 December 2013

Waspadalah Saudaraku! Jangan Menjadi Seperti Ini


Apa Kabar Imanku?
“Sesungguhnya, seorang hamba yang kafir (di dalam sebuah riwayat: ‘yang fajir/durhaka’) apabila ia meninggal dunia dan menghadapi akhirat, turunlah kepadanya malaikat dari langit (yang keras lagi kejam) yang berwajah hitam-hitam. Mereka membawa pakaian kasar (dari neraka), lalu mereka duduk dari tempat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepalanya, lalu ia berkata, ‘wahai jiwa yang busuk! Keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah!’ Ruh itu dicabut dengan susah payahseperti besi berduri (banyak cabangnya) dicabut dari bulu domba yang basah. (Kemudian ia dilaknat oleh setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan semua malaikat yg ada di langit; ditutuplah pintu-pintu langit. Tidak ada di antara malaikat penjaga pintu itu, kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh itu jangan dinaikkan melalui tempat mereka.) Lalu malaikat maut mengambilnya. Apabila malaikat maut telah mengambilnya, para malaikat itu tidak membiarkan ruh itu berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya, lalu mereka meletakkannya di dalam kain tersebu. Maka keluarlah dari ruh itu bau busuk seperti bangkai paling busuk yang didapati di muka bumi. Kemudian mereka membawanya naik ke langit. Tidaklah mereka melewatkan ruh itu di hadapan sekumpulan para malaikat, melainkan para malaikat itu mengatakan, ‘Siapakah ruh yang sangat busuk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan’-disebut dengan nama-nama terburuknya ketika di dunia-hingga mereka sampai di langit dunia. Lalu mereka minta agar pintu dibukakakn untuk ru itu. Namun, tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat,
“Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surge, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al-A’raf 7:40).”
Allah berfirman, “Tuliskanlah kitabnya di sijjin, di bumi yang paling bawah.” (Kemudian Allah berfirman lagi), “Kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhnya Aku (berjanji kepada mereka bahwa) dari bumilah Aku menciptakan mereka dan dari sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah Aku keluarkan mereka lagi di kali yg lain.” Maka dilemparkan ruh (dari langit) dengan lemparan (yang membuat ruh itu kembali ke dalam jasadnya). Kemudian Rasulullah membaca,
“Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-oalah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (Qs Al-Hajj 22:31).”
Lalu ruh itu dikembalikan ke dalam jasadnya. (Kata Beliau SAW., “sesungguhnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya apabila mereka pulang meninggalkannya.) Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras hardikannya), lalu keduanya menghardiknya dan menundukannya. Kemudian kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapa Rabbmu?” Maka ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “apa agamamu?” Ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “Apa komentarmu tentang orang yg diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Ia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan kepadanya, “Muhammad!?” Maka ia menjawab, “Haah… hah, saya tidak tahu (saya mendengar orang mengatakan begitu).” Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau Tidak tahu dan tidak membaca?”
Maka ada penyeru yang menyeru dari langit dengan mengatakan, “Dia dusta. Maka bentangkanlah permadani dari neraka dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka.” Lalu sampailah kepadanya panas neraka dan embusan panasnya. Disempitkan kuburnya sehingga bertautlah tulang rusuknya karenanya. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: di datangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk baunya. Lalu laki-laki itu mengatakan, “Aku kabarkan kepadamu tentang sesuatu yg membuatmu menderita. Inilah hari yg dijanjikan kepadamu.” Lalu ia mengatakan kepada laki-laki itu, “(Engkau telah diberikan kabar jelek oleh Allah). Siapakah engkau ini? Wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kejelekan.” Orang itu menjawab, “Aku adalah amalanmu yang buruk. (Demi Allah, tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau adalah orang yang berlambat-lambat dari melakukan ketaatan kepada Allah dan bergegas kepada kemaksiatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terburuk.)” Kemudian di datangkan kepadanya seorang yang buta, tuli, lagi bisu dengan membawa sebuah palu besar di tanganna! Kalau saja palu itu dipukulkan kepada gunung, tentu gunung itu menjadi debu. Maka, orang itu memukulkan kepadanya hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikannya lagi seperti semula. Lalu orang itu memukulkannya sekali lagi hingga ia memekik keras dengan teriakan yang bias didengar oleh segala yang ada, kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka untukknya dan dibentangkan permadani dari neraka. Maka, ia berkata, “Ya Rabbi! Janganlah Engkau datangkan hari kiamat itu!”
HR Abu Dawud dalam Sunan-nya (4753), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (107), Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (753), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Munsannaf (12059). Hadis ini di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah (1630).

Source: If I Should Speak (recommended novel)

Lagu dari Kotak Coklat

Benda di atas adalah packaging dari coklat Danson. Benda ini sampai di kost saya sekitaran tanggal 12 Juli 2013, waktu saya masih kost di Sleman. Benda ini dikirim melalui jasa ekspedisi dan pertama kali dapat kiriman dengan alamat yang berbeda dari alamat rumah saya.
Cerita awalnya sih saya guyonan sama si pemberi oleh-oleh ini karena saya tahu beliaunya akan pergi training ke Malaysia selama 3 minggu. Jadilah saya bercandain "Saya mau juga lho kalau dikasih oleh-oleh yang dikirim dari pedalaman Kalimantan" begitulah kira-kira. Haha... Eh Alhamdulillah seriusan dikasih :D Oh ya kenapa saya bilang dari pedalaman Kalimantan? Karena waktu itu orangnya sedang gali sumur minyak di pedalaman Kalimantan, yap karena berkerja perusahaan yang bergerak di bidang oil service. Tapi tapi akhirnya dikirim waktu beliau pulang kampung. Mau cerita lagi soal gimana bisa dapat ini. Terhitung sudah hampir 3 minggu beliaunya di sana, tiba-tiba saya nyeletuk "udah mau pulang ya mas?" hakduh, haha... Dan ditanggapi "iya tapi belum nemu oleh-oleh yang pas" lalu saya jawab "ndak usah repot-repot mas kalau emang ngerepoti" Dan saya terkesan iseng sekali sodara-sodara. Haha... Maaf lho mas :D
Kembali pada cerita kotak di atas. Waktu itu saya sedang serius masak untuk buka puasa (saat itu bulan ramadhan) lalu mbak induk semang di tempat laundry kost manggil-manggil saya karena ada paket datang. Dalam hati sudah bisa menebak kalau itu pasti kiriman dari beliau, haha pede banget. Tapi iya lah, siapa lagi yang mengirimi? Kan yang saya beri tahu alamat lengkap kost cuma beliau. Awalnya setelah beliau pulang ke Tanah Air, tanya ke saya oleh-olehnya mau dikirim ke rumah Surabaya atau di Jogja? Saya jawab saja dengan mantap kalau dikirim ke rumah Surabaya saja (soalnya saya suka berbagi sesuatu bersama kakak tercinta di rumah). Tapi hal mengejutkan terjadi waktu dapat balasan takut kalau oleh-olehnya gak bertahan lama. Mulailah mikir aneh-aneh, jangan-jangan dikasih oleh-oleh nasi bungkus dari Malaysia, soalnya bilang takut gak tahan lama. Haha konyol sekali sodara, jadilah saya kasih alamat kost. Waktu itu gak buru-buru dibuka karena lagi serius masak, ceileh! Sebelum saya buka saya selalu suka melihat nama saya ditulis tangan orang lain. Mental kemasakinian sih, sebelum dibuka dan setelah dibuka dengan kebiasaan hati-hati adalah difoto buat kenang-kenangan. Istighfar ndah istighfar!
Woyla... packagingnya lucu sekali, seperti gambar di atas. Awalnya saya tidak tahu kalau itu coklat Danson, haha... maklum lah. Terus dikasih tahu sama yang ngasih kalau di bagian bawah diputar bisa mengeluarkan musik. Kotak musik bro! Keren kan? Ya spesial sekali karena itu termasuk salah satu benda unik yang pernah mampir dalam pandangan saya. Akhirnya seneng banget karena pada dasarnya saya emang lebih suka dikasih oleh-oleh yang bisa disimpen, tapi ini bisa dimakan terus kotaknya disimpen. Ahay banget lah pokoknya. Sekarang kotak lucunya punya fungsi sebagai tempat menyimpan gantungan kunci kesayangan, karena saya punya kesukaan mengumpulkan gantungan kunci atau tempelan kulkas dari mana-mana.

Cerita Singkat Pertemanan Saya dengan Pemberi

Awalnya tahun 2010 kenalnya di Plurk, seperti yang saya ceritakan di sini. Entah kenapa teman-teman saya di sana banyak dari Jogja. Lalu merambah ke dunia facebook, di sini juga gak tahu asal mulanya tiba-tiba sudah berteman di facebook. Haha... agak klasik sih tapi unik karena dari situ saya banyak bertukar pikiran, saling memberi pendapat, dan saya kebagian banyak dapat nasihat (secara langsung maupun tidak). Secara tidak langsung juga membuat saya berlomba-lomba menyainginya. Ah tapi belum bisa juga, kurang keras kali usahanya ndak.
Lama-lama jadi akrab dan di awal 2011, waktu saya menggila 5 hari keliling setengah Pulau Jawa bersama sohib-sohib gokil saya berhasil ketemu dengan beliau di kampusnya. Waktu itu hari ke-4 kami gak pulang, terdampar di Jogja dan maghrib-maghrib melaksanakan shalat di Masjid UGM. Lanjut cari makan di daerah kampus biar dapat murah, haha... maklum lah. Mendadak muncul ide untuk silaturrahim sowan ke tempatnya, tapi waktu itu gak mudeng sama jalanan UGM jadinya Masnya saya minta samperin ke tempat kami. Hehe... Pas datang dengan si Zakiah Nurmalanya sontak teman-teman saya nyeletuk "ndah siapa? korban skillmu ya?" waduh sungguh-sungguh mayak mereka ini, membuat saya tidak enak hati. Paling tidak saya terima kasih sekali atas pertemanan ini. Saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Semua kejadian serta orang-orang yang hadir di hidup kita ada maksud dari setiapnya, ada pelajaran yang harus kita ambil. Semoga Allah meridhoi setiap skenario masa depan yang telah kamu susun, tetap rendah hati, dan tetap menginspirasi Mas Pramudya :D

Sunday, 8 December 2013

Sosok Inspiratifku



Banyak banget twit soal sosok-sosok inspiratif. Banyak sih dalam hidup. Tapi ada bagian sendiri-sendiri, karena gak mungkin ada yang 100% memberi inspirasi untuk 100% hidup. Itu aja sih.
Saat ini lagi punya status mahasiswi sih emm yasudah, pelajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Sakjane, orang-orang yang mengispirasi itu ada banyak waktu menjalani kehidupan di kampus. Tapi dua yang bisa totalitas menginspirasi, orang tua saya. Bukan bukan, ini bukan bualan semata.

Ibu
Ibu saya anak ke 3 dari 6 bersaudara, saat pendidikan sekolah dasarnya belum rampung beliau harus menjalani hidup yang keras. Kakek saya yang ayah beliau meninggal, di sini yang lebih berat adalah kehidupan nenek dari Ibu saya. Rizki memang tidak akan pernah tertukar, usaha kecil-kecilan yang selalu dijalani nenek saya cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, ya kebutuhan bukan keinginan. Ibu saya juga demikian, di usianya yang masih belia harus pontang-panting bekerja untuk membantu nenek saya menyekolahkan adik-adiknya dengan mengesampingkan pendidikannya. Bukan berarti Ibu saya tidak berpendidikan, beliau sangat terdidik. Hidup mengajarkan segalanya. Mungkin bisa berbeda cerita jika dulu Ibu saya bersedia diadopsi oleh pengusaha Cina kaya raya. Ya, Ibu saya yang berparas menuju paras orang Cina yang banyak di Surabaya membuatnya mendapat tawaran untuk diadopsi mereka saat kakek saya masih hidup. Entah beliau mendapatkan paras demikian dari mana? Saya tidak pernah melihat wajah kakek saya dari Ibu.
Rizki Ibu saya juga tidak pernah tertukar, Alhamdulillah segala perjuangannya bekerja dan mencari pekerjaan yang layak selalu ada hasilnya. Jaman dahulu, mencari pekerjaan masih mudah tapi juga saling kejar-mengejar dengan perkembangan kota Surabaya yang semakin menjadi Kota Besar. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan ayah saya. Sekali lagi, kebesaran hati Ibu saya terlihat di sini. Kondisi fisik ayah saya yang membuat saya bisa mengatakan seperti ini, nanti lah saya ceritakan.
Yang saya tahu Ibu saya adalah orang yang berhati lembut, berhati besar, berhati tulus. Mungkin beliau tak sempat mengenyam pendidikan yang layak, tapi beliau selalu mendidik anak-anaknya dengan hati. Bukan pengetahuan dunia yang beliau berikan pada kami, tapi pendidikan untuk jadi manusia yang adil dan beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan mengajarkan bagaimana sholat itu tapi menunjukkan bagaimana sholat itu. Setiap pagi-pagi buta kami dimandikan dan didudukkan dekat dengan Ayah dan Ibu yang sedang subuhan. Sampai akhirnya terbiasa bangun pagi lalu diam-diam mengikuti mereka sholat. Dari hal sederhana itulah Ibu saya mengajarkan kami membangun peradaban yang beradab.
Bagaimana lagi saya harus menceritakan betapa lembut hati Ibu saya? Tidak akan pernah ada habisnya. Beliau menunjukkan bukan hanya mengajarkan.

Ayah
Ayah saya, mungkin hidupnya lebih beruntung dari Ibu saya. Atau mungkin lebih tidak beruntung ketika terjadi kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Waktu masih bujang, ayah saya mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan luar kota. Singkat cerita, kecelakaan itu membuat tubuh beliau remuk. Patah tulang kaki, punggung, belikat, dan entah yang mana lagi. Kakinya memiliki jahitan sepanjang mata kaki sampai hampir lutut, punggung dan pinggangnya juga. Semua serba tambal sulam, maksudnya daging yang sini diambil untuk menambal yang sana. Bisa disebut waktu itu ayah saya lumpuh total. Dokter yang menangani beliau juga tidak berani memberikan banyak harapan. Tidak berhenti di situ, ayah saya berpikir bahwa dia adalah seorang lelaki dan tidak mau menjadi beban untuk keluarganya. Pertama beliau belajar bangkit dari tempat tidur, kemudian beraktivitas dengan kursi roda, lalu berjalan memakai tongkat, sampai akhirnya bisa berjalan tanpa alat bantu. Meskipun tidak bisa berjalan normal seperti kebanyakan orang.
Suatu saat beliau bertemu wanita yang ikhlas menerima segala kekurangan beliau. Ya orang itu adalah Ibu saya. Mungkin yang Ibu saya lihat waktu bukan kekurangan ayah saya, tapi kelebihan yang tidak semua orang bisa melihatnya. Dengan segala keterbatasannya, beliau tetap menjalankan tugas sebagai pemimpin keluarga. Rasa lelah yang mudah sekali mendera dengan kondisi fisik ayah saya yang demikian, itu semua tidak membuat ayah saya malas bekerja dan malas memberikan kebahagiaan bagi keluarganya. Beliau tetap bekerja dan setiap akhir pekan selalu mengajak anak-anaknya berlibur.
Saat saya kira saya sudah cukup dewasa, saya mendengar sebuah percakapan antara orang tua saya dan kakak ipar saya (waktu itu masih calon). Kiranya begini "Saya beruntung sekali memiliki seorang istri seperti ibunya Saudi (abang saya), Ibu menerima bapak apa adanya dan selalau qanaah (tidak pernah meminta sesuatu yang tidak bermanfaat). Saya kira saya sudah cukup dewasa untuk memahami, orang tua saya tidak pernah segan menunjukkan rasa kasih sayang mereka di depan anak-anaknya. Saya kira itu kuncinya, saya mendapat pelajaran bagaimana sosok lelaki itu seharusnya dan bagaimana menjadi wanita seharusnya. Selamat kepada Ayah dan Ibu, kalian berhasil mendapatkan predikat manusia yang inspiratif bagi anaknya :)